
Di depan lobi perusahaan sudah ada Pak Narendra yang menunggu mereka. Sopir ini sudah siap mengantar kemanapun mereka pergi.
Mereka makan bukan pada jam istirahat kantor atau aktivitas lainnya, sehingga jalan yang mereka lalui tidak begitu mengalami kemacetan. Di sebuah tenda yang terdapat di pinggiran kota mobil itu.
Aroma masakan sudah menusuk hidung mereka hingga menggugah selera makan. Laki-laki paruh baya ini selalu makan di sini untuk mengisi perutnya.
Kedua orang laki-laki itu masuk ke dalam tenda itu dan memesan berbagai macam makanan. Pak Narendra sendiri yang berada di dalam mobil memantau keadaan.
"Tuan sampai sekarang belum berubah, masih seperti dahulu. Makan siang ditempat seperti ini." Batin Pemuda yang bersama Tuan Richat.
Mereka berdua segera makan dengan lahap setelah makanan yang dipesan datang. Makanan seperti ini sungguh terasa enak bahkan mereka tidak pernah berpikir jijik atau mempertanyakan bahkan khawatir kebersihan yang mereka makan.
Tempat ini sangat nyaman, makan dengan lesehan apalagi bagi mereka yang memiliki anak kecil. Anak mereka akan lebih leluasa untuk bergerak.
Di Kediaman Utama
Kedua laki-laki ini sedang makan dan menghabiskan waktu mereka di tenda tersebut. Berbeda dengan yang berada di kediaman utama.
Diwaktu yang sama juga Nyonya Devi bicara dengan Asisten Rumah Tangga Kepercayaan mereka. Nyonya memanggilnya ke ruang tengah untuk membicarakan sesuatu hal yang harus diketahui oleh dua pihak keluarga.
"Bi, ikut saya ke ruang tengah." Titah Nyonya Devi.
"Baik Nyonya." Jawab Bibi berjalan sambil sedikit membungkukkan badan mengikuti Nyonya Devi.
"Sebelumnya aku minta maaf Bi, kalau bibi harus pulang kampung." Kata Nyonya Deva.
"Nyonya." Kata Bibi terpotong.
"Apa saya punya salah?" Tanya Bibi.
"Bukan seperti Bi." Kata Nyonya Devi terputus.
"Justru kami yang berhutang budi banyak pada keluarga mu Bi." Lanjut Nyonya Devi.
"Tapi saya masih betah bekerja di sini." Kata Bibi.
"Itu sudah menjadi pertimbangan Tuan sendiri Bi." Jelas Nyonya Devi.
__ADS_1
"Kami akan mengunjungi mu setiap ada kesempatan." Lanjut Nyonya Devi.
Kata-kata itu membuat wanita yang sudah hampir lanjut usia itu membuatnya merasa seperti keluarga. Bi Inna pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia terharu hingga butir bening mengalir begitu saja di sudut matanya.
Wanita itu paham dengan apa yang menjadi keputusan Tuan untuk dirinya pasti adalah yang terbaik. Bi Inna berpikir mereka pasti sudah memikirkan dengan matang sebelumnya.
Wanita yang sudah hampir lanjut usia itu menuju ke kamar setelah berpamitan pada Nyonya Devi. Bibi mengemasi semua barangnya yang dimilikinya.
Barang yang dimiliki wanita ini tidak banyak sehingga dia berkemas tidak butuh waktu lama. Semua sudah tertata rapi tinggal Bibi meninggalkan keluarga ini.
Bi Inna sedang menunggu anak laki-laki kebanggaannya. Anak satu-satunya yang ditinggalkan Sang Suami yang menjadi bukti cinta mereka.
Kedua laki-laki yang sedang bersantai dengan menikmati makan siang menjelang sore yang tengah bercerita masa lalu mereka seperti orang tua dan anak kini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Jalanan begitu macet karena memang bersamaan dengan waktu pulang para karyawan.
Pintu gerbang dibuka oleh penjaga keamanan tanpa membutuhkan perintah. Mereka sudah tahu siapa gerangan yang datang sehingga tidak perlu membutuhkan perintah untuk membuka pintu tersebut.
Di kediaman utama seorang Pemuda segera menuju kamar Ibunya. Dia melihat Sang Ibu sudah mengemasi semua barang miliknya.
Kamar itu kebetulan tidak tertutup rapat sehingga Pemuda itu bisa melihat ibunya sang sudah mengemasi barangnya. Semua barang sudah tertata rapi siap untuk dibawa pergi.
"Apa yang sedang ibu lakukan?" Tanya Adrean setelah duduk di dekat Sang Ibu.
"Ibu sudah yakin dengan semua keputusan itu?" Jawab Seorang Pemuda meyakinkan Sang Ibu.
"Kamu di kota ini bekerjalah dengan baik Nak." Nasehat Sang Ibu terputus.
"Bekerjalah dengan tulus pada Tuan dan Nyonya itu adalah pesan dari Almarhum Bapak mu." Lanjutnya setelah itu Sang Ibu itu menepuk punggung Sang Putra perlahan.
Pemuda itu tidak berkata apapun lagi. Adrean berencana akan mengantar Sang Ibu pulang kampung setelah membersihkan dirinya.
"Bibi mau kemana?" Tanya seorang gadis kecil tiba-tiba menghampirinya saat melihat seorang wanita yang usianya hampir lanjut itu menyeret koper besar menuju pintu depan.
"Bibi sudah tua jadi mau menikmati masa tuanya di kampung saja." Jelas Bi Inna dengan lembut.
"Boleh aku ikut." Pinta Mentari.
"Aku hanya ingin tahu apa itu kampung?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Suatu saat nanti Nona pasti bisa pergi ke kampung halaman Bibi, tapi tidak sekarang." Jawab Bibi berjalan menuju garasi.
Seorang Pemuda sedang mencari Pak Narendra untuk meminta tolong mengantar kembali perusahaan untuk mengambil mobil yang dia bawa tadi. Adrean tidak terbiasa meminta seseorang mengendarai mobil miliknya.
Pemuda itu segera pergi mengambil mobil dengan diantarkan oleh Pak Narendra sedangkan Sang Ibu menemui Pasutri yang tempat dimana dia bekerja sejak dahulu untuk berpamitan. Mentari kini berjalan bersama Bi Inna menemui kedua orang tua gadis ini untuk berpamitan.
Pasutri ini dalam hati tidak tega membiarkan wanita itu tinggal sendiri di desa. Mereka melakukan hal ini justru karena menganggapnya sebagai orang yang sangat penting hingga keselamatannya pun harus dilindungi.
Beberapa saat kemudian setelah acara perpisahan itu Tuan Richat meminta seseorang untuk menjaga keselamatan Wanita yang sudah sangat lama bekerja di rumahnya. Seorang Asisten Rumah Tangga Khusus dikirim juga untuk menjaga keselamatannya.
Mobil yang dikendarai oleh seorang Pemuda tampan itu kini melaju dengan kecepatan tinggi memecah kesunyian malam. Adrean sangat mahir seperti pembalap malam ini hingga Sang Ibu merasa takut dengan kecepatan yang digunakan Sang Anak.
Adrean secara khusus mengantarkan Sang Ibu karena pasti akan sangat jarang bertemu dengannya. Suasana di dalam mobil berusaha dibuatnya sesantai mungkin.
"Kamu ingin membunuh Ibu mu ini!" Teriak Sang Ibu.
"Mana mungkin, aku kan sangat menyayangi mu." Jawab Pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bukankah Bapak dulu juga suka ngebut bersama mu ibu?" Tanya Adrean.
"Kenapa masih takut jika aku ngebut seperti ini." Lanjutnya.
"Bahkan mungkin di dalam kamar juga suka ngebut bersamamu hingga melahirkan ku." Lanjutnya lagi agar Sang Ibu tidak begitu takut.
"Dasar Kamu itu! Apa itu yang kamu dapat saat kuliah di luar negri?" Tanya Sang Ibu sedikit lebih santai.
"Ya, di sana gadis-gadis nya sangat menantang." Jawab Adrean.
"Lalu kenapa sampai sekarang kamu masih jomblo?" Tanya Sang Ibu.
"Apa kamu tidak laku?" Lanjutnya.
"Masak sih anak ibu yang ganteng gini gak laku." Kata Adrean.
"Kalau jomblo gak masalah yang penting happy. Jomblo happy senggol sana senggol sini gak ada yang marahi." Lanjutnya.
"Takutnya jika kamu sering main ngebut seperti ini kamu belum sempat menikmati indahnya dunia." Ledek Sang istri Ibu agar Putranya segera mencari pasangan hidup yang bisa menjaganya.
__ADS_1
Mobil dengan kecepatan tinggi itu tetap saja melaju tanpa ada getaran didalamnya. Rasa takut masih saja dirasakannya walaupun bukan hanya sekali dia menaiki mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini.