Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 110. Seperti Emak Rempong : 84


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari Deddy semua yang ada di ruang tamu itu tertawa lepas. Bahkan penjelasan mengenai ketakutan anak-anak mengenai vampir akibat ulah mamanya yang belum menjelaskan akan ada acara makan malam membuat suasana menghangat. Tawa terdengar di seluruh sudut rumah.


Waktu sudah sangat larut hingga dengan sangat terpaksa seluruh anggota keluarga Alfian harus pamit. (Author lupa nulis kapan ya tadi bawaan diserahkan pada keluarga Mentari)


Fleshback


Saat turun dari mobil mereka langsung mengeluarkan semua barang bawaan keluarga Alfian. Alfian menerima barang-barang tersebut dengan senang hati. Apalagi ketiga bocil itu lebih antusias lagi. Mereka sangat penasaran dengan semua barang-barang yang di bungkus itu. Ketiganya membawa barang-barang itu ke kamar kakak mereka.


Setelah keluarga Alfian pulang ketiga anak laki-laki itu selalu mengekor di belakang Kakak mereka. Kakak sampai menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalian ada apa?" Tanya Kakak.


"Kami ikut masuk ya?" Rajuk Axel.


"Kapan kakak melarang kalian masuk kamar kakak?" Tanya Kakak sambil berjongkok agar untuk mensejajarkan tinggi badan ketiga adiknya.


"Ayo masuk." Pinta kakak.


Ketiga bocil itu langsung menerobos masuk. Mereka merajuk minta dibukakan oleh-oleh yang dibawakan keluarga Alfian tadi.


Kakak pun pergi keluar meninggalkan ketiga adiknya itu. Ia menghampiri kedua orang tuanya untuk memintanya pergi bersamanya menuju kamar.


Kepergian sang kakak tadi sempat menjadi tanda tanya di dalam pikiran ketiga bocil itu. Mereka mengira kalau sang kakak tidak mengijinkan mereka mengetahui isinya.


"Kakak malah kemana perginya?" Tanya Axel.


"Marah sama kita mungkin." Jawab Garda.


"Gak mungkin marah, tadi kakak sendiri yang bilang kok." Kata Axel.


"Kalau marah dia pasti udah menghancurkan dunia ini." Lanjut Axel sempat terdengar oleh Kakak dan kedua orang tuanya yang sudah berada di depan pintu.


"Kalau kakak marah menghancurkan dunia, kalau Papa marah menghancurkan jagat raya sedangkan kalau mama yang marah menghancurkan dapur kita ( acara televisi kali).


Percakapan ketiga saudara laki-laki ini terasa menghangatkan. Percakapan mereka sudah terdengar oleh kakak dan kedua orang tuanya. Mereka hampir dibuat tertawa geli oleh ketiganya.


"Kalau kalian bertiga marah apa yang akan terjadi?" Tanya Papa dari balik pintu.

__ADS_1


Papa dan Mama mereka tahu ketiga anaknya itu bisa menghancurkan apa saja ketika mereka sedang marah. Apalagi menyakiti anggota keluarganya mereka tidak akan pernah segan-segan lagi untuk bertindak.


"Haah... Papa. Sejak kapan kalian ada disitu?" Tanya Axel kaget.


"Sejak kalian seperti emak-emak rempong yang suka bergosip." Jawab Papa.


"Kelakuan kalian ini seperti wanita kalau udah kumpul seperti ini. Mulut gak busi istirahat." Jelas Mama.


"Mama aja gak serempong kalian." Kata Mama.


"Kalau kami rempong, trus Mamanya gak rempong jadi kami anak siapa dong?" Tanya Daffa.


"Udah ah kalian ini bicara terus itu mulut, apa gak pegel itu mulut?" Tanya kakak.


"Pegel ya nanti pijit lah kak." Sahut Garda.


"Kalau mulut pegal pijatnya pakai apa dong? Tanya Kakak.


"Pakai mulut juga kak." Kata Axel.


Mereka duduk di karpet yang luas tanpa melanjutkan obrolan mereka. Mendengar kata-kata terakhir Axel tadi Papa sempat menyenggol sang istri sambil berbisik tepat di telinganya.


Mendengar perkataan Papa, kakak jadi tidak enak, walaupun lirih tapi masih bisa terdengar oleh semua yang ada di situ.


"Kenapa gak sekarang aja pijatnya?" Tanya Garda polos.


"Gak bisa dong sayang, nanti mata kalian bisa tercemari." Jelas Papa.


"Makanya Pa kalau ngomong pakai filter. Jangan tinggal cas cis cus." Omel Mama.


Mereka mulai membuka bingkisan tersebut. Sebelum membukanya Mama mengingatkan sesuatu untuk mengurangi mulut rempong mereka.


"Kalau bekerja itu bukan dengan mulut tapi dengan tangan." Kata Mama.


"Kalau bekerja buat anak pakai apa Ma?" Bisik Papa dengan pikiran mesumnya.


Mama yang mendengar itu tanpa bosa basi mencubit perut suaminya. Papa berpura-pura sakit akibat cubitan sang istri.

__ADS_1


Semua bingkisan sudah dibuka hingga membuat rasa penasaran ketiga adiknya itu hilang. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing setelah berbincang dan bersenda gurau di kamar kakak.


Perasaan senang menyelimuti sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi pengantin. Mereka sama-sama tidak bisa memejamkan matanya.


Kakak duduk-duduk di balkon karena tidak bisa memejamkan matanya. Ia merasakan dinginnya malam dengan hembusan angin dingin membelai kulitnya.


Semakin larut, udara semakin dingin. Kakak berjalan melenggang menuju kamar dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Sama halnya Alfian yang sejak sampai di rumah ia pun tidak bisa memejamkan matanya. Tengah malam pun ia mulai merasa dingin karena udara malam yang membelai kulitnya yang bersih. Ia berjalan melenggang menuju tempat tidur karena sudah mengantuk.


Flesh Off


Azan subuh sudah berkumandang dengan indah. Panggilan untuk kaum muslimin menjalankan kewajibannya.


Kakak beranjak menunaikan ibadah sholatnya. Setelah selesai ia langsung pergi ke dapur membantu Mama memasak untuk sarapan.


Matahari sudah mulai menembus masuk melalui gorden di rumah besar itu. Semua mulai bersiap untuk menjalankan aktivitas mereka masing-masing.


Papa dan Mama sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ketiga anak laki-laki mereka juga sudah siap untuk berangkat sekolah. Kakak pun sudah bersiap dengan semua persyaratan untuk masuk di universitas negeri unggulan untuk mendaftarkan kuliahnya.


Mereka mulai sarapan tanpa banyak bicara seperti semalam. Bagaikan emak-emang rempong yang terus saja berbincang.


Sunyi hanya suara peralatan makanlah terdengar. Kakak pagi ini terlihat sangat cantik dengan dengan riasan natural di wajahnya.


Papa berangkat bersama ke tiga anak laki-laki. Pagi ini ketiga kurcaci berangkat bersama Papa mereka.


Papa tidak ada acara penting di perusahaan pagi ini jadi waktunya lebih fleksibel. Mama masih harus pertemuan dengan klien pagi ini sehingga harus datang lebih pagi.


Berangkat ke kampus pagi ini kakak ingin menggunakan motor meticnya. Dengan menggunakan motor perjalanan jadi lebih cepat.


Kakak berpikir dengan motor itu biarpun terjadi macet tetap saja bisa lebih cepat sampai. Karena bisa selip menyelip diantara mobil. ( Belajar jadi pembalap kali).


"Kakak pakai motor?" Tanya Mama yang khawatir dengan keselamatan anak gadisnya ini.


"Iya Ma, biar cepat sampai." Jawab Kakak.


Di garasi masih ada beberapa mobil mewah tapi kakak enggan menggunakan. Ia ingin terlihat sederhana di kampus barunya.

__ADS_1


Motor metic dikeluarkan dari garasi. Motor ini juga terlihat mewah bahkan tidak semua orang kaya bisa mendapatkan atau memiliki motor ini.


Motor ini sudah di modifikasi oleh Papanya tanpa sepengetahuan orang lain. Ia memiliki tujuan dengan Memidifikasi semua barang miliknya.


__ADS_2