
"Assalamualaikum." Salam Dita.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Briyan.
"Besuk adalah acara?" Tanya Briyan yang masih sangat canggung.
"Tidak." Jawab Dita.
"Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Besuk Fitting baju ya?" Ajak Briyan.
"Baiklah." Jawab Dita.
"Sudah dulu, aku tutup teleponnya.ok." Kata Briyan.
"Ok." Kata Dita.
"Assalamualaikum." Salam Briyan.
"Wa'alaikumsalam." Balas Dita.
Panggilan telepon telah ditutup. Sambil menatap layar ponselnya Briyan tersenyum senyum sendiri. Apa dia juga akan Bucin juga ya, pria yang selama ini sangat pendiam dan dingin ini. Nanti bisa dijadikan judul baru novel ku baru ku ya.
Waktu semakin malam. Hari ini sungguh sangat melelahkan. Tapi rasa bahagia yang ada dihatinya sungguh tak bisa diungkapkan.
Malam hari Briyan segera tidur setelah seharian menyelesaikan pekerjaannya. Untuk acara pernikahan semuanya sudah selesai tinggal cek ulang.
*** Kediaman Adrean ****
Malam ini mereka semua asik meledek anak gadisnya hingga wajahnya merah merona karena malu. Hingga tanpa terasa waktu pun terasa sudah lumayan larut malam.
"Tamu spesial hari ini, memang tak bisa dibandingkan." Ledek Mama.
"Jalangkung sejak dulu." Kata Papa.
"Di rumah kak Al gak ada air buat mandi ya?" Ledek Daffa.
"Iya ya sampai - sampai kalau ke sini pasti basah kuyup." Kata Axel.
"Itu pasti kerjaan kalian kan?" Tanya Tari
"Mau tahu aja." Kata Garda.
Memang ke tiga adiknya itu selalu usil. Biarpun juga mereka sering bertengkar masalah sepele, tapi itu hanyalah bumbu.
"Kalian mau sekolah di mana?" Tanya Papa yang selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya.
"Terserah dimana saja juga boleh." Jawab Axel.
"Baiklah besuk Mama atau Kakak kalian akan mengantar kalian ke sekolah." Kata Papa.
"Sudah malam. kalian istirahatlah." Kata Papa.
Mereka menuju kamar masing-masing. Sesudah membersihkan diri dan berganti pakaian mereka segera tidur.
Hari Senin
Adrean langsung pergi ke kantor setelah sarapan. Sebelum berangkat ia mengingatkan pada sang istri untuk mendaftarkan sekolah anak-anaknya. Mentari juga ikut bagian mengantar ketiga adiknya.
Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang. Ia berangkat lumayan agak siang jadi sedikit terjebak macet.
Sampai di parkiran ia langsung memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Semua karyawan menyapanya ramah. Tapi tetap saja Adrean dengan tampangnya yang dingin terus berjalan menuju ruang kerjanya.
Ruang kerja Briyan yang dilewati sedikit agak terbuka pintunya. Ia melihat sang penghuni sedang senyum-senyum sendiri.
Adrean mengetuk pintu perlahan seperti biasanya. Tapi empunya tidak mendengarkannya.
Adrean memutuskan untuk menghampirinya.
"Kamu datang keruangan ku sekarang!" Perintah Adrean dengan penuh penekanan. Ia angin mengerjai Briyan hari ini dengan jailnya.
Briyan segera menuju ke ruang kerja Adrean. Ia sudah takut melakukan sesuatu kesalahan.
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Adrean pun di ketuk. Adrean sudah menyiapkan segala aktingnya.
"Maaf Tuan Briyan, kanapa tadi anda saya panggil tidak segera menyahut." Bentak Adrean.
"Maaf tadi saya tidak mendengar." Kata Briyan lirih merasa bersalah.
"Baiklah untuk kali ini saya maafkan." Kata Adrean yang ingin tertawa melihat raut wajah sahabatnya yang sudah ketakutan.
"Ada agenda apa hari ini untuk saya?" Tanya Adrean.
"Tidak ada." Jawab Briyan singkat.
"Ada apa lagi kamu masih disini? Tanya Adrean melihat Briyan masih berdiri mematung.
"Maaf saya mau ijin hari ini." Kata Briyan memberanikan diri.
"Baiklah. Memangnya ada apa?" Tanya Adrean.
"Saya hari ini sudah ada janji mau fitting baju pengantin." Jawab Briyan.
"Ya pergilah, dan cepatlah menikah biar tidak karatan itu tongkat sakti." Ledek Adrean sambil tersenyum smirk.
"Terimakasih. Bos." Kata Briyan segera meninggalkan ruang Adrean.
Brian segera menuju ruang kerjanya dan menghubungi Dita. Setelah menghubungi Dita ia pun bersiap menuju parkiran mobil dan melajukannya menuju rumah calon istri.
Dita pun sudah siap berangkat untuk Fitting baju pengantin. Mereka berangkat bersama menuju butik yang sangat terkenal dengan model dan pelayanannya itu.
♥️♥️♥️
91
Kedua calon mempelai pun berangkat bersama. Dalam perjalanan hanya ada diam seribu bahasa diantara mereka.
Briyan hanya senyum-senyum sendiri tanpa membuka percakapan. Dita menggelengkan kepalanya perlahan melihat laki-laki yang ada disampingnya.
"Senyum-senyum sendiri kenapa? Tanya Dita.
"Gak apa-apa, bahagia aja sebentar lagi bersama orang tercinta." Jawab Briyan.
"Gak usah senyum terus kali. Ntar gigi bisa kering." Jelas Dita.
"Gampang ntar disamping aku ada kok yang bisa basahin." Kata Briyan.
Dita membulatkan matanya mendengar perkataan calon suaminya.
"Aku gak sangka Dia seperti itu sekarang pikirannya. Apa sebenarnya yang merasukinya" Batin Dita.
Mereka sudah sampai di butik untuk Fitting baju pengantin. Semua pegawai menyambutnya dengan ramah.
Dita adalah pemilik butik itu. Karyawan memang belum mengetahui pemilik butik yang sebenarnya. Hanya orang kepercayaannya yang tahu dan menghendle butik itu.
Briyan sudah mencoba pakaian yang akan dikenakan untuk ijab kobul dan acara pesta malam harinya. Karyawan-karyawan tersebut membantu memilihkan pakaian untuk keduanya. Terutama pakaian dengan desain yang sekarang ini merupakan tren di semua kalangan.
Sekarang giliran Dita yang Fitting pakaian. Briyan terus mengamati wanita itu. Setiap gerakan tak terlewat sama sekali.
Perjalanan menuju tempat ijab kobul dan resepsi adalah sasaran mereka berikutnya. Hotel ini adalah milik Briyan. Hotel yang mana Briyan melamar Dita saat wanita itu lupa memakai alas kakinya.
Mereka sampai di hotel tepat waktu makan siang. Briyan dan Dita sekaligus makan siang di hotel itu.
Briyan memantau semua persiapan untuk acara pernikahannya sendiri. Ia tidak mau ada sebuah kesalahan biarpun itu hanya sedikit.
"Kerja bagus." Ucapnya pada manajer hotel.
"Terimakasih Tuan." Balas Meneger Hotel.
Mereka berdua berada di hotel hingga sore hari. Semua terlihat sudah sempurna, dan mereka hendak pulang.
Briyan mengantarkan Dita sampai di rumahnya. Dalam perjalanan itu mereka hanya diam seribu bahasa.
Tiba-tiba sopir menghentikan mobil mendadak karena lampu merah (Sopirnya kan Briyan ☺☺☺). Ia merasa tidak enak juga kalau harus diam terus. Akhirnya ia pun membuka suara.
"Kayak kuburan." Kata Briyan.
"Mana?" Tanya Dita.
Briyan hanya menggelengkan kepalanya perlahan mendengar tanggapan wanita di sampingnya.
"Di sekitar sini Memangnya ada kuburan?" Tanya Dita lagi.
__ADS_1
"Sudahlah anggaplah angin lalu." Pinta Briyan yang tidak mau menjelaskan maksutnya.
"Kamu ingin apa sebelum menikah?" Tanya Briyan.
"Aku pikir-pikir dulu deh ya." Pinta Dita.
"Kayak lagu aja." Kata Briyan.
Briyan tidak mau ada yang dipikirkan terlalu berlebihan oleh wanita yang ada disampingnya sebelum menikah. Mendengar jawaban Briyan tadi Dita mencari CD untuk di putar agar suasana di dalam mobil tidak terlalu hening.
CD yang dipilih merupakan musik bernuansa romantis. Enak didengar dalam situasi yang seperti itu.
Tanpa terasa mereka sampai di rumah dengan selamat. Ibu sudah menunggu mereka. Ada yang akan disampaikan oleh sang ibu pada mereka berdua.
Di depan rumah Dita mobil berhenti. Briyan membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.
"Turunlah pelan-pelan." Kata Briyan.
Dita pun turun dengan hati-hati. Mereka berjalan menuju rumah Dita.
Ting tong Ting tong Ting tong
Suara bel rumah berbunyi. Ibu segera membukakan pintu.
"Assalamualaikum." Salam Briyan dan Dita bersamaan saat pintu dibuka.
"Wa'alaikumsalam." Balas Ibu Dita.
Briyan dan Dita mencium punggung tangan ibu. Mereka disuruh masuk dalam rumah. Sebab ada pesan yang akan disampaikan beliau.
"Nak Briyan, Dita sebelum acara pernikahan kalian tidak boleh ketemu dulu." Pesan Ibu.
"Iya Bu." Jawab Briyan dengan berat hati.
"Biasa orang Jawa untuk menghindari hal yang tidak diinginkan." Jelas Ibu.
"Istilahnya dipungut." Sambungnya lagi.
Briyan tahu tentang adat yang disampaikan oleh ibunya Dita. Pikirannya menolak sebenarnya mengenai hal itu. Untuk membesarkan hati sang ibu, ia hanya menyetujuinya saja.
Briyan berpamitan setelah makan malam bersama keluarga Dita. Ia segera pulang ke apartemennya.
Briyan segera mandi dan menyelesaikan pekerjaannya yang tadi siang sempat tertunda. Waktu hampir tengah malam, ia pun segera beranjak tidur. Sebelum tidur ia membayangkan wajah Dita yang sangat cantik.
"Tak sabar rasanya menjadikan mu istri." Gumam Briyan.
*** Adrean ***
Hari ini Adrean bekerja sendiri tanpa asistennya. Ia memberikan kesempatan padanya untuk mencari pasangan hidup.
Pernikahan sekali seumur hidup, jadi Adrean juga memaklumi kesibukan dalam merencanakan pernikahannya agar berkesan untuknya sendiri.
Ia mencari waktu yang tepat juga untuk melepaskan asistennya itu. Adrean tidak ingin sahabatnya itu hanya bekerja padanya terus menerus, sedangkan dia sendiri punya perusahaan.
Waktunya pulang kerja, Adrean sangat senang. Bertemu dengan anggota keluarga membuatnya semakin bersemangat.
Perjalanan saat seperti ini seringkali terjadi kemacetan. Bising kendaraan selalu terdengar. Membuat pengguna jalan juga seringkali merasa emosi.
Bayangan keluarga yang menunggu di rumah membuatnya bisa menahan emosi saat kemacetan seperti ini. Senyuman mereka terukir dalam ingatannya hingga merasakan adem dalam hati dan pikirannya.
Tanpa terasa Adrean sudah sampai di kediamannya. Semua keluarga selalu menunggunya.
Papa berjalan menuju kamarnya. Ia segera mandi dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan sang istri.
Mama dan Mentari berada di ruang makan menyiapkan makan malam di atas meja. Entah apa yang di masak selalu saja aroma yang tercium menggugah selera makan.
Papa berjalan menuju ruang makan dan dibelakang sudah ada ketiga kurcaci yang mengekorinya tanpa sepengetahuannya. Mama dan Mentari melihat kelakuan mereka itu ingin tertawa.
"Main kereta-keretaan ya?" Tanya Kakak.
"Iya." Jawab ketiga adiknya sambil mengangguk dengan posisi berbaris dan memegang pundak saudara yang ada di depannya.
"Ayo makan dulu, yang main nanti lagi." Perintah Mama dengan memberikan piring pada masing-masing anggota keluarganya.
Mereka duduk ditempat mereka masing-masing. Mereka selalu tertib dalam segala hal.
Nasi dan sayur sudah diambilkan. Saat Papa mulai makan nasi dan sayur itu ia mengunyah perlahan. Ada sesuatu yang aneh dirasakan dilidahnya.
"Ini rasa baru ya?" Tanya Garda.
"Diminum aja itu kuahnya." Perintah Axel.
Ketiga anak ini hanya cengar-cengir sambil makan. Mama dan kakak masih belum memakan makanannya. Mereka mendengarkan ocehan ketiga anak laki-lakinya.
Mama dan Kakak jadi penasaran akibat ocehan anak-anaknya. Mereka akhirnya menyendok makanannya dan memasukkan kemulut.
"Enak juga." Kata Mama dengan rasa bersalahnya.
Mau tidak mau mereka menghabiskannya. Mereka tidak mau menyakiti hati sang Mama dan Kakaknya.
"Jangan dimakan kalau gak enak, kita pesen aja." Kata Mama.
Terlanjur habis makanan yang dimasak tadi. Terpenting tidak membahayakan tubuh buat mereka.
**** **** ****
Apasih yang dimasak sebenarnya? ...
♥️♥️♥️
92
Mama teringat telah mengganti toples antara gula dan garam. Padahal tadi yang memberikan bumbu masakan adalah Kakak.
Mama lupa memberitahukannya pada kakak. Terjadilah rasa aneh pada masakan mereka kali ini.
Makan malam sudah selesai, seperti biasanya mereka saling bercerita, bercanda dan berbincang-bincang untuk melepaskan lelah setelah seharian beraktivitas. Mama selalu melarang suaminya membawa pekerjaan kantor ke rumah, karena saat di rumah adalah waktu bersama keluarga. Ia akan marah jika itu terjadi.
*** Obrolan di Ruang Keluarga ***
"Kapan kamu siap menggantikan Om Briyan?" Tanya Papa.
"Kapanpun siap Pa?" Jawab Kakak.
Memang Mentari sejak sang Ayahnya masih ada ia sering di ajak untuk mengurusi perusahaan. Waktu dipegang oleh Papa pun ia juga diikut sertakan dalam mengurus perusahaan. Untuk ketrampilan mengenai perusahaan pun sudah tidak perlu dipertanyakan.
"Tadi siang waktu ke sekolah gimana?" Tanya Papa lagi pada ke tiga jagoannya.
Mereka bercerita waktu tadi mereka mendaftarkan sekolah. Mereka diantarkan oleh Mama dan Sang Kakak.
Fleshback
Pagi tadi setelah Papa berangkat kerja, Mama dan Kakak mengantar ketiga jagoannya untuk mendaftar sekolah. Mereka langsung menuju ruang kepala sekolah.
Kakak mengenal kepala sekolah tersebut sehingga mereka sempat berbincang lama. Kebetulan kepala sekolah itu adalah orang tua dari teman sekolah saat masih di Sekolah Dasar.
"Maaf Pak saya nitip anak saya untuk sekolah di sini." Kata Mama.
"Baik lah Bu, kami akan memberikan yang terbaik untuk anak ibu." Kata Bapak kepala Sekolah.
Saat Mama dan Kakak berada di Ruang Kepala Sekolah ketiga kurcaci itu bermain di halaman sekolah dengan sangat senang. Beberapa teman baru mereka dapatkan.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Kata Kakak dengan sopan.
"Baik Bu, Nona mari saya antar." Kata Bapak Kepala Sekolah.
Keluar dari Ruang Kepala Sekolah mereka menghampiri Mama dan Kakak mereka. Mereka merajuk untuk tidak segera pulang. Mereka masih ingin bermain di sana.
"Ma pulang nanti ya?" Kata Daffa sambil merajuk.
"Tidak sayang kita pulang sekarang." Bujuk Mama.
"Tidak ada kata tapi, Ok." Kata Mama menegaskan dengan lembut.
"Sini adik-adik ku sayang." Kata Kakak sambil berjongkok mensejajarkan dengan wajah ketiga adik mereka.
"Kita tidak pulang tapi ke mall beli peralatan sekolah maksud Mama seperti itu." Kata Kakak setelah ketiga adiknya berkumpul.
"Hore." Teriak ketiga kurcaci bersamaan.
Mereka pulang dari sekolah Kakak langsung melajukan mobilnya menuju mall. Mereka membeli semua peralatan sekolah yang akan digunakan besuk saat sekolah.
Kakak memang sudah mengendarai mobilnya sendiri. Sujak Ia kelas dua Sekolah Menengah Atas sudah memiliki surat ijin mengemudi. Tapi ketika berangkat ke sekolah ia lebih sering diantar oleh sopir keluarga atau berangkat bersama Sang Papa.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 sudah waktunya untuk makan siang. Begitu asiknya mereka berbelanja jadi lupa untuk makan siang.
__ADS_1
Kruuk kruuk kruuuk
Bunyi perut Axel tanda cacing dalam perutnya mulai berdemo untuk minta di kasih makan.
"Bunyi apa itu tadi ya?" Tanya Kakak.
"Bunyi perut ku Kak." Jawab Axel dengan malu-malu.
Mereka menuju tempat makan yang lumayan kecil dalam mall tersebut. Tidak banyak pengunjung yang datang karena tidak terlalu besar.
"Kenapa kesini Kak?" Tanya Garda.
"Sudah masuk dulu saja." Kata Kakak.
"Ini kan tempatnya kecil pengunjungnya juga sedikit." Kata Garda.
"Betul apa kata Garda Kak, di sana saja kayaknya lebih enak." Kata Axel sambil menunjuk tempat makan yang lebih besar.
"Coba dulu aja gimana rasa masakannya." Kata Mama yang sejak tadi memperhatikan dialog anak-anaknya.
Akhirnya mereka masuk ke rumah makan yang kecil tadi. Pelayan menyambut mereka dengan ramah. Mereka memilih tempat duduk yang nyaman menurut mereka.
Setelah mereka duduk seorang pelayan memberikan buku menu. Banyak pilihan menu yang ditawarkan.
Mereka memesan semua makanan kesukaan masing-masing. Pelayan pun pergi mengambil semua pesanan mereka.
Tanpa menunggu lama pesanan mereka datang. Saat menunggu makanan itu ada sepasang mata yang mengintai interaksi mereka.
"Silahkan dinikmati." Kata Pelayan.
"Terimakasih Mbak." Kata Kakak.
Mereka menikmati makanan itu dengan lahapnya. Entah apa karena enak atau kelaparan author pun yang sok tahu.
Makanan telah habis disantap. Mama berjalan menuju kasir untuk membayar makanannya.
"Sebentar Ma." Pinta Axel.
"Ada apa?" Tanya Mama.
"Nambah ya Ma? Pinta Daffa dan Garda bersamaan.
"Kompak amat." Celetuk Kakak.
"Iya lah." Kata Ketiga Kurcaci Kecil bersamaan.
"Gak usah nanti kapan-kapan lagi aja makan disini." Kata Mama.
Mereka bertiga mulai memasang wajah cemberutnya. Jarang sekali mereka minta nambah waktu makan. Ini aja yang pertama tapi udah di tolak.
"Sayang ketiga adikku yang paling ganteng." Rayu Kakak.
"Hem." Keluh Ketiga Kurcaci bersamaan.
"Kalau makan berlebihan nanti justru bisa sakit lho." Nasihat Kakak.
"Iya-iya kami tahu." Kata ketiganya bersamaan.
"Yaudah kalau gitu senyum dong, jangan cemberut melulu. Jelek tahu." Nasehat Sang Kakak yang panjang kali lebar.
"Udah ini ya?" Tanya Mama lagi.
"Mama sayang sebelum kami berubah pikiran mending Mama segera ke kasir deh." Kata Daffa.
Ketiga anak kecil ini memang setiap kali punya pendapat atau keinginan tidak mau ditolak dengan alasan apapun. Terkecuali mereka punya hal yang kuat untuk membatalkannya.
"Baiklah." Kata Mama.
Mama pun pergi menuju kasir. Ia membayar tagihan makan yang telah mereka makan.
"Itu semua anak Ibu ya?" Tanya sang pemilik rumah makan itu
"Iya, ada apa Mbak?" Tanya Mama pada pemilik rumah makan itu, karena terlihat masih muda Mama memanggilnya Mbak.
"Lucu sekali, mereka kembar sepertinya." Tanya Mbaknya.
"Iya betul. Saya permisi dulu. Saya sudah selesai." Pamit Mama dengan sopan.
"Terimakasih atas kunjungan anda." Kata Mbaknya.
Mama menghampiri ke empat anaknya. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir.
Kakak mulai mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati. Bukan berarti mengemudikan pelan seperti semut berjalan lho ya.
Perjalanan siang hari memang tidak sepadat waktu pagi atau sore hari. Mereka tidak terjebak dalam kemacetan karena siang itu jalanan tidak begitu ramai.
Di dalam mobil Mama mulai mengeluarkan petuah-petuahnya. Biasa setiap kali ada pelajaran moral Ia selalu menyampaikan pada anak-anaknya yang masih kecil.
Tidak semua pelajaran didapatkan di sekolah intinya seperti itu. Mama tidak ingin anak-anaknya memiliki hati yang tidak perduli dengan orang-orang disekitarnya. Biarpun watak mereka yang dingin yang penting hatinya 👍.
"Jangan menilai sesuatu dari luarnya dulu, ia atau seperti apa yang kamu lihat sebelum kamu tahu kebenarannya." Nasehat Mama yang sangat panjang itu tadi hanya intinya
♥️♥️♥️
93
Pelajaran tidak harus dari sekolahan bukan tapi dari pengalaman bisa diambil juga banyak manfaatnya." Tambah nasehat dari Sang Kakak.
Flesh Off
Mulai dari berangkat sampai perjalanan pulang semua diceritakan oleh Kakak. Hingga tiba waktunya untuk tidur.
Mereka menuju kamar masing-masing dan segera tidur. Sebab besuk mereka sudah beraktivitas dengan hal baru untuk ketiga jagoannya.
Pagi sudah datang bersama dengan kehangatan sinar matahari pagi. Papa bersiap ke kantor, Mama juga mulai dengan aktivitas lamanya mengurus perusahaan, sedangkan Kakak mengurus acara perpisahan di sekolahnya. Tidak kalah sibuk juga, alias sok sibuknya ketiga kurcaci mulai masuk sekolah.
Selesai sarapan Papa berangkat bersama dengan Mama. Kakak mengantarkan ketiga adiknya ke sekolah. Kalau semua berangkat bersama dalam sebuah mobil takutnya akan terjebak macet. Sehingga mereka pun membagi tugas masing-masing.
*** Papa dan Mama ***
Papa mengantar Mama sampai di depan Perusahaan Sin Group. Sinta adalah Presiden Derektur pemilik sekaligus pemegang saham terbesar milik keluarganya dulu.
Mobil berhenti cukup lama Sang Suami tidak segera membuka kan pintu. Ia pun punya alasan sebenarnya berat jika istrinya bekerja. Tapi apalah daya, sang istri selalu punya alasan.
"Mama..... Ma..... " Panggil Papa dengan lemah lembut.
Akh aaaaakh
Saat menoleh ke arah posisi kemudi tiba-tiba Sang Suami mel***umat bibir merahnya. Ia mendorong Sang Suami karena terkejut.
"Papa... " Teriak Mama
"Gimana kalau ada yang lihat." Lanjut Mama.
"Gak ada yang lihat sayang." Ini kacakan tidak tembus pandang." JelasPapa.
"Aku berangkat dulu." Kata Mama.
"Maaf. Aku tadi terkejut." Lanjut Mama.
Mama turun dari dalam mobil. Banyak karyawan yang memandangnya sejak mobil tadi berhenti.
Mereka tidak tahu siapa yang datang. Semua karyawan tidak menyambutnya bahkan ada suatu kejadian yang tidak diinginkan.
Sinta bisa melihat cara kerja karyawan secara langsung. Banyak karyawan yang kerja sambil ngobrol tanpa ada keseriusan kerja.
Di depan tempat resepsionis pun juga sama halnya. Petugas resepsionis lebih banyak mengobrol dari pada menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sinta masuk dengan senyum termanisnya. Petugas keamanan menghentikan langkahnya. Itu adalah ulah petugas resepsionis.
"Anda mau kemana Nona?" Tanya petugas keamanan yang memiliki postur tubuh besar dan terlihat bertenaga.
"Ke ruangan saya." Jawab Sinta.
"Anda salah mungkin, pimpinan disini adalah Pak Reno." Kata Petugas itu.
"Baiklah kalau begitu tolong hubungi beliau Nona Sinta ingin bertemu." Pinta Sinta dengan tatapan yang tajam.
Petugas resepsionis akhirnya menghampiri mereka. Ia berusaha menjelaskan Prosedurnya dengan membuat janji terlebih dahulu.
"Maaf Nona, apakah anda sudah membuat janji? Tanya petugas Resepsionis.
"Belum!" Jawab Sinta tegas.
"Apakah saya perlu membuat janji jika saya mau pergi keruang kerja milik saya sendiri?" Hardik Sinta lagi dengan berdiri tegap dengan tangan sedekap.
__ADS_1