Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 87. Aku Rindu


__ADS_3

Aku rindu bersama denganmu sebagai sebuah keluarga. Besuk kan kakak akan menikah. Setelah ada kakak ipar pasti akan terasa beda kan? Ayolah kak kita sedikit bernostalgia." Pinta sang adik yang sangat memohon.


"Baiklah." Balas Sang kakak.


Memang benar adanya mereka sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Cuma beberapa hari ini mereka sempat bertegur sapa.


Hanya beberapa hari mampu menciptakan kehangatan yang cukup lama menghilang. Mereka berbincang sambil bercanda ria tak luput dari tawa mereka. Bapak mendengar tawa mereka akhirnya bergabung juga.


♥️♥️♥️♥️


118


Hanya beberapa hari mampu menciptakan kehangatan yang cukup lama menghilang. Mereka berbincang sambil bercanda ria tak luput dari tawa mereka. Bapak mendengar tawa mereka akhirnya bergabung juga.


Tanpa terasa waktu sudah sangat larut. Bapak melihat jam yang terpenting di dinding kamar itu.


"Sudah larut, besuk acara penting istirahatlah kalian." Perintah sang Bapak kepada kedua anak laki-lakinya.


Bapak pergi meninggalkan kedua anaknya itu. Ia menuju kamarnya sendiri untuk istirahat.


"Hai mau kemana kau?" Tanya Kakak.


"Ya mau tidur lah. Jawab Adik.


"Masak mau tidur sama kamu. Aku sudah besar seperti mu, nanti dikira aku belok lagi. Tidur sekamar sama kamu nanti bisa aku terkam dirimu kak." Jelas adik lagi yang panjang kali lebar penuh penekanan.


"Enak aja. Benerin dulu itu pintu!" Perintah Kakak.


"Besuk aja lah ya. Ini kan sudah malam. Aku sangat mengantuk." Jelas adiknya sambil menguap.


"Dasar adik gak ada sopannya." Kata Kakak.


"Aku kan mau lihat kalian wik i wik." Ledek Adik.


"Dasar mesum." Kata Briyan sambil melempar bantal pada adiknya.


" Gak kenak-gak kenal. Wek." Balas Adik menghindar dari lemparan bantal sambil menjulurkan lidahnya.


"Bau bau kak. Cepat tidur. Besuk hari bahagiamu aku ingin hari pengantin mu yang paling berkesan." Sambung sang adik.


Sungguh kali ini kelakuan keduanya seperti anak kecil. Jarang sekali mereka bersama penuh bahagia dalam hati mereka.


Hari ini adalah hari bahagia untuk Briyan dan Dita. Kedua pengantin akan mengucapkan ijab kobul.


Di hotel Dita dirias sesuai dengan keinginannya. Riasan tipis tetapi sungguh terlihat sangat cantik. Busana jawa yaitu kebaya yang ia kenakan dengan warna putih melambangkan sebuah kesucian dengan berbagai aksesoris sederhana. Sanggul modern melekat di rambutnya memperlihatkan leher jenjang putih miliknya.


"Nona cantik sekali." Puji sang perias andalan yang bekerja di salon milik Dita juga.


"Terimakasih Mbak." Balas Dita dengan menepuk pundak periasnya.


"Sama-sama Non." Balas Sang Perias.


Sang Ibu tidak mau dirias. Ia ingin berias sendiri tanpa bantuan perias.


Ibu telah selesai berias. Ia segera menuju kamar Dita ingin melihat anak gadisnya yang terlihat sangat cantik sebagai pengantin hari ini.


Tok tok tok


Pintu kamar hotel Dita diketuk oleh sang ibu. Pintu dibuka oleh salah satu orang yang merias Dita.


"Sudah selesai nak?" Tanya Ibu menatap takjub kecantikan anaknya itu melalui cermin yang ada di depannya.


"Sudah Bu." Balas Dita sambil berbalik badan


"Tak ibu sangka kau secantik ini sayang. Anak siapa sih?" Tanya Ibu lagi.


"Masa Ibu lupa aku ini anak siapa? Aku kan gak tahu yang buat aku ini siapa?" Candanya Dita.


"Kamu ini bisa aja ngejawab ibu." Kata ibu tegas.


"Haduh berat ini kalau gitu." Keluh Dita.


"Apanya?" Tanya Ibu singkat.


"Ya berat lah kalau gak dijawab dikira aku anak yang gak punya telinga." Jawab Dita dengan senyum tipisnya.


"Sudah siap lahir batin kah kamu Nak?" Tanya sang ibu lagi.


Dita hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Sebelum menuju tempat ijab qobul Ibu dan anak ini sedikit berbincang.


*** *** *** Di Apartemen *** *** ***


Briyan sedang bersiap-siap dengan acara pernikahannya. Di apartemen ia mempersiapkan segalanya sendiri.


Kemeja dengan warna putih dengan jas hitam membalut tubuh kekarnya. Ia bercermin dengan sedikit memutar-mutarkan badannya itu.


Bapak dan adiknya itu berjalan menghampiri anak laki-lakinya yang akan menikah. Keduanya melihat laki-laki yang sedang berada di depan cermin.


"Kak sudah kah kamu yang bersiap. Lama amat seperti perempuan. Padahal tadi aja bangunnya lebih awal dari kita." Celetuk Sang Adik.

__ADS_1


"Hai adik kecil, jangan bawel kenapa?" Tanya Kakak.


"Enak aja adik kecil, aku udah tumbuh besar dan tinggi." Protes sang adik.


"Udah-udah kalian ini kayak anak kecil, ribut mulu." Lerai sang Bapak.


"Ayo berangkat ke hotel sekarang." Ajak kakak lagi.


Briyan berjalan keluar dari apartemen dengan diapit oleh Bapak dan Adik laki-lakinya. Terlihat ia berjalan sangat gagahnya.


Mobil Pengantin disopirin oleh sopir pribadinya. Keluarga pengantin semua duduk di kursi belakang.


Mobil dilajukan lumayan lambat karena ini hari minggu. Banyak keluarga yang melakukan Week End pada hari ini untuk melepaskan lelah setelah seminggu bekerja.


Untuk menghindari kemacetan mereka sengaja datang lebih awal. Sesampainya di depan hotel mewah itu mereka langsung turun berjalan menuju ruang pribadi Briyan.


Di hotel ini Briyan mendapat sambutan yang cukup hangat dari semua kariyawan. Ia adalah pemilik hotel sehingga memiliki ruang khusus.


Di ruangan privasinya ini Briyan merapikan pakaiannya. Terlihat sangat tampan dan gagah tapi sayang ia terlihat gugup.


Ijab Qobul akan segera dilaksanakan di sebuah ruangan lain yang sudah di dekorasi dengan sangat indah. Pengantin Pria menuju ruangan itu berjalan dengan diapit oleh Bapak dan Adik laki-lakinya.


Pengantin wanita juga sudah bersiap melakukan ijab qobul dengan didampingi oleh sang ibu. Ia hanya memiliki seorang ibu yang hidup bersamanya selama ini.


Tamu undangan pada acara ini hanyalah dari keluarga besar kedua mempelai. Hanya ditambah dengan Keluarga Adrean yang selama ini dianggap sangat berjasa dalam hidup Briyan.


Keluarga Adrean sejak pagi tadi sudah berada di hotel ini. Mereka terlihat sangat lengkap, seluruh keluarga hadir untuk menghadiri upacara sakral ini.


Adrean juga memang sudah menganggap keluarga ini adalah bagian dari keluarganya. Hal ini juga karena Briyan sangat berjasa juga sejak dulu baik sebagai sahabat ataupun sebagai asistennya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 waktunya ijab kobul diucapkan. Kedua mempelai merasa gugup di depan penghulu.


Plaaak


Pukulan ringan dari telapak tangan sang adik menganai lengan Briyan. Ia mengarakan sesuatu untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Santai Bro. Kata sang Adik.


"Bisa lupa nanti mantra mbah dukunnya." Lanjut sang adik.


Mendengar itu Briyan menatap tajam adiknya. Hingga yang ditatap pun bergidik ngeri.


"Ohhhh...... Seram." Kata sang adik meledek sang kakak.


Kedua mempelai duduk dihadapan penghulu. Briyan duduk di sebelah kanan menjabat tangan penghulu sedangkan Dita duduk di sebelah kiri mempelai pria.


Tak lama mantra itu dikeluarkan hingga kata "Sah." dari semua yang hadir di acara ijab qobul menggema di ruangan itu. Mendengar kata SAH dari semua tamu Dita mulai mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. Briyan juga berlanjut mencium kening istrinya itu.


Acara masih berlanjut setelah ijab qobul. Mereka semua dipersilahkan makan makanan yang disediakan oleh pelayan hotel.


Makanan yang disediakan cukup bervariasi hingga membuat semua yang hadir cukup tergiur dengan menunya. Sambil menikmati makanan tersebut kedua keluarga besar tersebut saling berkenalan.


♥️♥️♥️♥️


119


Makanan yang disediakan cukup bervariasi hingga membuat semua yang hadir cukup tergiur dengan menunya. Sambil menikmati makanan tersebut kedua keluarga besar tersebut saling berkenalan.


"Hi, how are are you?" Sapanya.


"I'm fine." Jawab Tari dengan memicingkan matanya menggingat-ingat sesuatu.


"Maaf saya gak begitu fasih dengan bahasa ini. Bisakah pakai bahasa kita saja." Pinta Tari dengan merendah.


"Ok." Jawabnya.


"Sepertinya aku pernah lihat ini orang tapi siapa ya? aku kok lupa." Batin Tari.


Mentari yang saat itu akan mengambil beberapa kue tiba-tiba mendengar sebuah panggilan dari Mamanya. Mereka sekeluarga telah memesan kamar VIP selama menunggu datangnya waktu pesta.


"Maaf saya permisi dulu. Orang tua saya memanggil." Pamitnya.


Orang itu hanya menganggukkan kepala saat gadis itu berpamitan. Ia pun memahami situasi saat itu.


Belum sempat berbincang dengan orang itu Tari sudah mendapat panggilan dari orang tuanya. Mereka hendak menuju kamar pesanannya.


Adrean dan keluarganya berpamitan pada kedua mempelai untuk beristirahat di kamar mereka. Sebab nanti malam masih ada pesta yang akan lebih membuat badan lelah.


Kedua pengantin pun menuju kamar mereka ketika hampir semua keluarga mereka istirahat siang. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.


Ibu sudah berada di depan pintu kamar mereka. Ia ingin memberikan sebuah serangkaian kata-kata pada anaknya.


"Sudah siap?" Tanya sang ibu.


"Siap dong Bu?" Tanya Briyan tanpa canggung lagi.


"Ini masih siang Kak." Jelas Adik Briyan.


"Lha emang kenapa? Yang penting udah halal." Sahut Briyan.

__ADS_1


"Ini anak gak ada malunya ya, ada orang tua juga bahasnya kayak gitu." Cerca Sang Bapak yang baru datang menghampiri mereka.


"Tapi gak papa biar cepet dapat cucu." Lanjut Bapak.


Dita yang mendengar itu jadi malu sendiri. Wajahnya susah sangat merah bak kepiting rebus.


"Tapi gak apalah ya siang-siang nyicil." Kata sang adik.


"Nyicil emang angsuran pinjaman." Kata Briyan.


"Ini udah tunai bukan kredit." Lanjut Briyan.


"Sudah-sudah kalian berdua istirahat saja, nanti malam masih ada acara kan." Lerai Bapak.


Bapak selalu menjadi penengah antara kakak beradik itu saat terjadi adu mulut yang pastinya tidak akan ada habisnya. Biarpun seperti itu tapi sang adik selalu menghormati kakaknya.


"Minggir." Perintah Briyan pada sang adik sambil menggeser adiknya ke samping.


"Selamat ya Kak, akhirnya ada seseorang yang bisa berbagi denganmu." Ucap sang adik sambil memeluk Briyan dengan erat sebelum Briyan masuk dalam kamarnya.


Rasa aneh seketika saat ia memeluk sang kakak. Rasanya sang kakak akan pergi dalam waktu yang lama.


Air mata adik Briyan hampir saja lolos. Ia tidak ingin menitikkan air mata di hari bahagia kakaknya itu.


"Buat kan aku keponakan yang pintar dan lucu yang banyak ya kak." Pinta sang adik.


"Dasar anak kecil, jaga itu mulut. Malu ada orang yang lebih tua." Kata Briyan.


Mendengar semua harapan menganai cucu dan keponakan seketika Dita hanya menundukkan kepalanya karena malu.


Pintu kamarku udah dibenerin belum ini. Bisa berabe kalau belum dibetulin. Batin Briyan dengan ekspresi wajah yang tak bisa diartikan.


"Tenang aja kak pintu kamar pasti beres." Kata sang adik.


"Kamu sekarang jadi paranormal ya? Tanya Briyan.


" Kenapa tahu semua isi kepalaku." Lanjut Briyan.


"Iya kepala mu isinya cacing lipat jadi pinternya melebihi ilmuwan." Kata sang Bapak.


"Udah sana masuk sebelum aku gangguin ini siang kalian." Ucap sang Adik.


"Maaf Bu dan Bapak yang terhormat, saya permisi masuk dulu ya." Ucap Briyan.


"Iya jangan lupa berdoa dulu ya sebelum pemanasan." Ucap Sang Adik mengingatkan.


Briyan dan Dita memasuki salah satu ruang kamar yang memang disiapkan untuk istirahat siang mereka berdua. Tidak lupa mereka menutup pintu kamar tersebut.


Di dalam ruang kamar hotel lain tampak seorang laki-laki muda mempersiapkan sebuah kamar yang yang sangat indah untuk sepasang suami istri muda yang baru saja menikah. Disain interior kamar yang ia harap bisa membuat pasangan suami istri itu memiliki malam pertama yang indah.


Ruangan dengan banyak hiasan bunga yang memperindah ruangan. Lampu kecil yang gemerlap di setiap sudut ruangan. Lilin-lilin yang dibuat bentuk hati. Tempat tidur dengan taburan bunga mawarnya.


*** *** Ruang Kamar Hotel Adrean *** ***


Adrean dan keluarga masih berada di hotel tempat acara ijab qobul dan resepsi pernikahan berlangsung. Mereka memang sudah dipersiapkan ruangan khusus untuk istirahat oleh yang punya acara.


Mentari terlihat memikirkan sesuatu. Wajahnya tak bisa berbohong dihadapan semua anggota keluarganya.


"Tadi laki-laki itu siapa sih kak? Sampai-sampai membuat pikiran mu melayang bersama wajahnya." Celetuk Axel sang adik kandung Tari.


"Wuih udah berani mendua ya kakak ku sayang." Ucap Daffa.


"Iya tuh baru juga kemarin dilamar. Masak sekarang udah ada yang lain." Kata Garda.


"Bener apa yang mereka bilang Kak?" Tanya Mama.


"Ma, jangan dengeren itu bocah-bocah bayi." Kata Kakak.


"Kalau bocah-bocah bayi cuma bisa nangis kan, ia tapi ini bocah bayi agak gede ya mama dengerin dong." Bela Mama untuk ketiga jagoannya.


"Ternyata oh ternyata anak gadis mama banyak yang naksir." Kata Mama.


"Kalian itu berisik amat, mending kalian tidur aja buat persiapan nanti malam." Protes Papa.


"Kalian itu tiga bersaudara cepet tidur sana. Nanti kalian kecapean lagi." Kata Papa.


"Memang tadi itu siapa sih Kak?" Tanya Papa pada Mentari.


"Aku gak tahu Pa, tiba-tiba aja nyamperin." Jawab Kakak.


Papa jadi waspada dengan laki-laki muda yang merasa kenal dengan anak gadisnya itu. Pasalnya ia tidak mengenal baik dari keluarga kedua mempelai.


"Papa ada urusan sebentar. Kalian tetap di sini jangan kemana-mana." Pinta Papa.


Papa menuju tempat dimana ada rekaman CCTV di hotel itu. Ia minta diperlihatkan rekaman saat di ruangan kejadian dimana anak gadisnya bersama seorang laki-laki.


*** *** *** *** *** **** ***


Maaf Authornya kurang lebih seminggu gak bisa Up date karena sesuatu. (Ada masalah di aplikasi hp Novel Toon tiap kali mau buka kembali ke tampilan depan. Saya minta maaf ya kakak. 🙏🙏🙏). Kemungkinan juga karena ramnya juga kecil jadi sering bermasalah.

__ADS_1


Jangan lupa ya Bantu like, untuk novel ini.


Dukung terus Novel Ketulusan Cinta Mentari dengan setia baca novelnya, like, vote dan beri dukungan dengan hadiah poin dan koinnya.


__ADS_2