Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 118. Pengantin


__ADS_3

Hanya beberapa hari mampu menciptakan kehangatan yang cukup lama menghilang. Mereka berbincang sambil bercanda ria tak luput dari tawa mereka. Bapak mendengar tawa mereka akhirnya bergabung juga.


Tanpa terasa waktu sudah sangat larut. Bapak melihat jam yang terpenting di dinding kamar itu.


"Sudah larut, besuk acara penting istirahatlah kalian." Perintah sang Bapak kepada kedua anak laki-lakinya.


Bapak pergi meninggalkan kedua anaknya itu. Ia menuju kamarnya sendiri untuk istirahat.


"Hai mau kemana kau?" Tanya Kakak.


"Ya mau tidur lah. Jawab Adik.


"Masak mau tidur sama kamu. Aku sudah besar seperti mu, nanti dikira aku belok lagi. Tidur sekamar sama kamu nanti bisa aku terkam dirimu kak." Jelas adik lagi yang panjang kali lebar penuh penekanan.


"Enak aja. Benerin dulu itu pintu!" Perintah Kakak.


"Besuk aja lah ya. Ini kan sudah malam. Aku sangat mengantuk." Jelas adiknya sambil menguap.


"Dasar adik gak ada sopannya." Kata Kakak.


"Aku kan mau lihat kalian wik i wik." Ledek Adik.


"Dasar mesum." Kata Briyan sambil melempar bantal pada adiknya.


" Gak kenak-gak kenal. Wek." Balas Adik menghindar dari lemparan bantal sambil menjulurkan lidahnya.


"Bau bau kak. Cepat tidur. Besuk hari bahagiamu aku ingin hari pengantin mu yang paling berkesan." Sambung sang adik.


Sungguh kali ini kelakuan keduanya seperti anak kecil. Jarang sekali mereka bersama penuh bahagia dalam hati mereka.


Hari ini adalah hari bahagia untuk Briyan dan Dita. Kedua pengantin akan mengucapkan ijab kobul.


Di hotel Dita dirias sesuai dengan keinginannya. Riasan tipis tetapi sungguh terlihat sangat cantik. Busana jawa yaitu kebaya yang ia kenakan dengan warna putih melambangkan sebuah kesucian dengan berbagai aksesoris sederhana. Sanggul modern melekat di rambutnya memperlihatkan leher jenjang putih miliknya.


"Nona cantik sekali." Puji sang perias andalan yang bekerja di salon milik Dita juga.


"Terimakasih Mbak." Balas Dita dengan menepuk pundak periasnya.


"Sama-sama Non." Balas Sang Perias.


Sang Ibu tidak mau dirias. Ia ingin berias sendiri tanpa bantuan perias.

__ADS_1


Ibu telah selesai berias. Ia segera menuju kamar Dita ingin melihat anak gadisnya yang terlihat sangat cantik sebagai pengantin hari ini.


Tok tok tok


Pintu kamar hotel Dita diketuk oleh sang ibu. Pintu dibuka oleh salah satu orang yang merias Dita.


"Sudah selesai nak?" Tanya Ibu menatap takjub kecantikan anaknya itu melalui cermin yang ada di depannya.


"Sudah Bu." Balas Dita sambil berbalik badan


"Tak ibu sangka kau secantik ini sayang. Anak siapa sih?" Tanya Ibu lagi.


"Masa Ibu lupa aku ini anak siapa? Aku kan gak tahu yang buat aku ini siapa?" Candanya Dita.


"Kamu ini bisa aja ngejawab ibu." Kata ibu tegas.


"Haduh berat ini kalau gitu." Keluh Dita.


"Apanya?" Tanya Ibu singkat.


"Ya berat lah kalau gak dijawab dikira aku anak yang gak punya telinga." Jawab Dita dengan senyum tipisnya.


"Sudah siap lahir batin kah kamu Nak?" Tanya sang ibu lagi.


*** *** *** Di Apartemen *** *** ***


Briyan sedang bersiap-siap dengan acara pernikahannya. Di apartemen ia mempersiapkan segalanya sendiri.


Kemeja dengan warna putih dengan jas hitam membalut tubuh kekarnya. Ia bercermin dengan sedikit memutar-mutarkan badannya itu.


Bapak dan adiknya itu berjalan menghampiri anak laki-lakinya yang akan menikah. Keduanya melihat laki-laki yang sedang berada di depan cermin.


"Kak sudah kah kamu yang bersiap. Lama amat seperti perempuan. Padahal tadi aja bangunnya lebih awal dari kita." Celetuk Sang Adik.


"Hai adik kecil, jangan bawel kenapa?" Tanya Kakak.


"Enak aja adik kecil, aku udah tumbuh besar dan tinggi." Protes sang adik.


"Udah-udah kalian ini kayak anak kecil, ribut mulu." Lerai sang Bapak.


"Ayo berangkat ke hotel sekarang." Ajak kakak lagi.

__ADS_1


Briyan berjalan keluar dari apartemen dengan diapit oleh Bapak dan Adik laki-lakinya. Terlihat ia berjalan sangat gagahnya.


Mobil Pengantin disopirin oleh sopir pribadinya. Keluarga pengantin semua duduk di kursi belakang.


Mobil dilajukan lumayan lambat karena ini hari minggu. Banyak keluarga yang melakukan Week End pada hari ini untuk melepaskan lelah setelah seminggu bekerja.


Untuk menghindari kemacetan mereka sengaja datang lebih awal. Sesampainya di depan hotel mewah itu mereka langsung turun berjalan menuju ruang pribadi Briyan.


Di hotel ini Briyan mendapat sambutan yang cukup hangat dari semua kariyawan. Ia adalah pemilik hotel sehingga memiliki ruang khusus.


Di ruangan privasinya ini Briyan merapikan pakaiannya. Terlihat sangat tampan dan gagah tapi sayang ia terlihat gugup.


Ijab Qobul akan segera dilaksanakan di sebuah ruangan lain yang sudah di dekorasi dengan sangat indah. Pengantin Pria menuju ruangan itu berjalan dengan diapit oleh Bapak dan Adik laki-lakinya.


Pengantin wanita juga sudah bersiap melakukan ijab qobul dengan didampingi oleh sang ibu. Ia hanya memiliki seorang ibu yang hidup bersamanya selama ini.


Tamu undangan pada acara ini hanyalah dari keluarga besar kedua mempelai. Hanya ditambah dengan Keluarga Adrean yang selama ini dianggap sangat berjasa dalam hidup Briyan.


Keluarga Adrean sejak pagi tadi sudah berada di hotel ini. Mereka terlihat sangat lengkap, seluruh keluarga hadir untuk menghadiri upacara sakral ini.


Adrean juga memang sudah menganggap keluarga ini adalah bagian dari keluarganya. Hal ini juga karena Briyan sangat berjasa juga sejak dulu baik sebagai sahabat ataupun sebagai asistennya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 waktunya ijab kobul diucapkan. Kedua mempelai merasa gugup di depan penghulu.


Plaaak


Pukulan ringan dari telapak tangan sang adik menganai lengan Briyan. Ia mengarakan sesuatu untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Santai Bro. Kata sang Adik.


"Bisa lupa nanti mantra mbah dukunnya." Lanjut sang adik.


Mendengar itu Briyan menatap tajam adiknya. Hingga yang ditatap pun bergidik ngeri.


"Ohhhh...... Seram." Kata sang adik meledek sang kakak.


Kedua mempelai duduk dihadapan penghulu. Briyan duduk di sebelah kanan menjabat tangan penghulu sedangkan Dita duduk di sebelah kiri mempelai pria.


Tak lama mantra itu dikeluarkan hingga kata "Sah." dari semua yang hadir di acara ijab qobul menggema di ruangan itu. Mendengar kata SAH dari semua tamu Dita mulai mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. Briyan juga berlanjut mencium kening istrinya itu.


Berlanjut kedua mempelai mencium punggung tangan kedua orang tua dari kedua mempelai. Sangat sakral hingga tanpa terasa saat sungkeman Dita meneteskan air mata. Suaminya hampir sama tetapi ia menekan sudut matanya hingga air mata itu tidak jadi mengalir.

__ADS_1


Acara masih berlanjut setelah ijab qobul. Mereka semua dipersilahkan makan makanan yang disediakan oleh pelayan hotel.


Makanan yang disediakan cukup bervariasi hingga membuat semua yang hadir cukup tergiur dengan menunya. Sambil menikmati makanan tersebut kedua keluarga besar tersebut saling berkenalan.


__ADS_2