Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 163. Penasaran


__ADS_3

Merasa penasaran seorang mahasiswa itu keluar mengikuti gadis itu. Mentari langsung menuju perpustakaan mencari sumber untuk tugas-tugas yang belum selesai.


Buku yang dicari sudah dia temukan kemudian gadis itu meminjamnya pada petugas perpustakaan. Buku pinjaman itu dibawanya menuju taman yang tidak jauh dari sana.


Mentari merasa ada yang mengikuti sejak keluar dari ruang kuliah. Ia berusaha tetap tenang.


"Apa ini mungkin salah satu maksut Papa tadi melarang berangkat ke kampus?" Tanyanya dalam hati.


"Tapi sejak dari pemakaman itu juga bapak tua itu memberikan sebuah peringatan." Lanjutnya*.


Plak


Sebuah tepukan telapak tangan mengenai bahu Mentari. Ia pun tersentak walaupun sudah merasa ada yang mengintai.


Seorang laki-laki mencoba duduk disebelah Mentari. Walaupun kursi di tanam itu lumayan cukup panjang hingga beberapa orang masih muat untuk duduk di sana.


"Sendirian." Tanya seorang pemuda.


"Hem." Jawab Mentari singkat.


"Mahasiswa angkatan tahun ini kah? Sepertinya." Kata Pemuda itu melihat secara intens gadis yang duduk di sampingnya karena dia merasa gadis ini dia baru melihatnya.


"Maaf aku masih ada urusan." Kata Tari hendak pergi dari sana karena merasa tidak nyaman.


Dosen muda yang sekarang berada di ruang kantor dosen sejak tadi melihat pada Mentari karena penasaran. Rasa penasarannya itu terjadi karena hanya gadis itu tadi yang tidak memiliki antusias padanya.


Mentari hendak menuju ruang kuliahnya lagi karena masih ada kuliah siang yang di tempuh. Ruang itu masih terlihat sepi, hanya beberapa orang mahasiswa yang sudah datang.


Merasa badannya tidak nyaman karena capek seharian kemarin memiliki pasien yang harus dijaga. Mentari tidak jadi mengikuti kuliah hingga selesai hari ini.


Waktu terus berjalan, tanpa terasa sudah beranjak waktu makan siang. Mentari oergi untuk mengambil motornya yang berada di tempat parkir.


Motor itu adalah motor kesayangan Mentari. Sebuah hadiahyang terlihat mungkin hanya sebatas motor biasa tetapi sebenarnya sudah diberikan alat pelacak.


Tidak seorang pun menyadari akan adanya alat pelacak itu termasuk Mentari sendiri. Dipasangnya alat itu memiliki tujuan keamanan untuk pemakai.


Gadis itu segera menyalakan motor pergi menuju kediaman utama milik Sang Papa. Merasa tidak nyaman dengan kondisi dan kejadian hari ini.


Jalanan begitu ramai dengan berbagai aktifitas layaknya sebuah ibu kota. Apalagi saat ini ditengah kesibukan orang-orang bekerja membuat semakin padat dan kemacetan terjadi dimana-mana.


Untung saja Mentari membawa motor sehingga dia pun cepat sampai di rumah. Sepeda motor dengan disain yang lebih kecil itu bisa menyelip diantara pengguna mobil hingga tak butuh waktu lama untuk mencapai tujuannya.

__ADS_1


"Siang non." Sapa salah satu ART yang sedang bersih-bersih di depan.


"Siang Ana." Balas Tari.


"Tumben pulang cepet." Kata Ana.


"Gak ada apa-apa." Jelas Tari memindai setiap sudut ruang yang sudah penuh dengan pekerja untuk membersihkan dan mendekorasi rumah itu.


Gadis itu melangkah menuju kamarnya perlahan sambil mengamati setiap orang yang bekerja. Dia sendiri merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah yang begitu ramai seperti sekarang ini.


Klek


Pintu kamar dibuka perlahan oleh yang punya. Ingin segera memejamkan mata walau sebentar setelah membersihkan dirinya.


"*Apa aku harus menikah diusia ku sekarang?" Batinnya.


"Aku kan masih muda banget." Lanjutnya saat masih duduk di depan meja rias.


"Aku jadi penasaran rasanya menikah muda." Batinnya lagi.


"Oh tidak..... Jika teman-teman sekolahku tahu gimana pandangan mereka." Lanjutnya dengan menggelangkan kepala sedikit keras tak percaya*.


Memang selama menempuh pendidikan Mentari tidak pernah mengungkap identitas aslinya. Dia yang mereka kenal adalah seorang anak yang berasal dari golongan masyarakat kelas menengah ke bawah.


Dia mendapatkan seorang Alfian anak orang yang sungguh sangat kaya raya bagaimana pandangan orang-orang? Semua itu ada dalam pikirannya.


Ketiga saudaranya pun sudah pulang ke rumah. Saat mereka sampai hampir semua ruangan sudah selesai didekorasi.


"Lumayan." Kata Daffa berlari masuk kemudian naik tangga hendak menuju kamar Sang Kakak Perempuannya itu.


"Harus meriah ini Kak. Saudara perempuan kita kan cuma satu doang. Kata Garda dingin walaupun hatinya sangat bahagia.


"Aku sih setuju-setuju aja. Aku ingin yang terbaik untuknya." Kata Axel.


"Kenapa harus secepat itu juga dia menjadi milik orang lain. Apa Kak Tari akan tinggal di sini setelah menikah." Lanjutnya kecewa karena ditinggal Kakak perempuan satu-satunya.


"Sudahlah jangan sedih seperti itu, kalau Kakak tahu pasti dia akan lebih sedih." Nasehat Garda.


"Aku jadi penasaran dengan kakak ku pasti sangat cantik saat dirias menjadi pengantin." Kata Axel mencoba menghibur diri sendiri.


Mentari memang sosok seorang kakak yang penuh dengan kasih sayang. Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk orang-orang yang ada disekitarnya.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Axel pada Daffa yang saat itu sudah berada di dekatnya dan melihat tatapan mata saudaranya seakan mereka memiliki sebuah pemikiran yang sama.


Ketiga saudara laki-laki ini saling pandang saat melewati kamar sang kakak. Pemikiran sang sama selalu muncul pada mereka.


Saat Daffa akan berteriak kedua kakaknya langsung membungkam mulut sang adik bungsu. Takut suara Daffa terdengar hingga ke dalam kamar untuk itu kedua saudaranya membungkamnya.


"Lepas." Pinta Daffa sambil meronta karena mulutnya disekap oleh kedua kakaknya.


"Memang kakak sudah pulang?" Tanya Daffa melihat ke arah kamar Sang Kakak perempuannya.


"Memangnya kamu tadi tidak lihat apa motornya itu udah diparkirkan di depan." Jelas Garda.


"Maaf-maaf aku tadi merem sambil jalan." Kata Daffa.


"Apa yang ada dipikiran kalian?" Tanya Axel.


Di Dalam Kamar Sang Kakak


Mentari setelah selesai membersihkan diri kemudian merapikan dirinya didepan meja rias mendengar sedikit bisik-bisik keributan ketiga adiknya dari luar. Ketiga suara adiknya itu sudah tidak asing lagi buat dia.


Mendengar keributan itu Tari keluar dari dalam kamar. Gadis itu ingin tahu apa yang telah terjadi.


"Hai Kakak ku yang paling cantik." Sapa Daffa yang saat itu juga melihat sang kakak sudah berdiri di ambang pintu dengan bersedekap.


"Ngapain kalian ribut didepan kamar ku?" Tanya Tari penasaran.


"Tidak, kami hanya penasaran kakak ada di kamar tidak?" Jawab Axel.


"Iya betul betul betul. Mana tahu kakak gak pulang ke rumah tapi pulang ke tempat calon suami." Kata Garda untuk meyakinkan sang kakak.


"Ngomong-ngomong kakak kenapa sudah pulang? Tanya Daffa dengan mengadu lengannya berkali-kali dengan sang kakak.


"Tidak apa-apa." Jawab Sang Kakak dengan malas.


"Aku jadi penasaran. Apa karena ucapan Papa tadi pagi?" Tanya Garda.


"Boleh kah kami masuk? Tanya Axel sedikit sungkan.


"Betul betul betul. Tidak sopan kali Kak kalau ngobrol di depan pintu seperti ini." Jelas Daffa sambil menaik turunkan alisnya.


"Masuk lah." Perintah Sang Kakak.

__ADS_1


Ketiga bersaudara kembar tapi itu berharap Kakak perempuannya belum pulang ke rumah. Mereka bertiga tahu jadwal kuliah Kakaknya hari ini sampai sore itu pun kalau tidak mengikuti latihan bela diri.


__ADS_2