Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 24. Meminta Doa


__ADS_3

Malam yang begitu panjang kini sudah berganti pagi. Semua penghuni kediaman utama melakukan aktifitas seperti biasa.


Tuan Richat pergi ke kantor pagi-pagi sekali setelah sarapan bersama keluarga kecilnya. Mentari sedang bersama Sang Bunda belajar berbagai macam hal seperti biasa pula.


Seorang pemuda berada di balkon sedang menghubungi seorang wanita paruh baya yang sudah pensiun dari pekerjaannya. Dia akan memberitahukan bahwa besuk akan pergi kembali ke suatu negara tempatnya menuntut ilmu.


Wanita paruh baya yang ada diseberang sana merasa khawatir dengan Sang Putra ketika telpon itu berdering. Sang ibu segera mengangkat telepon itu.


"Ada apa Nak?" Tanya seorang Ibu.


"Assalamualaikum." Seorang Pemuda disebrang sana mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang Ibu disebrang terdengar sangat khawatir.


"Kenapa ibu terdengar cemas, bahkan biasanya aku dengarnya salam terlebih dahulu, kali ini tidak." Kata Adrean menebak suasana hati orang tuanya.


"Bagaimana kabar mu disana?" Tanya Sang Ibu.


"Baik, sangat baik." Jawab Seorang Pemuda.


"Ibu sedikit khawatir, sebab baru kemarin kamu sendiri sampai di rumah besar itu dan kamu langsung menelpon ibu." Jelas Sang Ibu.


"Ibu Ku sayang, Aku ingin minta doa mu, besuk aku akan pergi lagi ke negeri tetangga seperti apa yang aku katakan kemarin." Jelas Adrean terjeda.


"Aku akan mengurus wisuda ku sesegera mungkin, agar bisa segera kembali dan hidup di negeri ku tanah kelahiran ku sendiri." Lanjutnya.


"Baiklah nak. Doa ku akan selalu bersamamu. Semoga Allah selalu memberikan mu yang terbaik." Doa Sang Ibu yang ada di seberang telpon terucap dan terdengar begitu indah di telinga Adrean.


"Baiklah Bu aku akan bersiap-siap terlebih dahulu." Kata Seorang Pemuda mengakhiri pembicaraannya.


"Baiklah Nak, jaga diri mu baik-baik." Balas Sang Ibu.


"Wassalamu'alaikum." Kata Adrean mengucapkan salam penutup.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Balas Wanita Paruh Baya yang ada di seberang telepon.


Seorang laki-laki Paruh Baya kini sudah bersiap untuk pulang kerumahnya. Dia akan ikut mengantarkan anak angkatnya ke Bandara sesuai dengan keinginan Sang Putri.


Mobil yang ditumpangi oleh Tuan Richat siang ini tidak mengalami kemacetan. Mereka sampai di kediaman utama tepat saat Seorang Pemuda sudah selesai mempersiapkan semua hal penting yang harus dibawanya.


Seorang gadis terlihat murung tidak seperti biasanya saat Sang Ayah datang. Hal itu sangat terlihat dari saat menyambut Ayahnya itu.


Sang Bunda yang hanya melihat gelagat Mentari hanya bisa menghiburnya dengan sebuah kata-kata. Kata-kata yang memberikan sebuah harapan bagi putrinya.


Wanita paruh baya ini menghampiri Sang Suami yang baru datang dengan mencium punggung tangannya, sebaliknya Ayah mencium kening sang istri kemudian merangkul pundaknya berjalan menghampiri Mentari. Bunda yang membawakan tas kerja sang suami berjalan menuju ruang kerja untuk menaruhnya disana sedangkan ayah menghampiri sang putri memintanya untuk segera bersiap pergi mengantarkan Sang Abang Ganteng pergi ke bandara.


Semua sudah siap menuju bandara mengantarkan seorang pemuda tampan yang akan menyelesaikan urusan pendidikan di negara seberang. Mereka diantarkan oleh sopir pribadi keluarga itu.


Perjalanan menuju bandara terasa sangat sunyi. Mentari yang biasanya saat bepergian bersenandung kini hanya diam tanpa suara.


Chiiiiiit


Suara gesekan ban mobil dengan aspal pun sangat terdengar dengar dan sangat terasa karena keheningan yang tercipta baru saja. Mereka telah sampai di tempat tujuan mereka.


"Mau tetap di situ?" Tanya Seorang pemuda pada seorang gadis kecil.


"Mau digendong?" Tanya Seorang Pemuda menawarkan diri.


"Baiklah, ayo naik ke punggung Abang." Lanjutnya lagi.


Seorang gadis kecil yang mulanya malas menatap pemuda yang akan pergi meninggalkannya walaupun sesaat kini sudah mulai terlihat bergerak sedikit. Dia mulai keluar dari dalam mobil dan mulai naik ke punggung Adrean dengan lambat.


Waktu terlalu cepat bagi Mentari, kini sudah saatnya penumpang pesawat bersiap menyiapkan segala sesuatunya. Adrean pun juga harus segera bersiap dia segera menyiapkan semua tiket dan paspornya.


"Jaga diri baik-baik." Pesan Seorang Pemuda pada Mentari setelah menurunkannya dari punggung sambil mengacak rambutnya seperti yang sering dilakukan Sang Ayah.


"Abang tidak mau kamu sakit saat aku kembali." Katanya lagi.

__ADS_1


"Abang janji tidak akan lama di sana." Kata Adrean meyakinkan Adiknya.


Adrean kemudian bersimpuh dan memeluk erat gadis kecilnya itu seperti adiknya sendiri seperti seakan memang tidak mau dipisahkan. Dia pun kemudian berdiri tegap memeluk Sang Ayah.


Sang Bunda jangan ikut dipeluk ya, nanti ayah bisa-bisa cemburu. Pemuda itu juga bisa menempatkan dirinya walaupun sudah diangkat sebagai anak.


"Jaga gadis kecil ku Ayah." Pesan Seorang Pemuda.


"Ya tentu saja, dia kan anak ku." Jawab Sang Ayah.


"Aku hanya meminta doa agar urusan ku di sana cepat selesai." Pinta Adrean dengan tulus.


"Baiklah kami akan selalu mendoakan mu agar Allah selalu mengabulkan apa yang kamu minta." Kata Ayah mendoakan anak laki-laki nya.


"Amin." Jawab semua keluarga kecil Mentari.


Pemuda itu mencium punggung tangan Pasutri itu kemudian dia melirik gadis kecil yang ada di sampingnya itu. Gadis itu sedang menunduk hingga Adrean mencium pucuk kepala Mentari hingga dia menengadahkan kepalanya.


Bulir bening akhirnya meluncur juga saat itu. Adrean menghapus air matanya dengan tangannya.


Pesawat yang akan ditumpangi oleh Adrean mulai lepas landas. Keluarga itu hanya memandangi punggung Pemuda itu berjalan menuju pesawat yang ditumpanginya.


Tuan Richat kembali ke kediaman utama setelah pesawat yang ditumpangi oleh Adrean sudah lepas landas. Sang Ayah melihat putrinya yang begitu sedih hingga dia menawarkan untuk jalan-jalan tetapi ditolak oleh Mentari dengan halus.


Seorang Pemuda yang berada dalam pesawat hanya memejamkan matanya setelah duduk pada nomor kursinya. Dia merasa sangat bersalah pada adiknya itu.


Perjalanan yang cukup jauh harus Adrean tempuh sampai di tempat tujuan. Pada awalnya memang jauh tapi karena menggunakan pesawat jadi dekat bukankah begitu para pembaca.


Pesawat yang ditumpangi oleh Adrean kini sudah mendarat dengan selamat. Di sana Pemuda itu sudah ditunggu oleh Asistennya Aldo yang sekaligus temannya saat kuliah.


Kedua Pemuda itu memiliki Kecerdasan mereka hampir sama. Selama pulang ke tanah air Aldo diberi kepercayaan memegang perusahaan milik Sang Sahabatnya sementara.


Mereka langsung menuju apartemen milik Adrean yang sangat sederhana. Sahabatnya itu tidak tahu alasan Pemuda disampingnya tinggal di apartemen itu pada hal dia mampu membeli rumah yang paling mewah sekalipun.

__ADS_1


Pemuda itu langsung membersihkan diri setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan pesawat. Dia merasakan badannya sudah terasa sangat lengket hingga harus mengguyur seluruh badannya dengan Air.


__ADS_2