
Kedua orang laki-laki dewasa yang sedang berada di ruang kerja itu mendengar sebuah teriakan dari dalam kamar yang ditempati oleh Sinta. Pintu saat itu memang tidak tertutup sempurna hingga mereka bisa mendengarnya.
Mereka berlari menuju kamar itu dan langsung masuk. Gadis itu terlihat gelisah saat ini dan banyak keringat yang keluar dari badannya.
"Nona bangun." Panggil Adrean yang sudah duduk di sampingnya.
"Nona bangun."
"Nona bangun." Katanya untuk kesekian kali hingga gadis itu tersadar.
"Aku panggilkan dokter untuk mu lagi ok." Kata Adrean setelah gadis itu tersadar dari igauannya.
"Sepertinya kamu masih belum sehat." Lanjutnya lagi semakin merasa khawatir.
Gadis itu tidak diberikan kesempatan untuk mengatakan apapun juga. Adrean langsung keluar dari kamar untuk menghubungi dokter yang memeriksa Sinta kemarin.
Adrean ingin gadis itu segera pulih hingga dia bisa beraktifitas seperti biasa. Saat kepergiannya juga bisa menjaga dirinya sendiri.
Dokter Marco tidak butuh waktu lama untuk sampai di Hotel milik Adrean sebab rumah sakit tempat dia praktek sangat dekat.
Ceklek
Hendl pintu ruangan seorang pemuda terbuka secara tiba-tiba. Kedua orang yang ada di dalam terkejut melihat kedatangan Sang Dokter yang masuk tanpa permisi.
__ADS_1
"Ada apa lagi dengan kekasih ku?" Kata Sang Dokter bercanda.
"Lihatlah sendiri." Jawab Adrean dengan mata tajam memandang Dokter Marco tidak suka dengan candaannya baru saja.
"Kamu apakan lagi dia?" Tanya Sang Dokter penasaran.
"Kamu tidak berbuat macam-macam dengannya bukan?" Lanjutnya.
"Kalau dia sampai hamil diluar nikah kamu harus tanggung jawab." Lanjutnya.
Pemuda itu terus mengawasi semua gerak gerik dokter yang memeriksa gadis itu. Dia tidak mau dokter itu menyentuh Sinta terlalu lama.
"Sebenarnya apa hubungan mu dengannya?" Tanya Sang Dokter penasaran.
"Itu bukan sebuah jawaban." Kata Sang Dokter sedikit jengkel mendapati jawaban yang tidak seharusnya.
"Dia tertekan." Kata Dokter Marco.
"Aku harap bukan ulah mu." Lanjutnya yang berharap sahabatnya itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang.
Adrean selama ini memang sudah terkenal dengan sifatnya yang keras. Dia berperilaku seperti itu karena tidak ingin seorang gadis pun yang mendekat padanya.
Sebuah drama menjadi orang dari golongan kelas bawah harus juga dilakukan untuk mengetahui siapa lawan maupun siapa kawan. Sedikit orang yang tahu akan identitasnya saat ini itu semakin baik buat dia.
__ADS_1
Dokter itu tidak lagi memberikan resep tetapi sebuah saran untuk sahabatnya itu. Sang Dokter ingin hanya menginginkan pasangan yang terbaik untuk Adrean.
"Aku rasa Dia lebih tahu apa yang harus dilakukannya." Kata Briyan sebelum dokter itu pergi.
"Benar hingga sampai saat ini Bos mu itu belum punya kekasih." Jawab Sang Dokter dengan menggelengkan kepala merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya itu.
"Aku rasa Adrean sudah lama mengenal gadis itu." Kata Briyan menjelaskan setelah sampai di pintu luar ruangan milik Atasannya itu.
"Maksut mu?" Tanya Sang Dokter dengan memicingkan matanya karena penasaran.
"Berdasarkan informasi yang aku dapat asal usul gadis itu tidak jauh dari Adrean." Kata Briyan menjelaskan.
"Maksut mu cinta lama bersemi kembali?" Tanya Dokter Marco ingin memastikan.
"Mungkin." Jawab Briyan singkat.
"Sudahlah aku tidak mau membicarakan dia." Kata Briyan lagi setelah mengantar Sang Dokter sampai di lobi hotel.
Mereka berdua mengakhiri pembicaraan mereka. Rasa waspada selalu ada pada kedua pria muda ini.
Keduanya sadar kalau tembok pun bisa mendengar di sekitar mereka. Mereka berdua bersama-sama menuju tempat parkir untuk mengambil mobil mereka masing-masing.
Briyan masih punya tugas yang harus segera diselesaikan sebelum atasannya itu pulang ke negaranya. Dokter Marco sendiri kembali ke rumah sakit karena masih ada jadwal.
__ADS_1
Adrean yang berada di kamar seorang gadis mencoba menenangkannya. Pemuda itu mencoba mengingat- ingat kenangan masa lalu menganai teman kecilnya.