
"Aku memang cantik sejak dulu." Kata Dita tanpa melihat ke kearah Briyan.
"Iya bahkan sangat dan sangat cantik kalau dilihat menggunakan sedotan." Jawab Briyan.
"Apa kamu bilang?" Tanya Dita dengan nada marahnya dan memukul lengan Briyan.
Dalam hati memang Briyan sangat kagum dengan Dita yang cantik, sederhana dan mandiri.
Briyan melangkahkan kakinya menuju hutan. Ia juga sudah lama tidak berjalan-jalan di tempat itu.
"Rasanya kok aku sendirian ya." Batin Dita
Saat menoleh ia melihat sudah ditinggal oleh Briyan. Dita pun berlari mengejar Briyan.
Ketika sudah dekat Dita menarik lengan Briyan hingga ia berhenti melangkah. Ia marah-marah karena telah ditinggal tadi. Bukan tanpa alasan ia marah.
Briyan yang merasa telingnya sudah panas mendengar ocehan wanita yang bersamanya hanya terus berjalan menuju sebuah tempat.
Dita yang terus saja marah-marah akhirnya terdiam hanya dengan jari telunjuk dari Briyan yang di arahkan pada bibir merahnya. Setelah diam baru laki-laki ini menunjukkan sebuah air terjun yang ada di depannya.
Air terjun yang sungguh sangat indah. Karena terbawa emosi Dita tidak sadar dari tadi sudah berada di tempat yang bagaikan surga.
Air sungai mengalir di bawah air terjun dengan air yang masih sangat bersih. Udara yang segar membuat pikiran pun nyaman.
Ia pun turun ke sungai merasakan dinginnya air. Bebatuan besar pun tampak beberapa, biasa digunakan untuk duduk.
Briyan yang melihat kegembiraan di wajah wanita itu tersenyum penuh arti.
"Ayo turun." Ajak Dita yang kakinya sudah basah dengan air sungai.
Briyan yang masih berdiri di salah satu batuan besar itu pun tak sadar ia duduk di batu itu dengan bersila. Dita masih mengajak terus Briyan untuk turun ke sungai.
"Elu cuma mau bertapa di situ?" Tanya Dita
"Iya, aku nunggu bidadari yang mau jadi istri ku." Kata Briyan dengan santainya.
Jarang sekali bahkan hampir tidak pernah daerah ini dilewati seseorang. Hal itu dapat dilihat dari kondisi tempatnya yang sangat bersih tanpa ada jejak sedikit pun.

Ini gambaran air terjun tempat Briyan dan Dita sekarang.
Dita menghampiri Briyan yang baru duduk bersemedi. Ia memercikkan air ke baju yang Briyan kenakan. Hingga ia sangat basah. Akhirnya Briyan turun dan membalas Dita. Terjadilah perang air antara Briyan dan Dita.
Mereka berdua basah kuyup akibat permainan perang air tersebut. Keduanya tertawa lepas tanpa ada beban sama sekali. Jarang sekali mereka merasakan kebahagiaan seperti ini.
Tanpa terasa waktu semakin sore. Briyan membantu Dita untuk naik dari air. Tersadar Dita tidak memakai pakaian gantinya.
"Waduh kenapa aku sebodoh ini tadi sih." Kata Dita yang merutuki kecerobohannya sendiri sambil menepuk keningnya sendiri.
"Emang siapa yang bilang kalau kamu pinter?" Ledek Briyan sambil berjalan dengan cepat melewati dan meninggalkan Dita yang masih mematung.
"Dasar jomblo abadi." Balas Dita sambil mengejar Briyan.
"Udah jangan ngomel melulu, ntar cepet nikah lho." Kata Briyan.
"Amin." Ucap Dita.
"Tapi nikahnya sama aku." Celetuk Briyan.
deg deg deg deg deg
Jantung Dita sudah senam di dalam tubuhnya. Ia memegang dadanya sangat erat.
"Bisa antar aku ke rumah sakit sekarang?" Pinta Dita.
"Elu sakit?" Tanya Briyan sambil meraba kening Dita.
"Gak panas gitu kok." Lanjutnya.
Briyan baru menyadari kalau Dita sudah tahu memegang dadanya.
"Udah sana masuk, di dalam ada baju ganti. ganti baju mu dulu sana! Perintah Briyan.
"Iya, bawel." Balas Dita.
"Bawal itu bukannya nama ikan ya?" Kata Briyan sambil tertawa kecil.
Dita dalam mobil masih berpikir-pikir akan kah harus berganti baju di sini. Ia melihat pada sekelilingnya.
"Jaga mata elu!" Teriak Dita.
Di luar Briyan malah menyanyikan lagu milik Opik yang judulnya "Jagalah hati.🤔🤔🤔 setelah mendengar teriakan Dita baru saja.
Sambil bersenandung laki-laki ini melihat ke sekitar. Ia hanya memastikan tidak ada yang mengintip Dita yang sedang berganti pakaian. Termasuk juga dirinya.
Di dalam mobil Dita mengganti pakaian yang disiapkan oleh Briyan. Saat melihat Bra dan CD nya juga ada ia jadi tertawa geli melihatnya.
Bagaimana pria ini menyiapkannya. Semua lengkap. 😇😇😇
Kini giliran Briyan yang mengganti pakaiannya, setelah Dita keluar dari mobil.
"Syahdu." Ceketuk Dita.
Mendengar ucapan Dita, Briyan mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu yang dimaksud wanita itu.
"Masuk." Perintah Briyan.
Setelah Dita masuk dan mengenakan sabuk pengamannya dengan benar, ia mulai melajukan mobilnya. Briyan melihat wanita di sampingnya ini tersenyum-senyum senyum sendiri.
"Ada apa senyum-senyum sendiri?" Tanyanya.
"Gak ada apa-apa." Jawab Dita.
Hening
Hening
Hening
Masih ada suatu tempat yang mesti dikunjungi oleh Briyan sebelum ia mengantarkan sebuah kejutan untuk wanita yang duduk di sampingnya ini. Ia tidak mau menjalin hubungan yang tak pasti.
Briyan berusaha untuk menerima semua keputusan yang harus dia terima nantinya.
*** **** *** ****
Apasih yang ada dipikiran Dita sampai-sampai kakak Ditanya senyum-senyum sendiri.
Itu PR ya untuk kalian, bukan hanya pr untuk kakak Briyan.
♥️♥️♥️♥️
85
Kemana sang pengemudi akan mengendarai mobilnya itu. Hanya sang sopir yang tahu.
Briyan berusaha untuk menerima semua keputusan yang harus dia terima nantinya.
*** **** *** ****
Apasih yang ada dipikiran Dita sampai-sampai kakak Ditanya senyum-senyum sendiri.
kruuk kruuk kruuk
Sopir mendengar sesuatu berbunyi dari dalam perutnya. Ia sangat malu karena cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdemo. Untung saja saat ini mereka masih berada di sekitar keramaian kota.
Tidak banyak juga hotel dan restoran yang ada di pinggir jalan. Briyan menghentikan mobil di salah satu rumah makan yang sangat sederhana.
Menu makanan di rumah makan ini tidak kalah bervariasi dari restoran mewah atau pun makanan yang ada di hotel berbintang sekalipun. Mengenai rasa juga tidak kalah dan harga juga terjangkau.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 mereka baru makan siang. Dita juga baru menyadari kalau laki-laki yang ada bersamanya ini tadi pagi cuma makan roti tawar dan segelas susu.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka memilih tempat yang agak leluasa untuk mereka melepaskan penat. Mata Dita melihat disetiap sudut ruangan tapi tidak menemukan tempat yang kosong dan benar-benar nyaman.
Pelayan pun menghampiri mereka menunjukkan tempat yang benar-benar nyaman. Pelayanan yang sungguh sangat bagus dibandingkan dengan yang lainnya.
Tepat di tengah taman dengan tikar yang lumayan luas dengan meja tepat di tengah tikar itu. Bisa dipakai untuk makan lebih dari lima orang.
Briyan dan Dita pun duduk di atas tikar tersebut. Dita pandangannya pun menyapu ke segala penjuru.
"Nyaman." Kata Dita penuh kekaguman.
Mereka duduk dengan kaki bersila. Tak lama seorang pelayan memberikan daftar menu makanannya. Saat pelayan itu datang mereka pun terdiam.
"Nasi, lalapan, ayam, dan sup." Kata Dita.
__ADS_1
"Saya sama saja." Kata Briyan.
"Minumnya jus jeruk sama air kemasan dingin." Lanjut Dita.
Pelayan itu pun meninggalkan meja Briyan dan Dita.
"Setelah ini antar aku pulang." Kata Dita.
"Belum bisa." Balas Briyan pelan dan tegas.
"Aku sudah janji sama ibu ku mau ke ke tempatnya hari ini." Jelas Dita.
"Tenang lah." Kata Briyan meyakinkan.
"Kamu gak akan menyesal setelah satu tempat lagi atau mungkin dua tempat lagi." Jelasnya lagi.
Pembicaraan mereka terhenti setelah seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Silahkan Tuan, Nyonya." Kata Pelayan.
"Terimakasih." Balas Dita.
Mereka berdua makan dengan tenang sambil menikmati suasana romantis ini.
Selesai makan mereka segera menuju tempat parkir. Tanpa sadar mata Briyan menangkap wajah seseorang yang ia kenal.
Sesosok pria yang memiliki banyak teman kencan sejak sekolah dulu. Dia adalah Jonathan.
Jonathan terkenal seorang casanova. Sebelumnya ia adalah laki-laki yang setia pada pasangannya.
"Hai, Nyet, apa kabar?" Sapa Jonathan.
Briyan dan Jonathan bersalaman kemudian berpelukan ala laki-laki. Mereka saling menepuk-nepuk punggung lawannya.
"Baik." Balas Briyan
"Bening." Kata Jonathan.
"Jaga mata lo Jo." Kata Briyan penuh ancaman.
Briyan melihat tatapan mata Jonathan yang penuh hasrat. Briyan seketika itu merasa sangat marah. Tapi ia juga masih bisa berpikir dengan jernih.
"Emang ni cewek pacar ku?" Tanya Jonathan yang tahu kalau Briyan masih jomblo abadi.
"Akan jadi mantan pacar." Balas Briyan.
"Pacar aja bukan masak mantan pacar." Kata Jonathan dengan senyum meremahkan.
Briyan yang merasa diremehkan langsung memeluk pinggang Dita menariknya masuk mobil. Ia ingin membuktikannya pada Jonathan kalau Dita adalah pacarnya. Tujuannya adalah agar Jonathan tidak mengganggu Dita.
"Aku duluan ya Jo." Pamit Briyan.
Briyan dan Dita sudah masuk dalam mobil dan memasang sabuk pengaman mereka. Saat perjalanan hanya tercipta keheningan.
"Maaf." Kata Briyan tiba-tiba memecah keheningan.
Dita tiba-tiba menoleh menatap lekat wajah laki-laki yang ada di dekatnya. Tapi ia juga tak banyak bertanya. Dia bukan orang yang suka ingin tahu mengenai orang lain alias juga bergosib.
Dita bisa melihat teman Briyan tadi adalah laki-laki yang suka menggoda banyak wanita alias buaya darat.
Mereka hampir sampai di tempat tujuan berikutnya. Waktu menunjukkan pukul 17.00. Briyan menghentikan mobilnya. Mereka turun dan berjalan di tepi pantai.
"Lama tidak melihat sunset." Kata Dita.
Setelah lama berjalan ia menghadap pantai merentangkan kedua tangannya. Ia merasakan terpaan angin yang menyerang badannya.
Rasa damai membuatnya tak sadar dengan seseorang yang telah berdiri di sampingnya. Ia sebenarnya ingin menunjukkan lebih dari ini. Waktu semakin malam hingga ia pun tersadar.
"Masih mau di sini?" Tanya Briyan dengan dingin.
"Pulang." Jawan Dita.
"Baiklah." Balas Briyan.
Waktu sudah gelap hingga Briyan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Ia tidak mengantarkan pulang tetapi ke rumah orang tua Dita.
"Bukan ini jalannya kan?" Kata Dita dengan nada terkejut.
Wanita ini mengenali jalan yang dilalui mereka. Tapi dalam pikirannya ia tidak tahu akan dibawa kemana.
"Santailah. Aku tidak akan menculik mu." Kata Briyan.
"Sudah sampai." Kata Briyan sambil melepas sabuk pengamannya.
Briyan turun dan membukakan pintu mobil untuk Dita. Dita tak bisa berkata-kata. Ia bahkan hanya melihat rumah yang ada didepannya dengan mata membulat.
"Gak turun?" Tanya Briyan.
"Bukankah ini tujuan mu?" Sambungnya lagi.
"Atau mau pulang sekarang?" Pilihan Briyan karena Dita tidak segera turun.
Dita langsung turun dari mobil. Sebuah suara membuatnya terkejut.
"Tidak mengajak ku ke rumah mertua?"
Deg
Mertua tidak salah dengarkah? Hatinya semakin tak karuan.
"Ayo." Ajak Dita.
Briyan dan Dita berjalan menuju rumah beriringan. Sampai di depan pintu ia pun memencet bel rumah sang ibu.
Ting Tong Ting tong
Pintu dibuka oleh asisten rumah tangga ibu Dita. Briyan kembali ke dalam mobil untuk mengambil beberapa buah tangan.
"Mau kemana?" Tanya Dita melihat laki-laki itu berjalan.
"Duduk lah dulu!" Sambung Dita.
"Sebentar, nanti aku kembali." Balas Briyan.
Dita bertanya pada Bi Ijah sambil masuk ke dalam dapur. Ia membuatkan minum untuk tamunya.
"Ibu kemana Bi?" Tanya Dita.
"Ibu pergi ke minimarket di seberang katanya." Balas Bi Ijah.
Briyan sudah duduk kembali di teras rumah Ibu Dita. Ia meletakkan buah tangan itu di atas meja.
Selesai membuat minuman Dita pun keluar membawa minuman dan beberapa cemilan. Melihat meja sudah penuh dengan buah tangan yang dibawanya tadi ia memanggil asisten rumah tangga ibunya untuk memindahkannya ke dalam.
"Minumlah mumpung masih hangat." Pinta Dita.
Memang udara di desa ini dingin. Minuman hangat bisa menghangatkan tubuh.
Tanpa disadari sepasang mata telah mengintai mereka sejak lama. Siapa dia???
*** *** *** ****
Maaf Kakak selingkuh dulu ceritanya ke Asisten Adrean sang Pangeran Ganteng.
♥️♥️♥️
86
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka yang duduk di depan teras.
"Ibu." Sapa Dita sambil berdiri.
Ibunya hanya menganggukkan kepala sambil memejamkan mata sebentar.
"Duduklah." Perintah sang Ibu.
"Aku akan menaruh belanjaan di dalam dulu." Kata Ibu sambil melihat laki-laki yang bersama anaknya.
"Silahkan Ibu." Balas Dita dan Briyan bersamaan.
Ibu Dita masuk ke dalam rumah. Tak lama ia pun keluar menemui mereka.
"Maaf saya tadi terlambat mengantar putri Ibu." Kata Briyan.
"Tidak apa-apa Nak." Kata Ibu.
__ADS_1
"Sebaiknya kita mengobrol di dalam." Perintah Ibu.
Mereka akhirnya berjalan masuk menuju ruang tamu. Setelah mereka duduk Briyan tanpa basa basi menyatakan maksudnya. Hal itu tidak pernah diduga oleh Dita.
"Bu, Maaf sebelumnya. Saya ingin melamar Dita sebagai istri saya." Kata Briyan.
Deg
Sungguh Ia tidak mengira laki-laki ini langsung melamarnya. Aliran darah seakan berhenti jantungpun berhenti berdetak. Rasa takut pada sang ibu akan kemarahannya. Bahkan menolak niatan laki-laki ini baru saja.
Pasalnya Dita tidak pernah bercerita mengenai seorang laki-laki pun pada sang ibu. Apalagi mengenakannya pada ibunya. Sama sekali ia tidak pernah membawa pulang seorang laki-laki.
Ibunya pun terkejut mendengar penuturan laki-laki yang saat ini berada di rumahnya. Ia melihat anak gadisnya penuh dengan arti.
Sang Ibu dan Dita pun saling tatap hingga sebuah suara menyadarkan mereka.
"Bagaimana Bu?" Kata Briyan sambil mengambil sebuah kotak perhiasan yang berada di saku celananya.
"Ibu menyerahkan keputusannya pada anak Ibu. Masa depan kehidupannya dia sendiri yang merasakannya. Ibu tidak akan ikut campur. Ibu hanya bisa memberikan restu." Jelas Ibu Dita yang panjang kali lebar.
Dita akhirnya mengangguk perlahan. Itu berarti ia menyetujui untuk menerima lamaran Briyan.
Cincin itu dicadangkan di jari manis calon istrinya. Sebuah senyum tampak terbit di wajah keduanya.
"Kenapa lamaran mendadak seperti ini, ibu kan jadi gak ada persiapan sama sekali." Batin Dita merasa malu.
Dita yang tujuan awalnya mau menjemput sang Ibu kini malah bertambah dengan lamaran dadakan. Dita memang usianya sudah sangat cukup untuk berkeluarga.
Ibunya juga sudah mulai khawatir kalau dia akan menjadi perawan tua. Wanita sekarang dipikirnya hanya mengejar karir tanpa berpikir untuk berumah tangga.
Waktu sudah semakin larut malam. Ibu diminta untuk ikut bersama Dita ke Kota menemaninya.
Sekitar pukul 22.15 mereka sudah selesai berkemas. Rumah kediaman Ibu Dita untuk sekarang didiami oleh seorang asisten rumah tangga.
Briyan, Dita, dan sang ibu berangkat ke kota malam ini. Saat ini Briyan sebagai sopir seorang wanita cantik yang akan jadi istrinya.
Dita duduk di kursi penumpang bersama ibunya. Mereka bercerita banyak hal. Dari sana laki-laki yang menjadi sopir itu tahu kehidupan istrinya itu seperti apa serta bagaimana sifatnya.
***** Kediaman Adrean dan Alfian ****
Adrean dan keluarganya tidak beranjak dari kediaman mereka biarpun itu hari libur. Mereka menghabiskan waktu hanya di rumah saja. Mereka keluar hanya waktu-waktu tertentu.
Keluarga Alfian pun juga menjalani keseharian yang sama hingga satu tahun. Mammy sampai saat ini belum memiliki anak lagi belun juga dikasih kepercayaan dari Allah.
Waktu berjalan sangat cepat hingga setahun sudah Briyan dan Dita belum juga menikah. Sekarang mereka sudah akan merencanakan pernikahan mereka.
Pernikahan mereka juga hampir bersamaan dengan pernikahan Alfian dan Mentari. Mentari menikah saat mereka sedang menunggu hasil kelulusan dari sekolahnya.
Kembali dari perjalanan menjemput Ibu Dita pagi harinya mereka sudah beraktivitas seperti biasa. Hal baru yang bisa dilihat oleh orang lain. Sebuah cincin yang melingkar di jari-jari mereka.
"Sepertinya ada yang beda dari penampilan kamu?" Tanya Adrean yang sejak tadi melihat asistennya sibuk sekali padahal tidak banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Datanglah sobat." Kata Briyan dengan memberikan sebuah undangan pernikahan pada sahabatnya.
"Kenapa gak pernah bilang Bro kalau elu mau nikah?" Tanya Adrean.
"Kejutan aja." Kata Briyan.
Adrean memang sangat terkejut pasalnya sahabatnya tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Ia hanya tahu seorang wanita yang dekat dengannya hanya Dita.
"Jadi siapa ni wanita yang beruntung mendapatkan cinta perjaka tua ini?" Ledeknya Adrean.
"Enak aja tua, gini-gini juga masih perjaka orisinil." Kata Briyan.
"Orisinil?" Tanya Adrean sambil tersenyum smirk dan menaik turunkan alisnya untuk menggoda Briyan.
"Mau buktiin." Kata Briyan.
"Ih ogah. Tolak Briyan.
"Lagian gimana mau ngebuktiinnya?" Lanjutnya.
Keduanya tertawa lepas membayangkan bagaimana membuktikannya. Sungguh menjadi PR ini buat para kaum pria.
"Cepet nikah aja, biar itu tongkat sakti gak karatan." Perintah Adrean sambil tersenyum jahil.
"Iya biar diasah sama nenek lampir." Kata Briyan.
"Lanjutin aja pekerjaan mu biar cepat selesai." Perintah Adrean pada Briyan.
"Aku ke ruangan ku dulu, ada yang pekerjaan yang mau aku selesaikan." Pamit Adrean.
Memang Adrean dan Briyan adalah sahabat yang tatkala mereka sudah berbincang-bincang bisa lupa waktu. Adrean dalam ruangan itu segera menyelesaikan pekerjaannya. Dalam pikirannya itu sudah merencanakan sesuatu untuk sahabatnya yang sekaligus asistennya.
*** *** *** *** ***
♥️♥️♥️♥️
87
Saatnya pulang kerja. Semua karyawan sudah bergegas untuk pulang. Begitu juga dengan sepasang sahabat karib ini.
Adrean dalam perjalanan pulang sedang berpikir sesuatu. Ia ingin merencanakan sesuatu untuk sahabatnya. Rencana itu harus lah dibicarakan dengan keluarganya.
Briyan dalam perjalanan biasanya hanya dengan wajah tanpa ekspresi lain dengan hari ini. Ia senyum-senyum sendiri seperti orang kesambet dedemit.
Briyan ingin mengutarakan maksut menikah dengan Dita waktu dekat ini. Ia tidak ingin berlama-lama lagi menjalani kejombloannya lebih lama. Apalagi akhir-akhir ini Bapak dan adiknya terus mendesaknya untuk segera menikah.
Besuk adalah malam minggu. Rencananya ingin mengajak Dita pergi nonton.
dreeeeet dreeeeet dreeeeet
Ponsel pun bergetar di atas nakas. Dilihat siapa yang mengirimnya pesan. Dita yang saat itu berada di atas tempat tidurnya sambil memangku laptopnya tersenyum.
Laptop ditutupnya dengan kata lain pekerjaannya dihentikan terlebih dulu. Dita pun mengambil ponsel yang terletak di atas nakas tersebut. Dibukanya pesan dari seorang laki-laki.
"Sudah tidur?" Tanyanya tanpa bosa basi.
"Belum." Jawab dari orang disebrang.
"Besuk ada waktu kah?" Tanyanya lagi
"Ada." Balasnya.
"Nonton yuk?" Ajak Briyan.
"Baiklah." Balasnya.
Dita setelah membalas pesan chat dari Briyan enggan membuka laptopnya lagi. Ia segera beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Ritual sebelum tidur pun sudah selesai. Dita segera membaringkan tubuhnya. Ia pun memejamkan matanya hingga ia pun terlelap.
*** *** *** Kediaman Adrean *** *** ***
Adrean segera memarkirkan mobilnya di bagasi. Ia disambut dengan gembira oleh keluarganya. Ya, begitulah kesehariannya istri, anak perempuan dan ketiga kurcaci yang selalu menyambut kepulangannya itu.
Adrean menuju kamar berjalan beriringan dengan sang istri. Istrinya menyiapkan segala keperluan pakaian ganti untuk sang suami.
"Akh." Pekik Mama yang merasa tiba-tiba sebuah tangan besar menarik tangannya hingga ia berbalik menabrak tubuh kekar suaminya.
Kini Papa memeluk tubuh sang istri melarangnya keluar dari kamarnyanya.
"Lepasin sayang, aku akan memasak untuk makan malam." Pinta Mama.
"Sebentar lagi ya." Pinta Papa
"Setelah makan malam ada yang ingin aku sampaikan pada mu dan Tari. Datanglah ke ruang kerja ku ya sayang." Kata Papa.
Ceklek
Pintu kamar tiba-tiba dibuka oleh ketiga kurcaci kecil kenangan keluarga. Mereka melihat kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.
"Apa yang kalian lakukan? Tanya Daffa dengan polosnya.
"Papa itu membuat Mama sesak napas kalau di peluk seperti itu!" Kata Axel sambil mendorong Papanya agar melepaskan Mamanya.
*Ho o kamu ketahuan
peluk diriku
di dalam kamar*.
Sang mama menyanyikan lagu itu sambil melangkah pergi meninggalkan kamar.
"Ingat ya Papa, Mama itu cuma milik kami." Peringkat Axel.
__ADS_1
Mama sudah menuju dapur mulai bertempur dengan peralatan masaknya. Seperti biasa ia dibantu oleh anak gadisnya.
Masakan pun telah masak. Semua terhidang di meja makan. Harumnya masakan sangat mengundang selera makan.