
Kekecewaan sebelum mendengarkan penjelasan orang yang saat ini bersamanya menyeruak dalam pikirannya. Pikiran Tari kini penuh dengan tanda tanya.
Setahu dia, hanya dirinya lah wanita yang pertama ada dihatinya. Kini pikiran negatif muncul dalam hati dan pikirannya.
**Tap
Tap
Tap**
Mentari berbalik dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat. Ingin segera ia meninggalkan tempat itu.
"Berhenti." Suara itu menghentikan langkahnya.
"Pulang sekarang!" Perintah Tari dengan nada amarah dan mendongokkan kepalanya untuk menahan rasa kecewanya.
"Cantik kan?" Tanya Sang Pemuda pada batu nisan yang ada dihadapannya.
Gadis yang memendam kekecewaan itu semakin salah paham. Ia pikir kata-kata tadi sebuah pujian untuk almarhum yang saat ini ada dihadapan Alfian.
Alfian yang berjongkok kini berdiri dan menghampiri Gadisnya itu. Sangat terbaca sekali di wajahnya ia sangat tidak suka karena salah paham.
"Tidak maukah kamu mengenal adik perempuan ku?" Tanya Alfian dengan mendekap tubuh sang kekasih.
Pertanyaan itu tepat di telinga Tari hingga berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu sangat keras mendorong tubuh kekar Alfian.
Malu dan sangat malu kini ada dibenaknya. Salah paham itu akhirnya terselesaikan saat Alfian menceritakan semua alkisah pahit keluarga mereka.
"Jadi dia yang mau kamu kenalin?" Tanya Tari dengan nada yang tidak segarang tadi.
Sebuah senyuman lah sebagai jawabannya. Dengan senyuman itu Tari sudah tahu maksutnya.
Waktu sudah menjelang tengah hari. Udara sekeliling sudah terasa mulai agak panas. Mereka berdua memutuskan untuk pulang setelah Alfian mengenalkan adiknya yang telah tiada.
Mereka memberi tahukan kepada Almarhum kalau mereka akan menikah. Ingin sekali rasanya Alfian adiknya itu masih ada dan ikut merasakan kebahagiannya saat ini.
Allah ternyata berkehendak lain. Ia lebih sayang pada adiknya itu.
Perasaan yang teduh dirasakan Gadis ini saat mendengar cerita Alfian yang memang sangat menyayangi adiknya itu. Beda sekali saat kesehariannya Laki-laki ini sangat garang pada orang lain.
"Ayo pulang." Ajak Alfian sambil berdiri.
"Sekarang?" Tanya Tari yang masih terpesona dengan sosok Alfian calon suaminya yang sangat tegar dalam menjalani hidup hingga mencapai puncak kesuksesannya sekarang.
"Jadi sekarang masih mau di sini?" Tanya Alfian balik dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Melihat raut wajah Alfian itu yang mulai menggodanya ia pun segera berdiri dan berjalan perlahan. Takut ada makhluk jadi-jadian yang ke 3.
Menuju gerobak cinta itu memang terasa sepi tak ada satu orang pun. Akan tetapi makam di sana memang dirawat dengan baik oleh penjaga yang tidak setiap hari ada di sana.
Bugh
Sebuah batu kecil yang menghalangi jalan seorang pemuda berotot. Hingga terjadi sesuatu kejadian yang memang tidak diinginkan.
Mentari yang berjalan sudah berada di dekat gerobak cinta berbalik karena mendengar teriakan kecil dari orang yang saat ini bersamanya. Berhimpitan dengan gerobak itu sang gadis bersandar dan tubuh Alfian jatuh di atasnya.
Alfian menyadari bahwa tubuhnya kini menindih tubuh seorang gadis. Akan tetapi ia tidak ingin segera berdiri karena nikmat yang tidak disengaja itu.
Gerobak cinta ternyata tahu juga keinginan sang pemilik. Berhenti di tempat yang tepat, dan membawa berkah.
"Sakit ini." Keluh Tari lirih.
"Sebentar lagi." Jawab Alfian.
"Aku gak bisa bergerak, ampek dadaku." Kata Tari.
"Biar aku beri napas buatan kalau ampek." Balas Alfian.
Saat mulut Alfian sudah mulai mendekat pada bibir yang ramum itu. Kejadian tak terduga mulai terjadi lagi.
♥️♥️♥️
140
"Sakit ini." Keluh Tari lirih.
"Sebentar lagi." Jawab Alfian.
"Aku gak bisa bergerak, ampek dadaku." Kata Tari.
"Biar aku beri napas buatan kalau ampek." Balas Alfian.
Saat mulut Alfian sudah mulai mendekat pada bibir yang ramum itu. Kejadian tak terduga mulai terjadi lagi.
💕💕💕💕
Tap
Tap
Tap
Sebuah derap langkah yang semakin mendekat tak terdengar oleh mereka berdua. Mungkin karena asyiknya mereka berduaan.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya seorang laki-laki paruhbaya.
"Oh Bapak." Ucap Alfian tersentak membenarkan posisi yang saat itu sedang mengukung tubuh gadisnya.
"Tumben Bapak siang kesini?" Tanya Alfian dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa setelah ketahuan.
"Itu saya kesini mau lihat tanah kosong yang mau dipakai besuk untuk pemakaman besuk." Jawab penjaga makam agak sungkan.
"Ya sudah Pak selamat bertugas." Kata Alfian singkat.
"Terimakasih Mas saya permisi dulu." Pamit penjaga makam dengan hormat.
Biasanya penjaga makam itu tidak jarang menemui sepasang pemuda di tempat sepi seperti itu. Sering kali juga sang penjaga makam mengatai mereka dengan embel-embel anak muda sekarang atau sekarang memang jamannya jaman edan.
Tidak untuk Pemuda yang satu ini. Penjaga makam sudah sangat mengenalnya karena Alfian memang sering berziarah ke makam adik perempuannya.
Gadis yang ada di samping Alfian sudah merasa malu karena kepergok atas kejadian yang tak terduga berusan. Alfian membukakan pintu gerobak cintanya itu saat pikiran Sang Gadis entah kemana karena malu.
"Mau disini sampai kapan?" Tanya Alfian melihat Sang Gadis masih tak bergerak sama sekali.
"Tidak mau pulang?" Pertanyaan ulang Alfian saat mendekat kan mulutnya pada telinga Sang Gadis.
Tersadar Sang gadis pun menoleh pada sumber suara. Kejadian tak terduga pun kembali lagi. Entah disengaja atau tidak yang pasti membuat Mentari semakin merasa malu.
Cup
(Apa-an itu tadi ya?)
Tanpa sengaja kembali lagi sebuah bibir yang tidak sengaja nakal mengenai bibir ranum merah muda gadis yang ia berikan sebuah bisikan. Jangan bilang itu adalah sebuah bisikan setan karena tadi sempat ada penjaga makam alias orang ke tiga yang memergoki mereka dalam posisi yang membuatnya malu.
"Bukan salah ku." Elak Alfian.
"Lalu salah siapa?" Tanya Sang Gadis.
"Salah Kuntilanak?" Lanjutnya sambil mendorong tubuh Alfian hingga menyingkir dari pintu gerobaknya.
Braaaaak
Tidak terdengar ya itu suara pintu gerobak Limitid edition yang cukup-cukup sangat mahal. Duduklah Mentari kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di samping Pak Kusir.
Alfian sendiri masih berdiri di samping gerobaknya itu. Tepatnya Ia menyandarkan tubuhnya di pintu gerobaknya agak lama.
"Mas Al masih di sini?" Tanya Bapak Penjaga Makam.
__ADS_1
"Trus tadi ceweknya kemana? Marah?" Tanyanya lagi beruntun.
"Bapak itu bertanya seperti kereta. Panjang sekali." Kata Alfian tanpa menjawab pertanyaan Sang Bapak.
"Iya Bapak minta maaf." Kata Sang Bapak.
"Itu sudah di dalam gerobak." Jelas Alfian.
"Mas Alfian ini, mobil bagus kayak gini dibilang gerobak." Jelas Sang Bapak.
"Bapak ini ada-ada aja." Kata Alfian.
"Ini juga bisa rusak Pak, dan kalau parah bisa jadi barang rongsokan mending juga gerobak masih bisa dipakai." Jelas Alfian yang memang sejak dahulu tak pernah ada rasa sombong pada dirinya.
"Itu tadi calon istri Pak. InsyaAllah minggu ini akan menikah." Jelas Alfian agar Sang Penjaga makam tidak salah sangka.
"Bapak sekeluarga datang ya? Undangan pasti tiba di rumah Bapak." Kata Alfian.
"Iya Mas, kami sekeluarga InsyaAllah akan datang." Jawab Sang Bapak.
"Saya pamit dulu Pak, waktu sudah sangat siang." Pamit Alfian sopan.
"Hati-hati Mas." Pesan Sang Bapak.
"Ia Pak terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Alfian.
Alfian pun berjalan mengitari gerobak cintanya itu. Ia mulai membuka pintu dan duduk di kursi kemudi.
Bapak penjaga makam masih merupakan orang jawa tulen yang masih percaya dengan hal-hal mistis. Pesan yang diberikan kepada Pemuda yang akan menikah dalam waktu dekat ini dianggapnya sebuah pesan keramat, termasuk Alfian.
Alfian memang akan menikah dalam waktu dekat ini. Hal ini membuat Alfian juga harus waspada terhadap segala sesuatu yang akan terjadi.
Hal itu karena Pemuda itu memiliki saingan di dunia bisnis yang sangat kejam. Apa saja dilakukan untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan.
Alfian melihat calon istri dengan wajah yang masih memerah seperti buah tomat masak yang siap dipetik. Hal itu membuat pemuda ini ingin menggodanya.
"Merah amat itu muka." Goda Alfian sambil membenarkan sabuk pengamannya.
"Masak sih?" Tanya Gadis yang ada di samping Pak Kusir.
"Salah lihat kali." Lanjut Tari menoleh ke arah Pak Kusirnya.
"Kalau gitu mata ku bermasalah dong." Kata Alfian.
"Mungkin." Jawab Sang Gadis.
"Kalau begitu temeni aku beli kacamata biar lihat dengan jelas." Pinta Alfian.
"Itu kaca mata juga cuma ditenggerin aja." Tunjuk Sang Gadis dengan menunjukkan jari telunjuk pada kaca mata yang dikaitkan pada kaos Alfian.
"Kalau pakai kaca mata yang ini bukannya semakin baik malah semakin buram hingga tak bisa melihat." Jelas Alfian pada Sang Gadis dengan melepas kaca mata hitam yang bertengger di kaosnya itu dan menyodorkannya.
"Kalau sudah seperti itu jika aku salah pegang gimana?" Tanya Alfian.
"Maksudnya?" Tanya balik Sang Gadis dengan memicingkan matanya belum paham.
"Ya pegang ini, pegang itu kalau gak bisa lihat berarti gak ada fiternya dong." Jelas Alfian.
"Kalau sudah sah sih gak masalah, kalau belum kan bisa berabe." Lanjut Alfian menjelaskan.
"Dasar kamu itu ya pikirannya udah kotor sampai menjalar kemana-mana." Kata Sang Gadis ketus melihat ke depan kaca gerobak.
"Udah jalan." Perintah Sang Gadis.
"Jalan kemana?" Tanya Alfian sambil tersenyum renyah.
"Katanya mau beli kaca mata." Jelas Sang Gadis.
"Ok - Ok." Kata Alfian sambil menyalakan mesin gerobaknya.
Alfian melajukan gerobaknya menuju Mall untuk berbelanja kebutuhan yang harus dibeli saat pernikahan mereka. Mulai keperluan saat ijab kobul sampai pesta hanya mereka berdua yang memutusnya untuk membeli kebutuhan itu hanya mereka berdua.
"Beruntungnya bisa memiliki mobil mewah itu?" Kata salah seorang pengguna jalan.
"Ya pasti orangnya sangat kaya. Tapi siapa ya pemiliknya?"
Banyak pengguna jalan berkomentar seperti itu. Tidak satu pun tahu pemilik dari mobil itu.
Gerobak diparkirkan ditepi jalan raya yang cukup ramai. Ia tidak pernah khawatir jika terjadi sesuatu dengan gerobaknya itu.
Alfian sadar itu hanya sebuah titipan jadi Ia tidak pernah mengagungkan setiap barang miliknya. Alfian mengenakan kembali kaca mata hitamnya lagi sebelum keluar dari gerobak itu.
♥️♥️♥️
141
Gerobak diparkirkan ditepi jalan raya yang cukup ramai. Ia tidak pernah khawatir jika terjadi sesuatu dengan gerobaknya itu.
Alfian sadar itu hanya sebuah titipan jadi Ia tidak pernah mengagungkan setiap barang miliknya. Alfian mengenakan kembali kaca mata hitamnya lagi sebelum keluar dari gerobak itu.
"Parkir di sini?" Tanya seorang gadis mencekal lengan seorang pemuda yang baru saja selesai mengenakan kaca mata hitamnya.
"Hem." Jawab Pemuda itu sangat singkat. Mungkin baru saja berencana puasa ngomong.
"Aman?" Tanya gadis itu.
"Lihat saja nanti." Jawab Alfian dengan perlahan melepaskan tangan yang mencelanya.
Mereka berdua turun dari gerobak yang mereka tumpangi berjalan menyebrang jalan raya yang cukup padat dengan kendaraan yang berlalu lalang. Panas matahari yang menyengat kulit mereka tak mereka rasakan.
Mungkin ada rencana terselubung Alfian hingga senyum terukir jelas saat ini. Rencana untuk mengerjain calon istrinya.
Mall terbesar di kota itu sudah terlihat sangat ramai. Pertama kali mereka datang ke tempat itu sangat membuat mereka penasaran tentang pelayanannya.
"Selamat datang Tuan, dan Nona." Kata petugas yang berada di depan pintu masuk.
"Terimakasih." Jawab keduanya kompak.
Alfian dan gadis yang saat ini bersamanya mulai masuk. Belum juga berjalan jauh sudah ada suara yang tidak enak di dengar.
"Aku belum pernah melihat mereka, apa mereka orang kaya baru?" Kata salah satu penjaga yang berada di pintu masuk.
"Benar lihat pakaian mereka, bahkan mereka tadi tidak naik mobil." Celetuk teman kerjanya.
"Pastikan semua CCTV terpasang dengan baik dan tidak bermasalah." Kata petugas keamanan yang mendengar keluhan petugas tadi.
Plaak
Sebuah tepukan pada salah satu petugas keamanan yang merupakan teman ngedem Alfian terdengar cukup nyaring. Tepukan itu cukup membuat petugas keamanan lain semakin yakin kalau pemuda yang baru saja masuk mall tersebut memang dari kelas menengah ke bawah.
Mendengar ocehan bagaikan burung yang tiada henti itu membuat telinga Pemuda yang memiliki Mall tersebut semakin panas. Bukan karena ia direndahkan tapi jika ini terjadi pada pengunjung lain bisa mencoreng nama baik Mall yang terkenal ramah terhadap semua pengunjung dari semua kelas masyarakat.
"Antar aku berkeliling melihat-lihat semua barang yang dijual di sini." Titah Alfian sambil menurunkan sedikit kaca matanya.
"Baiklah sobat." Kata petugas itu.
"Tapi ini bukan tugas ku teman." Lanjutnya menolak ajakan Alfian mengingat tugas utamanya bekerja di mall itu.
"Takut dipecat?" Tanya Alfian singkat.
"Tak akan." Lanjutnya.
Kruuuuk
Kruuuuk
Kruuuuk
__ADS_1
Bunyi perut teman Alfian mulai keroncongan pun sudah terdengar.
Mereka mengelilingi Mall itu hingga tak terasa melupakan waktu makan hingga itu terjadi pada sahabatnya itu. Kelaparan istilah yang digunakan bahasa perut.
Gadis yang bersama Alfian hingga memutuskan untuk mengajak mereka makan di salah satu stant yang ada di dalam Mall itu. Gadis ini pun menjadi pendengar setia sejak tadi.
"Bapak sudah lapar?" Tanya Sang Gadis.
"Ia Non." Jawab teman Alfian dengan menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal.
"Non jangan panggil saya Bapak dong." Pinta petugas keamanan yang merupakan teman Alfian tersebut.
"Saya kan masih muda, seumuran dengan cowok yang bersama Nona." Protesnya.
"Ya sudah kalau begitu saya panggilnya Mas saja ya?" Tanya Mentari.
"Baik Non, saya setuju." Balas petugas keamanan itu.
"Makan di sana dulu yuk." Ajak Mentari sambil menunjuk stan yang dimaksut.
"Baiklah." Kata Alfian.
Stand yang menyajikan makanan dengan harga yang paling ringan. Kualitas rasanya pun tidak kalah dari stand lainnya.
Gadis ini memilih stand ini karena pengunjungya pun tidak begitu banyak. Melihat hal itu ia memiliki pertimbangan sendiri.
Gadis ini juga sudah lapar dari tadi, tapi karena dicueki oleh orang yang mengajaknya tadi yang keasikan berbincang dengan sahabatnya ia jadi terlupakan. Memaklumi mereka sahabat dekat Gadis ini hanya menahannya saja.
Mereka menuju stand yang ditunjukkan oleh Tari. Dengan langkah yang cukup lebar dan kaki panjang mereka pun cepat sampai.
Mereka bertiga memilih tempat duduk yang strategis. Ingin melihat kegiatan dari para pekerjanya.
Pelayan pun datang membawakan buku menu makan yang bisa di sajikan di stand tersebut. Benar dugaan Tari, makan di tempat ini memiliki pelayanan yang cukup baik.
"Benar kan mereka memilih stand yang paling murah." Kata salah satu pegawainya mencibir setelah Alfian dan temannya duduk.
Telinga Sang Pemilik Mall semakin panas mendengar semua ocehan mereka. Ia hanya tersenyum miring dengan merencanakan bencana untuk mereka semua hingga kalang tak berkabut.
Tap
Tap
Tap
Terdengar derap langkah menejer yang bertugas mengurus Mall itu. Langkah yang semakin dekat hingga petugas keamanan yang menemani Alfian saat ini tidak melihatnya datang karena posisi yang membelakangi pintu masuk dan sedang berbincang asik dengan pengunjung satu itu.
Menejer itu menghampiri mereka bertiga setelah mendengar dari semua staf yang bekerja di Mall itu. Alfian hanya diam melihat kedatangan sang menejer. Ia ingin mendengar apa saja yang akan di katakan menejer itu selalu pengurus Mall.
"Siang Tuan." Sapa Sang Menejer.
"Hem." Jawab Alfian agak angkuh seperti biasanya pada orang lain layaknya pemimpin.
"Penampilan seperti ini apa punya modal untuk belanja di sini? Batin Menejer itu.
"Benar apa yang aku dengar dari semua staf hari ini." Lanjutnya.
Deg
"Maaf Tuan saya ingin berbicara dengan pegawai saya." Pinta Sang Menejer.
"Silahkan menikmati makan siang Anda." Lanjutnya.
"Tapi saya ingin dia tetap disini untuk melanjutkan kerjanya." Titah Alfian tegas.
"Pembeli Adalah Raja apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Alfian pada Sang Menejer.
"Baik lah tuan itu jika anda memang mau membeli. Saya yakin anda tidak dapat membeli barang-barang di sini." Ledek Sang menejer dengan rasa percaya dirinya.
"Untuk membayar makanan yang paling murah di sini saja anda pasti menghabiskan uang di dompet Anda." Lanjutnya.
"Yap. Anda betul." Balas Gadis yang ada di samping Alfian.
Perang mulut pun akhirnya terjadi antara Gadis yang bersama Alfian dengan menejer mall itu. Alfian yakin gadisnya itu pasti akan menang jika beradu mulut.
"Baik saya akan ikut Bapak." Kata petugas keamanan yang bersama Alfian.
"Aku tidak mau di pecat, aku masih butuh pekerjaan ini." Lanjutnya yang ditujukan pada Alfian.
"Santai Bro kamu tidak akan dipecat." Kata Alfian tersenyum miring dibalik kaca mata hitamnya.
Alfian mengambil benda pipih yang ada di celana sportnya. Ia menghubungi asistennya untuk menyelesaikan masalah baru saja.
Ia minta kunci ruang kantor pribadinya dan meminta semua staf untuk berkumpul di ruang meeting. Semua staf pun merasa aneh dan tidak seperti biasanya.
Sudah lama semua staf tidak di kumpulkan secara bersamaan seperti itu. Harus senang atau khawatir untuk meraka hari ini. Kejadian seperti ini dilakukan jika dalam keadaan darurat.
Kalang tak berkabut apa sih maksutnya?
♥️♥️♥️♥️♥️
142
Sudah lama semua staf tidak di kumpulkan secara bersamaan seperti itu. Harus senang atau khawatir untuk meraka hari ini. Kejadian seperti ini dilakukan jika dalam keadaan darurat.
Makan siang hari ini cukup dengan lauk drama yang seharusnya tidak terjadi. Melihat kondisi tempat perbelanjaan miliknya membuatnya sangat prihatin.
Makan siang telah selesai, kini pahlawan bertopeng akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi baru saja. Bukan pahlawan bertopeng tapi pahlawan berkaca mata hitam.
Alfian menuju kasir untuk membayar semua tagihan makan yang baru saja mereka bertiga santap dengan tidak lahapnya. Tapi habis karena kejadian itu terjadi setelah mereka habis melahap hidangan yang mereka pesan.
Dompet pemuda itu dikeluarkan perlahan dari sakunya. Ternyata benar uangnya habis hanya untuk makan.
Kasir di tempatnya makan itu juga sempat melihat dompet milik Alfian. Tapi tetap saja ia masih ramah walaupun ia belum sempat melihat semua kartu milik pemuda itu.
Alfian sempat melihat raut wajah kasir di stand tempat ia makan barisan. Ia masih menghormati pengunjung di sana walaupun mereka dari kalangan menengah ke bawah.
"Menarik." Ucap Alfian dingin. Ucapan itu adalah pujian untuk stand tersebut.
Usai membayar Alfian kembali duduk pada mejanya menghampiri gadis yang bersamanya. Ia meminta sang gadis menunggu sebentar di sana.
Asisten Alfian segera menuju Mall dengan tergesa-gesa tak ingin masalah menjadi besar. Ia langsung menghampiri Bosnya itu di stand yang dimaksud.
Semua karyawan sudah mengenal Ziko sebagai asisten pemilik Mall itu. Mereka sangat menghormati asisten itu karena sikapnya yang tegas seperti Bosnya.
"Ada apa, apa ada yang penting?" Tanya Asisten tampan sang Bos.
"Hem." Jawab Alfian.
"Kalau tidak penting ngapain aku minta kamu datang ke sini." Jelas Alfian.
"Mau jadi obat nyamuk buat kalian yang sedang makan siang berdua." Ledek Ziko.
Melihat di meja ada tiga porsi makanan dalam otaknya bukan lagi berdua tapi bertiga. Ia menatap Sang Bos dengan tatapan mencari tahu orang ketiganya.
"Kamu tunggu di sini dulu. Aku ada sedikit urusan yang harus diselesaikan." Titah Alfian pada gadis yang bersamanya sambil berdiri.
"Hem." Jawab Mentari singkat.
Gadis ini memang tidak mau mencampuri urusan orang lain. Ia tidak bertanya banyak saat ini. Ia percaya sepenuhnya pada Alfian.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki begitu cepat menuju sebuah ruang kantor yang sangat sederhana tapi cukup elegan. Kantor yang sangat jarang sekali dijamah oleh pemiliknya.
__ADS_1
Banyak pasang mata yang menyaksikan pemuda yang mereka perbincangkan tadi berjalan diikuti oleh Asisten Pemilik Mall tersebut. Mereka mengira terjadi sebuah kasus pada diri Pemuda itu, tapi siapa sangka hal yang terjadi malah sebaliknya.
Ceklek