Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 41. Mengigau


__ADS_3

Di depan pintu masuk kamar yang ditempati Adrean saat ini berdiri dua orang yang laki-laki tampak garang dan yang satunya tampak cupu dengan tompel imitasi yang dipakainya. Aldo tampak terkejut ketika membuka pintu tersebut hendak meninggalkan sahabatnya itu.


"Siapa orang yang bersama monster itu?" Batin Aldo saat melihat seseorang yang ada di samping Briyan.


"Yang benar saja masak monster bersama badut?" Lanjutnya.


Kedua asisten itu saling tatap dengan pikirannya masing-masing. Mereka berpapasan tetapi tidak bertegur sapa walaupun memiliki satu atasan yang sama.


"Lumayan juga sekretaris mu?" Kata Aldo untuk pertama kali menyapa tetapi sayangnya sapa'an itu adalah sebuah ejekan.


"Dari mana kamu tahu?" Tanya Briyan tersenyum seakan tidak peduli dengan semua ucapan yang baru saja dikatakan seorang pemuda baru saja terhadap dirinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Briyan.


"Aku mau pergi ada urusan banyak, dari pada di sini bisa menyakiti mata ku." Jawab Aldo.


"Tidak mau melihat pertunjukan yang nantinya akan bikin kamu menyesal dengan perkataan mu baru saja?" Tanya Briyan.


"Pertunjukan yang akan membuat Sang Atasan pingsan?" Kata Aldo dengan sinis.


"Masuklah mungkin Pak Adrean sudah menunggu mu." Lanjutnya yang terdengar oleh Adrean.

__ADS_1


"Kalian kenapa ribut di sini?" Tanya Pak Adrean seperti sebuah bariton yang membuat terkejut semua yang ada di depan pintu.


"Maaf Pak, saya akan pergi dulu." Pamit Aldo.


"Kenapa dia jadi seperti ini?" Tanya Pak Adrean pada Asistennya Briyan dengan intonasi tinggi.


"Itu kenapa juga harus pakai tompel juga?" Tanyanya lanjut.


Pertanyaan yang beruntun terus saja dilemparkan tanpa ada jeda. Kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu tidak diberikan oleh atasannya.


Pemuda itu hanya mendengar semua pertanyaan yang diajukan tanpa menjawabnya. Dia memang memang seorang pemuda yang pendiam atau tidak banyak bicara apalagi membantah.


Gadis dengan penyamarannya itu badannya bergetar karena sedikit takut, bukan hanya karena itu tetapi karena kondisi fisiknya yang memang masih lemah. Sinta yang mendengar semua itu akhirnya angkat suara menjelaskan kejadian hingga dia harus berpenampilan seperti itu.


Pemuda itu terkejut ketika mendengar suara seorang perempuan yang baru saja angkat suara. Dia memutuskan untuk melihat sebuah kebenaran yang sesungguhnya dari gadis itu.


Aldo tidak menyangka kalau gadis itu sebenarnya sangat cantik walaupun tanpa sebuah polesan. Dia melihat semuanya secara nyata setelah semua penyamaran itu dilepas gadis itu sendiri.


"Jadi maksud monster itu ..." Kata Aldo dalam hati terputus.


"Makanya tadi setiap kata ku seakan sebuah Boomerang bagi ku." Lanjutnya.

__ADS_1


Aldo memutuskan untuk pergi dari hotel itu dan segera mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan sahabatnya itu. Dia tidak mau terlibat lebih jauh lagi jika dilihat dari penyamaran gadis itu.


Ting


Notifikasi pesan masuk mengenai jadwal penerbangan yang diperolehnya dari Aldo. Pesan itu tidak segera dibaca karena sibuk dengan masalah yang menyangkut seorang gadis yang ada bersamanya saat ini.


Adrean bersama dengan asistennya yang terlihat bringas itu menuju ruang kerja setelah Sinta menuju kamarnya. Pemuda itu berharap jika gadis itu betah tinggal di hotel ini.


"Jam penerbangan ku besuk sore, aku cuma bisa berharap semua akan baik-baik saja." Kata Adrean penuh harap.


"Masih butuh sesuatu?" Tanya Briyan.


"Tidak, saya hanya butuh kamu menjaga gadis itu dengan baik." Jawab Tuan Adrean.


"Baiklah, saya akan mengawasinya sendiri." Kata Sang Asisten.


Di sebuah kamar yang terletak paling atas sebuah hotel seorang gadis hanya duduk dengan pandangan yang kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di tempat itu.


Gadis itu tidak mau banyak berhutang pada orang lain. Sinta takut jika terjadi sesuatu pada orang yang telah menolongnya.


"Apa salah dan dosaku dahulu hingga orang lain harus menanggung akibat menolong ku." Kata Sinta perlahan meratapi nasibnya itu sekarang.

__ADS_1


Gadis itu mencoba menguatkan hatinya merasa kasihan dengan orang-orang yang menolongnya selalu saja menerima hal yang buruk. Orang-orang yang menolongnya memang pernah mendapat bantuan dari Almarhum Sang Ayah dahulu.


Gadis itu tertidur di sofa akibat dari obat tidur yang diberikan oleh dokter Marco yang diminumnya tadi masih terasa efeknya. Sinta bermimpi buruk hingga mengigau sangat keras.


__ADS_2