
Pikiran Sinta, Adrean memang sengaja tidur di ruang kerja untuk menghindarinya. Ia tidak ingin melakukannya lagi sebelum istrinya siap. Ia tidak ingin menyakiti wanita yang ia cintai.
Sinta akhirnya membangunkan suaminya. Adrean akhirnya terbangun. Ia mencoba memalingkan wajahnya jangan sampai ia melihat istrinya. Tapi Sinta memaksa, mata suaminya dipaksa untuk melihat dirinya.
Sinta: "Mas bangun. Kanapa tidur di sini? kamu marah ya?"
Adrean: "Maaf aku tidak bisa menyakiti mu terus menerus. Aku tidak mau melihat mu sedih sayang. Aku akan mencoba menunggu mu sampai kau siap melakukannya. Aku akan tidur disini."
Sinta: " Sayang, maafkan aku."
Adrean dengan kata-kata yang di ucapkan Istrinya. Pertama kalinya Sinta memanggilnya dengan sayang.
Sinta tahu ketika ia memeluk Adrean hasrat suaminya muncul. Sinta mencoba memulainya dulu. Ia tidak ingin Suaminya selalu merasa bersalah atas apa yang dilakukannya.
Sinta mulai ********* bibir suaminya. Adrean pun melayaninya dan akhirnya ia mulai meminta lebih. ******* Sinta yang semakin keras, membuat hasrat Adrean semakin memuncak. Tak lama ia langsung munghujamkan pusakanya pelan tapi pasti. Lahar panas pun keluar, Adrean pun tumbang di samping istrinya. Mereka berdua akhirnya tertidur di Ruang kerja tanpa sehelai benang.
Pagi ini hari Sinta terbangun. Ia melihat suaminya masih tertidur lelap. Sinta pergi ke kamar untuk mandi. Ia kemudian pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
Sarapan telah siap dihidangkan di meja makan. Ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Sinta pun menyiapkan pakaian ganti suaminya.
Adrean sudah berpakaian rapi. Ia mengucapkan terimakasih pada Istrinya. mereka berjalan menuruni tangga bersama.
Adrean menikmati masakan istrinya. Selesai sarapan mereka berbincang sebentar.
Sinta: "Rasanya gimana Mas?"
Adrean: "Enak, kalau dipanggil sayang seperti tadi malam."
Sinta: "Maunya."
Adrean: "Mau lagi? Ayo kita mulai seperti semalam."
Wajah Sinta merah seketika karena malu.
"Sayang, ayo..... " kata Sinta.
"Beneran nih... " Balas Adrean.
"Bener ayo..... Antar Tari ke sekolah." Kata-kata Sinta yang terjeda. Saat jedaan Adrean langsung berdiri dengan senyumnya.
Setelah mendengar kelanjutan perkataan Sinta. Adrean pun menjawab :"dasar sudah mulai nakal ya berani menggoda suami."
Mereka berangkat ke rumah Mentari. Mentari sudah menunggu mereka. Mereka berpamitan kepada Ayah dan Bunda. Sampai di sekolah Mentari sudah ditunggu ketiga sahabatnya.
Adrean dan Sinta menunggu adiknya itu di taman. Sejak kejadian semalam mereka sudah bisa membuka diri. Tertawa bersama tanpa ada yang difikirkan. Merencanakan masa depan keluarga mereka.
Mentari yang senyum-senyum sendiri membuat ketiga temannya penasaran.
Riko: "Tar, kok kamu dari tadi senyum-senyum sendiri sih?"
Mentari: "Lagi seneng aja."
Dion: "Ati-ati lho kesambet nanti."
Desi: "Dapet uang saku lebih paling."
Huu...... Teriak Riko dan Dion.
Bel masuk berbunyi. Semua anak mengikuti pelajaran dengan baik. Terkecuali Risa yang sejak awal pelajaran menjahili temannya.
Mentari anak yang pintar dan cerdas. Waktu istirahat dia dipanggil oleh kepala sekolahnya. Kepala Sekolah memberikan undangan kepada orang tuanya.
Bel istirahat habis berbunyi semua siswa masuk ke dalam kelas. Risa mengejek Mentari karena tadi dipanggil kepala sekolah. Pelajaran telah usai. Bel pulang telah berbunyi. Sinta dan Adrean segera menuju gerbang sekolah menjemput Mentari.
Mentari langsung berlari ke arah kedua kakaknya. Ia langsung menyerahkan surat dari Kepala Sekolah. Risa yang melihat itu meledeknya kalau dia anak nakal makanya dikasih surat dari Kepala Sekolah.
Adrean dan Sinta tidak percaya kalau Tuan putrinya nakal. "Jangan dihiraukan Mas Ganteng percaya pada mu Tuan Putri." Kata Adrean sambil mengacak-acak rambut Mentari. Mentari tersenyum karena kakaknya percaya padanya.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil Adrean. Adrean membuka pintu untuk Sinta dan Mentari. Tari tiba-tiba bertanya: " Mas Ganteng dan Mbak Cantik hari ini kok terlihat beda ya?"
"Biasa aja kali Tari." Jawab Sinta.
Sampai di kediaman Tuan Richat, Mentari langsung turun. Adrean membantu Sinta turun dari mobil dengan memegang tangannya. Mentari menggoda ke dua kakaknya.
"Makin romantis aja." kata Mentari.
"Anak kecil sok tahu." Balas Adrean.
Adrean bicara pada Bundanya mengenai surat dari Kepala Sekolah barusan. Sementara Sinta mengajaknya ke kamar ingin mencari sesuatu yang berharga.
Surat itu belum dibuka oleh Adrean. Ayah dan Bunda yang berhak untuk membukanya. Ibu sangat kaget melihat prestasi anaknya yang tidak jauh dari Abangnya.
Mengenai surat itu Adrean menyarankan agar dibicarakan dengan Ayah. Mungkin Ayah sudah biasa tidak akan datang ke sekolah tapi Adrean mau mewakilinya.
Ponsel Adrean tiba-tiba berbunyi. Panggilan dari Dokter Mawar. Ia memberitahukan hasil laboratorium tentang cek darah kemarin.
Adrean akhirnya menuju kamar Sinta mengajaknya pulang. Mentari pun mulai bisa menerima kalau kedua kakaknya sudah punya rumah sendiri.
Adrean: "Sayang bagaimana apa bukunya sudah ketemu?"
Sinta: "Belum sayang, ada apa?"
Adrean: "Misal dicari lain hari gimana?"
Mentari: "Memang ada apa Abang?"
Adrean: "Ada urusan mendadak, tadi habis ada telp. "
Mentari: "Ok.- Ok."
Adrean yang mendengar kata "Sayang" dari Istrinya sudah menegang. Ia mencoba mengendalikan diri. Adrean pun selalu berpikir kenapa dirinya sering seperti itu.
Meraka berdua sampai di rumah. Adrean di jalan sudah menjelaskan pada Sinta kalau Dokter Mawar telah menghubunginya.
Adrean segera menghubungi balik Dokter Mawar untuk datang ke rumah. Tidak menunggu lama Dokter Mawar tiba di kediaman Tuan Adrean. Sinta mempersilahkan Dokter itu masuk. Saat semua sudah berada di ruang tamu Dokter itu melihat Sinta dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Adrean tahu maksud dokter Mawar. Ia tidak mengkhawatirkan keputusan Sinta setelah mendengarkan penjelasannya. Ia percaya Istrinya akan menerima dia apa adanya.
Mendengar penjelasan Dokter Mawar mengenai obat perangsang yang telah dicampurkan dalam minuman tanpa sengaja diminumnya. Adrean akan merasa mudah merasakan hasrat yang berlebih. Hasrat itu bisa dikurangi dengan meminum suatu obat. Obat itu akan berdampak membuat orang yang meminumnya akan mandul.
Sinta mendengar semua keterangan dokter itu tanpa ada yang tertinggal. Sinta terlihat biasa saja saat itu. Sebelum berpamitan Dokter Mawar melihat Sinta dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Dokter Mawar meninggalkan kediaman Tuan Adrean. Setelah dokter itu pergi mereka berdua pergi ke kamar. Mereka berdua terdiam tanpa suara. Adrean yang duduk di sofa sedangkan Sinta duduk di tepi tempat tidur.
Adrean tidak ingin melihat mata indah Sinta. Sinta yang merasa dicueki tertawa kecil. Baru tadi pagi mereka menjalin hubungan baik layaknya suami istri.
Adrean yang mendengar Sinta tertawa akhirnya menoleh. Sinta mendekat kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Suaminya. "Sayang, aku akan selalu mendampingimu seumur hidup ku bagaimanapun keadaan mu." Kata Sinta lirih.
"Terimakasih, Sayang." Balas Adrean. Ia tahu maksud Sinta.
Semua keputusan ada di tangannya sendiri. Sinta cuma berharap Suaminya tidak mengambil keputusan meminum obat yang dimaksudkan dokter itu.
Waktu semakin larut, Adrean dan Sinta duduk di balkon. Mereka berdua bermanja di sana sambil melihat indahnya rembulan. (so sweet banget).
Besuk Adrean ada rapat penting yang memang tidak bisa ditinggalkan. Sinta masih diminta libur oleh Bunda. Rencananya besuk Sinta akan Mengantar Mentari ke Sekolah. Adrean akan menyusulnya setelah rapat.
Sebelum rapat Adrean mendapat pesan dari Ayahnya dimintai tolong untuk menemui Kepala Sekolahnya Mentari. Ia berpesan agar Mentari di ijinkan untuk lompat kelas.
Setelah rapat selesai Adrean langsung pergi ke Sekolah adiknya. Ia langsung menuju kantor Kepala Sekolah. Adrean menyampaikan semua pesan dari Ayahnya.
Di dalam kelas Tari terjadi keributan. Keributan mangenai Orang Tua Mentari yang ada di Ruang Kepala Sekolah. Mentari sendiri yang menjadi topik pembicaraan hanya tersenyum tipis.
Menurut Teman-teman Mentari Adrean adalah Ayah Tari, sedangkan Sinta adalah Bundanya. Alasannya setiap kali yang mengantar Mentari adalah Adrean dan Sinta.
Riko: "Tar, orang tua kamu masih muda banget. Cakep-cakep lagi."
Desi: "Iya, bener."
Riko: "Pasangan serasi."
__ADS_1
Mentari: "Good."
❤️❤️❤️❤️❤️
Bab 27
Teman Mentari yang tidak suka mengatai Mentari. Tuduhan pedas yang tidak beralasan.
Adrean keluar dari ruang Kepala Sekolah. Saat keluar Ia sudah dihadang oleh adiknya.
Adrean: "Ada apa Tuan Putri?"
Mentari: "Ada apa sih Kak? Kok harus panggil Orang Tua segala."
Adrean: "Tuan Putri apakah pernah berbuat salah?"
Mentari: "Tidak."
Adrean: "Ya sudah pintar kamu gak usah khawatir?" (Sambil mengacak-acak rambut Mentari).
Mentari: "Uowww... (keluhnya)
Adrean: Baiklah akan aku ceritakan. Mulai besuk kamu naik ke kelas B. Alasannya karena kamu sudah menguasai semua pelajaran di kelas A secara mudah.
Mentari ketika masuk ke dalam kelas sudah disambut teman-temannya. Banyak ekspresi yang ditampilkan mereka.
"Maaf ya temen-temen besuk aku sudah pindah di kelas B." Kata Mentari dengan centil.
Adrean keluar menuju taman menemui istrinya yang baru memainkan ponselnya. Ia mengintip dari belakang apa yang sedang di baca oleh istrinya itu.
Adrean jadi tahu apa yang sedang dicari istrinya. Informasi pendaftaran masuk Universitas. Adrean semakin bangga mendapat istri yang ingin maju.
Sinta yang duduk di taman tiba-tiba ada yang menutup matanya. Ia jadi kaget, dilihat dari parfum yang dibaunya Ia tahu siapa orang yang mengerjainya.
"Sayang sudahlah duduk di sini." Ajak Sinta.
Adrean akhirnya melepaskan tangan yang mendekap istrinya.
Waktu berjalan semakin cepat. Bel pulang sekolah berbunyi. Seperti biasa mereka berdua menghampiri Mentari dan mengantar pulang Mentari. Sampai di kediaman Ayahnya Adrean dan Mentari cuma mampir sebentar.
Sinta tiba-tiba menanyakan umur kandungan Bunda. Umur kandungan Bundanya hampir tiga bulan. Memang masih terlihat datar perutnya. Saat berbincang Adrean tiba-tiba mengajak pulang. Pikiran Sinta sudah kemana-mana. Ia melihat raut muka suaminya yang penuh kecemasan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. sesampainya di rumah mereka langsung menuju kamar. Tak pakai lama mereka langsung bercengkrama saling memberi satu sama lain. Akhirnya mereka tertidur karena kelelahan.
Tiap malam mereka selalu melakukannya, walau pun Adrean sudah belajar menahan hasratnya itu tapi tetap saja gagal. Sinta sendiri sudah berjanji untuk mendampingi suaminya apa pun yang terjadi.
Sore hari Sinta terlebih dahulu bangun. Ia segera membersihkan diri. Ia ingin memasak makan malam. Belum sempat ia keluar kamar Sinta sudah ditarik lagi oleh suaminya yang baru bangun. Suaminya melu**at bibir Sinta. Kemudian berjalan menuju kamar mandi hendak membersihkan diri.
Sinta sudah selesai memasak dan sudah dihidangkan di meja makan. Selesai makan seperti biasa mereka berada di balcon sambil melihat indahnya rembulan.
Hembusan Angin yang sepoi-sepoi membuat hati terasa damai. Sinta menyandarkan kepalanya di bahu sang Suami. Sekarang itu menjadi kebiasaannya. Seakan semua beban pikiran hilang seketika.
VC dari Mentari tak diangkat. Ponsel selalu diletakkan di atas meja nakas. Angin semakin dingin sepasang pengantin baru itu masuk dalam kamar.
Sinta sebelum membersihkan diri melihat ponselnya terlebih dahulu. Ada apa ya Mentari VC malam-malam? pikir Sinta.
Akhirnya Sinta sibuk dengan ponselnya.
Sinta VC balik dan langsung diangkat oleh Mentari. Ia hanya bilang besuk maunya diantar Ayah. Sinta pun hanya mengiyakan.
Karena waktu sudah larut Mentari langsung menutup telp. nya.
Sinta kalau mengenai Adiknya Mentari selalu saja di nomor satukan. Ada banyak alasan yang membuatnya seperti itu. Dahulu ia memang ingin sekali punya adik sebelum kepergian orang tuanya. Walaupun Adrean bukan anak kandung dari Keluarga Tuan Richat Antartika tapi ia sudah merawat pujaan harinya dengan baik dan penuh sayang.
Adrean yang keluar kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya memanggil dengan Sinta dengan lembut.
Adrean: "Sayang yang telp.?
Sinta: "Oh.... Mentari. Ia bilang besuk akan diantar oleh Ayah."
Adrean: "Sudah, sana gosok gigi, cucu muka dan kaki.
Adrean memang sangat mencintai istrinya sebenarnya ia tidak tega melakukan hal itu padanya setiap hari. Setiap Adrean menghindar dengan alasan ke ruang kerja ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sang istri selalu tidak percaya dan menyusulnya ke ruang kerja.
Sinta tahu semua alasan yang dipakai suaminya hanyalah untuk menghindar. Ia tahu suaminya bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan waktu untuk keluarga. Sebab Suaminya sangat cerdas dalam menyelesaikan pekerjaannya tidak butuh waktu lama.
Sinta istri yang baik. Ia tidak ingin suaminya menanggung masalahnya sendiri.
Pekerjaan sakral telah diselesaikan. Mereka tidur terlelap dengan berpelukan.
Pagi hari matahari sudah bersinar cerah. Sinta sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sang suami baru saja bangun langsung mandi. Seperti biasa Sinta menyiapkan semua pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya.
Hari ini mereka tidak ada acara. Pasti jenuh di rumah pikirnya. Ayah dalam perjalanan ke rumah Adrean setelah mengantar Mentari ke sekolah.
Security yang berjaga di depan gerbang rumah Adrean sudah mengenalnya sehingga beliau langsung diperbolehkan masuk.
Bel rumah berbunyi setelah ada laporan dari security kalau Ayahnya datang.
Ting tong-ting tong
Sinta membuka pintu, ia heran Ayah berkunjung pagi sekali.
"Adrean ada Nak?" tanya Ayah
"Masuk dulu Ayah." Biar saya panggilkan. kata Sinta.
Adrean akhirnya datang, sedangkan Sinta ke dapur membuatkan minuman untuk Ayah mertuanya.
Ayah: "Sinta tadi mana Yan?"
Adrean: "di dapur Yah, buat minum."
Sinta: "Dimimun Yah."
Ayah: "Terimakasih Sinta." Kalian belum ada pembantu?"
Adrean: "Begitulah." Tumben Sang Raja datang ke gubuk kami."(candanya)
Ayah: "Dasar Anak Pintar. Gini Yan dan Sinta. Ini menyangkut saham perusahaan Papa mu. Papa mu adalah sahabat karib Ayah. Ayah tahu dari Adrean yang mencari tahu tentang jati diri mu dulu waktu masih di negara C. Ia tahu kalau Paman mu ingin menguasai semuanya dan akan mencelakakan mu bila perlu. Setiap malam kau selalu mengigau ketakutan. Pangeran ini lah yang ber-inisiatif untuk melindungimu."
Adrean: "Ayah jangan melebih-lebihkan. Ayah bo'ong tu."
Ayah: "Saham perusahaan milik Papa mu sudah Ayah ambil dan atas namakan kamu Sinta. Kamu berhak mendapat semua harta milik mama dan papa mu."
Sinta hanya terdiam tanpa bicara. Ia sangat berterimakasih telah diberi keluarga baru yang sangat sayang padanya. Matanya berkaca-kaca mendapat perhatian yang berlebih.
Ayah: "Kapan saja kamu siap, kamu bisa mengelola perusahaan Papa mu.
Sinta: "Baik Ayah. Terimakasih."
Sinta saat itu juga pingsan di samping Suaminya. Adrean menggendongnya menuju kamar dan membaringkannya. Ia memanggil Dokter Mawar ke rumah.
Adrean: "Sinta ini pasti kecapean."
Ayah: "Emang kamu ajak lembur terus tiap malam?"
Adrean: "Sinta melakukan semua pekerjaan di rumah ini sendiri."
Dek. Hati Adrean merasa bersalah. Benar yang dikatakan ayahnya tiap malam Adrean dan Sinta bercengkrama. Bahkan bukan hanya malam hari.
Ayah: "Maka dari itu cari pembantu."
Adrean: "Gak segampang itu kan Ayah."
Ayah: "Kamu benar Yan. Bukan harta tapi nyawa taruhannya buat kita."
Dokter Sinta akhirnya datang. Walaupun Ia pernah datang tapi ia masih menjalani pemeriksaan ketika memasuki rumah itu.
Pintu sudah terbuka. Dokter Sinta akhirnnya memanggil penghuni rumah. Adrean pun keluar dan mengantarnya ke kamar Sinta. (Tepatnya kamar Adrean dan Sinta ya.)
__ADS_1
Pemeriksaan pun berlangsung tidak memakan waktu 1 jam. Dokter menanyakan tentang haidnya Sinta. Selama sebulan menikah Sinta belum pernah datang bulan.
Dokter Sinta mengucapkan selamat pada Adrean. Ia pun bingung," istri sakit malah dikadih selamat." Bentak Adrean.
Maaf Tuan istri Anda sedang hamil tapi kondisinya yang lemah. Umur kandungannya baru sekitar lima hari. Adrean senang sekali mendengar istrinya hamil. Aku mengambil keputusan yang benar. "Alhamdulillah ya Allah ." Teriak Adrean.
Dokter Mawar: "Maaf apa Anda Tuan Richat seorang pembisnis yang sangat sukses itu?"
Tuan Richat: "Iya benar."
Dokter Mawar: "Senang bisa bertemu dengan Anda."
Tuan Richat: "Saya juga senang, setahu saya Anda teman sekolah anak saya."
Dokter Mawar: "Iya benar, tapi sayang putra Anda sudah menikah, jika tidak sudah saya lamar."
Tuan Richat: "Jujur sekali Anda Dokter, saya suka. Yang disayangkan dia mendapat istri yang sangat pantas buat dia.l
Adrean: "Maaf Dokter saya tidak bisa mengantar Anda sampai depan."
Adrean ingin bersama istrinya saat itu. Ia mengatakan hal itu pada Dokter Mawar agar ia segera kembali pada tugasnya.
Dokter Mawar akhirnyapun pamit. Ia merasa agak kecewa dengan jawaban Tuan Richat yang memuji menantunya.
Ayah dan Adrean sangat senang. Kegembiraan mereka tidak mungkin diperlihatkan di depan orang asing. Setelah Dokter itu pergi Ayah meledek Adrean.
Ayah: "Ular mu berbisa juga ya Yan?"
Adrean: "Iya lah. Setiap malam kan lembur. Bahkan lebih lho."😁😁😁😁
Ayah: "Buka rahasia ya?"
Adrean: "Terpaksa Yah."
Ayah: "Hati-hati lho ntar cepet bosen."
Adrean: "Gak akan, yakin deh... Dari pada Ayah selama Bunda hamil, dipuasain tu ularnya. 😊😊😊
Ayah dan Anak ini berkelakuan seperti seorang sahabat. Mereka bercerita tanpa ada rasa canggung.
Adrean menutupi tentang kelemahannya akibat obat perangsang yang tak sengaja diminumnya.
Anak mu memang membawa keberuntungan buat kalian. Adrean kemudian terdiam "Ya hari ini memang ada 2 kebahagiaan perusahaan Sinta dan anak ku.
Adrean dan Ayahnya sedang barbahagia atas kehamilan Sinta. Ayah yang pagi ini ada rapat penting pamit pada Adrean. Ia minta dikabari kalau Sinta sudah sadar.
Mentari yang datang lebih awal. Ia berjalan menuju ruang kelas yang baru. Saat akan memasuki kelasnya ia merasa ada yang mengawasinya.
Kelas ini lumayan nyaman dan tenang. Mentari gadis yang periang, banyak gaya, cerewet sedikit arogan. Berbeda sekali dengan kakaknya Sinta yang kalem dan banyak diam. Tari bisa menyesuaikan diri dengan Sinta. Sinta bisa memberikan banyak nasehat kepadanya saat Ia lepas kendali.
Rio teman pertama di kelasnya. Mentari selalu memilih bangku paling depan tepat dengan papan tulis. Itu yang diajarkan Kakaknya Sinta. Tujuannya agar cepat mengerti.
Rio yang datang setelah Mentari. Rio memutuskan duduk sebelah kanan meja Mentari.
Mentari yang baru dikelas ini harus bisa menyesuaikan diri dengan kelas dan teman-temannya.
Rio: "Baru ya?"
Mentari: "Gak tuh?"
Rio: "Kok aku baru liat."
Mentari: "Masa Sih? Aku tiap hari dateng ke Sekolah kok."
Rio: "Berarti kamu pangkas kelas dong."
Mentari: "Ya begitulah."
Rio terpana dengan kecantikan teman barunya ini. Ia berusaha mendekatinya. Cindi yang melihat Rio sudah berbincang dengan Mentari mencoba menyela pembicaraan mereka.
Cindi: "Siapa Yo? Anak baru ya?"
Rio: "Begitulah."
Mentari: "Kenalin aku Tari."
Cindi: "Aku Cindi. Senang kenalan dengan mu."
Rio dan Cindi menjadi teman dekat Mentari. Alfian adalah cowok cool yang sangat ganteng seperti seorang pangeran. Mentari dan Alfian memang dari keluarga yang memiliki status yang hampir sama.
Alfian datang paling akhir dibandingkan teman-temannya. Terhitung dari usianya Alfian lebih tua sedikit dari Mentari.
Alfian: "Wuih, ada cewek baru nih." (Sambi mengacak rambut Mentari)"
Mentari: "Sopan dikit kenapa kak."
Alfian: "Emang kenapa?"
Mentari: "Jaga tuh tangan."
Alfian: "Itu baru rambut, belum yang lain." (celetuknya)"
Mentari yang baru dikelasnya terdiam. Ia tidak ingin membuat masalah. Alfian dengan kejadian baru saja merasa tertarik dengan Mentari yang galak padanya. Anak gadis pertama yang berani membalas segala perbuatannya.
Cindi dan Rio hanya heran melihat Mentari yang begitu beraninya pada Alfian.
Cindi: "Tar udah lah jangan ngambek, ntar cantiknya ilang lo. Alfian memang kayak gitu. Berbuat sesukanya.
Rio: "Tapi tenang aja bentar lagi dia juga udah kelar sekolah di sini."
Mentari mendengar kata pindah seakan hatinya tidak rela. Ia sendiri juga merasa heran. Hatinya seakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Alfian yang duduk tepat dibelakangnya walaupun baru sehari kenalan ingin memandangnya selalu.
Bel berbunyi semua anak mengikuti pelajarannya dengan baik. Apalagi Alfian ingin segera menyelesaikan sekolahnya disitu.
Bel istirahat berbunyi. Mentari hanya diam di kelas. Ia mengulang mengulang kembali pelajaran tadi dan mengerjakan tugas dari gurunya.
Rio dan Cindi mengajaknya ke kantin. Mentari menolaknya ia merasa masih kenyang. Saat bel masuk berbunyi selesai semua pekerjaan yang dikerjakan Mentari.
Rio dan Cindi sudah masuk kelas. Alfian mencoba mencari perhatian pada Mentari.
Tapi Mentari sudah fokus pada pelajarannya.
Pulang sekolah Mentari langsung menuju mobil yang menjemputnya. Mobil dengan sopir pribadi kepercayaan ayahnya.
Alfian melihat Mentari pergi dengan mobil itu. "Mobil mewah." bisiknya. Ia tahu karena Daddynya sendiri punya mobil seperti itu.
Alfian sebentar lagi masik Sekolah Dasar tinggal satu bulan. Pulang sekolah Ia langsung ke toko buku mencari buku penunjang untuk sekolahnya. Daddy dan Mammynya selalu sibuk tidak ada waktu. Tapi dia sendiri paham kalau mereka sangat menyayanginya.
Mentari pulang dan disambut Bundanya. Ia langsung menuju kamar dan berganti pakaian kemudian membaringkan tubuhnya.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk Sang Bunda. Bunda mengajak makan Mentari. Bunda dan Mentari turun ke ruang makan. Di sana sudah disediakan berbagai macam makanan dan lauk.
💗💗💗💗💗
Saat makan Bunda melihat Mentari secara intens. Selesai makan Bunda bertanya pada anaknya itu.
Bunda: "Sayang, tadi di Sekolah gimana?"
Mentari: "Baik kok Bun, Mentari bisa ngikuti."
Bunda: "Tadi kamu gak makan di kantin?"
Mentari: "Gak Bun, tadi aku ngerjain tugas."
...Bunda: "Rajin amat kamu Sayang...
__ADS_1