
Pemuda itu menuju dapur hendak mengambil minuman dingin yang ada di lemari pendingin. Dia mengambil dua botol minuman dan melemparkan pada Briyan yang sudah masuk ke dalam ruang tamu tanpa ijin.
Kruuuuuk
Kruuuuuk
Kruuuuuk
Suara genderang perang yang ada di tubuh gadis itu berbunyi ketika Adrean lewat setelah mengambil dua botol minuman. Pemuda itu menatap Sinta setelah mendengar alunan musik itu yang berasal dari perutnya.
"Aku lapar, tadi belum sempat makan siang." Kata Adrean pada gadis itu.
"Masak yang banyak, ada tamu." Lanjutnya.
Gadis itu langsung menuju dapur menyiapkan segala bahan yang akan dimasak. Bahan sayuran yang ada di kulkas masih terbatas.
Sinta memasak sayuran itu seadanya bahkan lauk juga seadanya. Tidak butuh waktu lama dia membuat beberapa menu makanan.
Aroma makanan itu sudah sampai di ruang makan. Perut yang mulanya pada saat sampai di ruang hotel milik Adrean terasa kenyang setelah mencium aroma itu ikut perutnya ikut protes.
"Astagfirullah." Kata seorang gadis karena terkejut mendapati Adrean sudah berada di belakangnya saat dia sedang menata semua makanan di atas meja.
Pemuda itu juga ingin mengambil kesempatan untuk dekat lebih dekat dengan Sinta. Adrean memang tidak pandai tentang masalah merayu atau menggombal terhadap seorang gadis.
"Mas, sejak kapan di belakang ku?" Tanya Sinta dengan gugup.
"Sejak makanan yang kamu buat masak." Jawab Adrean singkat.
"Sudah siap semuanya, silahkan kalian makan." Kata Sinta mempersilahkan Pemuda yang ada dihadapannya itu untuk makan bersama sahabatnya yang sedang duduk di ruang tamu dan memperhatikan gerak-gerik kedua pasangan yang ada di ruang makan.
"Aaaah." Pekik seorang gadis saat pergelangan tangannya ditarik oleh Adrean hingga berada di dalam pelukannya.
Kedua mata mereka berdua saling mengunci sangat lama. Mereka berdua mencoba mengingat sesuatu dari dalam tatapan mata lawan mereka.
"Di sini masih ada orang, kalian anggap aku ini apa?" Tanya seseorang yang sedang berada di ruang tamu tetapi berpura-pura menatap pada layar leptop miliknya.
"Menggangu saja." Kata Adrean mengeluh setelah melepaskan pelukan yang cukup erat pada tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Ambil piring lagi untuk manusia planet itu." Titah Seorang Pemuda yang sudah merubah wajahnya kembali datar seperti semula.
Sinta mengambil sebuah piring lagi dan diletakkan di atas meja makan. Dia mulai duduk setelah pemuda pemilik hotel itu menarik salah satu kursi dan mempersilahkan dia duduk.
Seorang pemuda yang berada di ruang tamu sudah tidak tahan lagi mencium aroma makanan yang menyeruak hingga ruang tempat dia berada. Dia langsung menyusul kedua orang yang berada di ruang makan.
"Kalau dapat istri yang begini juga aku langsung saja." Kata Seorang Pemuda yang baru saja bergabung di ruang makan.
"Tidak menunggu lama, biar lekas gemuk." Lanjutnya.
"Gila." Kata Adrean dengan tatapan tajam yang ditujukan pada sahabatnya itu.
"Ampun deh, tatapan mu seperti panah cinta yang bisa membuat ku mati seketika saat mengenai hati ku." Kata Briyan menggoda Sahabatnya itu.
"Makan saja." Kata Adrean mengalihkan pandangannya pada gadis yang ada di dekatnya dengan tatapan yang redup.
"Kamu pasti belum makan bukan?" Tanya Pemuda itu lagi mengambilkan nasi yang ada di atas meja.
"Tidak aku belum lapar tadi." Jawab Sinta berbohong karena itu bukan rumahnya dia tidak berani melakukan hal lebih hanya untuk dirinya sendiri.
"Aku hanya menunggu teman untuk makan." Lanjutnya.
"Ayo kita sudah ada dua orang langsung saja kita mulai makannya." Lanjutnya hingga membuat dua orang yang ada di dekatnya melihat ke arah pemuda yang baru saja berucap.
Gadis itu tidak mengatakan apapun lagi. Sinta merasa malu dengan semua kata-kata Briyan yang berusaha memuji kepandaiannya memasak itu serta berusaha mencomblangkan sahabatnya yang sama dengannya tidak pandai merayu seorang wanita.
Sinta berinisiatif mengambilkan makanan untuk Pemuda yang ada di dekatnya itu layaknya sepasang suami istri. Briyan menolak ketika gadis itu akan mengambil piringnya untuk diberikan nasi.
Briyan takut jika dia menerima pemberian makanan dari gadis itu sahabatnya akan merobek-robek isi kantungnya. Semua bonus dan gaji akan hilang seketika itu juga.
Mereka bertiga makan dengan lahap seperti orang yang memang sudah lama tidak makan. Semua masakan yang tersedia di meja hampir habis tandas tak bersisa.
"Alhamdulillah sudah terisi ini perut." Kata Briyan.
"Berarti Allah masih sangat sayang pada ku." Lanjutnya.
"Ya benar Allah masih sayang pada mu, jika tidak dia tidak akan membiarkan mu makan makanan seenak masakannya." Kata Adrean sambil menunjuk gadis yang ada disebelahnya.
__ADS_1
"Mulai sekarang pasti tidak akan pernah makan di luar lagi nih." Ledek Briyan.
"Sudah ada calon bini yang pintar masak siapa juga yang akan menyia-nyiakannya." Lanjutnya.
"Pantas saja semalam sudah bikin dia bunting." Lanjutnya lagi.
Gadis itu semakin menundukkan kepala karena malu dan bercampur tidak enak di dalam hati atas semua perkataan pemuda itu baru saja. Sinta akhirnya berdiri dan membereskan meja makan yang sudah hampir habis makanan yang ada diatasnya.
Dia segera menaruh semua peralatan masak dan makan di wastafel untuk dicuci. Jus jeruk dibuat untuk kedua pemuda yang sedang bekerja di ruang kerja setelah menikmati makan mereka baru saja.
Sinta menyibukkan dirinya dengan berbagai macam pekerjaan yang ada di dapur. Dia sudah tidak begitu banyak pikiran setelah tinggal di hotel ini.
Gadis itu pergi ke kamarnya setelah selesai membersihkan dapur serta mencuci semua peralatan yang digunakan untuk makan dan memasak. Dia menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri.
"Rasanya sungguh segar setelah mandi." Kata gadis itu lirih saat berjalan keluar dari kamar mandi.
Gadis itu mengambil koper yang berisi semua barang miliknya yang ada di kontrakannya dulu. Sinta mengambil setelan baju rumahan yang biasa dikenakannya dahulu.
Gadis muda itu berdiri di depan sebuah cermin yang cukup besar. Dia merapikan penampilannya itu.
"Maaf Bunda, aku tidak bisa menjaga benda satu-satunya yang kamu berikan pada ku." Kata gadis itu dalam hati saat meraba lehernya hingga butir air luruh begitu saja tanpa permisi.
Sinta merasa kehilangan liontin yang diberikan oleh kedua orang tuanya itu. Liontin itu merupakan identitas satu-satunya dari keluarganya.
Tok tok tok
Suara sebuah ketukan pintu dari luar kamar Sinta berulang kali. Segera pemilik kamar menghapus jejak air yang keluar dari matanya itu.
Gadis itu segera merapikan dirinya agar tidak terlihat setelah menangis. Dia berjalan perlahan menuju pintu untuk membukanya.
"Bisa buatkan teh hangat?" Pinta Adrean yang sebenarnya hanya sebuah alasan untuk bertemu gadis yang ada di depannya itu.
"Baik Tuan." Jawab Sinta yang akhirnya mendapat sebuah tatapan tajam yang bisa merobek bajunya dan menembus hingga jantung hatinya itu.
"Maaf Mas, saya kelupaan." Kata Sinta menyadari tatapan mata pemuda yang ada di depannya itu.
"Baiklah aku tunggu di ruang kerja." Kata Adrean.
__ADS_1
Gadis itu menutup pintu kamarnya dan berjalan mengikuti Adrean. Di persimpangan sebuah tempat mereka menuju tempat tujuan masing-masing.