
Beberapa saat sebelum Pemuda itu menghilang dari pintu terdengar ponsel wanita sombong itu berbunyi. Semua karyawan sesaat melihat ke arah wanita itu karena penasaran dengan apa yang didengar oleh mereka baru saja.
"Apa?" Pekik seorang wanita.
"Tidak mungkin!" Teriaknya lagi hingga membuatnya lemas.
Terdengar bisik-bisik beberapa karyawan hingga bulu kuduk mereka berdiri merasa takut. Mereka takut diberhentikan juga, karena memang bekerja di mall itu sungguh sangat sulit.
Belanjaan yang tadi sempat akan dibeli oleh wanita itu ditinggal begitu saja dengan terburu-buru meninggalkan tempat itu. Wanita itu terlihat sangat khawatir saat pergi.
Sebuah mobil yang tidak terkesan mewah tapi cukup elegan melewati keramaian jalan di siang hari saat akhir pekan. Seorang pemuda dan gadis kecil berada di dalamnya.
"Merusak suasana saja." Keluh gadis itu dengan jutek.
"Kenapa?" Tanya Abang.
"Itulah kehidupan adik ku yang cantik." Jelas Adrean.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di sebuah taman yang ada di tengah ibu kota. Taman itu terlihat sangat bersih hingga terasa nyaman juga jika bersantai di tempat itu.
Pemuda itu mencari tempat parkir yang terdekat agar mereka tidak jauh berjalan menuju lokasi. Setelah mendapatkannya mereka segera turun dan berjalan-jalan berdua.
Suasana siang hari ini memang sangat panas sekali tetapi taman itu banyak ditanam banyak pohon sehingga terasa rindang. Bunga-bunga yang bermekaran menambah nilai keindahan taman ini.
Mereka berdua lupa waktu karena asik bermain di taman itu. Adrean dapat mengingat dengan jelas sewaktu masih kecil juga sering diajak Bapak dan juga Tuan Richat sering mengajaknya ke tempat ini hanya untuk menyegarkan pikiran.
Di Kediaman Utama sendiri sepasang suami istri sedang bermanja-manja an sejak kepergian Sang Putri. Mumpung ada kesempatan dalam kelonggaran.
"Ternyata pulangnya Adrean ada gunanya juga." Celetuk Sang Suami ketika istrinya sedang menyandarkan kepala pada bahu suaminya.
"Maksut mu?" Tanya Sang Istri melihat wajah suaminya dengan mengernyitkan kening.
"Kalau tidak sudah pasti dari tadi ada satpam." Jelas Ayah.
"Ayah itu anak mu, kenapa berkata seperti itu? Tanya Bunda.
"Bunda ku sayang, itu bukan anak ku." Kata Ayah.
Bunda menatap tajam Sang Suami tak percaya dengan apa yang diucapkan. Ayah seperti ingin diterkam kemudian dicabik-cabik seperti binatang buas.
Hening
Hening
Hening
__ADS_1
"Bunda memangnya suami mu ini mikroba yang bisa membelah diri?" Tanya Sang Suami pada istri tercintanya.
"Kalau mau keluar dari mana coba?" Tanyanya lagi.
"Bunda kan yang punya lobang untuk ngeluarin anak." Jelasnya.
"Jadi itu anak Bunda." Lanjutnya.
"Jadi kesimpulannya Ayah yang masukin bunda yang ngeluarin." Sambungnya lagi.
"Ayah otaknya perlu di laundri kayaknya." Saran Sang Istri.
"Mumpung ini akhir pekan." Lanjut Sang Bunda.
Untung saja di kediaman utama tidak ada orang lain selain anggota keluarga mereka sendiri, sebab laki-laki parah baya itu selalu saja memiliki omas yang tidak pernah travelling. Bi Inna jika masih bekerja pastinya dan mendengar apa yang mereka perbincangkan pasti akan merasa sungkan sendiri.
Rumah dan halaman sudah ada yang membersihkan sendiri. Penjaga keamanan juga berada di luar rumah jadi aman-aman saja buat Tuan besar untuk berkata apapun.
Bunda mendongokkan kepala melihat jam yang terpasang di dinding. Dia mulai memasak untuk makan malam.
"Ayo pulang, kapan-kapan lagi kita main kesini." Ajak Abang Adrean setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Bentar lagi ya?" Tawar Mentari.
"Ini kan lagi enak-enaknya, udara baru seger ini." Lanjutnya.
"Aku sih mau pulang sekarang asal, beli es cendol." Kata Gadis itu mengajukan syarat.
"Ok kita beli kalau masih ada yang jualan." Kata Seorang Pemuda tampan.
"Asal gak cawet aja." Lanjutnya.
"Wkwkwkwk." Keduanya tertawa lepas hingga orang-orang yang ada disekelilingnya mereka.
"Memangnya kamu tahu itu apa?" Tanya Abang Adrean.
"Tahu." Jawab gadis kecil itu singkat.
"Apa coba?" Tanya Abang Adrean ingin menguji.
"Berbentuk segitiga, kalau di pasar banyak tu yang dicentelin." Jelas Mentari.
"Mau tahu? Ayo ikut ke pasar." Ajak Tari menarik tangan Pemuda yang bersamanya saat ini menuju ke dalam pasar tradisional yang menyediakan perlengkapan pakaian.
"Nah itu tu." Kata Tari menunjuk barang yang dimaksud yang tertata di atas mereka.
__ADS_1
Pemuda itu mukanya menjadi merah, merah bukan karena marah seperti di mall tadi tetapi karena menahan malu Sang Adik menunjukkan ****** ***** wanita yang bertengger di atas sana. Laki-laki sangat jarang mengurusi barang wanita yang sangat tabu seperti itu.
"Dari mana Tari mendapat keberanian untuk ketempat seperti ini?" Batin Adrean.
"Apalagi Dia tidak merasa jijik dengan tempat yang tergolong masih kumuh." Lanjutnya.
"Baik lah sekarang sudah sore bukan?" Tanya Abang Adrean setelah berjongkok dan jari telunjuknya menunjuk ke langit.
"Alangkah lebih baik kalau kita segera pulang. Jika kita minta jalan-jalan biar dibolehin." Lanjutnya.
Mereka berdua melangkahkan kaki keluar dari dalam pasar itu. Keduanya saling bergandengan tangan, Mentari yang akan digendong oleh Sang Abang menolak dengan alasan sudah besar.
Abang Adrean membukakan pintu mobil depan sebelah pengemudi untuk gadis kecil tidak lupa memasangkan sabuk pengaman untuknya. Dia kemudian masuk dan menyalakan mobil itu.
Mbreeeem Mbreeeem Mbreeeem
Suara mesin mobil yang dinyalakan oleh pemiliknya terdengar halus. Mobil itu melaju perlahan seperti semut merayap.
Kemacetan itu membuat mereka terlambat sampai di kediaman utama. Jalanan memang sangat macet karena besuk memang sudah merupakan hari kerja setelah akhir pekan sehingga mereka yang berada di luar kota mengharuskan mereka kembali pada saat ini.
Mereka berdua terjebak dalam kemacetan jalan sangat lama, tetapi keduanya begitu menikmati hal itu. Mentari sebenarnya sangat lelah tetapi tidak dirasakan karena hatinya sangat senang.
Gadis itu akhirnya tertidur dengan nyenyaknya. Sesekali Abang Adrean menatapnya melihat wajahnya yang masih sangat polos dan menggemaskan.
Gerbang langsung dibuka ketika mereka sudah sampai di depan Kediaman Utama Tuan Richat tanpa membunyikan klakson. Mobil itu diberhentikan tepat di pintu masuk.
Kakak beradik yang baru tiba dari jalan-jalan itu disambut oleh Ayah mereka. Ayah langsung melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di badan Sang Putri.
"Turunkan aku Ayah." Tolak Sang Putri ketika merasakan ada seseorang yang menggendong tubuhnya.
"Ok. Ayah turunkan kamu sekarang memang sudah besar, hingga ayah kualahan sekarang." Kata Sang Ayah sambil menurunkan putri kecilnya itu.
"Sudah sana kalian mandi!" Titah Sang Ayah pada kedua anaknya.
"Kami tunggu di ruang makan." Lanjutnya.
"Apa Tari tadi merepotkan mu?" Tanya Sang Ayah berjalan beriringan dengan Adrean setelah Mentari berlari menuju kamar untuk mandi.
"Tidak." Jawab Adrean.
"Dia gadis yang pintar." Puji Adrean pada gadis kecil itu.
"Pergilah mandi dulu." Titah Sang Ayah yang diikuti dengan menepuk pundak Adrean.
Di dalam kamar mandi Mentari berendam sebentar di backtub dengan air hangat untuk mengurangi rasa capeknya. Dia tidak mau meninggalkan makan malam seperti biasa karena itu adalah moment kebersamaan buat mereka.
__ADS_1
Seorang pemuda sama halnya tidak butuh waktu lama untuk mandi. Dia segera menuju ruang makan karena merasa sudah ditunggu oleh keluarganya.