Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 150. Mati Konyol


__ADS_3

Berjalan sedikit cepat gadis itu menghampirinya. Ia menahan rasa sakit pada kakinya itu.


"Belum pergi juga?" Tanya gadis itu.


"Hem." Jawabnya singkat santai tapi sebenarnya hatinya ketar ketir.


"Ada masalah?" Tanya Monic.


"Tidak." Jawab Ziko mengangkat tangan kanannya melihat jam yang melingkar di tangannya itu.


"Mau ku antar." Tanya gadis itu dengan menunjuk mobil merah yang ada di belakangnya dengan menggunakan jari jempolnya.


"Aku rasa tidak perlu." Jawab Ziko.


"Benarkah?" Tanya Monic terjeda.


"Mau potong gaji dan bonus bulan ini silahkan." Kata Monik melanjutkan tidak lama ia pun memutar badan arah menuju kantin.


Pemuda itu akhirnya mengejar Monic yang akan menuju kantin. Ia menghadangnya tepat di depan gadis itu.


Bugh


Sadar gadis itu menabrak seorang pemuda yang tadinya tidak mau ditawari dengan bantuannya kini ia pun berjalan tanpa rem alias los dol gas walaupun sedikit sakit di kakinya. Ia tahu kalau pemuda tadi berubah pikiran karena ucapannya yang terakhir.


Gadis itu menyerahkan kunci pada Ziko Sang Asisten dengan melemparkan kunci itu. Dengan gesit Pemuda itu menangkapnya.


Monic sebagai pemilik mobil tidak keberatan meminjamkan untuk dikendarai orang lain sendiri. Lagi pula ia sudah sangat lama mengenalnya.


Pemuda itu pun berpikir bagaimana baiknya agar tidak mendapat prasangka maka gadis pemilik mobil itu pun harus ikut dengannya. Monik pun menyetujui hal itu tetapi tidak maulah ia menyetir mobil dengan kondisi sakit pada pergelangan kaki.


Sang Asisten itu sendiri tidak mau mengendarai mobil yang bukan miliknya tanpa pemiliknya. Ia pun membukakan pintu mobil samping kemudi ia tidak mau dianggap sopir jika gadis itu duduk di belakang alias kursi penumpang.


"Terimakasih." Kata Sang Gadis dengan berusaha memakai sabuk pengamannya itu tapi sayang tersangkut pintu saat sudah ditutup.


"Ada masalah?" Tanya Ziko dari luar saat melihat gadis itu membuka pintu kaca samping mobil tempat yang ia duduki.


"Sabuknya tersangkut." Kata Monik singkat.


"Apa hatimu tidak tersangkut juga?" Tanya Ziko sangat lirih tapi masih bisa di dengar oleh sang gadis.


"Apa?" Tanya Monik.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Ziko membuka pintu dan membantu gadis itu memakaikan sabuk pengaman tanpa dimintanya.


"Besar sekali." Kata Ziko lirih ketika melihat dua gundukan besar pada dada gadis itu yang seputih salju.


"Apa?" Tanya Monik.

__ADS_1


"Oh tidak. Maaf." Kata Ziko lagi yang tidak sengaja menyenggolnya.


"Empuk dan kenyal." Batin Ziko.


Pemuda itu hanya bisa berkata dalam hatinya. Jika terdengar lagi oleh gadis itu ia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menjawab.


Pemuda itu pun berputar lewat depan mobil dan membuka pintu mobil duduk di bagian kemudi. Selesai memakai sabuk pengamannya dengan benar ia segera menghidupkan mobil itu.


Mobil pun melaju perlahan pada area parkir. Pada pintu masuk parkir karyawan mereka berdua berpapasan dengan para montir langganannya.


"Lambat." Keluhnya dengan suara sedikit kasar.


"Apa kamu bilang?" Tanya gadis yang saat ini sedang duduk di samping Ziko.


"Ini area parkir jadi memang harus lambat kan? Kenapa harus mengeluh? Lanjut gadis itu.


"Bukan." Jawab pemuda itu yang terpotong karena sudah disela oleh gadis itu.


"Jadi karena mobil ku yang lajunya lama?" Tanya Monik.


"Bukan itu." Jawab Ziko.


"Lalu?" Tanya gadis yang punya mobil meminta penjelasan.


Pemuda itu menggaruk belakang rambut kepala menunggu gadis itu tenang dengan berbagai pertanyaannya. Kondisi rambut yang dari pagi sudah sangat rapi kini sangat berantakan karena pertanyaan yang bertubi-tubi tapi dengan inti yang sama.


"Maksud ku montir yang aku minta tolong untuk mengganti ban mobil ku kenapa tumben datangnya telat." Jawab Pemuda yang kini sudah dikatakan berantakan dengan tatanan rambutnya sekarang.


"Maaf." Lanjutnya.


"Gak masalah." Kata Ziko.


Keluar dari Bascam parkir mobil karyawan mobil yang dikendarai oleh sepasang muda mudi yang baru saja berburuk sangka melaju dengan cepat menuju kediaman utama keluarga Alfian. Mobil itu menembus keramaian kepadatan jalan ibu kata tanpa ada rasa takut sedikitpun dari pengemudinya.


Hening


Hening


Hening


Suasana dalam mobil itu sunyi senyap tanpa ada suara sedikit pun. Gadis itu hanya diam pasrah dengan nasibnya saat itu.


Pemuda yang mahir dalam mengemudi itu melihat reaksi gadis yang ada disampingnya itu. Gadis itu terlihat sangat tegang.


Dinyalakan spiker yang ada didepannya. Dilihat ada beberapa kaset yang ada dipikirannya itu adalah kaset kesukaan gadis yang ada disampingnya itu.


"Lebih santai kan?" Tanya Ziko melihat ke arah samping kemudi.

__ADS_1


"What?" Gadis itu membulatkan mata tak percaya dengan kecepatan yang baru saja ia rasakan.


"Aku tak mau mati konyol seperti ini." Lanjut Monik.


"Sama aku juga tidak mau mati konyol karena aku belum pernah merasakan surga dunia." Kata Ziko dengan santainya.


Gadis yang ada disampingnya percaya walaupun Pemuda di sampingnya itu adalah seorang cassanova tapi ia tetap bisa menjaga kelelakiannya. Ia hanya sebatas memuji sebuah kecantikan seorang wanita tapi untuk mencicipi pemuda itu masih takut dampak kedepannya.


Chiiiiiit


Perdebatan yang mereka lakukan sudah mereda ketika terdengar bunyi gesekan ban dengan aspal tepat di depan rumah utama milik keluarga Alfian. Gadis itu menundukkan kepalanya dari tadi merapalkan doa.


Mulutnya komat-kamit agar mereka diberikan keselamatan sampai ditempat yang akan mereka tuju sekarang. Mendengar gesekan ban mobil gadis itu yang tadinya memejamkan mata kini mulai mambuka matanya lebar-lebar ingin memastikan keadaanya yang sekarang.


"Apa aku sudah sampai di surga?" Tanya Monik refleksi memegang lengan pemuda yang ada disampingnya saat ini.


"Ya benar." Jawab Pemuda itu.


"Sudah aku bilang pelan-pelan nyerinya." Kata Monik dengan diliputi rasa amarah hingga air matanya itu pecah.


Cup


Sebuah kecupan ringan mendarat tepat di pipi kanan seorang gadis yang kini menangis. Ziko mendekatkan tubuhnya itu menggunakan kesempatan dalam kelonggaran untuk dipeluk juga oleh gadis itu.


"Apa ini mimpi?" Bisik Sang Pemuda tepat ditelinga Monik yang sedang menangis.


"Dasar Krocodile!" Teriak Monik sanbil meninju dada bidang yang memeluknya baru saja hingga ia tersadar dengan imajinasinya akibat ketakutan ulah dari pemuda mengerjainya.


Tok tok tok


Pintu kaca mobil diketuk oleh salah satu orang yang bekerja di rumah utama milik Alfian. Pintu kaca yang gelap itu dibuka oleh Ziko sedangkan gadis yang ada di sampingnya itu hanya menatap lurus kedepan dengan kedua tangannya menyilang di depan dada.


Gadis itu masih dalam posisi yang sama tidak berubah tempat ataupun berubah posisi karena masih marah. Sesekali ia melirik Ziko yang telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Maaf-maaf Authornya mengucapkan beribu maaf. Gak bisa Up setiap hari juga ada banyak kendala semoga pembaca bisa memakluminya. 🙏


Ada rasa rindu buat nulis tapi apa daya semua punya keterbatasannya.


Bulan ini kata anak muda tanggal 14/02 hari kasih sayang.


Bener tidak sih?


Buat author hari kasih sayang tiap hari aja. Masak sih buat ungkapin rasa sayang aja harus nunggu tanggal 14/02.


Apalagi perasaan atau cinta ntar keburu disambar orang. Ntar janur keningnya keburu melengkung lho. Gimana coba?

__ADS_1


Pastinya ada rasa kecewa dong. Ayo dong jadikan rasa kasih sayangnya tiap hari.


Kalau masih semua nunggu tanggal 14/02 harus pakai coklat. Nanti harga coklatnya pasti naik lho. Sebab sebab semua orang pasti butuh kayak sembako aja. ☺☺☺


__ADS_2