Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 90. Jalangkunng Mandi 77-78


__ADS_3

"Maksut mu?" Tanya Monic balik dengan wajah yang merah merona yang mana sebenarnya tahu akan maksut dari laki-laki yang ada di hadapannya.


"Itu wajah kenapa jadi merah?" Tanya Ziko.


"Gak mau jawab ya udah, aku mandi dulu. Nanti kena omel lagi karena terlambat." Kata Monic mengalihkan topik pembahasan ini.


Monik berlalu menuju lantai atas. Ia segera berjalan menuju kamarnya.


Pakaian sederhana yang sudah ia siapkan sejak pagi dikeluarkan dari dalam lemari. Pakaian yang sangat pas ditubuhnya lebih ia pilih sejak dulu karena merasa nyaman dikenakan.


Air sudah disiapkan sendiri di dalam backtub dengan aroma flower menyeruak di dalam kamar mandi. Monic segera berendam di dalam backtub tersebut.


Mengingat ia sedang di tunggu oleh seseorang, ia pun segera mengguyur badannya di bawah air sower untuk menghilangkan busa yang melekat di badannya. Segera ia mengambil handuk yang tergantung di dalam kamar mandi itu untuk mengeringkan badannya.


"Pakaian ini pantes gak ya?" Gumamnya lirih.


Monik memang orang yang tidak suka mengikuti tren model pakaian. Ia selalu tampil apa adanya dengan apa yang dimilikinya sekarang.


Selesai memakai pakaian dan berias di depan cermin, ia pun berjalan melenggang bak model. Mencoba meyakinkan dirinya kalau ia pantas pergi bersama laki-laki yang sedang menunggunya sekarang ini.


"Sudah lah mau kayak apa pun aku bukan Cinderella yang bisa merubah penampilan dengan bantuan peri." katanya lirih.


Ceklek


Suara pintu kamar Monik pun terdengar terbuka. Siapa lagi yang membukanya kalau bukan sang pemilik kamar.


"Genderuo." Teriaknya saat pintu kamarnya terbuka hingga terlonjak kaget.


Laki-laki yang berdiri di depan kamarnya memakai topeng mainan yang ia dapatkan entah dari mana asalnya. Topeng yang terlihat menyeramkan.


"Hai, ini gue." Kata Ziko melihat gadisnya ketakutan sambil menangis.


"Jahat sekali! Hiks.... Hiks... Hiks." Kata Monic yang tengah ketakutan sambil menangis.


Ziko pun mendekatinya mendekap gadis itu dalam pelukannya. Hangat yang mereka berdua rasakan. Jantung yang semakin berdegup dengan kencangnya hingga kedua jantung itu seakan saling berlomba.


Brug


Tubuh Ziko terjatuh akibat di dorong oleh sang gadis.


"Au sakit." Keluhnya.


"Bantuin berdiri dong." Lanjutnya.


Brug


Disusul oleh suara tubuh mungil yang jatuh menimpa badan kekar yang sedang ditolongnya. Posisi Monic menimpa tepat di atas tubuh laki-laki tampan hingga kedua pandangan mata mereka bertemu.


"Sakit tahu." Kata Monic yang sedang berusaha berdiri tapi tubuhnya ditahan oleh laki-laki tampan yang bersamanya.


"Cantik." Kata Ziko penuh kekaguman dengan memeluk badan gadis itu hingga kesulitan berdiri.


Gadis ini berusaha berdiri akan tetapi ia merasa kesulitan. Susah untuk bangkit karena badannya yang di tahan serta pakaian yang ia kenakan membuatnya kesulitan, ditambah lagi dengan high hills yang ia kenakan.


"Nyaman kah hingga kamu tidak mau bangun dari tubuh ku?" Ledek Ziko.


"Ya memang benar, sangat nyaman hingga kamu menahan tubuh ku dengan tangan mu itu hingga aku tidak bisa berdiri." Jelas Monik.


"Atau kamu mau seperti ini terus, hingga kamu terlambat menjemput bos mu dan tahu sendiri lah." Ledek nya kemudian.


Tersadar dengan ucapan Monic yang mana mengingatkan akan ancaman Bosnya itu. Ia pun segera membalikkan badannya hingga membalikkan posisi tubuhnya yang menjangkung di atas tubuh gadis cantik itu.


"Awas lain kali ya!" Ancam Ziko dengan mengedipkan mata kanannya kemudian berdiri dan membantu gadis cantiknya berdiri.


"Uh ...... Jadi berantakan kan." Keluh Monic.


"Gak masalah kamu seperti itu, biar gak ada yang melirik mu di sana." Kata Ziko dengan senyum penuh kemenangan.


"Tunggu sebentar aku akan merapikan penampilan ku." Pinta Monic.


"Jangan lama-lama, aku tunggu kamu." Pinta Ziko.


Monic kembali masuk ke dalam kamarnya. Setelah pintu kamar tertutup laki-laki tampan itu berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu menunggu sang gadis pujaan.


Monic pun segera turun menghampiri laki-laki yang menunggunya. Mereka segera menuju mobil dan segera berangkat menuju kediaman Alfian.


Perjalanan menuju kediaman Bosnya itu sesekali keduanya hanya mencuri pandang. Tak ada sekalipun pembicaraan yang terjadi. Rasa canggung merasuki pikiran keduanya.


*** *** *** Kediaman Alfian *** *** ***


Gelisah karena menunggu sang asisten dan sekretarisnya itu merasuki pikirannya. Benda pipih yang ada di saku jas yang ia kenakan mulai diambilnya setelah berkali-kali melihat jam yang melekat di tangannya.


Alfian mulai mencari nomor Asisten pribadinya dan mendeal nomor tersebut. Panggilan ponsel masuk tapi tidak diangkat.


Chit


Suara ban bergesekan dengan lantai depan rumahnya.


Alfian keluar dari dalam rumahnya melihat orang yang datang. Ia pun mulai menghampiri orang yang ditunggunya sejak tadi.


"Lama amat?" Tanya Alfian


"Maaf Bos ku macet." Bohong Ziko.


"Macet karena luluran dulu apa?" Ledek Alfian.


"Masak sih Bos, aku luluran. Gak usah luluran juga udah terlihat keren." Kata Ziko membanggakan dirinya sendiri.


"Udah jangan banyak bersilat lidah. Kassanova kaya kamu itu memang pinter kalau masalah bersilat lidah." Kata Alfian saat berjalan menuju mobil Ziko yang sudah terparkir di depan rumah.


Ziko pun membukakan pintu mobil penumpang. Alfian mulai naik dan melihat ada seorang gadis yang telah duduk di samping kursi kemudi.


"Oh jadi tadi macet beberapa kali hingga telat menjemput ku." Kata Alfian dengan wajah yang tidak bisa ditebak.


Ziko yang melihat ekspresi Sang Bos hanya tersenyum lembut sambil memandang wajah cantik yang duduk di samping kemudi mobil miliknya. Mobil kini sudah melaju meninggalkan kediaman Alfian.


Alfian memang selalu memasang wajah datar pada setiap orang tidak laki-laki maupun perempuan yang dijumpainya. Hal itulah yang menambah karisma.


Lain lagi ceritanya jika ia bersama dengan anggota keluarganya. Alfian bisa merubah dirinya dengan banyak senyuman bahkan candaan selalu tercipta hingga mewarnai dunianya.


"Sama aja ternyata, berangkat bareng sama Deddy dan Mommy cuma dijadikan sopir dan menjadi obat nyamuk buat mereka." Keluh Alfian.


"Berangkat sama kamu juga cuma jadi obat nyamuk." Lanjutnya.


"Lha kan kemarin sudah saya bilang kan Bos, kalau saya mengajak seseorang." Kata Ziko mengingatkan atasannya itu.


Hening


Hening


Hening


Itu lah suasana yang tercipta dalam mobil yang sedang melaju menuju acara resepsi. Rasa canggung semakin terasa karena ada satu gadis di dalamnya. Lain ceritanya jika hanya ada dua laki-laki itu. Mereka masih bisa bercanda tawa dengan bebasnya.


Alfian hanya memainkan benda pipih di kursi penumpang. Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di hotel tempat resepsi itu diadakan.

__ADS_1


♥️♥️♥️


128


Alfian hanya memainkan benda pipih di kursi penumpang. Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di hotel tempat resepsi itu diadakan.


Di depan hotel turun seorang pria yang sangat tampan. Petugas hotel mempersilahkannya masuk setelah pria itu menunjukkan selembar undangan. Bahkan ia diantarkan sampai pada tempat berlangsungnya resepsi.


Sijoli yang penuh dengan rasa canggung berhenti dan turun di tempat parkir. Mereka langsung menuju lobi dan menunjukkan selembar undangan. Petugas yang ada di depan hotel pun mengantarkan mereka.


Hotel ini salah satu hotel yang sangat megah yang ada di kota ini, bahkan hotel ini juga sudah ternama. Seluruh negri juga sudah tahu itu adalah hotel yang sangat terkenal dan mewah bahkan pelayanan juga sangat bagus.


"Sepertinya sangat mewah resepsi mereka." Celetuk salah satu tamu undangan.


"Padahal ia hanya asisten pribadi lho." Sahut salah satu temannya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari lift bersama kedua orang tua dan ketiga adik kembarnya.


"Apa urusannya dengan mu?" Tanya tamu undangan tadi.


"Tidak ada." Katanya gadis cantik itu.


"Jangan suka berbicara'in orang lain." Sambungnya lagi sambil berjalan menuju tempat resepsi.


Kedua orang yang sedang berbincang tadi hanya tersenyum getir menanggapi kata-kata gadis cantik itu. Mereka tidak tahu apa pun tentang orang yang sedang menikah saat ini. Ya karena mereka hanyalah anak dari rekan bisnis mereka. ( Kalau dalam lagu mah cocote Tonggo kalau ini cocote anak konco).


Tap tap tap


Terdengar suara langkah kaki yang pajang sangat tergesa-gesa. Entahlah aroma parfum yang sangat familiar tercium oleh gadis cantik dan menawan yang sedang berjalan bersama anggota keluarganya.


Gadis itu pun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


Alfian mempercepat langkah kakinya setelah mempersilahkan petugas tadi kembali pada tempatnya. Matanya menangkap sesosok gadis yang menjadi tunangannya.


Saat itu juga Alfian mulai memperlambat langkahnya. Ia sempat mengamati gadis itu.


"Kenapa berhenti?" Tanya Papa pada anak gadisnya.


"Tidak, ayo lanjut jalan." Jawabnya.


"Rasanya aku kenal dengan bau parfum ini." Batinnya.


"Iya ayo cepat nanti terlambat lho." Kata Mama dengan senyum jahilnya.


"Kenapa juga Mama tersenyum seperti itu pada ku." Batin nya lagi.


Mama tanpa sengaja melihat calon anak menantunya saat melihat ketiga jagoannya yang sudah tertinggal karena mereka sempat bercanda saat berjalan. Ia berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Insting orang rindu Pa?" Bisik Sang istri pelan.


"Insting apa'an kayak hewan aja pakai Insting segala." Protes Sang Suami.


"Memang bukan ya?" Tanya Mama.


"Bicara yang jelas atuh Mah." Kata Papa meminta penjelasan.


"Orang yang lagi jatuh cinta, rasa rindu wanita pakai rasa. Semuanya dianggapnya." Jelas Mama.


"Makanya tadi ekspresi wajah dan perilakunya berubah saat berjalan." Lanjutnya.


"Nanti juga datang." Kata Papa tersenyum smirk.


Axel, Garda dan Daffa sudah menghilang entah kemana. Papa mereka juga tidak tahu, tapi masih berpikir positif.


Sang Papa tahu kalau kalau ketiga anak laki-lakinya bisa menjaga diri mereka. Ketiganya tidak akan berbuat sembrono di setiap tempat.


Ketiga saudara kembar ini sudah bersama dengan Alfian. Mereka memang sudah melihat Alfian masuk gedung hotel sejak kedatangannya.


Ziko bersama dengan gadisnya sudah berada di dalam acara pesta. Mereka berdua mencari sang Bos.


"Kemana juga ini Bos." Tanya Ziko asistennya.


"Itu malah Deddy dan Mommynya di sana." Tunjuk Ziko dengan dagunya.


"Mampus aku." Kata Ziko sedikit gugup.


"Kenapa memang?" Tanya Monic.


"Gak lihat apa? Mereka kesini." Jawab Ziko yang sedikit memiringkan wajahnya kesembarang arah untuk menutupi wajahnya.


"Lantas?" Pasti nanya in itu bocah.


Deg deg deg deg


Jantung Ziko sedikit berdetak agak cepat. Ia pasti diintrogasi tentang anak mereka.


"Malam Om, Tante." Sapa Monic sopan.


"Malam juga cantik." Kata Mommy


"Nak Ziko selamat malam." Sapa Deddy.


"Malam juga Om, Tante." Jawab Ziko sopan dengan memikirkan segala pertanyaan yang akan dia dapatkan.


"Aduh kayak akan ada ujian ini. Aku ujian sejak dulu aja bisa santai kok. Sekarang ini kenapa aku jadi gugup." Batin Ziko.


"Dimana Alfian?" Tanya Deddy.


"Tadi bilang udah janjian mau berangkat sama kamu." Lanjutnya.


"Iya Nak Ziko, apa mungkin gak jadi karena gak enak jadi obat nyamuk diantara kalian?" Jelas Mommy.


"Tadi memang kita berangkat bertiga Tan, tapi Alfiannya aja yang mau turun di lobi trus ngilang." Jawab Monic.


Ziko yang gak bisa harus jawab apa hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mencoba menetralkan jantungnya.


Alfian yang sudah hadir di dalam pesta bersama dengan ketiga laki-laki kecil itu sedang mengawasi interaksi antara asisten dan kedua orang tuanya. Tidak lupa juga ia mengawasi tunangannya.


Alfian yang berdiri dekat kolam renang sedangan melakukan pengamatan. Ia mengamati setiap gerak-gerik gerik orang terdekatnya.


Suasana malam ini menggambarkan suasana hati yang sangat bahagia ditengah pesta malam ini. Taman di hotel sudah dirancang oleh ahlinya. Ditambah lagi dekorasi alam yang bebas dan menyenangkan menenangkan hati.


Taman dengan dikelilingi oleh genangan air dengan bunga eceng gondok, lotus, teratai dan lainnya. Tidak lupa dengan lilin-lilin yang menyala di atas air itu menambah ke indahan suasana pesta malam ini.



Itu gambaran di mana seorang Alfian tengah berdiri sedang melakukan pengamatan terhadap orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Tapi maaf di dalam foto itu ada yang kurang kondisinya ingat waktu pesta di malam hari ditambah dengan banyaknya lilin yang ikut mengapung di atasnya.


Hangat terasa dalam hati Alfian merasakan kasih sayang yang tulus dari orang-orang yang terdekat dengannya. Mereka juga yang berjuang dari awal hingga saat ini.


"Semoga mereka akan selalu ada bersamaku. Amin." Doa Alfian dalam hati.


Papa, Mama dan Kakak berjalan menuju mimbar untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Mereka cukup lama di atas mimbar itu.


Alfian terus mengamati juga keluarga calon istrinya. Senyum hangat untuk mempelai dari keluarga itu terukir di wajah mereka.

__ADS_1


♥️♥️♥️


129


Di menuju tempat mereka akan menyelenggarakan resepsi. Mereka berdua berjalan berdua beriringan dengan sebuah senyum bahagia di wajah mereka.


Ting


Pintu lift dibukakan oleh seseorang. Mana mungkin pengantin membuka pintu lift sendiri. Mereka kan jadi Raja dan Ratu sehari. 🙂🙂🙂


Banyak diantara keluarga dan sahabat bahkan kolega kerja mereka merasa kagum dengan penampilan mereka malam ini. Bahkan takjub dengan disain tempat acara resepsi mereka malam ini.


"Sungguh sangat sempurna." Ucap setiap tamu yang hadir tak lepas dari ucapan itu.


Seluruh keluarga kedua mempelai menyambut tamunya dengan ramah. Ada beberapa juga yang merasa iri dengan kesempurnaan malam ini.


Melihat kedua mempelai sudah berada di mimbar pun keluarga Adrean segera menghampiri mereka untuk memberikan selamat.


"Selamat Bro, atas pernikahan mu" Ucap Adrean pada Briyan sebagai seorang sahabat.


"Selamat ya Kak, selamat menempuh hidup baru." Kata Sinta pada Briyan yang selalu memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Om selamat ya atas pernikahannya, semoga lekas diberi momongan." Kata Mentari dengan senyum jahilnya.


Mereka saling berpelukan Adrean memeluk Briyan dengan ala sahabatnya. Menepuk punggung Briyan beberapa kali dengan membisikkan sesuatu.


Sinta dan Dita tidak kalah dengan kedekatan mereka sejak mereka kuliah di universitas dan jurusan yang sama. Cipika-cipiki mereka lakukan dengan tulus persahabatan mereka sampai sekarang. Tanpa terasa air mata bahagia itu menetes tanpa permisi.


"Mah gantian dong, aku juga pengen Cipika-cipiki dengan tante." Kata Mentari yang berusaha mengalihkan suasana hati keduanya.


"Biar Tari ketularan cantiknya, kalau bisa lebih cantik dari kalian berdua." Lanjutnya.


Mama dan Sang Tante yang sekarang ini sedang menjadi ratu sehari membulatkan matanya sempurna ke arah Tari. Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak gadisnya yang terkesan centil.


"Berarti untuk saat ini kamu belum ada cantiknya dong?" Tanya Mama.


"Mama ih." Balas Tari dengan wajah malunya karena kemakan omongannya sendiri.


"Ya sudah sini Sayang, sepuas kamu mau cipika cipiki sama Tante." Kata Tante Dita yang saat ini menjadi Ratu Sehari.


"Kalau sepuas aku, Tante nanti bedaknya bukan hanya hilang tapi luntur." Canda Kakak.


"Kalau sepuasnya dan kamu puas-puasin dengan si centil ini, Gimana dong dengan ku nanti malam pertama." Keluh Briyan.


"Apa'an sih?" Balas Dita dengan mencubit perut suspek sang suami dengan wajah yang mulai memerah.


Tanpa sadar mereka berbincang dengan kedua mempelai lumayan lama hingga mengakibatkan antrian yang lain untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Seperti kereta api mungkin hingga sangat panjang antrian mereka.


Mereka berempat akhirnya beralih tempat menuju tempat yang nyaman. Entah mengapa mereka tidak menemukannya juga.


Setiap mereka berjalan menyusuri setiap tempat selalu saja ada seseorang yang menyapa. Mereka semua tidak hanya teman kerja tetapi teman sejawat bahkan teman sosialita mama nya.


Mata indah seorang gadis cantik menyelidik setiap kali berjalan menuju tempat jamuan. Ia berusaha mencari ketiga adik tampannya itu.


Nihil hasil yang ia dapatkan. Malah ia hanya menangkap sosok kakak kelasnya bersama kedua orang tua calon suaminya.


Raut wajah gadis ini seperti memikirkan sesuatu. Ada yang hilang dalam pandangannya. Tapi aroma parfum laki-laki calon suaminya tetap menyeruak dalam indra penciumannya.


"Apakah hanya perasa'anku saja." Batinnya.


"Kemana juga ini ketiga tikus curut ini." Bisiknya pelan namun masih bisa di dengar oleh kedua orang tuanya.


"E.... Siapa yang kamu maksut sayang?" Tanya Mama.


"E... Eng ..... Enggak kok Ma." Elaknya.


Untuk mengalihkan pertanya'an berikutnya yang pastinya akan menyudutkannya Gadis cantik ini memberi tahukan kalau tidak jauh dari mereka ada orang tua Alfian dan kedua temannya. Akhirnya mereka pun ikut bergabung tapi berasa ada yang kurang.


Benar saja Mama lupa dengan apa yang barusan akan ditanyakan. Ia malah asik berbincang dengan kedua orang tua dan teman Alfian.


"Untuk sementara selamatkah aku segala pertanyaan ibu negara." Batin gadis cantik ini.


"Sayang kamu tahu dimana anak tante yang paling cakep? Tanya Mommy.


"Aduh tante, maaf Tari juga gak tahu." Balasnya.


"Kira'in tadi sama kamu." Kata Mommy.


"Maaf Tan, dari tadi aku sama Papa & Mama." Jelasnya.


"Memangnya kemana tiga jagoan kalian?" Tanya Deddy.


"Tadi main sendiri." Jelas Papa yang memang tidak tahu dimana ketiga anaknya bermain.


"Tari, kamu gak khawatir sama Alfian?" Tanya Ziko.


"Disini banyak cewek cantik lho." Lanjutnya.


"Kalau aku sih gak khawatir ya, karena aku yakin dia bisa jaga perasaan ku." Jawabnya yang juga sebenarnya hatinya sudah kalang kabut karena mencium aroma parfum tapi tidak melihat orangnya. (Ada bau tapi gak kelihatan Haduh apa ya?)


"Kalau aku jadi Kak Monik mungkin sih jadi selali khawatir dan sering dilanda galaunya cinta." Lanjut Mentari.


"Bener tu padahal kalian udah lama juga lho pacaran." Kata Deddy.


"Pacaran sama kadal bisa-bisa dikadalin mulu." Kata Tari.


"Om....." Lirihnya seakan memendam sebuah masalah dengan seorang wanita.


"Lamar aku." Kata Mommy.


"Jangan hanya katakan cinta." Lanjut Tari.


"Gimana Kak Monic? Tanya Tari.


"Aku terserah Ziko aja." Katanya dengan nada sedihnya.


Mereka semua menatap gadis yang memberikan jawaban barusan. Akan tetapi dirasa ada sebuah ganjalan yang sangat berat dihatinya.


"Sudahlah nikmati saja pesta malam ini, jangan dipikir terlalu banyak." Kata Deddy.


"Entar cepet tua lho." Lanjut Mommy.


"Selamat gue dari penuntut umum." Batin Ziko.


Ziko tidak tahu lagi harus berbicara apa jika ditanyai keberadaan Bosnya itu. Apalagi ditanyai tentang hubungannya dengan Monic.


Makanan di meja yang disiapkan untuk para tamu terhormat malam ini sangatlah mewah. Mereka semua mulai menyantap hidangan itu dengan lahapnya.


Banyak diantara mereka mengacungkan jempol untuk pesta malam ini. Mulai dari dekorasi, tempat bahkan sampai makanan dan pelayanannya.


"Batang hidungnya gak muncul-muncul juga." Katanya gadis cantik ini perlahan.


Mendengar kata-kata itu barusan Papa, Mama, Deddy, dan Mommy menatap gadis itu dengan penuh tanya.


"Ketahuan juga lagi mikirin seseorang." Kata Mommy.

__ADS_1


Mentari menundukkan kepalanya karena malu karena mulutnya yang mulai lemes tak bisa diajak kompromi. Seorang laki-laki tampan yang dimaksut dalam ucapannya tadi sebenarnya juga memperhatikannya di seberang tempat.


Aroma parfum semakin menyengat di hidung gadis cantik ini. Hatinya pun semakin dak-dik-duk- der.


__ADS_2