
Seluruh badan sudah di putar putar berkali-kali tidak ditemukan sebuah luka. Mama yang juga heboh seperti pembawa acara menanyakan semua penyebab kejadian.
Pertanyaan yang diberikan belum sempat dijawab saja sudah ganti dengan pertanyaan lainnya. Hal itu karena rasa khawatir pada diri Sang Mama.
Ketiga saudara laki-lakinya itu malah menggoda kedua kakaknya itu. Ketiganya mengubah bisa mengubah rasa khawatir itu menjadi sebuah lelucon agar suasana tidak terlalu tegang.
"Kakak tidak luka kan?" Tanya Axel pada Kakak Perempuannya itu.
"Tidak." Jawab Kak Tari.
"Ini pasti seperti di film-film kartun di TV." Celetuk Daffa.
"Iya lah. Seperti Sailermoon yang diselamatkan seorang pangeran yaitu Pangeran Bertopeng." Sahut Garda.
"Berapa hari kamu akan di rawat?" Tanya Papa Adrean.
"Kata dokter sih nunggu hasil rongsen." Jawab Alfian.
"Takutnya ada tulang patah atau ada pembekuan darah." Sahut Seorang gadis yang sedang bermanja-manja dengan Sang Papa.
Sejak kecil Gadis yang akan menikah ini sampai sekarang masih senang bermanja-manja dengan Sang Papa, walaupun Adrean bukanlah Ayah kandungnya. Hal itu sudah biasa buat keluarga mereka.
Hanya dengan keluarga kecilnya itulah Mentari ingin dimanja hanya kepadanya lah perhatian diberikan. Berbeda kalau sudah di luar ia akan berubah menjadi sangat galak setiap saat bisa menekam orang yang berniat tidak baik padanya ataupun pada anggota keluarganya.
Malam semakin larut, tetapi kedua orang tua Alfian tak datang menjenguk. Akhirnya hal itu ditanyakan juga okeh calon besarnya itu.
"Al orang tua mu sibuk sekali kah?" Tanya Om Adrean pada Pemuda yang sekarang sedang duduk bersandar di brankar.
"Oh My God. Lupa kasih kabar." Jawab pemuda itu dengan menepuk keningnya yang tidak bersalah.
Pemuda itu mencari-cari saku celana tapi tidak ada.Ia melihat pakaian yang ia kenakan saat ini barulah sadar yang ia kenakan sudah pakaian pasien.
"Cari apa?" Tanya seorang gadis.
"HP ku kemana?" Tanyanya sebab tadi yang membantu mengganti bajunya adalah gadis itu.
"Oh. Itu di meja samping brankar." Jawabnya.
Dilihat banyak sekali panggilan dan pesan masuk pada layar ponsel itu. Panggilan dan pesan dari banyak orang.
__ADS_1
Tidak peduli apa yang dia tuliskan yang jelas hanya sekali pesan itu ditulis kemudian dikirim pada banyak nomor yang menghubunginya. Satu nomor saja yang ia hubungi.
Nomor Sang Ayah tertera kemudian terlihat Alfian menekan aikon hijau pada layar ponsel itu. Tidak butuh waktu lama telepon pun tersambung.
"Assalamualaikum." Sapa Alfian.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah yang ada disebrang telepon.
"Kemana aja dari pagi dihubungi tidak diangkat. Di kantor juga katanya gak nongol batang hidungnya." Kata Sang Ayah dengan nada tingginya karena rasa khawatir terhadap anak laki-lakinya itu.
"Sabar Pak Kiayi." Kata Alfian terjeda.
"Sekarang Ananda dirawat di rumah sakit XX." Lanjut Alfian.
"Perasaan kamu sehat-sehat aja." Kata Ayah.
"Kamu di rumah sakit ngapain? Sakit atau pacaran?" Tanya Ayah kemudian.
"Keduanya lah." Jawab Alfian.
"Masak aku yang anak muda kalah sama Ayah." Lanjut Alfian.
"Ya sudah Ayah ke sana sama Bunda mu." Kata Ayah.
"Sudah dulu ya, Ayah mau bersiap ke sana." Kata Sang Ayah yang ada di seberang telepon.
"Kalau perlu berdandan sekalian biar ada perawat yang kesengsem sama Ayah." Lanjut Sang Ayah lagi yang diiringi dengan tawa renyah.
"Ayah, ingat itu usia. Bunda juga lagi berbadan dua." Kata Alfian memperingatkan walaupun ia tahu itu hanya candaan sang Ayah.
"Assalamualaikum." Salam penutup Ayah yang ada di sebrang telepon.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Alfian.
Setelah telepon itu ditutup semua yang ada di ruang rawat Pemuda itu tertawa renyah, bahkan ketiga jagoan mereka ikut meramaikan suasana kamar.
Bukankah orang sakit atau orang yang dirawat di rumah sakit itu harus istirahat, tetapi tidak untuk pasien di kamar ini. Pasien di kamar ini malah bercakap-cakap dan bercanda hingga waktu kunjung habis.
Tidak seorangpun yang berani menegur semua yang ada di ruangan ini. Ruang rawat ini khusus VIP tidak akan mengganggu makhluk yang ada di sekitar mereka.
__ADS_1
Alfian kini satu-satunya anak di keluarganya hingga sang Ayah sangat khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Sedangkan yang satunya masih dalam tahap calon anak.
Alfian tidak malu jika dalam usianya kini masih dikaruniai seorang adik. Ia juga merasa kesepian jika tidak ada saudara saat di rumah.
Sama halnya hubungan antara anggota keluarga yang sangat harmonis serta rasa perhatian yang berlebih pasti ada. Ketegangan dalam hubungan kekeluargaan mereka seperti sebuah persahabatan dengan anak-anak muda tidak pernah ada ketegangan.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara kamar rawat seorang Pemuda yang penghuninya sangat ramai itu diketuk oleh seorang perawat. Perawat itu memberitahukan tentang jadwal pasien itu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Masuk." Perintah salah seorang yang ada di dalam ruang rawat itu.
"Permisi." Balas Seorang perawat yang masih sangat muda dan cantik.
"Maaf Tuan besuk baru bisa anda melakukan rongsen." Kata Perawat itu pada Alfian.
"Baiklah." Jawab Pemuda itu tanpa melihat perawat tersebut.
"Terimakasih Sus." Kata Seorang Gadis yang sedang duduk di sofa terlihat sedang bermanja dengan laki-laki paruh baya.
"Sama-sama Non." Jawab Suster itu tapi terdengar angkuh di telinga Alfian.
Alfian memang sudah merencanakan untuk menginap di rumah sakit malam ini dengan ditemani seorang gadis cantik calon istrinya itu. Ia sudah menghubungi pihak rumah sakit saat dalam perjalanan tanpa sepengetahuan gadis yang tadi diselamatkannya.
Kenapa bisa? Pemilik rumah sakit ini adalah milik keluarganya sehingga dengan mudahnya Alfian mendapat kamar VIP ini.
Kamar ini sangat mahal, maka dari itu perawat tadi bisa melihat kalau Pemuda yang baru datang itu memiliki harta yang berlimpah. Akan tetapi perawat itu tidak tahu bahwa pemuda yang menempati kamar VIP sekarang adalah anak dari pemilik rumah sakit.
🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠
Di kediaman utama keluarga Alfian seorang Ayah sedang heboh mendapat kabar kalau anak laki-lakinya sedang mengalami kecelakaan. Ia sedang berhati-hati mencari kata yang tepat untuk memberitahukan kepada istrinya.
Istrinya yang sedang hamil muda yang sangat rentan dengan kabar buruk. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bicara empat mata.
"Bunda." Panggil Ayah dengan duduk di sisi tempat tidur dimana sekarang istrinya itu berbaring.
__ADS_1
"Ada apa Yah?" Tanya Bunda yang sedang berbaring di tempat tidur Alfian.
"Mau ikut Ayah pergi ke rumah sakit?" Tanya Ayah pada Istrinya yang sejak hamil alergi dengan rumah sakit.