Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 133. Masker dan Cuci Tangan


__ADS_3

Kehamilan yang sangat diharapkan membuat kedua orang tua Alfian sangat-sangat lah senang. Keinginan mereka timbul setelah kepergian anak perempuannya karena sebuah kejahatan seseorang.


Flesh on


Alfian dan Mentari menangkap sosok Deddy dan Mammy keluar dari ruang periksa. Mereka melihat keduanya sangat dan sangat bahagia.


Alfian dan seorang gadis berlari kecil mendekati kedua orang tuanya. Penasaran dalam pikiran mereka melihat keduanya tampak sangat bahagia.


"Kenapa bahagia banget kayaknya?" Tanya Alfian.


"Bukannya merasa kasihan sama mammy malah seneng banget." Lanjutnya.


"Ucapkan selamat aja deh anak Deddy yang paling tampan pada kami." Perintah Deddy.


"Selamat!!! Deddy punya pikiran gak Sih? Mammy sampai seperti itu juga, gak ada tenaga sama sekali." Bentak Alfian.


"Ya, ucapin selamat sama kita." Kata Mammy menengahi perdebatan keduanya dengan suara yang sudah sangat lemah.


"Ayo sebaiknya kita pulang saja. Waktu sudah sangat larut." Kata seorang gadis yang ada di dekat mereka.


"Kasian Mammy sudah sangat pucat." Lanjutnya.


Mereka semua berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tujuan akhir mereka adalah rumah untuk dapat istirahat.


Alfian mengambil mobil di tempat parkir dengan sigap. Lainnya menunggu di lobi rumah sakit.


Melihat mobil sudah siap, mereka segera masuk dalam mobil. Semua sudah masuk tapi terlihat seorang gadis masih berdiri mematung di luar pintu mobil.


"*Duduk di depan atau di belakang?" Batinnya.


"Duduk di depan dikira aku yang keburu ngejar itu laki bisa besar kepala, duduk di belakang Mammy kayaknya lagi sensi." Lanjutnya*.


"Hai pangeran itu." Kata Mammy dengan melirik gadis yang masih berdiri di luar mobil.


"Bener tu bocah gak ada tanggung jawabnya sama sekali." Sindir Deddy pada Sang Anak Laki-laki nya.


"Tanggung jawab apa'an?" Tanya Alfian.


"Tanggung jawab kalau udah halal." Lanjutnya lagi.


"Duduk depan aja sayang. Kita juga pernah muda kali. Dulu juga ngrasain jarang banget ketemu." Jelas Mammy.


"Oh, jadi begitu bukan karena Mammy gak suka lagi sama aku. Jadi semua yang aku pikirkan adalah salah paham" Batin Tari.


Alfian keluar dari mobil dan mengitari mobil seraya membukakan pintu mobil untuk gadisnya. Akan tetapi kejadian tak terduga pun terjadi.

__ADS_1


"Silahkan Tuan Putri." Kata Alfian dengan senyum terbaiknya.


Gadis itu akhir duduk di samping Pak Kusir. Bener ya kan Sang Pangeran naik kuda putih.


Alfian membantu gadis itu memakai sabuk pengamannya. Sabuk pengaman itu terselip di samping kursi hingga sulit untuk di tarik dan dicadangkan di depan badan gadis cantik dan mungil itu.


"Empuk ini si gunung kembar." Batin Alfian saat menyentuh sesuatu yang menonjol di dada gadis itu tanpa sengaja.


"Maaf gak sengaja." Kata Alfian sambil nyengir kuda.


"Alah bilang aja cari kesempatan." Kata Tari dengan sewotnya.


Alfian pun segera duduk di kursi kemudi. Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Hauf." Sebuah suara dari samping kemudi.


"Hauf." Lagi dan lagi hingga beberapa kali.


Alfian dari kejadian tadi pikirannya sudah travelling kemana-mana. Otaknya sudah bener-bener OMES. Mungkin karena ia memang laki-laki dewasa ya hingga seperti itu.


Mendengar suara dari samping Alfian melirik sang gadis. Ia tahu kalau gadis yang ada di sampingnya itu sudah sangat mengantuk.


Tidak butuh waktu lama, gadis itu pun terlelap dalam mimpi indahnya. Pak kusir yang melihat gadisnya tertidur tersenyum hingga sudut bibirnya sedikit tertarik.


"Jangan dilihatin terus!" Kata Deddy.


"Gak ada bahasan lain?" Tanya Alfian.


"Sampai harus ngeledekin anak sendiri." Lanjutnya.


"Emang Deddy mu gak tahu kejadian barusan?" Kata Deddy melihat muka sang anak dari kaca depan.


"Pengalaman banget ya Mam, Deddy masalah kayak gitu?" Tanya Alfian pada Mammy yang masih lemas ingin tidur tapi tidak bisa.


"Banget." Jawab Mammy.


"Kalau mau belajar sama Deddy." Canda Mammy.


"Wajib kah?" Tanya Alfian.


"Iya wajib pakai masker kalau keluar rumah." Kata Mammy.


"Iya - iya yang gak kalah penting juga jangan cuci tangan sesudahnya." Sahut Alfian dengan senyum smirknya takut mengganggu yang baru tidur.


Mereka pulang dengan memecah keheningan malam. Suasana cerah secerah hati mereka, ya..... Karena kabar baik yang selama ini Deddy dan Mammy tunggu.

__ADS_1


Akhirnya sampai juga di rumah utama milik keluarga Alfian. Deddy menggendong sang Mammy menuju kamar mereka sedangkan seorang gadis belia yang sedang tertidur pulas sedang diamati oleh calon pemilik.


"*Aku antar pulang malam ini atau aku biarkan dia tidur di rumah ini?" Batin Alfian.


"Tidur di sini pun gak masalah lagian masih banyak kamar kosong." Lanjutnya ketika masih berada dalam mobil yang berhenti di depan rumah utama*.


Plak


Sebuah tepukan di punggung Alfian membuyarkan pikirannya barusan. Terkejut sudah laki-laki ini hingga ia hampir berteriak hingga bisa membangunkan gadis yang ada di sampingnya kini.


Alfian hanya berharap bukan hanya kini tapi seumur hidup. Biarlah maut yang memisahkan mereka.


"Mau di sini sampai kapan?" Tanya Deddy.


"Sampai puas." Jawab Alfian.


"Kalau berpikir sampai puas, kamu nanti gak ada puas-puasnya." Jawab Deddy.


"Kasian tu kalau tidur di situ." Kata Deddy.


"Bisa-bisa itu badan sudah remuk sebelum waktunya." Lanjut Deddy.


Alfian menggeleng-gelengkan kepala mendengar penuturan Sang Deddy yang sedikit fulgar itu. Ia akhirnya turun dan menggendong Gadis itu menuju kamarnya.


Kunci mobil yang masih bergelantung ditempatnya di ambil Deddy. Ia memberikan pada salah satu pekerja yang bekerja di rumah itu untuk ditaruh di garasi.


Saat digendong Gadis itu tetap saja tak ada reaksi. Naik lantai atas dengan menggendong seorang gadis dipikirnya terasa ringan. Tubuh yang kecil itu.


"Huuuf." Keluhnya dengan membuang nafas.


Ceklek


Suara pintu di buka perlahan. Diletakkannya gadis itu di tempat tidur yang cukup luas. Alfian pun tak lupa menutup kembali pintu kamarnya.


"Berat juga itu tubuh, walaupun kecil begitu." Keluh Alfian dalam hati.


Alfian berjalan menuju balkon samping kamarnya. Ia mengambil benda pipih yang ada di saku jasnya mengirim pesan singkat.


Pesan singkat ke sebuah nomor yang sangat penting bagi gadis yang ada bersamanya kini. Takutlah dipikir tidak bertanggung jawab.


Laki-laki ini tadi sudah berjanji untuk mengantarkan pulang tapi apalah daya karena sesuatu hal yang tak bisa dihindari. Apalah daya kalau diantar malam-malam juga akan mengganggu yang punya rumah harus bangun malam untuk menyambutnya.


😞😞😞 😞😞😞 😞😞😞


Author sedih sekarang gak bisa Up setiap hari, padahal rasanya kangen banget bisa Up date untuk kalian.

__ADS_1


Maaf beribu maaf banyak kendala dari author


Author minta jangan selingkuh ya dari karya author kalian ini. 🙏🙏🙏


__ADS_2