Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 9. Begadang di Siang Hari


__ADS_3

Gadis kecil itu sangat menyukai berbagai macam permainan yang diajarkan Kakak laki-lakinya itu. Banyak berbagai macam permainan belum pernah dilakukannya.


Gadis kecil itu tidak pernah tahu siapa itu Adrean. Dia tidak mengenal sebelumnya, karena kesibukan Sang Kakak yang berada di luar kediaman utama bahkan sampai luar negeri.


Pada usianya sekarang ini baru gadis kecil ini mengenal Sang Kakaknya itu. Pada saat dia membutuhkan seorang sahabat dan teman bermain.


Adrean memang masih menempuh pendidikan di luar negeri saat Nyonya Devi hamil bahkan setelah melahirkan. Ia sengaja tidak sering balik ke negeri kelahirannya dan meninggalkan Sang Ibu karena ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Andrean selalu lompat kelas karena kepandaiannya.


Di kediaman utama Tuan dan Nyonya, seusai makan langsung melakukan pekerjaannya masing-masing. Tuan Richat langsung pergi ke ruang kerja dan mulai mempelajari semua dokumen yang dikirimkan oleh asistennya melalui e-mail tadi pagi.


Nyonya Devi kini sedang berada di dapur bersama beberapa orang asisten rumah tangga yang sedang berberes. Dia di sana membuatkan Sang Suami teh hangat seperti biasanya.


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki perlahan tapi pasti menuju sebuah ruangan yang tertutup rapat. Di dalam ruangan itu hanya ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyelesaikan tugasnya.


Ceklek


Pintu ruang kerja itu dibuka perlahan oleh seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik. Bersamaan dengan itu aroma teh pun memenuhi ruangan itu hingga menarik perhatian orang yang ada di dalamnya.


"Kemarilah." Perintah seorang laki-laki yang ada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangan melihat seseorang yang baru saja masuk.


"Tanpa diminta pun aku selalu masuk sendiri." Kata Sang Istri.


"Baiklah kalau begitu, kamu memang berani." Kata Ayah pada Sang Istri.


"Aaaah." Teriak Sang Istri setelah segelas minuman yang dibawa itu diletakkan di atas meja.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Sang Suami ingin mengkambing hitamkan Sang Istri setelah dia menarik tangannya.


"Mengantarkan minuman untuk Anda Tuan Besar." Balas Sang Istri.


"Mengantar minuman atau mencoba merayu suami mu?" Tanya Sang Suami.


"Benar sekali Tuan." Kata Sang Istri menatap suaminya secara inten setelah dia terduduk di atas pangkuan karena tangannya ditarik oleh Suami.


"Lalu apa boleh aku merayu pria lain?" Tanya Sang Istri.


"Jika kamu berani!" Kata Sang Suami dengan tangannya yang bergerilya mencari mainan favorit milik Sang Istri.


Sang Istri akhirnya menahan tangan itu tapi disisi lain sebuah bibir yang merah ranum menjadi pusat perhatian suaminya. Merasa ada yang diperhatikan Bunda menjadi salah tingkah.


Cup


Sebuah ciuman yang cukup singkat tetapi dapat menjadi obat rasa lelahnya. Sang Istri akhirnya berdiri dan duduk di sofa yang ada di ruang kerja itu.

__ADS_1


Suami istri ini jarang sekali menghabiskan waktu berdua pada siang hari. Setiap hari mereka menghabiskan waktu mereka dengan aktivitas meraka masing-masing.


"Kepulangan Adrean menguntungkan juga ternyata, bisa dijadikan modus." Batin Sang Ayah dengan senangnya.


Di dalam ruang kerja, sepasang suami istri sedang bernostalgia. Menceritakan kembali masa muda mereka tanpa mengenal terlebih dahulu hingga bisa menjadi suami-istri tanpa pernah mengenal terlebih dahulu.


Seiring berjalannya waktu tumbuh rasa cinta di dalam hati mereka. Rasa saling menghargai antara keduanya ada hingga rasa saling percaya.


Rasa cinta itu bisa diungkapkan dengan berbagai cara tanpa ada sebuah pemaksaan. Mereka berdua tanpa sadar sudah tumbuh perasaan cinta itu.


Waktu berlalu begitu cepat begitu juga hari ini. Bunda melihat jam yang tergantung di dinding menunjukkan waktu sudah tengah hari.


"Sudah siang, aku mau menyiapkan makan siang dulu." Pamit Sang Istri sambil melepaskan pelukan Suaminya.


"Tidak, kamu harus tanggung jawab dulu." Kata Sang Suami menahan kepergian istrinya.


"Itu pekerjaan ku terbengkalai semua." Lanjutnya.


"Jadi kamu harus menemani ku begadang di sini." Katanya lagi dengan mencolek dagu sang istri.


Sang Istri membelalakkan kedua bola matanya tak percaya. Dia tahu apa mau sang laki-laki yang menjadi suaminya itu.


"Begadang siang hari?" Tanya Sang Istri tidak percaya.


"Baiklah nanti malam aku tagih kamu menemani ku begadang ya sayang." Kata Sang Suami.


Kata-kata Sang Istri membuatnya semakin menanti datang malam. Sebuah senyum terbit di wajahnya yang tampan.


Bunda segera meninggalkan ruang kerja Sang Suami menuju dapur. Dia segera memasak beberapa jenis makanan.


Masakan pun telah dihidangkan di ruang makan. Bunda menuju ruang kerja Sang Suami memberitahukan makanan sudah siap dan mengajak untuk makan.


"Bunda." Panggil seorang gadis kecil yang akan menuju ruang kerja Sang Suami.


"Sepertinya ada yang baru senang nih?" Tanya Bunda pada gadis kecil itu.


"He'em." Jawab Mentari dengan menganggukkan kepala perlahan secara berulang.


"Baiklah nanti cerita ya sama Bunda tadi apa saja yang kalian mainkan." Kata Bunda.


"Sekarang kamu bersihkan badan mu dulu sayang, trus kita makan bersama. Ok." Lanjutnya.


Bunda melanjutkan jalan menuju ruang kerja suaminya, sedangkan Sang Putri berlari berbalik arah menghampiri seorang pemuda yang tadi bermain bersamanya dengan berlari kecil.


"Abang, nanti makan sama kita lagi ya?" Pinta seorang gadis dengan mengerjapkan mata berulang kali bertanda memohon keinginannya dipenuhi.

__ADS_1


"Tadi Bunda meminta mu melakukan sesuatu, apa ya Kakak tidak begitu jelas dengarnya." Kata Adrean untuk mengalihkan jawaban tidak berani memutuskan tanpa persetujuan Tuannya.


"Baiklah, aku nanti akan segera kembali dan Abang juga harus sudah ganteng saat aku selesai nanti." Pinta Mentari.


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki Bunda sudah terdengar perlahan menuju ruang kerja suaminya. Dia merasa sangat bersyukur mendapatkan suami seperti Tuan Richat yang memang sangat tampan, gagah, dan pengertian, begitu juga sebaliknya.


Ceklek


Pintu ruang kerja itu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. Sang Suami mendongokkan kepala ingin tahu orang yang telah masuk ke wilayahnya tanpa mengetuk pintu.


Aroma minyak wangi yang sangat familiar masuk bersamaan dengan dibukanya pintu ruangan itu. Biasanya jika bersama dengan sang putri akan memasuki sebuah ruangan dia akan mengetuk pintu terlebih dahulu.


Sang Suami tanpa menunggu kata ajakan dari wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tanpa ada kerutan diwajahnya itu mendongokkan kepala kepumudian menggeser kursi kebalakang berdiri dan segera berjalan menghampiri istrinya. Ayah merangkul pundak Sang Istri berjalan perlahan menuju ruang makan.


"Apa mereka sudah pulang?" Tanya Ayah.


"Ya, baru saja." Jawab Bunda.


"Sepertinya putri kita hari ini sangat senang." Jelas Bunda.


"Syukurlah." Kata Ayah.


"Makanlah yang banyak." Titah Sang Suami.


"Kenapa?" Tanya Bunda.


"Gak bagus makan berlebihan." lanjutnya.


"Siapa bilang?" Tanya Ayah.


"Aku yang katakan baru saja." Jawab Bunda melepaskan rangkulan Sang Suami kemudian menghadapnya dan menunjuk dirinya dengan kedua tangannya menunjuk ke dada.


"Hai hai hai sayang itu memang nikmat tidak usah memberitahu ku lagi nanti biar aku sendiri yang akan mencarinya." Kata Sang Suami sambil menurunkan tangan Bunda.


"Kamu memberitahu ku ini disiang hari apa memang mau begadang sekarang." Kata Ayah menunjuk dada Sang Bunda dengan jari telunjuknya.


Katanya nanti malam atau malah Bunda ku yang cantik ini minta begadangnya siang dan malam biar lengkap." Lanjutnya menggoda sang istri.


"Tutup mulut mu! Kasih filter itu mulut!" Perintah Bunda dengan wajah yang merah rasa malu bercampur takut dan marah.

__ADS_1


__ADS_2