Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 125. Mengenang


__ADS_3

Apa'an sih... Aku kan memang sangat capek. Mulai dari bangun subuh dirias dan harus bersikap kalem dihadapan semua tamu." Kilah Dita.


Benar saja mengingat dulu ia adalah seorang gadis yang tak mau diam. Ada-ada saja tingkah dan kelakuannya hanya untuk mempertahankan hidup.


Bukan hanya dirinya sendiri akan tetapi juga seorang ibu yang harus ia bantu untuk kelangsungan hidupnya. Kejadian itu berlangsung sejak sang Bapak meninggalkan mereka karena Allah lebih menyayanginya.


Kenangan waktu bersama Bapak dan sang ibu membuatnya menitikkan air mata. Tanpa di sadari sang suami melihat hal itu dan berjalan menghampiri sang istri yang sedang duduk di sofa.


"Kenapa? Kecewa menikah dengan laki-laki jelek seperti ku? Tanya Briyan dengan mengusap air mata sang istri yang mengalir tanpa permisi.


"Iya." Jawab Dita sambil menunduk.


" Kamu tahu aku menginginkan seorang laki-laki seperti yang kamu katakan." Jelas Dita.


"Sekarang apa mau mu?" Tanya Briyan dengan dinginnya.


" Aku ingin sebuah cinta dan sayang yang tulus dari mu." Ujarnya dengan menunduk malu.


"Aku akan berusaha menepati janji ku untuk selalu mencintaimu dan menyayangimu semasa hidup ku." Tutur Briyan dengan mendekap tubuh istrinya yang memang ideal.


"Lepas." Teriak Dita sambil berusaha melepaskan pelukan Sang suami.


"Aku gak bisa napas ini." Kata Dita dengan intonasi yang agak tinggi.


Briyan sangat tampan seperti Adrean. Mereka berdua memiliki banyak perbandingan sepuluh sebelas atau sebelas dua belas.


Briyan bagaikan bayangan Adrean sebab kemanapun mereka pergi selalu saja berdua. Bahkan sikap datar dan dingin mereka pun sama.


Dita pun merasa khawatir dengan segala kelebihan yang dimiliki sang suami. Pastilah banyak wanita yang selalu mendambakan bahkan menginginkan Pria seperti suaminya yang sekarang.


"Katakan, kenapa menangis?" Tanya Sang suami dengan memegang dagu istrinya agar sejajar dengan wajahnya.


"Aku mengenang masa lalu ku bersama keluargaku." Jawab Dita lirih dengan menatap mata istrinya.


"Lanjutkan." Perintah Briyan sambil berdiri kemudian duduk di samping sang istri.


"Aku pasti akan merindukan Ibu jika jauh darinya." Jelas Dita.


"Trus?" Tanya Briyan dengan memposisikan kepala istrinya di pundak kirinya.

__ADS_1


"Trus-trus ntar nabrak Bang." Kata Dita ketus.


"Kalau kamu kangen dengan ibu kita bisa berkunjung ke rumah kan? Tidaklah jauh apartemen ku dengan rumah Ibu." Jelas Briyan dengan penuh kasih sayang.


Mendengar penjelasan sang suami, Dita tahu bahwa suaminya juga sangat menyayangi ibunya. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti itu.


Cup


Kecupan singkat di pucuk kepala Dita membuatnya terkejut hingga ia pun mendongokkan kepalanya menatap wajah sang suami. Mereka berdua terhipnotis dengan pandangan mereka hingga sesuatu pun terjadi.


Briyan mendekatkan bibirnya pada sang istri. Mereka berdua menikmati ciuman itu dengan penuh gairah.


Brug


Suara Briyan terjatuh dari sofa karena di dorong oleh sang istri. Saat itu Dita sudah kehabisan napas karena memang itu pertama kalinya buat dia.


"Apa-apa sayang?" Sakit tahu." Kata Briyan sambil berdiri.


"Aku gak bisa napas tahu." Balas Dita.


"Makanya aku kasih napas buatan." Kata Briyan dengan tersenyum smirk.


Dita beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin membersihkan dirinya karena badannya sudah berasa sangat lengket.


"Mau kemana?" Tanya Briyan.


"Kamar mandi." Jawab Dita berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Biar aku antar." Pintanya Briyan.


"Aku bisa sendiri." Balas Dita dingin.


Dita masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Ingin ia mengunci tapi diurungkan karena ia percaya pada sang suami.


Briyan menunggu istrinya sambil mengotak atik benda pipih milik sang istri. Beralih ia mengotak-atik benda pipih miliknya.


Briyan melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Ia jadi merasa gelisah menunggu sang istri.


Briyan akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar mandi. Ia ingin mengetahui keadaan sang istri.

__ADS_1


Tok-tok-tok


Suara pintu kamar mandi terdengar dengan begitu jelas. Akan tetapi orang yang ada di dalamnya tak kunjung membukakan pintu.


"Kenapa lama sekali ni cewek mandinya." Gerutunya.


Berulang kali hingga kesekian kali pintu diketuk tak kunjung jua dibukakan. Orang yang mengetuk pintu kamar mandi pun akhirnya merasa khawatir dengan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya berada di dalamnya.


Ceklek


"Huuh, untung saja tidak di kunci." Kata Briyan lirih.


"Astaga." Kata Briyan terkejut mendapati sang istri tertidur di backtub.


Dita dengan nyamannya berendam di backtub dengan air hangat untuk merilekskan otot-ototnya tertidur hingga air itu hampir dingin. Terlihatlah seluruh badannya tanpa sehelaipun kain yang melekat.


Briyan mendekati tubuh itu dengan perlahan hingga membangkitkan gelora yang membara di dalam sana. Ia berusaha menahan gejolak itu melihat kondisi sang istri yang polos.


"Sudah tak tertahan ini. Haruskah malam pertama ku di kamar mandi? Apa kata dunia?" Batin Briyan.


Saat akan mengangkat tubuh sang istri, tanpa sadar ada tangan yang mungil menariknya dengan kuat.


Byuuuur


Jatuhlah Briyan dalam backtub hingga membuat Dita pun membuka matanya. Ikut basah kuyup badan karena masuk ke backtub penuh air hingga meluap.


"Apa yang kamu lakukan di sini." Teriak Dita terkejut mendapati sang suami masuk ke dalam backtub yang sama. Dita berusaha menutupi dua sequisinya dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa menutupi bagian sensitifnya membuatnya kesulitan.


"Kamu yang menarikku masuk ke dalam air ini sayang." Jelas sang Suami.


"Aku mengetuk pintu kamar mandi lama sekali jadi aku sangat khawatir, makanya aku langsung masuk dan mendapati mu tertidur di sini. Ketika akan aku bangunkan yah kamu tahu sendirilah kelanjutannya." Jelas Briyan dengan senyum jahilnya.


"Apa kamu memang mau mengajak ku mandi bersamamu, itu heum?" Tanya Briyan lagi hingga membuat Dita memalingkan wajahnya karena malu.


Tangan kekar itu dengan lembut memegang dagu sang istri untuk menghadap dirinya. Kedua mata mereka saling bertemu hingga akhirnya benda kenyal yang manis itu dirasakan sang suami.


"Kalau kita di sini seperti ini terus adik kecilku yang di dalam sangkar bisa-bisa tak bisa dikendalikan." Kata Briyan menunjuk sesuatu miliknya yang sudah sejak tadi sudah tegak bersambung (seperti tulisan latin).


Briyan akhirnya keluar dari backtub dan mengambilkan handuk kimono milik sang istri. Ia pun segera memakainya dengan wajah merah karena malu semua lekuk tubuhnya telah dilihat oleh sang suami siang ini.

__ADS_1


"Keluarlah dulu, pakailah pakaianmu aku akan membersihkan badan ku dulu." Titah sang suami.


Dita keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian santainya. Di depan cermin ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian baru saja.


__ADS_2