Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 106. Kebelet nikah: 83


__ADS_3

Udah gue kembali dulu ke ruangan ku. Lanjutin itu bayangan Dita sambil merem melek." Ledek Adrean sambil berbalik melangkahkan kakinya keluar ruangan Briyan.


Adrean menutup pintu ruangan asistennya dengan rapat. Ia pun kembali menuju ruang kerjanya.


Mentari terlihat sedang fokus terhadap apa yang dibacanya. Kehadiran Papanya tidak disadarinya. Lama sekali Papanya sudah duduk di kursi kebesarannya.


Dreeeeet dreeeeet dreeeeet dreeeeet


Ponsel Papa yang di taruh di atas meja bergetar. Mentari terkejut mendengarnya, Ia melihat ke arah meja kerja Papa.


Papa mengambil ponselnya. Ia mulai menjawab telepon itu.


"Assalamualaikum." Sapa Papa.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Penelepon di seberang.


"Nanti malam kami sekeluarga ingin berkunjung ke rumah Bapak. Apa bapak ada waktu?" Tanyanya lagi.


"Untuk calon besan kita selalu ada waktu Pak. Kami tunggu kedatangan Bapak." Balas Papa.


Mendengar percakapan itu jantung Mentari langsung berdegup kencang. Seakan mau melompat keluar. Untuk menutupi perasaannya yang tak karuan itu ia membuka percakapannya dengan Papanya.


"Sudah lama Pak Bos?" Tanya Tari sebelum ditanya.


"Sudah, kenapa?" Tanya Papa.


"Haduh kenapa Papa matap aku kayak gitu?" Batin Tari.


"Kenapa tadi diam aja?" Tanya Tari untuk mengalihkan apa yang akan dibicarakan Papanya.


"Kamunya sih serius banget mempelajarinya. Cepet tua ntar kalau gitu terus." Ledek Papa.


"Ledekin terus Pa, yang penting happy hati ini." Balas Tari.


"Ya pastilah happy nanti malem kan ada yang mau diseriusin." Ledek Papa lagi sambil berjalan menuju sofa dimana anak gadisnya duduk.


Papa duduk disebelah anaknya itu. Walaupun bukan darah daging tapi keduanya saling sayang menyayangi layaknya orang tua dan anak.


"Sebentar lagi tuh ada yang mau nyusul meried Om Briyan." Kata Papa.


"Anak gadis ku itu ternyata cantik buktinya masih belasan tahun udah ada yang melamar." Kata Papa.


"Katanya sih kalau udah nikah berari udah laku tu itu tandanya cantik." Goda Papa.


"Apa'an sih Pa. Berarti akunya selama ini gak cantik gitu? Elak Tari gak sependapat sambil mengerucutkan bibir.


"Itu bibir dimonyong-monyongin apa udah minta di Sun sama seseorang? Tanya Papa.

__ADS_1


"Apa'an sih Pa." Kata Tari dengan wajah yang sudah memerah karena marah.


"Aku tu menjaga sumua milik ku dengan baik sebelum ada seseorang yang dihalalkan untuk ku." Lanjutnya sambil bergelayut manja dengan sang Papa.


"Bagus Sayang." Kata Papa sambil menepuk punggung anak gadisnya.


"Seorang wanita itu harus pandai-pandai menjaga diri agar bisa dihormati oleh suami ataupun keluarga suami." Lanjut Papa.


Suasana menjadi hening. Ia tahu anak gadisnya yang cerdas bisa menebak siapa yang menghubungi Papanya baru saja.


Tok tok tok


Suara pintu ruangan Papa diketuk oleh seorang sekretaris yang cantik. Ia menyerahkan sebuah dokumen pada Papanya. Saat itu sang Papa bertanya padanya mengenai jadwalnya hari ini.


"Mon, hari ini aku ada jadwal meeting atau bertemu klien tidak?" Tanya Papa.


"Anda hari ini free Tuan." Jawab sekretaris Papa yang baru.


"Baiklah nanti Asisten Briyan yang akan handle pekerjaan ku hari ini. Saya ada urusan hari ini." Kata Papa.


"Baik Tuan, saya permisi." Kata Mona.


Mona meninggalkan ruang kerja Papa dengan raut wajah yang sangat senang. Mona menyukai Briyan sejak ia bekerja di perusahaan ini. Ia belum tahu kalau Briyan akan menikah.


"Ok saatnya PDKT. " kata Mona dalam hati.


Papa mengajak anaknya makan siang di rumah makan yang sangat sederhana. Rumah makan itu menyajikan berbagai makanan yang tidak kalah enak dengan restoran berbintang.


Papa mencari tempat duduk yang dirasa cukup nyaman. Tempat yang menghadap sebuah taman. Sebenarnya ada ruangan VIP. Tapi Papa hanya memanfaatkan fasilitas tersebut jika ia bertemu dengan klaen.


Setelah duduk Papa melambaikan tangannya memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan untuk makan siang mereka.


Pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa daftar menu siang ini. Menu tiap hari selalu berganti-ganti setiap hari. Sehingga pengunjung tidak merasa bosan.


Pelayan itu mencatat semua pesanan Papa dan Mentari. Saat pelayan itu pergi Papa menjelaskan sesuatu pada anaknya.


"Sayang tadi yang menghubungi Papa adalah Daddynya Alfian. Katanya nanti malam mereka mau berkunjung ke rumah kita." Kata Papa.


"Kayaknya Alfian udah kebelet itu mau menikah." Sambungnya lagi.


Deg


Jantung Mentari seakan berdetak semakin cepat saat mendengar perkataan Sang Papa. Tapi jantungnya itu berdetak cepat bukan hanya karena melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Panjang umur juga itu cowok." Kata Tari keceplosan.


"Ya Ampun sayang, mata kamu lihat kemana sih? Tanya Papa yang saat itu melihat anaknya sedang fokus dan tidak begitu memperhatikan arah pembicaraannya dengannya.

__ADS_1


"Jangan dibiarin itu mata jelalatan ke laki-laki lain." Sambung Papa.


"Jelalatan Gimana orang akunya lagi lihat cowok ganteng." Jawab Alfian.


Tak butuh waktu lama pelayan tadi mengantarkan pesenannya. Mereka berhenti dari arah pembicaraannya.


"Terimakasih Mbak." Kata Papa dan Mentari bersamaan.


"Sama-sama Pak, Mbak."


"Silahkan menikmati."


Pelayan pun pergi setelah itu. Papa dan Mentari melanjutkan obrolan ringan mereka.


"Cepat makan." Perintah Papa sambil melihat wajah anak gadisnya itu.


"Ntar dingin lho." Kata Papa lagi.


"Kayak es aja dingin." Jawab Mentari.


Seketika Papa mengikuti arah pandang anak gadisnya itu. Papa pun menggelengkan kepalanya.


"Kayaknya kamu juga udah kebelet ya?" Tanya Papa.


"Iya Pa." Kata Mentari Tanpa sadar.


"Kenapa lidah ku jadi keseleo ini melihat makhluk tampan dengan penampilan yang berbeda hari ini." Batin Tari.


"Iya Pa, Aku kebelet pipis. Aku ke toilet dulu deh ya. Kata Tari yang sudah malu dengan jawabannya barusan.


Mentari pun berlalu pergi ke toilet dengan segera. Wajahnya sudah terlihat sangat merah karena malu.


Mentari pun sudah kembali lagi ke meja tadi. Ia hendak makan pesanan yang tadi. Ia perharap sang Papa lupa dengan kata-kata nya baru saja.


"Makan tu yang kenyang biar cepat gemuk." Kata Papa.


"Iya deh - iya." Kata Tari.


" Entar kalau udah gemuk baru disembelih biar dagingnya banyak." Sambung Tari.


"Iya kayak hewan yang disembelih nunggu gemuk." Jelas Tari lagi.


"Waduh, bukan begitu sayang." Kata Papa.


"Disembelih apa belah Suren biar dagingnya banyak tapi empuk.😁😁😁😁." Pikiran Papa yang mulai presnya.


"Trus apa dong?" Tanya Tari.

__ADS_1


"Ntar kalau kamu sampai kurus itu badan, pasti nanti ada yang bilang kamu gak pernah dikasih makan." Jelas Papa.


Mereka pun selesai makan langsung menuju rumah. Papa menyiapkan segala sesuatunya. Mama pun segera diberitahu suaminya.


__ADS_2