
Alfian pun pamit segera pulang karena waktu sudah sore. Kakak yang mendapat ledakan dari kedua orang tuanya setelah Alfian pulang hanya bisa malu. Ia berlari menuju kamar ingin menenggelamkan dirinya di backtub.
Kakak berendam air hangat di dalam kamar mandi. Ia menyegarkan pikirannya dan meregangkan Otot-otot yang terasa kaku.
Selesai berendam ia segera memakai pakaian dan membantu Mama memasak untuk makan malam. Ketiga adiknya sejak Kakaknya pulang ingin bertanya sesuatu tetapi mereka urungkan.
Karena baru pulang takutnya sang kakak merasa capek untuk itu mereka tidak jadi bertanya dan mereka bermain sendiri. Ketiga adiknya itu sangat perhatian dengan Kakaknya.
Papa mereka selalu menasehati mereka kalau anak laki-laki itu harus bisa melindungi dan menjaga seorang perempuan. Tidak hanya itu harus menjaga perasaan mereka.
**** **** Di Kediaman Alfian **** ****
Alfian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Bahkan sempat ia melajukan mobil dengan sangat lambat.
Macet sudah menjadi makanan pokoknya setiap hari saat semua orang mulai pulang kerja seperti saat ini. Lain hari ini Ia terjebak macet karena semua orang sudah kembali dari week and nya. Sehingga besuk mereka harus kembali bekerja.
Pintu gerbang dibuka oleh seorang penjaga. Alfian mulai mengemudikan mobil masuk pada garasi mobil.
"Terimakasih Pak." Kata Alfian sopan pada penjaga pintu gerbang.
"Sama-sama Den." Balas Penjaga gerbang.
Alfian segera turun dari mobil dan berjalan menuju kamar. Melewati ruang tengah terlihat Deddy bersama asistennya sedang berbincang sesuatu hingga membuat mereka terkadang tertawa lepas.
Deddy dan asisten pribadinya ini memang sahabat karib sejak sekolah dahulu. Karena sesuatu hal membuat mereka bekerja di satu perusahaan yang sama.
*** *** *** *** *** ***
(Untuk cerita ke tiga kurcaci pun nanti bisa diagendakan ya Kakak dari Axel yang marah karena terlambat tahu bukan anak kandung dari Alfian dan Sinta. Juga kisah Cinta Daffa dan Garda)
♥️♥️♥️
Alfian berlalu ke kamar setelah mengucapkan salam. Ia segera menuju kamar untuk mandi.
Ia melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Dilihat tidak ada pesan yang begitu penting.
Ponsel dimasukkan ke saku celananya. Ia segera turun menuju ruang makan.
Alfian memutuskan untuk menunggu Deddy di ruang makan. Karena memang sudah waktunya untuk makan malam.
Deddy merasa juga kalau ia sedang di tunggu anak laki-lakinya. Deddy menguji kesabaran Alfian saat itu. Tidak ada rencana sebelumnya untuk menguji anaknya.
"Huuf." Alfian membuang nafasnya kasar.
Hal tersebut sempat terdengar oleh Mommy yang baru menyiapkan makan malam. Dilihatnya Alfian sedang duduk di ruang makan.
"Gak biasanya tu anak nongkrong di ruang makan." Batin sang Mommy.
"Tumben Sayang duluan sampai di sini?" Tanya Mommy.
"Gak apa-apa. Cuma tadi aku sempet lihat Deddy di depan dari pada nanti kalian nunggu aku kelamaan di sini mending aku segera dateng aja ke sini tanpa dipanggil ke kamar nanti bisa tambah lama." Alasan Alfian.
"Kuliah kamu gimana sayang?" Tanya Mommy membuka percakapan.
"Sangat baik Mom." Balas Alfian.
"Mom." Kata Alfian terpotong.
"Ada apa sayang?" Tanya Mommy.
"Gak jadi." Kata Alfian.
"Yang penting bukan jadia-jadian." Canda Mommy.
"Ah Mommy, apa'an sih? Balas Alfian dengan senyum jahilnya.
"Tak terasa ya Al sekarang kamu udah segede ini." Kata Mommy.
"Trus?" Potong Alfian.
"Bentar lagi pasti punya rumah tangga sendiri, punya tanggung jawab pada keluarga sendiri, rumah pasti pinginnya sendiri. Mommy di sini sendiri pasti kesepian." Kata Mommy yang sangat panjang lebar.
"Mommy, Alfian tetep anak Mommy satu-satunya. Al akan jaga Deddy dan Mommy selamanya. Terimakasih selama ini sudah sangat sayang pada Al." Kata Alfian sambil berjongkok dan menggenggam kedua tangan Mommynya yang sedang duduk di sebelahnya.
Deddy dan sahabatnya berjalan menuju ruang makan. Mereka berdua mulai duduk di kursi ruang makan tersebut. Mereka berempat sedang makan bersama.
Saat makan Deddy selalu memperhatikan gerak-gerik anak laki-lakinya ini. Terlihat sekali ada sesuatu yang akan ia bicarakan.
Setelah makan mereka masih lanjut berbicara di ruang makan tanpa berpindah. Hal ini membuat Alfian semakin sungkan untuk melangkahkan kaki pergi dari sana. Hanya obrolan orang tua yang ia dengarkan.
"Pak, anak mu udah sebesar ini?" Tanya Asisten Deddy.
Deddy hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mau aku kenalkan dengan anak gadis ku. Siapa tahu jodoh. Tidak kalah cantik dengan artis-artis korea itu lho." Lanjut Asistennya yang sangat panjang kali lebar.
"Uhuuk-uhuuk-uhuuk." Suara Alfian tersedak mendengar Asisten Deddynya berbicara.
"Maaf Pak anak saya udah punya tambatan hati. Bahkan mereka sudah bertunangan." Jelas Deddy sambil melirik Alfian.
"Oh... " Jawab Asisten Deddy dengan santai.
Emang Asisten Deddy ku berpikir aku gak laku apa harus didebatkan dengan anaknya. Pikir Alfian.
Waktu sudah semakin malam. Asisten Deddy pun berpamitan. Deddy pun segera beranjak ke ruang kerjanya. Alfian segera mencegahnya untuk berbincang sebentar.
"Ded, Al mau bicara sebentar." Pinta Alfian.
"Mommy juga ya." Pinta Alfian pada Mommy.
"Serius amat ada apa Al?" Tanya Deddy.
"Bi tolong bereskan meja makan ya Bi!" Perintah Mommy pada asisten rumah tangganya sambil meninggalkan ruang makan.
"Iya Nyonya." Kata Asisten rumah tangga itu.
Biasanya Mommy ikut membereskan meja makan bersama asistennya. Berhubung kali ini Alfian sepertinya akan bicara penting jadi untuk kali ini Mommy menyerahkan pekerjaan itu sendirian pada asisten rumah tangganya.
Alfian mulai pembicaraannya itu. Ia mengutarakan semua niatnya untuk menikah dengan gadis pilihannya itu. Tunangannya setahun yang lalu.
"Al jika itu yang terbaik Deddy hanya bisa mendukung mu." Kata Deddy.
"Jadi tadi yang Mommy katakan benar adanya ya Al?" Tanya Mommy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mommy pasti kesepian ini Al." Kata Mommy lagi.
Alfian memeluk tubuh Mommynya yang cantik. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya itu.
"Deddy dan Mommy hanya bisa mendukung mu untuk hal yang baik ini." Kata Mommy dengan penuh kehangatan.
"Jangan bilang kalau kalian sudah melakukan perbuatan melebihi batas ya Al?" Tanya Deddy dengan penuh selidik.
"Ha.... Ha.... Ha... " Tawa Alfian pun pecah.
"Deddy memang dulu saat pacaran sama Mommy itu ada sesuatu yang tidak bisa dikondisikan ya?" Tanya Alfian penuh selidik.
"Kalau benar adanya pastilah nurun ke aku." Lanjut Alfian.
"Alfian, Deddy kan tanya ke kamu kenapa secepat itu.😊😊😊." Tanya Deddy yang tahu arah pembicaraan anak laki-laki.
"Takut direbut orang." Lanjut Deddy meledek anaknya.
"Hati-hati lho Al nanti kamu jadi Bucin setelah nikah." Lanjut Mommy.
"Iya memang benar di kampus sudah banyak stok untuk ukuran laki-laki tampan." Jelas Mommynya lagi.
"Kayak barang aja stok." Protes Alfian.
__ADS_1
"Lihat aja ntar banyak aturan untuk istrimu nanti dari kamu." Tambah Mommy sambil tersenyum centil.
Mommy nya Alfian memang dulu pacaran dengan Deddy tidak ada peraturan apapun. Tapi setelah menikah banyak sekali aturan yang diberikan.
Mommy selalu menjadi idola kampus atau bunga kampus. Setiap laki-laki yang melihatnya pasti akan jatuh cinta dengannya. Mommynya selalu berusaha menjaga perasaan Deddy.
Tidak berbeda jauh dengan Deddy yang dingin pada setiap wanita yang mengejarnya. Deddy tahu setiap wanita yang mengejarnya pasti menghalalkan segala cara.
Mommy senyawa geli mengingat semua perlakuan suaminya yang terlalu posesive. Cemburu tidak pada tempatnya.
Mommy yang mendapatkan perlakuan seperti itu walaupun merasa sangat kesal tetapi, itulah bukti cinta sang suami.
Alfian yang melihat Mommy tersenyum geli menjadi penasaran dengan kisah cinta orang tuanya itu. Ia jadi ingin diceritakan nostalgia mereka.
Deddy yang mendengar perkataan istrinya hanya tersenyum-senyum. Bagaimana tidak aturan seperti itu masih saja berlaku sampai sekarang. Walaupun sudah berumur tapi Deddy dan Mommy terlihat masih muda dibandingkan dengan usia sebenarnya.
Banyak diantara teman-teman mereka dan rekan bisnis mereka belum berumah tangga. Hal itu membuat mereka ingin dijadikan sebagai pasangan hidup.
Waktu sudah larut malam. Alfian kembali ke kamarnya, sedangkan Deddy tidak jadi ke ruang kerja. Deddy dan Mommy juga langsung menuju ke kamar mereka.
♥️♥️♥️
104
Alfian langsung membersihkan diri kemudian mengganti bajunya dengan piyama. Ia pun segera berbaring di atas tempat tidurnya.
Tidak sabar menunggu pagi membuatnya sering terjaga malam ini. Pikirannya sudah travelling kemana-mana.
Aku besuk harus ke rumah Om dan Tante.Tapi aku juga mau bicara apa? Harusnya Deddy dan Mommy juga ikut ke sana." Pikir Alfian.
Mentari pagi telah menyusup melalui jendela kamar Alfian. Memberikan sebuah kehangatan pagi yang cerah.
Alfian segera bersiap berangkat ke kantor. Ia ingin segera menyekesaikan urusan kantornya.
*** *** *** Di Kediaman Adrean *** ****
Semalam Kakak tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia masih tidak percaya kalau Alfian akan mempercepat pernikahan mereka.
Pagi ini Kakak bangun lebih awal. Ia harus mempersiapkan dirinya juga untuk bekerja membantu Papa.
Sarapan telah disiapkan oleh Mama dan Kakak seperti biasa. Hari ini mereka sarapan dengan lahapnya. Setelah sarapan mereka bersiap-siap dengan kegiatan masing-masing.
Hari ini Kakak berangkat bersama dengan Papa ke kantor. Ia mulai bekerja di kantor Papa walaupun hanya sekedar membantu saja. Sebab Om Briyan masih menjadi asisten Papa.
Kakak mulai liburan sejak acara wisuda kemarin di sekolah. Tentunya kalau hanya sekedar di rumah buat dia akan terasa membosankan. Ia sendiri tidak begitu menyukai jalan-jalan kalau hanya sekedar shoping.
Berbeda dengan kebanyakan wanita umumnya yang menyukai belanja. Berburu barang-barang breanded.
Mama berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri bersama ketiga anak laki-lakinya yang ganteng. Ketiga anak laki-laki itu berangkat sekolah.
Mama mengendarai mobil dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membahayakan nyawa anak-anaknya. Kejadian waktu hamil dahulu yang hampir kehilangan anak-anaknya masih sangat membekas.
Gerbang sekolah sudah dibuka sejak pagi tadi oleh penjaga sekolah. Sesampainya di sekolah mereka langsung turun dan diikuti oleh Mamanya yang cantik.
Sampai di depan gerbang mereka langsung mencium punggung tangan Mamanya.
"Kami masuk dulu Ma." Kata ketiganya bersamaan.
"Ok. Menuntut ilmu yang serius ya." Perintah Mama
"Ok." Kata ketiganya sambil berbalik arah berjalan menuju halaman sekolah.
"Jika Mama atau Papa belum menjemput jangan keluar dari gerbang sekolah ya!" Perintah Mama.
"Ok.... Ok...." Kata ketiganya bersamaan lagi.
Sesampainya di dalam halaman mereka langsung masuk ke kelasnya. Di dalam kelas masih terlihat agak sepi. Banyak dari teman mereka yang belum datang.
Kelakuan ketiga anak laki-laki tampan ini selalu membuat gemes oleh guru mereka. Bukan hanya lucu tapi kompak walaupun wajah ketiganya tidak mirip satu sama lain.
Prestasi belajar menjadi prioritas utama di sekolah. Bersaing dalam mendapatkan nilai yang sempurna selalu mereka lakukan dengan jujur.
Mama pun segera menuju mobil yang diparkirkan tadi setelah mengantar ketiga anak laki-lakinya sampai depan pintu gerbang sekolah. Keramaian kota membuat kemacetan dalam perjalanan menuju kantor.
Semua pegawai menyambut Bos Wanita ini dengan sopan setelah tahu ia adalah pemilik perusahaan ini. Saat berjalan memasuki ruang kerjanya setiap pegawai pasti membungkukkan badannya badannya sebagai rasa hormat.
Ruang kerja Sinta memang sangat tertutup. ia Tidak sembarang orang bisa masuk, termasuk petugas kebersihan.
Sinta mulai menyalakan laptopnya. Ia segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda kemarin. Sejak ia tiba ada yang mengawasinya. Ia sangat tertarik dengan Wanita ini.
"Bagaimana mendekatinya? Ruangannya saja tertutup tak sembarang orang bisa masuk." Gumam laki-laki kemarin dalam hati.
Papa mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang seperti biasanya. Dalam perjalanan Papa merasakan sesuatu yang bergetar di saku celananya.
Papa mengambil benda pipih yang ada di saku celananya dengan hati-hati. Ia hanya melihatnya sekilas tanpa mengangkatnya.
Dreeeet dreeeet dreeeet
Ponsel Papa bergetar tanda ada panggilan masuk. Dilihat siapa yang menghubungi Papanya.
"Oh... Calon besan." Kata Papa.
"Tumben pagi-pagi udah tolking-tolking." Canda Papa.
"Emang Deddy nya Alfian sering hubungi Papa ya?" Tanya Tari penuh selidik.
"Gak juga." Jawab Papa singkat.
Apa karena hal kemarin batin Kakak.
"Kenapa gak dijawab Pa?" Tanya Kakak.
"Kalau sedang mengemudi jangan biasakan jawab telepon." Nasehat Papa.
"Apa kamunya sudah siap Kak berumah tangga?" Tanya Papa.
Kakak terlihat berpikir mendengar pertanyaan Papa. Ia mengerutkan dahinya.
"Sekarang atau nanti pasti juga akan berumah tangga kan." Kata Kakak.
"Belajar berumah tangga juga butuh proses." Kata Kakak.
"Betul." Kata Papa.
Setelah percakapan itu suasana menjadi hening hingga sampai di perusahaan.
Mobil terparkir di tempat biasanya. Kakak segera membuka pintu mobil sendiri. Ia berjalan mengekor di belakang Papanya.
Briyan sudah datang lebih awal. Ia terkejut melihat Bos sekaligus sahabatnya datang bersama anak gadisnya.
Tidak sedikit laki-laki yang mencuri pandang sejak kedatangan Tari tadi. Terlihat asing bagi mereka sebab memang Tari tidak pernah datang ataupun diajak ke perusahaan.
"Tumben Nona ikut." Kata Briyan.
"Iya Om, saya sudah libur sekolah, sekarang pengin belajar bekerja." Jawab Tari setelah menghentikan langkahnya.
"Memang tidak lanjut kuliah?" Tanya Om Briyan.
"Lanjut sih." Jawab Tari singkat.
Papa yang sejak sampai di ruang kerjanya segera duduk di kursi kebesarannya terlihat sangat berwibawa. Ia mengotak-atik ponselnya tak lama setelah itu Papa menghubungi seseorang.
Kakak sedang berbincang-bincang dengan Om Briyan di depan ruang kerjanya. Kakak menanyakan tentang pernikahannya dengan Tante Dita yang sebentar lagi akan berlangsung.
Selesai berbincang-bincang dengan Om Briyan Kakak langsung berpamitan pada Om Briyan. Mentari pun mengetuk pintu ruang kerja Papanya.
Gadis ini sangat sopan. Ia tahu bukan tempatnya tapi tempat Papanya. Ia pun harus mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
__ADS_1
"Apa yang bisa saya bantu Pak?" Tanya Tari.
"Selesaikan ini." Kata Pak Adrean.
Mentari segera mengambil file yang ditunjukkan padanya. Berkas yang ada sedikit masalah itu mengenai perusahaan cabang.
Mentari segera mempelajari semua berkas-berkas itu secara detail. Ia duduk di sofa yang ada di ruang kerja Papanya.
Terlihat Tari sangat serius. Ia berpikir keras saat mempelajari semuanya. Keningnya sering kali dikerutkan.
Begitulah Adrean saat bekerja. Ia sangat simpel tidak banyak berkata-kata.
Ia selalu menggunakan peribahasa.
Tong kosong berbunyi nyaring.
Benar adanya Ia tidak membutuhkan pekerja yang banyak bergosib tetapi banyak bekerja yang ia harapkan.
*** *** *** *** ***
Jangan lupa kakak dukungannya untuk novel ini.🙏
♥️♥️♥️
105
Adrean memperhatikan setiap ekspresi dari raut wajah anak gadisnya itu. Ia tahu kalau anaknya itu cukup cerdas untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Senyum terbit di wajahnya yang cantik. Ia memberikan solusi untuk masalah yang satu ini.
"Segera datang ke ruangan ku sekarang." Kata Adrean pada Asistennya Briyan.
Briyan segera pergi meninggalkan ruangannya menuju ruangan atasannya. Ia selalu sigap dalam pekerjaan.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk oleh Briyan.
"Masuk." Perintah Adrean.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Briyan.
"Duduk." Perintah Adrean.
"Kemarilah." Perintah Adrean pada Tari dengan melambaikan tangan.
Mentari berjalan menuju tempat duduk di sebelah Briyan asisten Papanya.
"Tolong kamu jelaskan detail untuk penyelesaiannya proyek itu." Perintah Adrean pada Mentari.
Mentari mulai menjelaskan secara rinci kepada asisten Papanya. Ia juga meminta pendapatnya.
"Sudah bagus Tuan, saya rasa semua program untuk pemecahan masalahnya sudah cukup detail. Perlu secepatnya dilaksanakan." Puji Briyan.
Briyan merasa heran gadis kemarin sore bisa secerdas itu. Semua bakat bisnis ternyata menurun juga pada anaknya.
"Ada yang lain lagi yang perlu saya bantu?" Tanya Briyan.
"Kamu gak sampai seminggu lagi menikah kan Bry?" Tanya Adrean
"Benar." Jawab Briyan singkat.
"Setelah menikah apa rencana mu?" Tanya Adrean.
"Maksut anda?" Tanya Briyan singkat.
Setelah menikah masak bos ku gak tahu kan sudah sah malam pertama lah. 😁😁😁. Batin Briyan.
Adrean menjelaskan semua detailnya. Ia memberikan pilihan pada asistennya itu.
Briyan seketika itu mengerutkan keningnya. Ia tidak bisa melupakan semua kebaikan atasannya ini. Dari Adrean ia banyak belajar mengenai bisnis.
"Baiklah akan saya pertimbangkan setelah saya menikah Tuan." Kata Briyan.
Briyan meninggalkan ruang kerja atasannya setelah semua urusannya selesai. Ia sangat terburu-buru sebab banyak hal yang harus ia selesaikan sebelum pernikahannya.
Mengingat pernikahannya yang menghitung hari itu Briyan tersenyum-senyum sendiri di ruangannya. Pintu ruangan Briyan sedikit terbuka hingga setiap orang yang lewat pun dapat melihatnya.
"Aku akan memberikan jawabannya tepat saat pernikahan." Batin Briyan.
Adrean mengijinkan anak gadisnya itu untuk segera menikah juga punya alasan. Ia tidak bisa memegang perusahaan Almarhum Ayahnya.
Suatu saat pasti saingan bisnisnya pun akan menjatuhkan usahanya dengan berbicara yang tidak pada dasarnya.
"Papa mau untuk sementara kamu jadi sekretarisnya Om Briyan. Untuk ruangan kamu nanti akan ada yang mengaturnya." Kata Adrean pada anak gadisnya yang sangat panjang.
"Pa besuk sudah mulai pendaftaran aku berangkat kantor siang." Ijin Tari.
"Baiklah sayang. Terpenting pendidikan mu." Jawab Papa.
"Untuk sementara kamu bisa di sini dulu. Kamu bisa baca berkas-berkas yang ada di meja Papa." Kata Papa.
"Ok. Beras Pak Bos." Kata Tari.
Mendengar perkataan itu keluar dari mulut anaknya Papa tersenyum smirk. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. Sebelum sempat membuka pintu Tari memanggilnya hingga Papanya membalikkan setengah badannya menghadap sang putri.
"Pak Bos mau kemana?" Tanya Tari.
"Emangnya anak buah perlu tahu urusan atasannya?" Tanya Papa balik.
"Iya-Iya." Kata Tari sambil menepuk jidatnya.
"Perlu rem ini mulut biar gak banyak nanya." Sambung Tari.
"Pak Bos mau ruang asisten dulu. Ok." Kata Papa dengan mengangkat tangan kanannya dan melingkarkan jari jempol dengan telunjuk.
Semua dokumen yang ada di atas meja Adrean adalah dokumen penting milik Almarhum Tuan Richat. Adrean memang sengaja menaruhnya di sana agar bisa dipelajari anaknya itu. Pemilik yang sebenarnya dari perusahasan yang saat ini Adrean kelola.
Saat mempelajari dokumen yang ada di depannya itu Mentari merasa takjub dan bangga pada Papanya. Ternyata kemajuan yang sungguh sangat luar biasa yang terjadi pada perusahaan miliknya itu.
**** Di Ruang Kerja Briyan ****
Adrean yang menuju ruang kerja asistennya itu berjalan dengan tegap dan gagahnya. Semua karyawan pasti menunduk jika berpapasan dengannya. Raut wajahnya yang tegas terkesan dingin itu membuat semua karyawan sangat menghormati dan juga takut padanya.
Saat di depan pintu ruang kerja asistennya Briyan, Adrean sempat menghentikan langkahnya. Ia melihat asistennya itu tersenyum-senyum sendiri. Tanpa mengetuk pintu Ia pun langsung masuk ke dalam ruangan asistennya itu.
Briyan tidak menyadari kedatangan atasannya yang sudah berada di depan pintu. Sedangkan pemilik ruangan tersenyum-senyum sendiri dengan menundukkan kepala.
"Eheem eheem eheem." Adrean batuk kecil alias berdehem untuk menyadarkan Briyan yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
"Maaf maaf." Kata Briyan.
"Apa yang Anda lakukan. Memang Anda dibayar dalam pekerjaan ini hanya untuk senyum-senyum? Tanya Adrean dengan berpura-pura marah pada asistennya.
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksut seperti itu." Jawab Briyan dengan nada suara takutnya.
"Apa karena Anda mau nikah terus Anda jadi gak waras?" Bentak Adrean.
Wajah Briyan menjadi sangat pucat. Walaupun Ia tahu Adrean tidak seberapa dibandingkan dengan kekuatannya tapi ia sangat menghormatinya karena jasa bimbingannya hingga ia sukses. Dan banyak bantuan lain yang telah ia berikan.
Pengaruh Adrean sangat besar dalam hal bisnis. Selain itu kekuasaannya juga sangar besar.
Adrean melihat wajah asistennya itu sudah pucat. Ia mencoba untuk menghangatkan suasana lagi.
"Hai Bro bercanda tadi." Kata Adrean.
"Aku ke sini sebagai sahabat bukan sebagai atasan. Apa kamu lupa? Tanya Adrean.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila ya, senyum-senyum sendiri?" Tanya Adrean