Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 44. Pasti Akan Ketemu


__ADS_3

Gadis itu menundukkan kepala bukan berarti takut pada pemuda itu tetapi dia merasa sangat berhutang budi padanya.


"Ayo kembali ke kamar mu." Kata pemuda itu mengajak Sinta dengan suaranya yang tegas.


"Jangan sampai aku memaksa mu." Lanjutnya saat melihat gadis itu hanya berdiri mematung.


"Kamu tidak mau mempersulit ku kan?" Tanya pemuda itu lagi.


Gadis itu mengikuti Briyan dari belakang dengan menundukkan kepala. Dia akan merasa lebih bersalah lagi jika pemuda yang ada didepannya mendapat hukuman.


"Kenapa kamu bisa keluar dari sana?" Tanya Briyan saat berjalan memasuki lobi.


"Kenapa kamu keluar dari kamar sedangkan kondisi tubuh mu sendiri saja belum pulih?" Tanyanya lagi.


Thing


Pintu lift terbuka dengan lebar Sinta dan Briyan memasuki lift khusus itu. Semua pertanyaan yang dilemparkan pemuda itu tidak satu pun dijawab karena rasa bersalahnya.


Thing


Pintu lift terbuka kedua orang yang menggunakan lift tadi keluar dan langsung menuju ruangan Adrean. Pemuda itu masih sibuk di ruang kerjanya karena belum tahu kepergian gadis itu.


Bel yang terletak di luar pintu itu ditekan berkali-kali. Pemilik hotel tidak begitu memperhatikannya karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera kembali ke negaranya berasal.


Merasa bunyi bel itu mengganggu akhirnya dia memutuskan mengalihkan monitornya pada pintu depan. Pada layar monitor terlihat seorang gadis yang dikenalnya bersama asistennya itu.


"Sejak kapan dia keluar dari kamarnya?" Tanya Adrean dalam hati.


"Kenapa aku tidak tahu." Lanjutnya.

__ADS_1


Pemuda itu keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu. Dia berjalan mendekati pintu untuk membuka pintu itu.


Ceklek


Suara handle pintu diputar oleh pemiliknya hingga pintu itu terbuka. Di depan ruangan itu tampak dua orang yang sudah menunggu lama di sana.


Adrean langsung membalikkan badan masuk ke dalam ruang tamu. Di sana hanya ada kesunyian yang tercipta.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Bel ruangan hotel ini berbunyi hingga memecahkan keheningan. Pemilik ruangan ini tidak pernah menerima tamu di ruangan ini.


Briyan kembali berjalan menuju pintu ruang depan untuk membukakan pintu. Pemuda itu bisa menebak siapa yang berkunjung kali ini.


"Masuklah." Titah lagi.


"Pastinya ada hal penting yang ingin kamu katakan hingga membuat mu kembali kan?" Tanya Adrean yang pikirannya gagal fokus lagi.


"Tidak, hanya saja aku tadi melihat orang itu hampir pergi dari sini." Kata Aldo menjelaskan.


"Dia sedang mencari sesuatu sepertinya." Katanya lagi.


"Jelas wajahnya menunjukkan sebuah ke khawatiran hingga dia harus menyamar seperti itu." Katanya lagi.


"Bukan urusan mu kan?" Tanya Adrean yang moodnya hari ini tidak ada.

__ADS_1


"Baiklah aku hanya memastikan saja kejadian tadi." Kata Aldo menjelaskan.


"Aku permisi." Lanjutnya saat berdiri kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


Briyan yang saat itu masih berada di ruang tamu hanya diam saja menunggu perintah dari Bosnya itu. Dia tahu pemuda yang bersamanya itu sedang dalam keadaan tidak stabil karena kecolongan.


Gadis itu merasa lega tidak mendapat berbagai macam pertanyaan dari Adrean orang yang telah mencoba menolongnya saat ini. Sinta mencoba menenangkan pikirannya mengenai liontin itu.


"Pasti akan ketemu." Kata Sinta dalam hati mencoba optimis.


"Jika tidak apa yang harus aku katakan pada Bunda jika aku menyusulnya? Lanjutnya hingga tertidur.


Badannya cukup merasa lelah hari ini hingga dia bisa tertidur lagi walaupun tidak nyenyak. Kondisi tubuhnya yang masih lemah membuatnya merasa cepat lelah ditambah lagi obat tidur dari dokter yang masih ada reaksi terhadap tubuhnya.


Adrean tidak berani langsung bertanya padanya hari ini setelah mendengar perkataan dari Dokter Marco yang merupakan sahabatnya itu. Dia takut akan menjadi beban yang lebih pada gadis itu.


"Aku tahu maksut mu kembali." Kata Adrean pada asistennya itu.


"Terimakasih." Lanjutnya.


"Tidak usah berterimakasih." Kata Briyan.


"Itu tidak sebanding dengan semua kebaikan mu." Lanjutnya.


"Mau teh hangat?" Tanya Briyan berjalan menuju dapur untuk membuat minuman.


"Boleh." Jawab Adrean singkat.


Briyan menuju dapur untuk membuat dua gelas minuman. Di tempat ini memang semua harus dilakukan sendiri sebab pemiliknya melarang orang lain untuk masuk tidak terkecuali.

__ADS_1


Seorang pemuda menuju kamar seorang gadis yang sudah tertidur lelap ketika asistennya itu membuat teh hangat. Dia melihat secara intens wajah gadis itu dan diselipkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


__ADS_2