Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 26. Biar Aku Semakin Berhasil Membuat Mu Semakin Sakit


__ADS_3

Kedua Pasutri itu tidur larut malam karena lupa waktu. Mereka berdua bekerja secara terpisah.


Keduanya jarang memiliki waktu hanya untuk berdua akan tetapi berbeda halnya jika sang putri meminta waktu pada mereka. Mereka akan selalu meluangkan waktunya.


Pagi ini pun juga sama halnya mencuri-curi waktu untuk berdiskusi setelah selesai untuk mandi. Banyak hal yang perlu dibicarakan sebenarnya tetapi waktu untuk bersama sering tidak mereka dapatkan.


Rasa tanggung jawab terhadap banyak orang orang menguasai pikiran mereka. Percaya pada pasangan walaupun jarang sekali mereka dapatkan untuk bersama.


"Hari ini apa Bunda punya acara?" Tanya Sang Suami saat keduanya saling berhadapan tepatnya saat Sang Bunda memasangkan dasi pada suaminya itu.


"Tidak." Jawab Bunda singkat.


"Kita ke rumah sakit bagaimana?” Tanya Sang Suami hingga membuat sebuah pertanyaan pada istrinya itu.


"Ayah sakit?" Tanya Sang Istri.


"Bukan, biar aku bisa nyakitin kamu berhasil." Jelas Sang Suami membuat Bunda membelalakkan mata lebar menatap kedua bola mata laki-laki paruh baya yang ada di depannya.


"Ayah yakin mau ke rumah sakit?" Tanya Bunda meyakinkan Sang Suami.


"He'em." Jawab Sang Suami singkat.


"Baiklah." Kata Bunda.


"Nanti biar Pak Narendra menjemput Bunda saja." Pesan Sang Suami.


"Putri kita?" Tanya Bunda.


"Diajak, biar hatinya sedikit senang." Jawab Sang Suami.


Mereka berdua berjalan bersama beriringan menuju meja makan. Semua masakan sudah tersedia di sana tetapi kali ini yang belum terlihat adalah putri mereka.


Keduanya berpikir kalau Sang Putri masih tidur dengan nyenyak atau malah sudah bangun tapi masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Bunda memutuskan untuk memanggil putrinya yang masih berada di kamar.

__ADS_1


Ceklek


Suara Knop pintu diputar oleh seseorang tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sang Bunda takut mengganggu Sang Putri jika dia masih tidur jika mengetuk pintu terlebih dahulu.


Wanita paruh baya itu berjalan perlahan masuk di kamar Mentari. Di atas tempat tidur dia sudah tidak melihat sosok seorang gadis gadis kecil semalam.


Bunda kembali berjalan matanya melihat ke segala penjuru ruangan sedangkan pendengarannya mencoba menangkap suara. Pendengarannya tidak juga menangkap apapun di ruangan itu.


"Kami sangat khawatir pada mu tetapi sekarang kamu malah tersenyum-senyum sendiri seperti itu." Kata Sang Bunda perlahan sambil menggelangkan kepala dan berjalan mendekati Mentari.


"Eh.... Bunda." Ucap Mentari terkejut hingga dia menolehkan kepala pada sumber suara.


"Siapa memangnya yang bisa membuat putri ku ini sebahagia seperti sekarang ini?" Tanya Sang Bunda.


"Hingga dia melupakan waktu sarapannya." Lanjutnya.


"Maaf Bunda ku sayang, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir." Ucap Mentari.


Wanita paruh baya itu tahu apa yang membuat putrinya secerah mentari pagi dihari ini. Sang Bunda melihat putrinya yang sangat senang itu tidak berkata apa pun.


Kedua pasangan ibu dan anak itu mulai menuruni anak tangga berjalan bergandengan tangan. Keduanya tersenyum melihat Sang Ayah sudah duduk menunggu keduanya di ruang makan.


"Kalian ini mau membuat ayah mati kelaparan?" Tanya Ayah.


"Maaf Ayah, aku tidak bermaksud seperti itu." Jawab Mentari menyesal.


"Sudahlah ayo kita sarapan, nanti ayah bisa terlambat datang ke kantornya." Ucap Sang Bunda.


Mereka mulai sarapan tanpa lupa berdoa terlebih dahulu. Suasana sudah mulai normal kembali seperti biasanya karena Sang Abang juga sudah menjelaskan kepada adiknya itu.


Sang Ayah bersiap berangkat ke kantor setelah istrinya mengambilkan berkas dan koper miliknya yang ada di ruang kerja. Pak Narendra juga sudah bersiap di pintu utama untuk mengantarkan Tuannya ke kantor.


Tuan Richat dalam perjalanan menuju kantor hanya melihat dan menikmati ramainya ibu kota saat ini. Sang sopir sudah sangat tahu dengan kebiasaan tuannya itu tidak sama dengan orang lain.

__ADS_1


Di sebuah perkantoran dengan gedung yang paling tinggi mobil mewah ini berhenti. Dia segera menuju ruang kantornya dengan tergesa-gesa.


Tuan Richat segera menaruh benda yang dibawanya pada tempatnya. Dia segera mengambil ponsel yang ada di saku jas miliknya.


Dicari nomor dokter kandungan keluarga pada ponselnya dan membuat janji dengannya. Tuan Richat menang tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan seseorang hingga dia juga harus membuat janji dengan orang lain.


Tuan Richat jika mau tanpa membuat janji pun bisa memaksakan orang lain untuk mengutamakan dirinya terlebih dahulu dibandingkan dengan orang lain. Dia tidak melakukannya karena menghargai waktu orang lain juga yang memiliki kepentingannya.


Tut Tut Tut


Suara panggilan untuk seorang dokter yang tidak lama tersambung. Dokter wanita itu segera mengangkatnya dari seberang tepatnya di sebuah rumah sakit.


"Assalamualaikum." Sapa seorang Dokter di sebuah rumah sakit.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Seorang laki-laki Paruh Baya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Dokter.


"Ada, hari ini dokter punya waktu luang pukul berapa?" Tanya Tuan Richat.


"Pukul 10.00 Tuan." Jawab Dokter yang disebrang telepon.


"Baik kami akan usahakan ke rumah sakit sebelum jam itu." Kata Tuan Richat.


"Baik Tuan, saya tunggu kedatangan Anda." Kata Dokter di sebrang telepon.


"Wassalamu'alaikum." Ucap salam penutup Tuan Richat.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Seorang Dokter.


Dokter kandungan itu sebenarnya punya janji dengan seorang pasien juga, akan tetapi dia tidak mau melakukan kesalahan. Kepala rumah sakit pasti akan menyalahkannya jika tidak mengutamakan orang yang menghubunginya baru saja.


Tuan Richat segera menghubungi Sang Istri untuk bersiap pada waktu yang telah ditentukan untuk bertemu dengan dokter kandungan. Laki-laki paruh baya itu juga mengirimkan pesan pada Sopirnya untuk menjemput Nyonya Deva di rumah.

__ADS_1


__ADS_2