
Di menuju tempat mereka akan menyelenggarakan resepsi. Mereka berdua berjalan berdua beriringan dengan sebuah senyum bahagia di wajah mereka.
Ting
Pintu lift dibukakan oleh seseorang. Mana mungkin pengantin membuka pintu lift sendiri. Mereka kan jadi Raja dan Ratu sehari. 🙂🙂🙂
Banyak diantara keluarga dan sahabat bahkan kolega kerja mereka merasa kagum dengan penampilan mereka malam ini. Bahkan takjub dengan disain tempat acara resepsi mereka malam ini.
"Sungguh sangat sempurna." Ucap setiap tamu yang hadir tak lepas dari ucapan itu.
Seluruh keluarga kedua mempelai menyambut tamunya dengan ramah. Ada beberapa juga yang merasa iri dengan kesempurnaan malam ini.
Melihat kedua mempelai sudah berada di mimbar pun keluarga Adrean segera menghampiri mereka untuk memberikan selamat.
"Selamat Bro, atas pernikahan mu" Ucap Adrean pada Briyan sebagai seorang sahabat.
"Selamat ya Kak, selamat menempuh hidup baru." Kata Sinta pada Briyan yang selalu memanggilnya dengan sebutan Kakak.
"Om selamat ya atas pernikahannya, semoga lekas diberi momongan." Kata Mentari dengan senyum jahilnya.
Mereka saling berpelukan Adrean memeluk Briyan dengan ala sahabatnya. Menepuk punggung Briyan beberapa kali dengan membisikkan sesuatu.
Sinta dan Dita tidak kalah dengan kedekatan mereka sejak mereka kuliah di universitas dan jurusan yang sama. Cipika-cipiki mereka lakukan dengan tulus persahabatan mereka sampai sekarang. Tanpa terasa air mata bahagia itu menetes tanpa permisi.
"Mah gantian dong, aku juga pengen Cipika-cipiki dengan tante." Kata Mentari yang berusaha mengalihkan suasana hati keduanya.
"Biar Tari ketularan cantiknya, kalau bisa lebih cantik dari kalian berdua." Lanjutnya.
Mama dan Sang Tante yang sekarang ini sedang menjadi ratu sehari membulatkan matanya sempurna ke arah Tari. Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak gadisnya yang terkesan centil.
"Berarti untuk saat ini kamu belum ada cantiknya dong?" Tanya Mama.
"Mama ih." Balas Tari dengan wajah malunya karena kemakan omongannya sendiri.
"Ya sudah sini Sayang, sepuas kamu mau cipika cipiki sama Tante." Kata Tante Dita yang saat ini menjadi Ratu Sehari.
"Kalau sepuas aku, Tante nanti bedaknya bukan hanya hilang tapi luntur." Canda Kakak.
"Kalau sepuasnya dan kamu puas-puasin dengan si centil ini, Gimana dong dengan ku nanti malam pertama." Keluh Briyan.
__ADS_1
"Apa'an sih?" Balas Dita dengan mencubit perut suspek sang suami dengan wajah yang mulai memerah.
Tanpa sadar mereka berbincang dengan kedua mempelai lumayan lama hingga mengakibatkan antrian yang lain untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Seperti kereta api mungkin hingga sangat panjang antrian mereka.
Mereka berempat akhirnya beralih tempat menuju tempat yang nyaman. Entah mengapa mereka tidak menemukannya juga.
Setiap mereka berjalan menyusuri setiap tempat selalu saja ada seseorang yang menyapa. Mereka semua tidak hanya teman kerja tetapi teman sejawat bahkan teman sosialita mama nya.
Mata indah seorang gadis cantik menyelidik setiap kali berjalan menuju tempat jamuan. Ia berusaha mencari ketiga adik tampannya itu.
Nihil hasil yang ia dapatkan. Malah ia hanya menangkap sosok kakak kelasnya bersama kedua orang tua calon suaminya.
Raut wajah gadis ini seperti memikirkan sesuatu. Ada yang hilang dalam pandangannya. Tapi aroma parfum laki-laki calon suaminya tetap menyeruak dalam indra penciumannya.
"Apakah hanya perasa'anku saja." Batinnya.
"Kemana juga ini ketiga tikus curut ini." Bisiknya pelan namun masih bisa di dengar oleh kedua orang tuanya.
"E.... Siapa yang kamu maksut sayang?" Tanya Mama.
"E... Eng ..... Enggak kok Ma." Elaknya.
Untuk mengalihkan pertanya'an berikutnya yang pastinya akan menyudutkannya Gadis cantik ini memberi tahukan kalau tidak jauh dari mereka ada orang tua Alfian dan kedua temannya. Akhirnya mereka pun ikut bergabung tapi berasa ada yang kurang.
"Untuk sementara selamatkah aku segala pertanyaan ibu negara." Batin gadis cantik ini.
"Sayang kamu tahu dimana anak tante yang paling cakep? Tanya Mommy.
"Aduh tante, maaf Tari juga gak tahu." Balasnya.
"Kira'in tadi sama kamu." Kata Mommy.
"Maaf Tan, dari tadi aku sama Papa & Mama." Jelasnya.
"Memangnya kemana tiga jagoan kalian?" Tanya Deddy.
"Tadi main sendiri." Jelas Papa yang memang tidak tahu dimana ketiga anaknya bermain.
"Tari, kamu gak khawatir sama Alfian?" Tanya Ziko.
__ADS_1
"Disini banyak cewek cantik lho." Lanjutnya.
"Kalau aku sih gak khawatir ya, karena aku yakin dia bisa jaga perasaan ku." Jawabnya yang juga sebenarnya hatinya sudah kalang kabut karena mencium aroma parfum tapi tidak melihat orangnya. (Ada bau tapi gak kelihatan Haduh apa ya?)
"Kalau aku jadi Kak Monik mungkin sih jadi selali khawatir dan sering dilanda galaunya cinta." Lanjut Mentari.
"Bener tu padahal kalian udah lama juga lho pacaran." Kata Deddy.
"Pacaran sama kadal bisa-bisa dikadalin mulu." Kata Tari.
"Om....." Lirihnya seakan memendam sebuah masalah dengan seorang wanita.
"Lamar aku." Kata Mommy.
"Jangan hanya katakan cinta." Lanjut Tari.
"Gimana Kak Monic? Tanya Tari.
"Aku terserah Ziko aja." Katanya dengan nada sedihnya.
Mereka semua menatap gadis yang memberikan jawaban barusan. Akan tetapi dirasa ada sebuah ganjalan yang sangat berat dihatinya.
"Sudahlah nikmati saja pesta malam ini, jangan dipikir terlalu banyak." Kata Deddy.
"Entar cepet tua lho." Lanjut Mommy.
"Selamat gue dari penuntut umum." Batin Ziko.
Ziko tidak tahu lagi harus berbicara apa jika ditanyai keberadaan Bosnya itu. Apalagi ditanyai tentang hubungannya dengan Monic.
Makanan di meja yang disiapkan untuk para tamu terhormat malam ini sangatlah mewah. Mereka semua mulai menyantap hidangan itu dengan lahapnya.
Banyak diantara mereka mengacungkan jempol untuk pesta malam ini. Mulai dari dekorasi, tempat bahkan sampai makanan dan pelayanannya.
"Batang hidungnya gak muncul-muncul juga." Katanya gadis cantik ini perlahan.
Mendengar kata-kata itu barusan Papa, Mama, Deddy, dan Mommy menatap gadis itu dengan penuh tanya.
"Ketahuan juga lagi mikirin seseorang." Kata Mommy.
__ADS_1
Mentari menundukkan kepalanya karena malu karena mulutnya yang mulai lemes tak bisa diajak kompromi. Seorang laki-laki tampan yang dimaksut dalam ucapannya tadi sebenarnya juga memperhatikannya di seberang tempat.
Aroma parfum semakin menyengat di hidung gadis cantik ini. Hatinya pun semakin dak-dik-duk- der.