
Diculiknya Sinta belum diketahui oleh siapapun. Sore itu semua urusan Adrean sudah selesai. Ia segera kembali ke hotelnya. Ibu sedang melihat TV di ruang tengah. Perasaan Adrean tiba-tiba tidak enak melihat pintu kamar Sinta.
Adrean mengetuk pintu kamar Sinta. Lama menunggu di depan kamar, akhirnya Adrean memutuskan untuk langsung masuk. Ia sangat terkejut melihat kamar kosong. Tas yang biasa dipakai tidak ada. Beruntung Adrean sempat memasukkan alat pelacak.
Adrean dan Briyan memang selalu mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Mereka adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Mereka selalu menjadi incaran bagi saingan bisnis. Keluarga dalam bisnis juga selalu dipertaruhkan. Untuk itu mereka selalu lebih waspada. Hubungan Adrean dan Briyan seperti hubungan persahabatan Tuan Richat dengan ayahnya Sinta.
Adrean mengikuti petunjuk alat pelacak. Sayang tas itu dibuang di jalan. Ia selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Briyan orang pertama yang dihubungi Adrean. Ia langsung melacak dari rekaman CCTV jalan. Dari rekaman itu sudah menunjukkan kemana arah Sinta dibawa pergi.
Briyan langsung menghubungi semua anak buahnya. Adrean dan Briyan langsung menyusun rencana. Meraka akan segera menggrebek gudang penyekapan Sinta. Adrean tidak ingin terjadi sesuatu pada Sinta.
Sinta sejak awal penyekapan oleh sepupunya hanya ditanyai keberadaan Pamannya. Sinta sendiri tidak tahu dimana pamannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia merasa takut yang sangat
Adrean membangunkan Sinta yang sudah mengigau lama sekali. Sinta akhirnya sadar, ia bingung ada dimana. Ia kemudian melihat Adrean bersamanya. Adrean memeluk Sinta dengan erat sambil minta maaf.
Adrean sangat senang dengan kembalinya Sinta. Di sebuah Apartemen mewah, sejak makan malam dengan Adrean, sang Istri selalu mual-mual. Saat akan dibawa sang suami akan membawa ke dokter, Bunda menolak. Mentari terus saja merengek minta diantar ke hotel milik sang Abang. Pusing sudah kepala Ayah.
Ponsel Ayah berbunyi ada panggilan dari Adrean. Adrean memberitahukan kalau ia sekarang berada di rumah sakit X. Ayah ada ide biar keduanya bisa melakukan keinginannya. Ia memberitahukan kepada sang Bunda dan Mentari.
Ayah: "Ayah berangkat ke rumah sakit dulu Bun."
Bunda: " Ayah sakit? "
Ayah: "Gak, Adrean di rumah sakit."
Bunda: "Ikut Yah."
Mentari: " Aku juga ikut, boleh ya? "
Ayah: "Ya sudah, ayo."
Ayah, Bunda, dan Mentari bergegas berganti pakaian dan segera berangkat ke rumah sakit. Mereka langsung menuju kamar rawat Sinta dan Adrean yang menemaninya. Ayah, Bunda, bab dan Mentari melihat keduanya hanya terdiam.
Ceklek suara pintu di buka.
Ayah: "Apa yang terjadi? "
Bunda: "KDRT mungkin Ayah ?"
Ayah: " KDRT yang bikin kecanduan maksudnya?"
Adrean mengerti maksud Ayah dan Bundanya. Sinta dan Mentari tidak mengerti maksudnya jadi cuma memicingkan matanya.
Bunda tiba-tiba mual. Akhirnya Adrean memanggil dokter, setelah diperiksa ternyata Bunda hamil. Bunda tidak sadar kalau datang bulannya telat. Dokter pergi dari ruangan itu. Sinta yang masih canggung memberanikan diri mengucapkan selamat pada Sang Bunda. Adrean meledek Ayahnya
Sinta: "Selamat ya Tante."
Bunda: " Terimakasih ya Sayang."
Sinta: " Tari mau punya dedek, jadi ada temen dong."
Mentari: "Iya, kak.
Adrean: "Ayah, ularnya ganas juga ya?"
Adrean dan Ayah tertawa lebar, sedangkan Bunda hanya tersenyum manis. Hanya mereka yang tahu maksut anak laki-lakinya.
Ayah, Bunda dan Tari datang ke rumah sakit waktu memang sudah larut. Mereka berbincang hingga pagi. Terlihat sekali Mentari yang sangat senang karena akan memiliki adik.
Pagi ini mereka pulang ke kediaman masing-masing. Adrean sampai di hotelnya terus menemani Sinta. Ia minta maaf karena beberapa hari kemarin tidak memperdulikannya. Ia sangat takut kehilangan Sinta.
Hari ini rencananya mereka mulai berkemas. Mereka semua akan pulang ke tanah air besuk pagi.
Adrean, Sinta, Ibu, Ayah, Bunda, dan Mentari menuju bandara, mereka akan melakukan penerbangan. Mulai dari Bandara sampai di dalam pesawat Mentari terus saja menempel pada Sinta, bahkan sampai turun dari pesawat.
Sinta tidak merasa keberatan, tapi Adrean terlihat kusut seperti baju belum diseterika.
Ayah dan Bunda melihat kedekatan mereka.
Ayah meminta Sinta tinggal di rumahnya. Adrean tinggal bersama Ibunya. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalagan sebelum pernikahan.
Ayah: "Sinta kamu tinggal di rumah Om ya?"
Mentari: " iya... ya... aku setuju banget Yah.
Bunda: "Gak papa lah ya bentar lagi kan mau nikah. Puasa dulu lihat pasangan."
Ibu: "Ibu juga setuju."
Adrean: "Baiklah, tapi ingat jaga calon permaisuriku untuk ku.
Sinta ikut dengan keluarga Tuan Richat. Mentari sangat senang. Ia mendapatkan kakak. Tiap hari sekarang Mentari bermain bersama Sinta. Bunda setiap hari muntah-muntah.
Adrean pulang ke rumah Ibunya. Sesampainya di sana Adrean menghubungi Sinta. Rasa kangen pada permaisurinya sudah menggerogotinya. Setiap saat ia selalu menghubungi Sinta.
Malam mulai datang, setelah selesai makan malam ia langsung menuju kamar. Sejak orang tuanya meninggal ia jadi sangat pendiam. Ponsel Sinta berbunyi. Setelah dilihat pesan dari Adrean.
Adrean: Lagi ngapain?
Sinta: Lagi bermimpi?
Adrean: Mimpiin aku ya?😁😁😁
Sinta: Gak mimpiin kamu. Mimpiin Abang tukang bakso. 😊😊😊
Adrean: Senyum mu manis banget.😁😁😁
Sinta: Jelas dong sampai semut takut semua. 😔😔😔
__ADS_1
Adrean: Aku sayang kamu.
Hampir tengah malam Sinta belum juga bisa tidur. Pesan terakhir Sang Pangeran tidak dibalas. Kalau dibalas gak akan ada habisnya.
Ceklek Pintu kamar Sinta tiba-tiba terbuka. Bunda masuk ke dalam kamar Sinta. Ia ingin melihat sedang apa Sinta. Ternyata ia baru duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Sinta kaget.
Bunda: "Malam sayang."
Sinta: "Malem Tante."
Bunda: "Sedang apa sayang?"
Sinta: " Gak ngapa-ngapain kok Tan, cuma baru nulis novel, aku ingin nglanjutin bikin novel ku yang kemarin. Pendapatannya lumayan buat aku nglanjutin kuliah lagi."
Bunda: "Kamu dulu pernah kuliah apa?"
Sinta: "Aku pernah kuliah Manajemen, kemudian aku ambil hukum tapi....
Perkataan Sinta terpotong. Terlihat raut muka sedih di wajahnya.
Bunda: "ya sudah tidak apa-apa. Besuk apa kamu ada acara?"
Sinta: "Tidak Tan, ada apa?
Bunda: "Besuk kamu bisa anterin Mentari daftar sekolah?"
Sinta: "Bisa, Tan.
Bunda: "Terimakasih ya Sayang. Selamat tidur. Mimpiin Sang Pangeran ya?
Sinta hanya bisa tersenyum.
Adrean menunggu balasan dari Sinta. Di tunggu lama tapi gak di balas-balas. Akhirnya Ia pergi ke ruang kerjanya. Ia harus memulai usahanya dari awal.
Pagi hari telah tiba, Sinta bersiap mengantar Mentari mendaftar sekolah. Mentari pun sudah siap. Mereka berdua turun menuju meja makan. Di sana sudah ditunggu oleh Ayah dan Bunda. Mereka sarapan bersama, tapi Bunda tidak ikut makan. Perut Bunda terasa mual. Selesai sarapan mereka pergi sesuai tujuan masing-masing. Sinta dan Mentari pergi ke sekolah, sedang Ayah pergi ke kantor.
Adrean mulai mengurus perusahaan barunya. Seminggu ini pula Ia akan menikah. Ia tak ingin jauh-jauh lebih lama dengan Permaisurinya. Tiap malam terkadang tengah malam Ia mengirim pesan pada Sinta. Ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Pagi ini juga Ayah menawarkan bantuannya, tapi Sang Anak Menolak. Ia ingin berusaha sendiri. Ayahnya pun yakin dengan sifatnya itu ia akan berhasil dalam waktu dekat ini.
Selesai mendaftarkan sekolah, Mentari dan Sinta segera pulang. Bunda sedang menangis. Mereka terkejut dan bertanya pada Bunda.
Mentari: "Bunda menangis ada apa?"
Bunda: " Bunda ingin makan rujak, tapi yang beli Abang kamu."
Sinta: "aku saja Bunda."
Bunda: "Aku gak mau makan kalau bukan Bang Adrean yang beli!!!"
Mentari: "Bunda tu kayak anak kacil saja."
Sinta baru ingat mungkin Bunda baru nyidam rujak. Sinta pun segera mengirim pesan pada Pangerannya untuk membelikan rujak. Adrean pun sangat senang akhirnya Sinta mulai berani meminta sesuatu.
Sinta memberikan Rujaknya pada Tante.
Sinta: "Tan ini rujaknya."
Tante: "Gak mau ah, ini bukan Adrean yang membelikannya."
Adrean: "Sebenarnya tadi siapa yang minta?"
Sinta: "Tante yang minta."
Adrean: "Tumben Bunda minta rujak." Mau tak beliin sendiri?"
Tente: "Gak, udah gak kepingin."
Adrean dan Sinta hanya saling pandang. Mentari saat itu sedang berada di Taman. Ia mengejar kupu-kupu.
Adrean membangunkan Sinta yang sudah mengigau lama sekali. Sinta akhirnya sadar, ia bingung ada dimana. Ia kemudian melihat Adrean bersamanya. Adrean memeluk Sinta dengan erat sambil minta maaf.
Adrean sangat senang dengan kembalinya Sinta. Di sebuah Apartemen mewah, sejak makan malam dengan Adrean, sang Istri selalu mual-mual. Saat akan dibawa sang suami akan membawa ke dokter, Bunda menolak. Mentari terus saja merengek minta diantar ke hotel milik sang Abang. Pusing sudah kepala Ayah.
Ponsel Ayah berbunyi ada panggilan dari Adrean. Adrean memberitahukan kalau ia sekarang berada di rumah sakit X. Ayah ada ide biar keduanya bisa melakukan keinginannya. Ia memberitahukan kepada sang Bunda dan Mentari.
Ayah: "Ayah berangkat ke rumah sakit dulu Bun."
Bunda: " Ayah sakit? "
Ayah: "Gak, Adrean di rumah sakit."
Bunda: "Ikut Yah."
Mentari: " Aku juga ikut, boleh ya? "
Ayah: "Ya sudah, ayo."
Ibu yang pergi ke halaman belakang melihat mangga muda, sampai air liurpun keluar. Mentari datang menghampiri ibunya. Mentari mengagetkan sang Bunda.
"Bun, itu air liurnya sampai keluar." Kata Mentari.😊😊😊
"Panggilkan Abang Mu!!" kata Bunda.
"Kenapa emang?" kata Mentari.
Bunda langsung menunjuk buah mangga yang di atas pohon. Mentari pun mengerti.
Mentari: "Abang panggil Bunda tu."
__ADS_1
Adrean: "Baiklah aku akan kesana sebentar sebentar."
Adrean menyusul ibunya.
Adrean: "Ada apa Bun?"
Bunda: "Aku ingin mangga itu." (sambil menunjuknya)."
Adrean: "Kan ada tukang kebun Bun, minta ia mengambilkannya."
Bunda: "gak mau aku maunya kamu manjat."
Akhirnya Adrean memanjat pohon mangga itu masih dengan pakaian kerjanya. Ayah akhirnya pulang, melihat Adrean memanjat pohon. Ayah pun tertawa. Adrean dengan tampang masamnya melihat sang Ayah.
Mangga yang sangat masam itu akhirnya di makan oleh Bunda dengan lahapnya. Ayah, Adrean, Sinta dan Mentari melihat dan merasakan ngilu di mulutnya.
Saat Bunda sedang lahap Adrean pun heran dengan kelakuan Sang Bunda. Akhirnya Ia mulai bertanya.
Adrean: "Sebenarnya ada apa dengan Ibu hari ini?"
Sinta: "Nyidam." (jawabnya singkat).
Arean: "Penyakit apa itu?"
Ayah: "penyakitnya wanita hamil."
Adrean: "Kapan itu sembuhnya?"
Ayah: "Selama ia mengandung."
Mendengar jawaban itu Adrean melirik Sang Ayah. Ayah kebanyakan suntik Bunda tu aku yang jadi sasaran. (Ayah hanya tersenyum kecil).
Adrean merasa senang hari ini bisa bertemu dengan Permaisurinya. Walaupun dalam situasi yang mereka tidak bisa bicara berdua.
Kembali ke kantor jadi terasa berat. Berhubung hari ini ada rapat penting jadi dengan terpaksa Ia pun harus kembali. Ini demi masa depannya dengan Sinta. Dalam pikirannya selalu teringat seperti itu, sehingga membuatnya jadi lebih semangat lagi.
Selama kehamilannya ini Bunda selalu minta sesuatu pada Adrean. Jika bukan dia sendiri yang melakukannya Sang Bunda tidak ingin memakannya.
Hari pertama Mentari sekolah, ia sangat senang. Mentari sekolah mulai hari itu ia akan diantarkan oleh sang kakak yaitu Sinta. Sinta sudah memiliki mobil pribadi. Sama halnya Adrean ia tidak ingin mobilnya digunakan oleh orang lain.
Sesudah sarapan Mentari pamit kepada Ayah dan Bundanya. Ia mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya. Walaupun sudah diantarkan oleh Sinta tapi, sang Ayah tetap meminta seseorang untuk mengawasi mereka. Ayah tidak ingin keselamatan kedua putrinya dalam bahaya.
Ayah memang hari ini berangkat kantor agak siang. Sekalian berangkat ke kantor Ayah ingin memastikan tempat pernikahan anaknya Sinta memang Aman.
Bunda mengajak Ayah ke ruang kerja Bunda. Pikiran Ayah sudah sangat senang. Ia berpikir kalau akan diajak bermesraan di sana. Sejak Bunda hamil ia sangat sensitif bahkan tidak mau berdekatan dengan suaminya.
Ternyata oh ternyata ada yang ingin dibicarakan Istrinya. Sungguh sangat kecewa sang Ayah.
Bunda: "Sayang, sekarang kan aku sedang hamil, aku sepertinya akan memberikan tanggungjawab perusahaan ku pada Sinta."
Ayah: "Anak itu apa bisa?"
Bunda: "Aku percaya dia anak yang baik dan mampu melakukan semuanya."
Ayah: "Darimana Bunda tahu?
Bunda: Ia kan calon istri Adrean, & ia juga pernah kuliah ambil manajemen juga."
Ayah: "Baiklah, terserah Bunda. Bunda tahu yang terbaik.
Tanpa menunggu lama Ayah langsung memeluk Bunda dari belakang, tapi Istrinya itu malah mendorongnya. Tak lama kemudian ia muntah-muntah lagi.
Ayah: "Ada apa Bun?"
Bunda: "Ayah kan tahu setiap dekat sama kamu, aku muntah-muntah!!!"
Ayah: "haduh.... Sampai kapan aku akan seperti ini. 😔😔😔😔
Bunda: "Kenapa??"
Ayah: "Apa calon anak kita sebenci itu sama Ayahnya?"😟😟😟
Bunda: " Tidak masak benci sama dokternya yang setiap hari membetikan suntikan surga buat dia. Apa raja kecil marah tidak dikasih gizi?"
Bunda tertawa sambil melirik suaminya.
Sinta yang mengantar Mentari sekolah akhirnya sampai di sekolahan. Ia memutuskan untuk menunggunya di taman. Sinta tidak ingin melepas sekolah adiknya begitu saja. Sebab selama ini Ia tidak pernah keluar dari kediamannya. Ia menunggu sampai Mentari mendapatkan sahabat.
Sinta sudah milihat Mentari mendapatkan sahabat. Cepat juga ya gadis kecil itu mendapatkan sahabat pikirnya. Akhir Sinta memutuskan untuk menemani Mentari sampai pulang.
Sekolah Mentari memang sekolah elit. Sekolah itu mendapat dana terbesar dari keluarga Mentari.
Ada yang melihat sinta sedang duduk di taman. Ia seorang pemuda di salah satu kampus terkenal yang mana kampus itu adalah salah satu incarannya untuk mendaftar jurusan hukum. Kampus itu didirikan oleh orang tua Sinta selama ia masih hidup.
Dodi adalah nama pemuda itu. "Cantik sekali gadis itu" gumamnya. Dodi akhirnya menghampirinya. Sinta yang sedang memainkan ponsel tidak begitu memperdulikannya.
Mentari sudah pulang sekolah. Belum sempat berkenalan Sinta berdiri dan menghampiri Mentari. Saat pulang sekolah Mentari ingin membeli peralatan sekolah yang belum Ia punya. Akhirnya mereka mampir di sebuah toko buku yang tak jauh dari sekolah Mentari.
Mentari mulai mencari peralatan sekolah yang dia cari. Sinta juga mencari sesuatu, sebuah buku tentang hukum. Tiba-tiba Ia menabrak seorang wanita yang bernama Melodi. Melodi marah-marah.
Selesai berbelanja waktu sudah hampir tengah hari. Waktunya makan siang. Ponsel Sinta berdering tanda panggilan masuk Tantenya.
Sinta: "Hallo, Tante."
Tante Devi: "Kalian dimana? Kenapa belum sampai rumah."
Sinta: "Oh... ya Tan. Lupa maaf aku lupa beritahu kalau sekarang kita baru selesai cari peralatan sekolahnya Tari."
Tante Devi: "ya sudah hati-hati, kalau sudah selesai segera pulang ya sayang."
__ADS_1
Sinta: "Iya Tan. Ini kita sudah selesai kok."
Sinta menuju tempat parkir bersama Mentari. Mereka segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mereka membersihkan diri kemudian makan siang