
Perawat itu seperti menyimpan perasaan suka padanya hingga ia harus menolaknya saat itu juga. Terlihat sekali bukanlah sebuah cinta tapi sebuah ambisi.
Rumah sakit tidak lepas dengan masa lalunya. Sang adik juga tak bisa tertolong saat itu karena telat dalam penanganan.
Ruang VIP memang sungguh sangat nyaman. Semua fasilitas ada dan pelayanannya pun juga ekstra. Hal itu juga tidak lepas dari pembayaran yang ekstra kan.
🏢🏢🏢🏢🏢🏢🏢
Selepas kepergian Anak gadisnya itu bersama dengan Alfian yang menyusulnya Papa mengantar Nyonya besar terlebih dahulu ke kantor. Banyak karyawan yang menyambutnya karena memang waktu sudah agak siang sehingga banyak juga yang sudah hadir.
Menurut Nyonya besar hari ini memang dia kesiangan karena setiap kali sampai di kantor belum banyak karyawan yang datang. Hal itu memang sengaja dilakukan juga untuk menghindari kemacetan di jalan saat-saat jam dimulainya kesibukan ibu kota.
Menuju kantornya sendiri Papa terjebak kemacetan hingga ia terlambat sampai di sana. Beruntung hari ini Tuan dan Nyonya besar tidak ada meeting.
Mereka berdua menjalani aktifitas seperti biasanya akan tetapi mereka juga tidak tahu apa yang terjadi di rumah dan rumah sakit.
🏡🏡🏡🏡🏡
Ketiga anak laki-laki yang beranjak remaja ini sekarang berada di rumah. Mereka tidak masuk sekolah.
Ketiganya tersadar saat sudah menjelang malam kalau kakak perempuan satu-satunya belum pulang. Rasa khawatir mulai muncul di dalam hati mereka.
"Kak Al tadi bukannya bilang mau njemput kakak?" Tanya Axel pada kedua saudaranya.
"Apa sebaiknya kita hubungi Papa sama Mama?" Tanya Garda yang dari tadi mondar mandir.
"Jangan kita tunggu saja dulu kabarnya." Kata Axel.
"Ya mungkin saja mereka sedang berkencan, jadi lupa deh ngasih ngabar." Kata Daffa yang orangnya sedikit santai.
"Lagian kan belum juga 1x24jam laporan juga gak diterima." Lanjut Daffa.
"Orang hilang kali nunggu 1x24jam." Kata Axel.
"Papa, Mama juga biasanya udah pulang kenapa hari ini belum sampai rumah?" Tanya Axel.
"Ke hotel bikinin elu semua adik." Jawab Daffa sambil tersenyum renyah.
"Kalau buatnya di rumah ntar elu semua pada tahu." Canda Garda.
"Kakak aja belum pulang, kalian ini masih aja bisa bercanda." Tegur Axel.
"Kamu itu Kak yang kelewat khawatir orang juga perginya Kak Tari sama Kak Al pasti dijagain." Celetuk Daffa.
__ADS_1
"Sebenarnya Aku juga belum rela kakak ku yang paling cantik mau menikah sekarang." Jelas Garda.
"Hancur deh hati ku berkeping-keping." Kata Daffa dengan memegang dadanya.
"Kalian ini terlalu possesif sama kakak kalian." Sebuah suara yang tak asing di telinga ketiga Tuan Muda di rumah ini.
"Papa, Mama." Teriak Ketiga anak laki-laki itu sambil melempar pandang.
Mereka bertiga langsung menghampiri orang tua mereka yang masih terlihat sangat muda. Mereka pun langsung mencium punggung tangan ke dua orang tuanya.
Flesh Off
Chiiiiiit
Suara ban mobil bergesekan dengan jalan tepat di depan rumah utama. Tidak seorang pun mendengar kedatangan mereka berdua.
Mobil itu langsung diparkirkan di garasi oleh Papa sedangkan Mama turun di depan pintu masuk utama. Mendengar ada obrolan diantara anak-anaknya Mama sengaja menghentikan langkahnya.
Mereka berdua mendengar semua obrolan yang baru terjadi. Bangga sekali diantara anak-anak mereka saling memperhatikan satu sama lain.
Flesh On
Semua anggota keluarga berjalan menuju ruang tengah kecuali anak perempuan mereka yang kini sedang menemani Alfian di rumah sakit. Mereka duduk melepaskan lelah setelah seharian melakukan aktivitasnya masing-masing.
Bermanja pada orang tua mereka masih menjadi kebiasaan ketiga anak laki-laki itu. Bukanlah menjadi masalah buat Adrean dan juga sang istri, bahkan mereka adalah pelepas lelah setelah seharian mereka bekerja.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
Ponsel Papa yang diletakkan di atas meja di depannya pun bergetar. Dilihat Id pemanggil yang muncul di layar ponsel itu.
"Pucuk dicinta ulampun tiba." Kata Papa lirih.
"Siapa Pa?" Tanya Mama.
"Anak kita yang paling cantik." Jawab Papa sambil menggeser icon hijau.
Semua yang ada di sana diam tanpa suara, tapi benda pipih itu dihidupkan spikernya hingga semua orang bisa mendengar percakapan tersebut.
"Assalamualaikum." Sapa orang yang ada di sebrang.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Jawab Papa Adrean.
"Pa, sekarang aku berada di rumah sakit." Kata gadis di sebrang.
"Rumah sakit mana?" Tanya Papa berusaha tenang.
"Rumah sakit X." Jawab gadis yang ada di sebrang.
Telpon pun ditutup tanpa salam karena ada rasa khawatir yang sangat besar. Mereka segera pergi ke rumah sakit tersebut tanpa membersihkan badan mereka terlebih dahulu.
Mobil melaju membelah jalan kota yang cukup ramai dengan kecepatan lumayan tinggi. Mereka tidak perduli jika sampai terkena tilang, itu urusan belakang.
Rasa cemas mereka mengalahkan segalanya. Putri satu-satunya itu adalah amanat yang harus dijaga oleh Papa Adrean dari Almarhum Tuan Richat.
🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥
Di Rumah Sakit
Mereka langsung memarkirkan mobil mereka dan berjalan menuju tempat pendaftaran. Di tempat pendaftaran Papa langsung menanyakan nama anaknya.
"Maaf Sus, mau tanya Mentari dirawat di ruang apa ya?" Tanya Mama yang masih sedikit tenang.
"Sebentar saya cek dulu." Jawab Seorang Perawat
"Maaf Nyonya tidak ada pasien dengan nama tersebut." Kata Perawat kemudian.
"Terimakasih Suster." Kata Mama.
Mendengar jawaban perawat tersebut Papa langsung menelepon anak gadisnya itu. Menanyakan ruang rawat dia sekarang ini.
"Sayang, sekarang ini kamu dirawat dimana?" Tanya Papa yang sudah sangat cemas.
"Di ruang VIP ruang XX." Jawab gadis yang ada di sebrang.
Mereka semua langsung menuju ruang yang disebutkan oleh anak gadisnya itu. Mereka berjalan sedikit berlari.
Di depan kamar ruang rawat terlihat seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan membawa berbagai macam alat medis. Melihat hal itu perasaan khawatir menyeruak pada semua anggota keluarga.
Buat pasangan suami istri ini anak gadis satu-satu itu sangatlah berarti dalam hidup mereka. Bukan karena sebuah amanat tapi karena gadis itu juga sudah dianggapnya sebagai anak kandung.
Ceklek
Pintu pun langsung di dorong dari luar tanpa diketuk terlebih dahulu. Kedua orang yang ada di ruang rawat itu menatap semua anggota keluarga Adrean dengan membulatkan mata sempurna karena terkejut.
__ADS_1
Mereka berlima pun sama terkejutnya karena mengira anak gadisnya yang terkena kecelakaan tetapi Alfian lah yang kecelakaan.
Sang Papa mengkroscek keadaan anak gadisnya. Ia ingin mengetahui kondisi anaknya itu apakah ada luka yang cukup serius di badan anaknya itu.