
Keduanya hanya saling tatap setelah berganti pakaian. Suaminya tahu sang istri harus menyiapkan makan siang hingga dia memberikan kesempatan itu padanya.
Bunda menuju dapur untuk masak dan menyiapkan menu makan siang mereka. Bunda hanya memasak makanan yang cukup praktis hingga tidak butuh waktu lama untuk memasaknya.
Laki-laki paruh baya yang ditinggalkan Sang Istri di dalam kamar sendiri mulai membuka ponselnya. Dia mencari informasi seputar kehamilan seorang wanita.
Mentari si gadis kecil itu melakukan hal yang sama dengan Sang Ayah. Dia menghubungi Sang Abang yang ada di negeri seberang itulah bedanya.
Gadis kecil itu menceritakan kejadian yang dialaminya baru saja. Adrean juga merasa sangat senang dengan keputusan Ayah angkatnya.
Pemuda itu merasa beban yang terlalu berat untuk dipikul ketika sebuah kepercayaan dari Sang Ayah dilimpahkan padanya. Apalagi menjaga amanat satu-satunya yang sangat berharga.
"Semoga saja Ayah segera memiliki keturunan laki-laki hingga bisa diandalkan untuk menjaga semuanya." Batin Adrean.
Pemuda itu melihat jam yang ada diponselnya. Waktu rasanya begitu cepat hingga kini sudah waktunya makan siang.
"Sudah makan belum" ~ Isi pesan Adrean untuk seorang gadis kecil.
"Sudah." ~ Jawab Mentari.
"Bohong." ~ Adrean.
"Bener sudah." ~ Mentari.
"Iya percaya."~ Adrean.
"Hah."~ Mentari.
__ADS_1
"Ada genderang bertabuh di dalam sana." ~ Lanjut Mentari.
"Ya iya lah, dari tadi makannya makan tulisan." ~ Adrean
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara pintu kamar seorang gadis kecil diketuk perlahan oleh seorang Wanita baya. Gadis itu pun segera meletakkan ponselnya di meja kemudian berjalan perlahan membukakan pintu itu.
"Makan sekarang yuk." Kata Bunda mengajak Sang Putri karena waktu makan siang pun sebenarnya sudah terlewat.
"Ayo Bun." Kata Mentari yang sudah sangat kelaparan.
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan. Ada beberapa menu yang tersedia di meja itu.
"Ayah pergi ke kantor lagi Bun?" Tanya gadis kecil itu.
"Bunda rasa Ayah melupakan waktu makan siangnya." Jelas Sang Bunda.
"Kamu tunggu di sini saja, Bunda akan memanggilnya." Kata Bunda.
Wanita paruh baya itu berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menaiki tangga kembali menuju kamarnya. Dia hendak memanggil dan mengajak suaminya untuk makan siang bersama.
Ceklek
__ADS_1
Knop pintu diputar dan pintu terbuka secara perlahan. Wanita itu melangkahkan kaki perlahan masuk mendapati suaminya yang melihat layar ponsel dengan sangat serius.
Kedatangan seseorang pun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Sang Istri menggelengkan kepala perlahan melihat apa yang dilakukan suaminya itu.
"Huuuf." Suara Seorang Wanita paruh baya membuang nafas kasar.
"Sudah selesai?" Tanya Sang Suami gelagapan mendapati istrinya sudah ada dibelakangnya.
"Sudah ditunggu makan siang bersama masih saja sibuk dengan pekerjaan." Kata Sang Bunda menegur Sang Suami.
"Ini di rumah sayang bukan di kantor." Lanjutnya mengingatkan.
"Sayang tapi ini tugas di rumah bukan di kantor." Kata Sang Suami berusaha memberitahukannya karena malu untuk mengatakan kalau dia sedang mempelajari seputar kehamilan.
"Baiklah, sebaiknya kita makan dulu, nanti dilanjut." Kata Sang Bunda karena putrinya pasti sudah sangat kelaparan karena menunggu lama.
Pasutri itu meninggalkan kamar mereka menuju ruang makan. Wanita paruh baya itu masih terus tersenyum penuh arti.
Wanita paruh baya itu tahu apa yang dilihat Sang Suami hingga membuatnya merasa sangat diperhatikan olehnya. Kini mereka makan siang bersama setelah sampai di ruang makan.
Mentari biasanya marah jika harus saling menunggu seperti sekarang ini tetapi berbeda kali ini dia hanya tersenyum menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Gadis itu mungkin belajar berpikir lebih dewasa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Di Negeri Seberang
Seorang pemuda yang dari tadi menghubungi seorang gadis kecil kini sedang bersiap untuk pergi ke kampus. Dia akan mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk wisuda setelah dinyatakan lulus ujian sebulan yang lalu.
__ADS_1
Adrean berjalan kaki menuju kampus dengan langkah cepatnya. Seorang sahabat sudah menunggunya di tempat biasa mereka berkumpul.
Mereka mengobrol banyak hal sambil mengurus semua berkas untuk wisuda. Erika adalah salah satu teman wanita di kampus itu menghampiri kedua pemuda itu.