Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 130. Malam Pertama


__ADS_3

Aroma parfum semakin menyengat di hidung gadis cantik ini. Hatinya pun semakin dak-dik-duk- der.


"Rindu dengan ku ya?" Tanya seorang laki-laki tepat di telinga Mentari yang membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan.


Bulu kuduk gadis ini merinding juga dibuatnya. Karena terkejut sang gadis menoleh ke arah sumber bisikan tadi.


Cup


Betapa malunya tanpa sengaja pipi putih dan halus itu kini berubah jadi memerah. Sebuah kecupan tanpa adanya kesengajaan itu membuat banyak mata membulat menatap tajam pada mereka.


Kedua pandangan mata bertemu. Terlihat sebuah kasih sayang yang sangat dalam antara satu sama lain.


"Ehem-ehem." Suara Deddy yang membuyarkan pandangan mereka.


"Tahanlah dulu mata kalian." Kata Mommy


"Memangnya kenapa Mom?" Tanya Alfian polos.


"Kalau diterusin bisa jadi malam ini bukan hanya malam pertama buat kedua mempelai tapi juga malam pertama kalian." Jelas Mommy


"Dari pandangan kalian ada bisikan-bisikan setan yang akan mempengaruhi kalian." Lanjut Deddy


"Dari mata turun ke bawah sana Bro." Kata Ziko usil saat mendekati Alfian.


"Bilang aja elu iri sama gue yang lancar jaya." Balas Alfian pada sahabatnya.


"Tenang Al nanti malam ada yang gantiin kalian kok." Ledek Papa.


"Apa'an sih Pa?" Kata Mama dengan mencubit perut suspek suaminya.


"Biar disegera'in peresmiannya." Kata Papa lirih di telinga Mama.


Mentari hanya terpaku menundukkan kepalanya karena masih merasa terkejut dengan kejadian baru saja. Wajahnya yang semakin memerah bak kepiting rebus sangat terlihat.


Malam semakin larut. Kedua pengantin pun setelah mengucapkan terimakasih ingin segera istirahat.


Briyan dan Dita menghampiri Adrean ingin mengucapkan terimakasih secara langsung. Setelah berpamitan mereka pun langsung menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan sebelumnya.

__ADS_1


Briyan memang sudah menyiapkannya di kamar yang berbeda dengan kamar sebelumnya. Bapak dan Adiknya juga sudah menyiapkan kamar pengantin di rumah mereka sendiri.


Kamar pengantin untuk mereka ada dua tempat. Pihak hotel menyiapkan sesuai dengan perintah Briyan sedangkan yang ada di rumah mereka memang rencana dari pihak keluarga.



Sedikit gambaran aja ya kamar pengantin mereka berdua yang dipenuhi dengan bunga mawar dan lilin. Selamat malam pertama buat Pengantin Baru.


Ting


Suara pintu lift terbuka setelah tombol ditekan oleh seorang petugas.


Mereka berdua masuk ke dalam lift menuju lantai dimana kamar pengantin sudah disediakan.


Di depan lift sudah ada petugas yang menunggu mereka. Keluar dari dalam lift mereka sudah ditunggu oleh seorang petugas lagi. Dengan penuh rasa hormat ia mengantarkan keduanya menuju kamar mereka.


"Silahkan Tuan." Kata Petugas sambil menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya.


Briyan memang seorang laki-laki yang sangat tegas. Jika hanya melihatnya sebentar ia terlihat bengis dan kejam.


Sepasang pengantin baru itu pun memasuki kamar pengantin. Ada rasa malu di hati pengantin wanita.


Begitulah suara degup jantung sepasang pengantin baru itu. Tepat sampai di depan pintu kamar seperginya pelayan hotel Briyan langsung menggendong Dita ala brida stile.


Wanita yang baru saja berstatus sebagai istri seorang Briyan terkejut dengan perlakuan tersebut. Dita diturunkan di atas tempat tidur dengan perlahan.


Jantung Dita berdegup semakin kencang. Hal ini juga dirasakan oleh laki-laki yang bersamanya saat ini.


"Aku mau mandi dulu." Kata Dita sambil mendorong tubuh kekar yang ada di depannya saat ini.


"Em... " Briyan pun mengijinkan sang istri setelah jatuh di atas tempat tidur setelah didorong oleh sang istri.


Laki-laki yang akan melepas lajangnya itu menatap punggung sang istri menuju kamar mandi. Dita masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya perlahan.


Kamar mandi kini sudah tertutup rapat, tapi tanpa di kunci. Dita kini menyandarkan punggungnya di pintu tersebut karena merasa jantung yang semakin berpacu dengan kencang.


Saat akan melepas gaun pengantin yang melekat pada badannya. Dita merasa kesulitan tidak bisa meraih kancin yang terdapat di punggungnya.

__ADS_1


Lama ia berada di dalam kamar mandi membuat laki-laki yang baru tadi siang menjadi suaminya merasa cemas. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul ke kamar mandi.


Tok tok tok


Suara pintu kamar mandi diketuk oleh Briyan.


"Jangan-jangan tertidur seperti tadi siang." Pikirnya.


Tanpa menunggu lama.


Kreeek


Suara pintu kamar mandi pun terbuka dengan mudahnya. Terkejutlah wanita yang ada di dalam sana.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Dita membalikkan badan menatap Pria yang baru saja masuk menyusulnya.


"Menyusul mu, karena kamu sangat lama sekali di dalam sini." Kata Briyan berjalan mendekat ke arah Dita hingga wanita itu berjalan mundur dan akhirnya terpojok punggungnya menempel pada dinding kamar mandi.


Kini keduanya hampir tak berjarak. Nafas menyapu pada wajah Dita terasa hangat hingga ia pun memalingkan wajahnya.


"Bisa minta tolong bantu melepas pangait gaun ini?" Pinta Dita dengan penuh harap tanpa menatap wajah sang suami.


"Berbaliklah, aku akan membantu mu melepaskan gaun ini." Kata Briyan dengan santainya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Dita saat badan Sang Suami mulai menghimpit badan Dita dari belakang.


"Mandi bersama mu." Kata Briyan dengan santainya.


Dita membulatkan matanya seketika mendengar penuturan Sang Suami.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam di sini, aku tidak mau malam pertama ku di kamar mandi. Biarpun adik kecilku sudah meronta-ronta di dalam sana." Jelas Briyan.


Akhirnya sepasang pengantin baru itu mandi bersama tanpa terjadi sesuatu. Biarpun rasa malu itu ada saat itu.


Selesai mandi mereka keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang membalut tubuh mereka. Seperti sebelumnya Briyan menggendong sang istri hingga tempat tidur.


Briyan pun memulai aksinya malam ini menghabisi sang istri seperti katanya tadi. Mereka bermain hingga pagi.

__ADS_1


Merasa capek akhirnya mereka berdua bangun saat matahari sudah beranjak naik.


__ADS_2