
Ziko sampai melotot saat itu, saat tersadar ia meminta Alfian melepaskan Mentari. Alfian tak bisa melepaskannya karena ia tahu kalau anak singanya kesulitan berdiri.
Alfian: "Kurang cerdas ya dirimu Tar?"
Mentari: "Lepas !!!" perintahnya.
Kalau hanya untuk mengejekku lepaskan aku, dan pergi sana." lanjutnya.
Alfian: "Aku gak bisa biarin kamu merasakan sakit."
Ziko tak tahu apa yang terjadi. Alfian memapah tubuh kecil itu menuju kelas.
"Kalau masih sakit kenapa harus masuk sekolah?" Semakin sakit kan pinggang kamu." lanjutnya.
Ziko akhirnya tahu yang tanpa sengaja mendengarkan percakapan mereka.
"Iya nih cewek memang kurang cerdas. Atau memang sengaja bikin orang yang mencintai mu semakin khawatir." kata Ziko sambil menepuk bahu Alfian yang duduk di hadapan Mentari.
Mentari tak bisa berkata apa-apa. Kesedihan yang teramat sangat yang ada pada dirinya. kesedihan itu hanya bisa terlihat oleh Alfian.
Mentari tak akan meneteskan air matanya dihadapan siapapun. Selama ini rasa sakit dan tangis hanya disimpannya sendiri.
"Maaf kak, aku tak bermaksut seperti itu." Kata Mentari.
"Jika aku hari ini tak masuk lagi pasti kamu akan ke rumah lagi kan? aku gak enak sama Papa dan Mama. Pikiran mereka nanti akan macam-macam. Selama ini gak ada teman yang main ke rumah kan. Memang sengaja di rahasiakan. (jelas Mentari panjang kali lebar)
Mentari melihat pipi merah bekas tamparan Ziko. Ia penasaran akhirnya ia bertanya juga.
Mentari: "Kak itu pipi merah kenapa?"
Alfian: "Gak apa-apa."
Ziko: "Oh itu Tar, tadi Ujang ngeliat gadis cantik, terpesona gitu deh. Akhirnya kena cium cukup keras jadi merah deh."
Sahutnya untuk mencairkan suasana
Alfian mengerti hal itu. Ia ingin mengajak Mentari bicara empat mata di taman tempat biasa mereka makan bekal mereka.
Alfian mengutarakan maksud Deddy dan Mammynya tadi malam. Alfian memang sudah menetapkan pilihan hatinya. Tapi untuk bertunangan Alfian hanya butuh waktu sampai kuliah S1-nya selesai dan bisnis yang ingin ia rencanakan bisa berjalan baik.
Mentari juga setuju bahkan ia sangat senang memiliki seorang pendamping hidup yang bertanggung jawab atas dirinya.
Waktu beranjak siang. Memang selama seminggu pelajaran ditiadakan setelah ujian. Saat pulang Alfian dan Mentari sama-sama memegang teguh pada pendiriannya. Mereka tidak ingin orang lain tahu hubungan mereka.
Saat pulang Monik kembali barpapasan dengan Mentari di depan perpustakaan. Mentari tidak memperdulikannya.
Mentari mendengar sebuah ancaman. Buat dia anggap lah angin lalu. "Awas kalau deket-deket sama cowok aku!" Ancam Monic.
Saat itu Mentari masih susah untuk berjalan. Alfian sengaja pulang terakhir dan berada di halaman untuk mengetahui keadaan Mentari.
Alfian melihat anak singanya itu sedang berjalan susah payah. Dalam hatinya pun mengagumi tekat dari Mentari
Teman wanita sekelas Alfian adalah Monica. Alfian tahu kalau gadis itu suka padanya. Ia selalu menghindar karena temannya Ziko suka padanya.
Alfian sampai di depan sekolah langsung turun dari mobil. Ia berniat langsung menuju kelasnya.
Baru sampai di pintu gerbang ia sudah melihat sosok wanita yang dilihatnya dijalan.
"Kenapa wajah itu selalu nampak di mataku." gumamnya sambil mengacak rambutnya.
Alfian tahu Mentari tidak mungkin masuk sekolah secepat itu karena rasa nyeri di pinggangnya yang kemungkunan akan membutuhkan waktu cukup lama. Pikir Alfian sesaat setelah melihat gadisnya.
Ziko yang melihat Alfian mengacak rambutnya itu berjalan sambil lalu melewatinya sambil meledeknya.
"Galau lu? Ntar cakepnya ilang lho berantakin rambut lu." Kata Ziko.
"Dasar, kampret suka ledekin gue." Teriak Alfian sambil berlari mengejar sahabatnya itu.
Alfian melihat lagi Mentari yang sedang bertengkar dengan temannya Monic.
Alfian: "Zik, coba tampar aku."
Ziko: "Elo kesambet apa Bambang, minta aku tampar."
Alfian: "Udah tampar aja."
**Plas**
Mentari terpental dengan begitu cukup keras. Ia langsung tidak sadarkan diri. Monik juga terdorong begitu keras. Sehingga ia terpental ke bahu jalan.
Monic seketika tak sadarkan diri karena sebuah benturan yang sangat keras. Ia pun sadar saat itu siapa yang menolongnya.
Sopir pribadi Tuan Adrean tak lama sampai di tempat biasa ia menjemput nona mudanya. Ziko yang melihat sopir Mentari yang kebingungan itu langsung memanggil Alfian.
Berita mengenai kecelakaan itu belum sampai padanya. Ia cukup cemas ditambah banyak orang yang berkerumun seperti semut.
Ziko: "Al sini cepat!" perintahnya.
Alfian: "Ada apa sih brisik tahu gak?"
Ziko: "Itu kan sopir cewek mu kan? Kayaknya lagi nyari Tari."
"Gak biasanya anak singaku menghilang begitu saja kaya siluman. Sekolah juga baru bubar kalau pergi juga gak mungkin secepat ini." Pikir Alfian yang mulai merasa khawatir.
Dalam keramaian segerombol orang matanya menangkap sosok tubuh kecil yang sangat ia kenal. Ia pun menghampiri kerumunan itu tanpa menunggu lama.
Sopir Tuan Alfian yang berada di seberang jalan mulai khawatir. Ia mengambil ponsel yang ada di kantong kemejanya. Pesan baru masuk dari Bodigart Tuan Adrean yang memberitahukan mengenai kecelakaan itu.
Ia langsung memastikannya sendiri. Alfian seketika langsung membawa Mentari ke rumah sakit dengan sopir Tuan Adrean itu.
Alfian juga sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim Ambulan untuk Monik. Ziko yang bersama monik dalam mobil ambulan itu.
Adrean mendengar berita kecelakaan anak gadisnya itu langsung kalang kabut. Untung saja semua urusan kantor sudah selesai.
Dengan kecepatan penuh mobil Adrean melaju dengan cepat menembus keramaian kota. Rumah yang saat itu ramai dengan suara anak-anaknya tiba-tiba hening terkejut dengan tingkah Papanya yang langsung menemui istrinya dengan raut wajah penuh kecemasan.
Kebetulan memang jalan menuju rumah sakit melewati rumah, jadi Adrean mampir ke rumah dulu memberi tahukan kabar itu.
Papa: "Cepat ma kita segera berangkat ke rumah sakit."
Mama: "Ada apa Pa?"
Papa: "Tari, kecelakaan Ma, cepat ajak anak-anak."
**Pyaaaaar**
Mama yang sedang memegang gelas itu terjatuh ke lantai. Badannya seketika lemas tak berdaya. Anak-anak pun terkejut mendengar suara gelas pecah itu. Mereka berlari menghampiri mamanya.
Anak-anak yang berlari dan memanggil nama mamanya membuat sang mama menjadi tersadar. Ia tidak ingin lemah disaat anaknya membutuhkan dukungannya.
Perjalanan menuju rumah sakit tidak begitu lama. Sebab Adrean mengendarainya dengan kecepatan yang lumayan lebih tinggi dari biasanya.
Alfian dan Ziko sedang menunggu di ruang operasi. Sebelumnya memang seorang dokter menghubungi Adrean meminta persetujuan operasi untuk Tari.
Seluruh dokter terbaik dari berbagai rumah sakit di negeri ini dikerahkan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak gadisnya itu.
Alfian dan Ziko merasa sangat khawatir dengan kondisi dua gadis yang ada di dalam. Alfian sampai belum sempat memberi kabar pada orang tuanya. Tapi Deddy Alfian sudah mendengar kejadian itu lebih cepat.
"Al, gimana keadaan Anak ku?" tanya Adrean.
Pertanyaan itu justru membuat air mata keluar begitu saja dari mata Alfian. Dengan segera ia menghapusnya.
"Tari masih di dalam Om." jawab Alfian.
Operasi berlangsung sangat lama buat keluarga itu. Ketegangan tercipta, rasa khawatir menyelimuti semua orang di sana.
Dokter keluar dari ruang operasi karena operasi sudah selesai dan berjalan lancar. Kondisi Mentari masih belum sadarkan diri. Dokterpun tidak bisa memastikannya karena kondisi pasien yang memang sangat parah.
__ADS_1
Mentari dipindahkan pada ruang khusus untuk keluarganya. Pelayanan terbaik yang diminta keluarga itu.
Mentari ditunggu oleh keluarganya, tak ketinggalan Alfian. Ziko saat ini menunggu Monic yang sedang tidak sadarkan diri. Kondisi Monik juga lumayan parah tapi tidak separah Tari.
Monic saat membuka mata melihat Ziko sedang memejamkan mata dan berada di sampingnya. Tangan dan kakinya sulit untuk digerakkan.
Monic mencoba mengambil gelas yang ada di meja, ia ingin minum air putih. Ia tidak ingin mengganggu Ziko yang sedang tidur sehingga ia berusaha sendiri untuk mengambilnya.
**Byuuur**
Belum sampai diminum, airnya tumpah mengenai kepala Ziko. Ziko pun kaget rasanya ingin marah. Tapi ia melihat ada selang infus di tangan Monic. Direndam kemarahannya. (Kaya baju aja ya direndam)
"Maaf." Kata Monic
"Untuk?" Tanya Ziko.
"Barusan." balas Monic
"Gak papa itung-itung mandi dadakan." jelas Ziko.
Tak lama Monic tersadar Ziko ingin pergi menjenguk Mentari. Langkahnya terhenti saat Monic memanggilnya. Ziko pun hanya membalikkan punggungnya dan mengedipkan satu matanya.
"Tunggulah sebentar orang tuamu akan datang." kata Ziko.
"Aku cuma pergi sebentar." Lanjutnya sambil menunjukkan baju yang basah air tadi.
Ziko akhirnya pergi dari ruangan Monic menuju kamar rawat Mentari. Ia melihat dari luar, Alfian yang menyadari itu langsung keluar ruangan.
"Al, yang sabar. Aku pulang dulu nanti aku kembali." kata Ziko sambil menunjukkan baju yang basah.
"Monic gimana?" tanya Alfian
"Baru saja sadar." jelas Ziko.
"Udah sana pergi. Ntar cewek elu kelamaan nunggunya." Perintah Alfian.
Ziko pun akhirnya langsung pulang mengganti pakaiannya. Ia segera kembali ke rumah sakit.
Terimakasih teman-teman yang setia dengan KCM sampai di sini. Jangan bosen ya baca Novel ini.
Salam Kenal.
🙏🙏🙏🙏
Lanjut Episode berikutnya semoga tidak kalah menarik.
Ziko kembali ke rumah sakit setelah mengganti pakaiannya. Ia pergi ke rumah Monic untuk minta pakaian ganti untuknya.
Di sana Ziko menunggu seorang bibi menata pakaian Monic. Sempat ia berbincang dengan kakaknya yang acuh terhadapnya.
Kakak Monic pun sempat berkata "Orang tua mereka itu gak pernah memperhatikan mereka jadi paling mereka hanya menjenguk kemudian pulang." Ziko hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan kakak Monic.
Ziko segera kembali ke rumah sakit. Ia melihat keadaan Mentari yang belum sadarkan diri. Alfian masih setia menungguinya walaupun waktu hampir tengah malam.
Semua orang dalam ruangan itu tampak sangat cemas. Bahkan ketiga saudara laki-lakinya itu pun seakan tahu kesedihan semua orang di sana.
Ziko hanya melihat dari kaca jendela yang agak terbuka sedikit kordennya. Ia langsung berjalan menuju ruang rawat Monic.
Sebelum masuk ruangan itu sempat Ziko mendengar suara isak tangis. Monik menghapus air matanya saat Ziko masuk kamar rawatnnya.
"Elu kenapa?" tanya Ziko sesudah meletakkan tas Monic.
"Gak apa-apa." jawab Monik.
"Makin jelek aja elu kalau nangis." Ledek Ziko
"Biarin."balas Monik
"Orang tua aku tu gak bakalan ke sini." sambungnya.
"Mereka memilih pekerjaannya dari pada anaknya."jelas Monic
"Sudahlah." jawab Ziko sambil mengelus rambut Monik untuk menenangkannya.
Monik merasa terharu dengan perlakuan Ziko terhadapnya. Ia menitikkan air matanya kembali.
"Jelek lagi kamu nangis, udah pucet kayak itu tu e..... ia sindel bolong." ucap Ziko sambil tertawa
"Jahat banget sih." balas Monic.
"Itu cewek gimana keadaannya." dengan suara yang bergetar Monic untuk bertanya pada Ziko.
"Maksut elu Mentari?" kata Ziko.
"O.... Jadi namanya Mentari." Jelas Monic.
Ziko menundukkan kepalanya. Ia belum bisa menjawab.
Diamnya Ziko sudah mewakili jawabannya. Monic merasa berhutang nyawa padanya. Ia minta diantar ke ruangan Mentari.
Ziko melarang temannya itu sebab kondisinya masih begitu lemah. Mentari sendiri masih belum bisa dijenguk. Kondisinya masih belum sadarkan diri.
Ruang Rawat VVIP Mentari.
Ruangan yang begitu sepi hingga saat ini. Dokter dan perawat masih sibuk mondar mandir memeriksa keadaan Mentari.
Wajah yang begitu pucat membuat orang di sekelilingnya merasa kasihan. Ketiga kurcaci itu juga merasakan sedih. Mereka berharap sang kakak akan segera bangun.
"Kakak ayo bangun, kurcaci mu ini kangen bermain dengan mu." ucap Axel yang duduk berada di sampingnya.
Yang diajak bicara pun tak ada respon sama sekali. Hanya butir air mata yang lolos dari matanya yang terpejam.
Garda dan Gaffa yang duduk dalam pangkuan Papa dan mamanya itu melihat sang kakak yang penuh dengan peratan medis lain merasa takut. Alfian yang masih menungguinya merasa khawatir.
"Al pulanglah dulu, sejak kemarin kamu disini orang tuamu pasti khawatir." Perintah Adrean
Deg
Alfian langsung kaget benar ia lupa memberitahukan pada orang tuanya. Alfian meminta ijin pada orang tua Mentari keluar ruangan.
Saat keluar Adrean menepuk bahu Alfian, agar ia tidak larut dalam kesedihan. Adrean tahu ia sangat menyayangi anak gadisnya itu.
Ia menghubungi Deddy dan Mammynya. Mengabarkan kalau ia di rumah sakit menunggu temannya. Alfian pun mendapat ijin dari mereka.
Saat menatap wajah gadis yang tak berdaya di atas tempat tidur itu hatinya sungguh sangat sedih. Hingga malam ini pun ia terjaga dari tidurnya sampai pagi.
Daffa yang baru terbangun menghampiri sang kakak. Mulutnya berkata padanya
"Kakak bangun katanya mau liburan sama tiga adik mu ini. Kakak tu jelek kalau tidak mau pergi sama kami." Katanya.
Tak berapa lama Garda juga berbuat hal yang sama. Tapi berupa pertanyaan yang ditujukan pada Mamanya.
"Mah, itu warna merah ya? merahnya pekat seperti caus sambal atau tomat. Apa Kakak lagi bekerja hingga tak ada waktu buat liburan bersama kami?" cerocosnya
Sang mama tak bisa berkata apa-apa. Air mata terus mengalir tanpa seijinnya. Ia pun memeluk ketiga anaknya.
Mentari hanya bisa mengeluarkan air matanya tanpa bersuara. Alfian masuk keruangan itu pagi harinya. Ia mendekati tubuh mungil yang selalu menjahilinya.
Adrean: "Al kamu gak pulang semalam?"
Alfian: "Maaf Om. Al gak bisa ninggalinnya."
Oh betapa beruntungnya anakku kata hati Papa. Ia mendapatkan orang yang begitu mencintainya.
Adrean tahu bahwa Alfian pun tak tidur semalam. Mata pandanya sangat tampak.
Alfian mendekati dan duduk di samping Mentari. Ia merebahkan kepalanya di tempat tidur itu sambil memegang tangan mungil Mentari.
Alfian pun tertidur disamping tempat tidur Mentari. Mentari merasakan sesuatu yang sangat hangat. Perlahan ia bisa membuka matanya.
__ADS_1
Mama yang melihat Mentari tersadar langsung berjalan cepat mendekati suaminya. Sungguh bahagianya mereka.
Sepasang suami istri itu melihat pemandangan yang sungguh sangat menakjupkan. Agar tidak membangunkan Alfian, Ia memanggil Dokter kepercayaannya melalui pesan.
Dokter dan perawat pun segera datang dengan pesan tanpa suara. Setelah memeriksa Adrean dan dokter itu pergi dari ruangan itu. Mereka membicarakan kondisi Mentari yang sangat bagus lebih dari perkiraan mereka.
Adrean kembali ke kamar rawat anak gadisnya. Sebelum masuk ia menghubungi Briyan untuk membawakan sarapan untuk 7 orang serta makanan ringan. Walaupun mereka sudah disediakan makanan sendiri di rumah sakit itu tapi ya mungkin untuk persiapan karena banyak anak-anak laki-laki di sana yang dalam masa pertumbuhan.
Mentari mulai menggerakkan tangan yang dipegang oleh Alfian. Alfian yang merasakan ada gerakan langsung membuka mata.
Semua tersenyum pada Mentari dan Alfian. Entahlah sekarang perasaannya seperti apa mereka rasakan. Ketika ada beberapa pasang mata yang melihat dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Di kamar rawat lain pagi ini ada seorang gadis yang sedang menyesali perbuatannya. Sejak bangun dirinya hanya termenung.
Ziko baru datang dari pergi mencari sarapan melihat Monic yang muram. Walaupun hubungan keduanya tidak terlihat begitu baik setelah mendengar semua perkataan kasarnya pada Mentari ia tidak suka dengan tampang murungnya.
Ziko: "Jelek tau wajah mu yang cemberut kayak gitu." ledeknya.
Monic: "Zik, bisa aku minta tolong."
Ziko: "Apa? Asal gak macem-macem ya?" ancamnya.
Monic ragu untuk mengatakan pada Ziko. Ia hanya terdiam. Pikirannya sudah kalang kabut tak tentu. Antara ya dan tidak.
Ziko sudah menunggu permintaan gadis yang satu ini sampai ia jamuran.
"Cepat katakan." Perintahnya.
"Kalau tidak segera katakan aku pergi sekarang." lanjutnya.
"Kemana?" tanya Monic
"Lihat temen ku yang satu lagi." balas Ziko.
"Ikut?" pinta Monic
Waduh mau ngapain ini cewek. Mau ngata ngatain lagi atau apa.
Pikiran Ziko sudah melayang tentang yang tidak-tidak.
"Ok. Tapi jangan macem-macem." kata Ziko.
"Aku mau lihat adek kelas yang kecelakaan bareng kamu kemarin." Sambungnya.
Ziko mengambil sebuah kursi roda yang ada di sudut ruangan itu. Sempat ia melihat ke meja. Di meja masih ada sarapan dari rumah sakit belum dimakannya. Karena sampai hari ini tidak ada makanan lain selain makanan rumah sakit. Ziko pun tidak pernah membawa makanan ke rumah sakit.
Monic dipindahkan ke kursi roda oleh Ziko. Ia merasa kasihan padanya. Belum ada keluarganya pun yang datang untuk menjenguknya.
Ziko akan mengijinkan Monic untuk ikut dengannya tapi dengan beberapa syarat. Monic pun menyetujuinya. Ia tahu Ziko tidak akan merugikannya.
"Syarat pertama makanlah dulu." Pinta Ziko
" Buat apa aku harus makan? untuk hidup? hidup yang tak berarti ini." Cerocos Monic.
"Terserahlah. Pastinya aku tak ingin masuk tahanan karena membuatmu pingsan dengan tubuh yang lemas, tanpa energi sedikit pun seperti ini." Jelas Ziko.
Ziko sebenarnya ingin temannya ini memiliki tenaga dan semangat seperti sebelumnya. Rasa perhatian terhadapnya tidak ingin ditunjukkan secara jelas pada wanita di depannya.
Ziko tahu ia hanya dianggap teman olehnya. Akan lebih baik perasaannya itu terus ditutup rapat. Ia tidak ingin mengharapkan lebih dan kecewa suatu saat.
Suapan demi suapan hingga akhirnya makanan itu habis tak bersisa. Dengan sabar Ziko menyuapi Monik.
"Nah begitu dong sampai ludes." Kata Ziko sambil mengacak rambut kepala Monic.
Monic jadi sebel dengan kelakuan Ziko yang menganggapnya anak kecil dengan mengacak rambutnya.
"Lihat rambut aku kan jadi berantakan." Amarah Monik sambil mengerucutkan bibirnya.
Monik merasa senang masih ada teman yang perhatian padanya. Keluarganya pun tak ada yang datang menjenguknya.
Monik murung seketika setelah tertawa dengan Ziko dengan berbagai kelakuannya.
"Ada apa?" Tanya Ziko
"Keluarga ku pun tak ada yang perhatian pada ku, sedangkan kamu?" kata Monic dengan lirih
deg deg deg
Jantung Ziko berdisko tak karuan atas pujian gadis yang ada di hadapannya. Ia berusaha mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang dan berusaha menyusun kata-kata untuk menjaga jarak.
"Biasa aja, kita kan teman jadi gak ada salahnya menjaga teman lain." Kata Ziko berusaha menyembunyikan perasaannya.
Dari pada berlama-lama harus mengalihan perhatiannya. Ia pun mulai mendorong kursi roda itu menuju ruang rawat Mentari.
Belum sampai di Ruang rawat Mentari Ziko mulai mengatakan syaratnya lagi. Untuk menjaga kelakuannya.
"Aku hanya ingin." kata Monic terhenti saat mendengar canda tawa dari dalam ruangan yang dituju.
"Ok. Aku percaya kamu tidak akan mengecewakan orang yang menolong mu." Kata Ziko.
**Cheklek**
Pintu pun terbuka.
"Permisi." Kata Ziko.
"Masuk sini masuk." Kata Adrean.
Setelah melihat wanita yang bersama Ziko, semua jadi terdiam.
Sepi
Sepi
Sepi
Tanpa suara hanya pandangan mereka yang sangat tajam pada Monic. Mereka sudah tahu perbuatan Monic pada Mentari.
Monic hanya menundukkan kepalanya saat memasuki ruangan itu. Rasa bersalah sangat ia rasakan.
Ia meminta tolong pada Ziko untuk mendorong kursi rodanya menuju tempat tidur Mentari. Ia bingung juga mau mulai dari mana berbicara dengan orang yang sangat berjasa padanya.
Untuk memecah keheningan Mentari membuka suara. Ia pun tak tahu harus bagaimana. Alfian yang berada di samping tempat tidurnya memberikan sedikit keberanian padanya.
Mentari: "Lho, kok cuma bengong kakak cantik?"
Monic: "Ak... Ak berterimakasih pada mu telah menolongku. Padahal aku sudah jahat sekali pada mu."
Mentari: "Hey-hey kakak nama mu Kak Monic kan? Sudahlah lupakan. Kita buka lembaran baru ya jangan ada coretan lagi" katanya.
Jagalah hati jangan kau kotori.
Jagalah hati lentera hidup ini.
Jagalah hati jangan kau nodai.
Jagalah hati cahaya Illahi
Sambung Ziko dengan nyanyiannya.
"Wah Pak Ustad nyanyinya bagus." Ledek Alfian
"Iye-iye Ustad banyak pacar." Balas Ziko
Kata-kata itu memang sengaja diucapkan untuk menjaga jarak dengan Monic.
Mereka dalam ruangan itu tertawa bahagia. Monic sendiri yang merasa senang di sana. Rasa kecewa pada keluarganya selama ini terobati walau hanya sekilas.
Kehangatan keluarga itu sangat dirasakan oleh Monic. Tiba-tiba air matanya itu mengalir tanpa seijin pemiliknya.
__ADS_1