Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 16. Ayah Kejam


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Adrean sudah siap untuk kembali ke Ibu kota. Rasanya enggan meninggalkan kampung halaman itu.


Breeem Breeem Breeem


Mesin mobil mulai dinyalakan setelah pemuda itu mengambil kunci dan masuk. Suaranya nyaris tidak terdengar ditelinga.


Saat berangkat mengantar Sang Ibu, Adrean tidak membawa pakaian atau apapun. Dia hanya membawa benda yang selalu bersamanya sebuah benda pipih yang selalu setia menemaninya.


Mobil yang digunakan Pemuda itu baru dibelinya ketika dia sampai di Tanah Air. Barang itu untuk memudahkannya dalam beraktivitas sebab Adrean tidak memiliki banyak teman yang bisa dipercaya setelah pergi ke luar negeri untuk menimba ilmu.


Pemuda itu menginjak pedal gas perlahan hingga mobilnya berjalan perlahan saat masih berada di desa. Keluar dari area pedesaan Adrean mengemudikan mobilnya secara kencang setelah sampai di jalan raya.


Kecepatan yang digunakan sangat tinggi mungkin karena dia merasa sendirian tidak seperti tadi saat mengantarkan Sang Ibu pulang. Adrean sampai di Kediaman Utama Tuan Richat tidak membutuhkan waktu lama.


Seorang penjaga gerbang segera membuka pintu karena sudah mengenal mobil yang baru saja datang. Saat baru saja tiba, Pemuda itu menurunkan kaca mobil agar penjaga gerbang yang bertugas segera mengenalinya.


"Eh Tuan Muda." Sapa Sang penjaga saat melihat pengemudinya.


"Malam Pak." Sapa Adrean tersenyum ramah.


"Anak itu masih sama seperti dulu." Kata Seorang Penjaga dengan lirih yang tadi membukakan pintu gerbang.


"Walaupun dia sudah sekolah sampai luar negeri dengan kepandaiannya tidak sombong." Lanjutnya lirih.


"Mungkin itu yang disukai Tuan Besar hinggga bisa bekerja di perusahaannya." Sahut salah satu temannya yang mendengar pesanannya itu.


"Ibunya dulu nyidam apa ya?" Celetuk Penjaga gerbang yang membukakan pintu Adrean tadi.


"Orangnya sudah pulang kampung baru tanya." Canda temannya tadi.


"Cetakannya bisa baik luar dalam gitu." Kata penjaga gerbang yang membukakan pintu tadi.


"Ngopi aja nih enak mumpung masih panas." Ajak seseorang yang baru datang dan membuat kopi.


Mereka yang bertugas menjaga keamanan malam ini akhirnya menyudahi acara ngrumpi mereka dan menikmati kopi panas bersama-sama. Mereka salut sedang Pemuda yang baru saja naik status.


Pemuda yang baru saja menjadi bahan pembicaraan itu langsung menuju kamar lama. Adrean segera membersihkan diri dan segera tidur agar besuk pagi bisa beraktivitas lebih baik lagi.

__ADS_1


Benda pipih yang dibawanya kemana saja bagaikan kekasih itu diletakkan di atas meja ketika baru datang. Adrean tidak menghiraukan ponselnya sejak berangkat menuju ibu kota.


Pemuda hanya mengistirahatkan badan selama beberapa jam saja. Adrean terbangun ketika waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 dan segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud yang kemudian disambung dengan membaca ayat suci.


Aktivitas ini dibiasakan oleh orang tuanya sejak kecil hingga menjadi sebuah rutinitas yang tidak bisa ditinggalkannya. Menjelang waktu subuh sebelum shalat subuh dia selalu mandi terlebih dahulu.


Pemuda ini sesempit apapun waktu selalu meluangkan waktu untuk hal itu. Pagi ini setelah shalat subuh dan membaca Ayat Suci, Dia memakai pakaian santainya.


"Kamu belum punya rencana apapun?" Tanya Seorang laki-laki paruh baya yang sedang berjalan menghampiri Adrean dan duduk di kursi yang di dekatnya.


"Belum Tuan." Jawab Pemuda itu sopan saat sedang membersihkan mobilnya.


"Kamu setelah pulang kampung apa sedang mengalami amnesia?" Tanya Tuan Richat.


"Maksut Anda?" Tanya Adrean singkat.


"Bukankah kemarin aku sudah bilang kalau kau sudah aku anggap sebagai anak ku." Jelas Tuan Richat.


"Maaf Ayah." Kata Adrean dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayah...." Panggil seorang gadis kecil yang menggemaskan itu.


"Nanti Ayah berangkat siang bersama dengan Abang ganteng mu ini." Jelas Ayah.


"Maksut Ayah?" Tanya Tari dengan manja.


"Abang kamu biar bekerja keras sudah saatnya dia seperti Ayah mu yang tampan dan gagah ini." Jelas Sang Ayah.


"Lebih tampan Abang dan lihat itu postur tubuhnya juga lebih bagusan." Kata Mentari memuji Adrean.


"Ayah sarapan sudah siap, ayo makan dulu." Ajak Sang Bunda setelah menghampiri mereka.


Pemuda itu hanya menunduk melihat interaksi ayah dan anak tadi. Rasanya dia juga ingin mendapatkan semua itu.


Adrean sadar walaupun tanpa ayah kandung tapi masih ada laki-laki yang bersama Sang Ayah dahulu yang selalu menyayanginya. Itu adalah pesan terakhir dari Almarhum Bapak Adrean.


"Kenapa masih duduk saja?" Tanya Ayah saat sudah berdiri hendak melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Iya Abang, kita sarapan bareng ya." Ajak Seorang gadis kecil.


"Adik kamu saja tahu maksut ku." Ucap Sang Ayah.


Deg


Ada rasa terharu mendengar ucapan orang-orang yang ada disekelilingnya. Adrean merasa tidak enak dengan semua Asisten Rumah Tangga yang bekerja disana.


Pemuda itu melangkahkan kaki dengan berat. Hal itu dapat terlihat dengan jalannya yang sangat perlahan seperti kura-kura.


Di ruang makan Sang Bunda sudah menunggu ketiga orang yang tadi dipanggilnya sambil menyiapkan menu di atas meja makan. Mereka menempatkan diri di tempat duduk mereka masing-masing.


"Bunda, Ayah jahat banget." Kata Seorang gadis kecil mengadu pada Sang Bunda saat mengambilkan nasi pada Ayah.


"Kenapa hem?" Tanya Sang Ayah.


"Ayah tidak bisakah diam dulu, aku kan baru bicara dengan Bunda ku yang cantik." Kata Mentari yang selalu diajarkan tidak boleh memotong pembicaraan orang lain karena tidak sopan.


"Baiklah-baiklah." Kata Sang Ayah.


"Jangan sungkan-sungkan, ayo ambil makanan mu." Titah Sang Ayah.


"Masak sudah besar, masih mau diambilkan." Lanjut Sang Ayah.


Mereka mulai menyantap makanan mereka setelah berdoa bersama. Menu yang disajikan di atas meja makan tidak begitu banyak tetapi sangat menggugah selera.


"Bunda kata Ayah kakak harus bekerja keras mulai hari ini." Kata Mentari mengadu ditengah-tengah saat mereka makan.


"Baru juga sampai harusnya menemaniku bermain kan sambil mengistirahatkan otaknya." Lanjutnya.


"Sudah habiskan dulu makan mu." Titah Sang Ayah.


Gadis itu mulai menghabiskan makanannya dengan lahap, setelah selesai mereka sedikit berbincang di ruang makan. Ayah mulai mengajak pemuda itu untuk bersiap.


"Nah itu bener kan Ayah kejam, baru juga sampai udah disuruh kerja." Keluh Gadis kecil itu kembali.


"Sayang, mainnya nanti pasti ada waktunya sendiri. Ok." Jelas Sang Bunda berusaha memberikan pengertian pada Sang Putri.

__ADS_1


Gadis itu akhirnya mengalah dengan wajah kecewanya. Dia berpikir semua ucapan Sang Bunda ada benarnya.


__ADS_2