Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 153. Rekayasa


__ADS_3

Gadis yang merasakan sakit pada pergelangan kakinya itu wajahnya kini sudah merah karena malu karena menjadi bahan perbincangan mereka yang ada di ruangan itu. Pasalnya sudah lama mereka semua tahu hubungan antara Asisten dan sekretaris Alfian tidaklah sesederhana itu.


Hubungan antara keduanya sudah sangat dekat bukan hanya rekan kerja tetapi mereka adalah sepasang kekasih. Hubungan yang disembunyikan pada publik yang pada akhirnya akan banyak hati yang terluka.


Bagaimanapun juga Asisten yang satu ini memiliki banyak sekali keunggulan. Tampan iya, pitar dan cerdas iya dan tak kalah penting gaji juga besar belum lagi bonus yang didapatkan dari atasannya yang suka mengancamnya itu sangat banyak.


Siapa yang tidak ingin mendapatkan pendamping hidup seperti dia, jadi kekasih saja sudah sangat beruntung.


(Ini sang author lagi matre banyak).


Jangan ditanya lagi soal hati jika Asisten ini sudah menyukai seseorang ia akan selalu setia & penuh kasih sayang. Bagaimana tidak senang jika menjadi pendamping hidupnya.


Asisten Alfian berlari sangat cepat seperti orang kesetanan keluar dari ruang rawat atasan. Ia segera menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya Monik tadi.


Setelah mendapatkan barang pesanan Alfian ia pun segera kembali ke kamar rawat Atasannya. Apa isinya pun Ia tak tahu sebab ia cuma diminta mengantarkan pesanannya saja.


Ceklek


Pintu bangsal tempat Alfian pun terbuka perlahan. Mereka melihat seorang perawat masuk.


Perawat itu ketika masuk melihat sekelilingnya. Senyum merekah di bibirnya mencoba memberikan kesan pada semua orang yang ada di dalam kamar itu.


"Maaf Tuan sekarang sudah saatnya pemeriksaan lanjutan." Kata Perawat yang mendekati Alfian dengan senyum yang semakin manis.


"Tidak perlu." Kata Alfian dingin saat Perawat itu mencoba membantu Alfian bersiap.


"Kemari sebentar, tolong bantu aku." Kata Alfian pada gadis cantik yang berada di samping brakarnya.


"Lha itu, mau dibantuin sama suster gitu kok." Kata Tari mencoba menahan rasa sedikit panas dihatinya.


"Jadi gak ada balas budinya nih?" Tanya Alfian.


"Atau mau balas dengan yang lain?" Tanya Alfian dengan tersenyum jahil.


"Baiklah." Jawab Mentari singkat.


Gadis itu tahu ada sesuatu yang tidak biasa dari perawat itu. Perasaan gadis itu sangat peka.


Perawat itu memang bisa tersenyum pada semua orang tapi tidak dengan dirinya. Kejadian ini terjadi sejak kedatangan mereka.


Kini pemuda itu duduk di samping brankar tiba- tiba ia pun menarik sebuah tangan kecil tapi memiliki sebuah tenaga yang cukup lumayan untuk menahan sebuah tarikan. Mentari pun karena kurang kesiapan ia ikut jatuh pada sebuah paha yang sangat nyaman.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Alfian.

__ADS_1


"Apa bermaksut menggoda ku?" Lanjutnya.


"Siapa yang bermaksut menggoda mu?" Jawab Gadis itu dengan membelalakkan matanya.


"Kamu aja yang merayuku." Elaknya lagi.


"Kesepakatannya kan kamu membantu ku." Alfian meminta pertanggungjawaban gadis itu hanya agar terjadi sedikit drama untuk menunjukkan pada perawat itu.


"Lepas!" Perintah Mentari dengan mata yang sangat tajam mengarah pada seorang pemuda.


"Malu dilihat itu banyak orang." Lanjutnya.


"Anggap saja kita semua di dini patung, kalau sudah seperti itu dunia serasa milik berdua." Kata Daffa.


"Betul-betul-betul." Kata Axel.


"Yang lainkan cuma ngontrak." Sambung Garda.


"Mulut kalian bertiga ini masih juga anak kecil gak ada filternya." Kata Mama Sinta menegur ketiga anak laki-laki kembarnya.


Apa perlu Mama lakban mulut kalian?" Lanjut Mama.


"Siapa bilang kita anak kecil ya Pa?" Kata Axel meminta perlindungan kepada Papanya yang selalu saja membela mereka.


Takut disuruh tidur diluar oleh sang Mama tatkala melakukan kesalahan. Papa hanya tersenyum getir pada ketiga anaknya itu.


Ceklek


Pintu kamar pasien pun dibuka oleh seorang pemuda. Pandangan matanya langsung tertuju pada Alfian.


"Ada drama apa lagi nih?" Tanya Ziko saat melihat Bosnya sedang melakukan sebuah adegan romantisnya.


"Diam saja lu!" Perintah Alfian pada pemuda yang baru saja masuk dan membawa sebuah koper.


"Maaf Tuan bagaimana bisa sekarang?" Tanya Perawat yang berada di samping Alfian.


"Bisa. Kamu duluan saja!" Perintah Alfian pada perawat itu.


"Aku masih bisa jalan." Jelas Alfian dengan menyingkirkan sebagian anak rambut Tari yang menutupi pipinya.


Alfian mengendurkan kemudian melepaskan pelukannya itu, hingga akhirnya gadis itu pun berdiri.


Sepasang muda mudi ini berjalan terlihat sangat serasi. Banyak orang yang melihat merasa kagum dengan mereka.

__ADS_1


Berjalan menuju tempat rontgen berada di belakang perawat tadi. Mereka berdua berjalan sambil bersenda gurau.


Perawat yang sekarang berada di depan mereka merasa iri. Hatinya serasa terbakar sangat panas rasanya.


Seorang dokter yang kini sudah menunggu mereka untuk berkonsultasi berada di ruang praktek menunggu hasil rontgen itu. Hasil pemeriksaan kesehatan Alfian lumayan cepat.


Hasil rontgen menyatakan tidak terjadi masalah serius pada Pemuda itu. Kali ini bukanlah hasil rekayasanya seperti yang telah direncanakan agar Tari menunggunya sepanjang waktu.


Daddy lah yang mengingatkan akan waktu pernikahannya yang tidak lama lagi. Seandainya Ia jadi merekayasa hal kesehatannya kali ini justru ia akan menunda hari bahagianya sendiri.


Pemuda itu tidak ingin dokter pergi keruang rawatnya untuk itu ia ber-inisiatif mengunjungi ruang prakteknya. Seandainya Dokter itu sampai pergi ke ruang rawatnya yang sangat ramai pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan oleh dirinya.


Kekacauan akan terjadi akan semakin besar. Candaan orang dewasa yang pastinya gak ada filternya.


Hubungan antara sahabat lama para orang tua yang pasti akan memojokkan dirinya. Hingga yang muda harus mengalah.


Setelah selesai urusan dengan dokter mereka berdua bersiap kembali ke ruang rawat Alfian. Dilihat sambil lalu perawat itu memasang muka masamnya.


Ceklek


Pintu ruang rawat Alfian dibuka oleh pemiliknya sendiri. Semua mata melihat dengan jelas wajah Pemuda itu.


"Bagaimana?" Tanya Deddy yang tahu sebenarnya tak ada masalah. Ia adalah anak laki-laki yang kuat.


"Baik." Jawab Alfian singkat.


"Jadinya masih mau bermalam di sini lagi?" Tanya Mommy.


"Iya gak papa kan Mommy." Kata Alfian.


"Itu kan tadi udah terlanjur minta dibawain pesenan ku oleh Asistenku hingga salah bawa." Lanjut Alfian.


"Tapi harus ditemeni sama?" Lanjut Alfian dengan menaik turunkan alisnya mengkode pada gadisnya itu.


"Ogah banyak kuman penyakit!" Tolak Seorang Gadis.


"Memangnya apa'an isi koper itu Kak?" Tanya Axel pada Alfian yang tidak jauh darinya.


Pemuda yang akan menjadi pengantin ini memang berlagak seperti seorang pasien. Pandai memanfaatkan situasi dan kondisi.


Alfian menyandarkan badannya di atas brankar. Ia minta dilayani layaknya seorang pasien.


Apa saja minta diambilkan oleh orang terdekatnya. Ia ingin melihat isi koper itu sesuai perintahnya atau tidak setelah mendengar pertanyaan Axel.

__ADS_1


__ADS_2