
Melihat istrinya yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dengan jubah mandinya terlihat sangat mempesona. Aroma badan yang sangat khas itu mampu menghipnotis seluruh kesadaran suaminya.
"Haduh kenapa ini Junior harus memberontak disaat seperti ini? Sarangnya aja barusan ngancem. Ntar kalau dipotong beneran gimana nasib mu?" Batin Papa menunduk kan kepalanya.
Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu efek dari obat yang tanpa sengaja diminum itu masih sering bereaksi. Sangat sulit mengendalikan hasratnya itu ketika bersama sang istri.
"Udah sana mandi Pah, ntar terlambat lagi ke acara malam ini." Perintah Mama membuat sang suami bergegas menuju kamar mandi.
Papa segera mengguyur badannya dengan air dingin untuk mengurangi gejolak hasrat itu. Ia pun berendam dengan air dingin cukup lama.
Papa tahu posisinya sekarang tidak memungkinkan berbuat seperti itu sekarang. Sebab dalam ruangan itu masih ada ke empat anaknya.
"Bersolo ria lagi ini. Sungguh malang nasib ku kali ini." Batin Papa saat memejamkan matanya di backtub.
Tok tok tok
"Papa lama amat di dalam?" Tanya Mama dengan mendekatkan telinganya di pintu kamar mandi.
"Tak ada suara. Ketiduran apa ya? Masak ketiduran, kan tadi tidurnya lama banget." Kata Mama perlahan.
"Ada apa Ma?" Tanya Papa yang baru keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.
"Gak kenapa-napa." Jawab Mama singkat.
Mama sangat malu melihat pemandangan gratis yang baru saja ditampilkan oleh sang suami. Postur tubuh yang sangat bagus. Bentuk dada dan perut seperti roti sobek.
Mama pun segera mengalihkan pandangannya pada benda pipih yang sedang dipegangnya. Sang suami yang tahu istrinya masih malu kalau melihat badannya pun menggodanya.
"Mah aku pakai baju ini ya?" Tanya Papa.
"Iya." Jawab Mama singkat.
"Mah kalau diajak ngomong itu tatap mata orang yang ngajak ngomong." Kata Papa dengan menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Kalau natap aja gak berani, masak sih berani motong pelihara'an Papa." Ledeknya lagi.
"Ceritanya Papa meragukan ancaman ku?" Tanya Mama.
"Gak, Papa tidak meragukan ancaman Mama." Kata Papa tepat di telinga sang istri yang membuatnya seketika merasa geli.
Papa segera memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh sang istri tercinta. Mereka segera bersiap untuk acara malam ini.
Kakak dan ketiga kurcacinya juga sedang bersiap-siap. Bukan kurcaci lagi ya karena sekarang mereka sudah cukup tumbuh dewasa bisa lah mereka dipanggil dengan jagoan.
Waktunya sudah tiba dalam acara resepsi pernikahan. Papa dan seluruh anggota keluarga mulai memasuki ruangan pesta tersebut.
"Udah siap kalian?" Tanya Papa pada semua anggota keluarga yang sedang berada di ruang tengah.
"Udah." Jawab mereka bersamaan.
Adrean dan keluarga meninggalkan kamar mereka. Mereka berjalan menuju tempat resepsi.
"Cewek Coe." Celetuk Daffa yang saat akan memasuki ruang resepsi.
"Dasar Casanova kecil." Kata Garda.
"Inget Coe punya kakak cewek." Sambung Garda mengingatkan.
"Yang ada mah sekarang kaum adam yang sering disakiti." Kata Axel mulai bersilat lidah.
Kakak membulatkan mata bulat sempurna memandang ke arah ketiga adiknya.
"Ngeri." Kata ketiga adiknya serentak setelah melihat tatapan tajam dari sang Kakak.
"Gak deh ya pengecualian buat Tuan Putri kita yang sangat baik, dan cantik rupawan." Kata Papa mencoba menengahi ke empat anaknya.
"Aauuuu, sakit tahu Ma." Pekik Papa saat mendapat cubitan dari istrinya.
"Lha ini baru kaum Adam yang tersakiti." Jelas Mama.
Semua terdiam saat memasuki ruang resepsi yang sudah dipenuhi oleh banyak sekali tamu undangan. Aura yang sangat berwibawa mulai ditampakkan oleh keluarga ini.
Semua tamu undangan mengantri untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Kedua mempelai memang sudah berada di atas mimbar.
Flesh Back
Acara resepsi pernikahan Briyan memang sangat mewah. Sebelum acara pesta Briyan dan sang istri sebelum masuk kamar mereka sempat digoda oleh anggota keluarga lainnya.
Kamar sementara tidak ada riasan sama sekali. Di kamar lain sudah disiapkan kamar yang sudah dirias sangat indah.
Briyan dan Dita berjalan bersamaan masuk ke dalam kamar. Melewati pintu kamar pintu pun langsung ditutup.
"Jangan buang kesempatan." Teriak adik Briyan sebelum pintu kamar benar-benar tertutup.
Briyan pun hanya menjawab dengan mengedipkan salah satu matanya.
Saat berada di dalam ruangan kamar itu Briyan berjalan menuju tempat tidurnya, sedangkan Dita menuju sofa dengan langkah malu-malu.
"Sayang, ngapain di sana heem?" Tanya Briyan dengan lembut.
Tanpa menjawab pertanyaan laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya ia mendaratkan pantatnya di sofa dengan menunduk. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Tidak kah kamu ingin menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?" Tanya Briyan menggoda istrinya.
Wajah Dita jadi memerah. Melihat itu Briyan semakin ingin mendekati Sang Istri.
"Ayolah sayang." Ajak Briyan.
"A.... Ak....... Aku. Belum siap." Tolak Dita.
"Aku capek sekali. Nanti malam kan masih ada acara resepsi." Jelas Dita ingin menolak halus.
"Memangnya bantuin suami menyiapkan baju ganti butuh energi ekstra?" Tanya Briyan dengan memegang dagu Sang istri yang sedang menunduk.
"Memangnya apa yang ada di pikiranmu itu? Omes ya? Tanya Briyan dengan senyum tipisnya.
Dita merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Sang Suami baru saja. Wajah yang sudah merah kini semakin memerah.
"Apa'an sih... Aku kan memang sangat capek. Mulai dari bangun subuh dirias dan harus bersikap kalem dihadapan semua tamu." Kilah Dita.
♥️♥️♥️♥️
125
Apa'an sih... Aku kan memang sangat capek. Mulai dari bangun subuh dirias dan harus bersikap kalem dihadapan semua tamu." Kilah Dita.
Benar saja mengingat dulu ia adalah seorang gadis yang tak mau diam. Ada-ada saja tingkah dan kelakuannya hanya untuk mempertahankan hidup.
Bukan hanya dirinya sendiri akan tetapi juga seorang ibu yang harus ia bantu untuk kelangsungan hidupnya. Kejadian itu berlangsung sejak sang Bapak meninggalkan mereka karena Allah lebih menyayanginya.
__ADS_1
Kenangan waktu bersama Bapak dan sang ibu membuatnya menitikkan air mata. Tanpa di sadari sang suami melihat hal itu dan berjalan menghampiri sang istri yang sedang duduk di sofa.
"Kenapa? Kecewa menikah dengan laki-laki jelek seperti ku? Tanya Briyan dengan mengusap air mata sang istri yang mengalir tanpa permisi.
"Iya." Jawab Dita sambil menunduk.
" Kamu tahu aku menginginkan seorang laki-laki seperti yang kamu katakan." Jelas Dita.
"Sekarang apa mau mu?" Tanya Briyan dengan dinginnya.
" Aku ingin sebuah cinta dan sayang yang tulus dari mu." Ujarnya dengan menunduk malu.
"Aku akan berusaha menepati janji ku untuk selalu mencintaimu dan menyayangimu semasa hidup ku." Tutur Briyan dengan mendekap tubuh istrinya yang memang ideal.
"Lepas." Teriak Dita sambil berusaha melepaskan pelukan Sang suami.
"Aku gak bisa napas ini." Kata Dita dengan intonasi yang agak tinggi.
Briyan sangat tampan seperti Adrean. Mereka berdua memiliki banyak perbandingan sepuluh sebelas atau sebelas dua belas.
Briyan bagaikan bayangan Adrean sebab kemanapun mereka pergi selalu saja berdua. Bahkan sikap datar dan dingin mereka pun sama.
Dita pun merasa khawatir dengan segala kelebihan yang dimiliki sang suami. Pastilah banyak wanita yang selalu mendambakan bahkan menginginkan Pria seperti suaminya yang sekarang.
"Katakan, kenapa menangis?" Tanya Sang suami dengan memegang dagu istrinya agar sejajar dengan wajahnya.
"Aku mengenang masa lalu ku bersama keluargaku." Jawab Dita lirih dengan menatap mata istrinya.
"Lanjutkan." Perintah Briyan sambil berdiri kemudian duduk di samping sang istri.
"Aku pasti akan merindukan Ibu jika jauh darinya." Jelas Dita.
"Trus?" Tanya Briyan dengan memposisikan kepala istrinya di pundak kirinya.
"Trus-trus ntar nabrak Bang." Kata Dita ketus.
"Kalau kamu kangen dengan ibu kita bisa berkunjung ke rumah kan? Tidaklah jauh apartemen ku dengan rumah Ibu." Jelas Briyan dengan penuh kasih sayang.
Mendengar penjelasan sang suami, Dita tahu bahwa suaminya juga sangat menyayangi ibunya. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti itu.
Cup
Kecupan singkat di pucuk kepala Dita membuatnya terkejut hingga ia pun mendongokkan kepalanya menatap wajah sang suami. Mereka berdua terhipnotis dengan pandangan mereka hingga sesuatu pun terjadi.
Briyan mendekatkan bibirnya pada sang istri. Mereka berdua menikmati ciuman itu dengan penuh gairah.
Brug
Suara Briyan terjatuh dari sofa karena di dorong oleh sang istri. Saat itu Dita sudah kehabisan napas karena memang itu pertama kalinya buat dia.
"Apa-apa sayang?" Sakit tahu." Kata Briyan sambil berdiri.
"Aku gak bisa napas tahu." Balas Dita.
"Makanya aku kasih napas buatan." Kata Briyan dengan tersenyum smirk.
Dita beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin membersihkan dirinya karena badannya sudah berasa sangat lengket.
Sebelum melangkah Briyan mencekal tangan sang istri hingga berbalik dan menabrak dada bidang sang suami. Tanpa membuang kesempatan ia memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Mau kemana?" Tanya Briyan.
"Kamar mandi." Jawab Dita berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Aku bisa sendiri." Balas Dita dingin.
Dita masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Ingin ia mengunci tapi diurungkan karena ia percaya pada sang suami.
Briyan menunggu istrinya sambil mengotak atik benda pipih milik sang istri. Beralih ia mengotak-atik benda pipih miliknya.
Briyan melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Ia jadi merasa gelisah menunggu sang istri.
Briyan akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar mandi. Ia ingin mengetahui keadaan sang istri.
Tok-tok-tok
Suara pintu kamar mandi terdengar dengan begitu jelas. Akan tetapi orang yang ada di dalamnya tak kunjung membukakan pintu.
"Kenapa lama sekali ni cewek mandinya." Gerutunya.
Berulang kali hingga kesekian kali pintu diketuk tak kunjung jua dibukakan. Orang yang mengetuk pintu kamar mandi pun akhirnya merasa khawatir dengan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya berada di dalamnya.
Ceklek
"Huuh, untung saja tidak di kunci." Kata Briyan lirih.
"Astaga." Kata Briyan terkejut mendapati sang istri tertidur di backtub.
Dita dengan nyamannya berendam di backtub dengan air hangat untuk merilekskan otot-ototnya tertidur hingga air itu hampir dingin. Terlihatlah seluruh badannya tanpa sehelaipun kain yang melekat.
Briyan mendekati tubuh itu dengan perlahan hingga membangkitkan gelora yang membara di dalam sana. Ia berusaha menahan gejolak itu melihat kondisi sang istri yang polos.
"Sudah tak tertahan ini. Haruskah malam pertama ku di kamar mandi? Apa kata dunia?" Batin Briyan.
Saat akan mengangkat tubuh sang istri, tanpa sadar ada tangan yang mungil menariknya dengan kuat.
Byuuuur
Jatuhlah Briyan dalam backtub hingga membuat Dita pun membuka matanya. Ikut basah kuyup badan karena masuk ke backtub penuh air hingga meluap.
"Apa yang kamu lakukan di sini." Teriak Dita terkejut mendapati sang suami masuk ke dalam backtub yang sama. Dita berusaha menutupi dua sequisinya dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa menutupi bagian sensitifnya membuatnya kesulitan.
"Kamu yang menarikku masuk ke dalam air ini sayang." Jelas sang Suami.
"Aku mengetuk pintu kamar mandi lama sekali jadi aku sangat khawatir, makanya aku langsung masuk dan mendapati mu tertidur di sini. Ketika akan aku bangunkan yah kamu tahu sendirilah kelanjutannya." Jelas Briyan dengan senyum jahilnya.
"Apa kamu memang mau mengajak ku mandi bersamamu, itu heum?" Tanya Briyan lagi hingga membuat Dita memalingkan wajahnya karena malu.
Tangan kekar itu dengan lembut memegang dagu sang istri untuk menghadap dirinya. Kedua mata mereka saling bertemu hingga akhirnya benda kenyal yang manis itu dirasakan sang suami.
"Kalau kita di sini seperti ini terus adik kecilku yang di dalam sangkar bisa-bisa tak bisa dikendalikan." Kata Briyan menunjuk sesuatu miliknya yang sudah sejak tadi sudah tegak bersambung (seperti tulisan latin).
Briyan akhirnya keluar dari backtub dan mengambilkan handuk kimono milik sang istri. Ia pun segera memakainya dengan wajah merah karena malu semua lekuk tubuhnya telah dilihat oleh sang suami siang ini.
"Keluarlah dulu, pakailah pakaianmu aku akan membersihkan badan ku dulu." Titah sang suami.
Dita keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian santainya. Di depan cermin ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian baru saja.
♥️♥️♥️
__ADS_1
126
Keluarlah dulu, pakailah pakaianmu aku akan membersihkan badan ku dulu." Titah sang suami.
Dita keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian santainya. Di depan cermin ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian baru saja.
"Lama juga laki-laki ini saat mandi." Ucap Dita setelah selesai sedikit berias di depan cermin dan berjalan tempat tidurnya.
Brian sang suami sebenarnya sedikit sangat menderita kali ini. Ia bersolo karir di kamar mandi sedangkan Dita tidak mengetahui itu.
*** *** *** *** ***
Alfian berada di ruang kerjanya sedang memeriksa beberapa berkas yang harus ditandatangani.
"Aaaakh." Alfian berdecak kesal dengan mengacak rambutnya karena tidak bisa fokus pada pekerjaannya kali ini.
Ia sendiri tidak tahu penyebabnya. Pikirannya hanya rasa khawatir yang berlebih.
Waktu sudah sore Alfian segera menyiapkan segala keperluannya sendiri untuk menghadiri pesta malam ini.
"Nasib-nasib kalau masih jomblo, apa-apa harus sendiri. Enak kali ya kalau udah nikah. Tidur ada temennya.😊😊😊😊" Batin Alfian.
Alfian menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia berendam di backtub dengan aroma terapi yang sangat segar.
Selesai membasuh semua busa dibadannya Alfian keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit dipinggang. Sungguh sangat menggoda bentuk perut suspeknya.
Selesai sudah semua ritual untuk tampil mempesona pada acara malam ini. Alfian mulai mengenakan kemeja yang telah ia siapkan sendiri.
Keluar dari dalam kamar Alfian langsung menuju ruang keluarga. Di sana ia melihat kedua orang tuanya sudah stanby menunggunya.
Alfian merogoh benda pipih yang ada di saku celananya. Ia hendak menghubungi seseorang yang sudah memiliki janji dengannya.
"Assalamualaikum. Kemana aja elu kadal, udah gue tunggu dari tadi juga." Kata Alfian saat sambungan telepon diangkat oleh orang yang disebrang.
"Sabar kenapa beruang kutub." Balas orang yang yang disebrang telepon.
"Berani ya sekarang, gue kasih waktu 10 menit elu harus sampai di rumah gue!" Perintah Alfian.
"Lebih dari waktu yang gue tentuin tahu sendiri akibatnya!" Lanjutnya.
Alfian memang sengaja menghubungi sahabat sekaligus asistennya itu di dekat orang tuanya. Ia tidak mau menjadi sopir mereka. Bukan hanya sopir tapi juga obat nyamuk gaes.
Deddy sempat mengerutkan keningnya mendengar kejamnya ancaman Alfian barusan. Mommy membulatkan mata sempurna mendengar pembicaraan Alfian.
Tak disangka anaknya sungguh kejam terdengar dari pembicaraan barusan. Tidak ada yang harus disalahkan untuk perilaku anaknya yang seperti itu.
"Al tadi siang Deddy sama Mommy kan udah bilang kita berangkat bareng, sekarang kenapa kamu mau berangkat dengan orang lain?" Tanya Deddy.
"Oh tadi siang Al kan belum kasih jawaban, soalnya kemarin udah janjian sama itu sahabat aku Ded." Elak Alfian.
"Sopir Deddykan siaga tu." Kata Alfian sambil menunjuk salah satu sopir keluarganya.
"Kita kan satu keluarga kan Al jadi gak ada salahnya berangkat bersama." Jelas Mommy.
"Ya sudah lah Pa kita berangkat sendiri aja, biar itu anak dapat yang lain karena nunggu kelamaan." Sindir Mommy.
"Setia kali Mom. Jangan salah pilihan ni anak Mommy yang ganteng ini gak akan berpaling." Kata Alfian dengan percaya dirinya.
"Jangan salah sayang, wanita kalau disuruh nunggu kelamaan tak jelas batang hidungnya pasti juga berpaling." Jelas Momny.
Dalam hati Alfian membenarkan apa yang dikatakan oleh Sang Mommy baru saja. Deddy dan Mommy akhirnya berangkat sendiri tanpa sopir. Alfian masih menunggu sahabatnya itu.
*** *** Di Apartemen Ziko *** ***
Ziko dari siang cettingan dengan seorang wanita yang cantik. Wanita yang akan diajak malam ini olehnya ke pesta.
Merasa sedikit ada firasat yang tidak enak Ziko melihat dan membuka pesan yang masuk pada ponselnya yang lain beberapa setelah terdengar bunyi pesan masuk.
"Haduh." Keluh Ziko sambil memukul jidatnya.
"Gak bisa berangkat sendiri apa ini Bos? Punya mobil banyak juga masak dianggurin." Kata Ziko yang menggerutu.
Ziko pun segera beranjak dari tempatnya. Ia menaruh kedua benda pipih itu pada meja semula.
Selesai bersiap Ziko segera berangkat menuju kediaman Alfian. Eh...... tunggu dulu mampir dulu ya ke rumah sang cewek.
Ting Tong Ting tong Ting tong
Bel pintu rumah Monic terdengar nyaring. Empunya rumah baru asik nonton drama kesukaannya terkejut mendengar suara nyaring itu.
Pasalnya ia hanya sendirian di rumahnya itu. Sang kakak wanita yang tinggal bersamanya itu pun jarang sekali berada di rumah.
Masih ingat kan hubungan keluarga Monik ini. Semua anggota keluarga acuh tak acuh. Tak ada rasa peduli satu sama lain.
Monic yang saat itu sedang asik di depan televisi melihat film drama kesukaannya segera beranjak berdiri. Ia segera berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Siapa sih yang datang sore-sore gini?" Gerutunya selama ini memang jarang sekali tamu yang datang.
Dilihat dari pintu yang terdapat sedikit celah kaca untuk melihat tamu yang datang. Monik hanya melihat punggung lebar dengan penampilan yang menurutnya 👍.
"Siapa sih kayaknya tak asing ini cowok." Katanya dalam hati.
Akhirnya dibuka pintu rumahnya. Ia melihat seorang laki-laki yang tampan sedang berkunjung ke rumahnya di siang bolong tanpa berkedip.
"Mau kemana siang bolong gini?" Tanya Monic.
"Laki elu gak disuruh masuk dulu apa?" Tanya Ziko yang sudah lama menunggu di depan pintu hingga dibukakan pintunya oleh sang empunya rumah.
"Gak kasian sama penampilan ku yang udah cakep gini jadi berantakan dan bau keringat gara-gara kelamaan berdiri di ambang pintu." Lanjut Ziko berjalan menerobos masuk tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik rumah terlebih dahulu.
"Emang gue pikirin." Jawab Monic singkat sambil berjalan mengekor dibelakang Ziko.
Rumah yang begitu besar tapi hampir tak berpenghuni setiap hari. Sepi begitu yang dirasakan oleh sang pemilik rumah ketika curhatnya dengan Ziko.
Ziko merasakan hal yang sama ketika berkunjung di rumah gadisnya ini. Sama halnya Ziko yang selama ini hidup sendirian tanpa sebuah keluarga.
"Berpenampilan kayak gitu mau kemana siang bolong kayak gini?" Tanya Monik mengejutkan lamunan seorang laki-laki tampan di depannya.
Monik berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum dan membawakan cemilan. Ziko sudah duduk di ruang tamu menunggu gadisnya.
"Lupa apa hari ini ada undangan pesta pernikahan Om Briyan." Jawab Ziko.
"Tapi ini kan masih siang bolong undangan juga masih nanti malam." Jelas Monic.
"Aku tahu, tapi tahu sendiri lah bos mu itu suka main perintah mendadak." Keluh Ziko.
"Emang kalau bos ku bukan bos mu?" Tanya Monic.
"Kita bawahan apalah daya harus mengikuti instruksi atasan." Sambung Monik.
__ADS_1
"Sebentar lagi gue gak jadi bawahan jadi atasan mu, jadi kamu harus mengikuti dan pasrah dengan semua yang aku katakan dong?" Kata Ziko kemudian.
"Maksut mu?" Tanya Monic balik dengan wajah yang merah merona yang mana sebenarnya tahu akan maksut dari laki-laki yang ada di hadapannya.