Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 151. Kebodohan


__ADS_3

Gadis itu masih dalam posisi yang sama tidak berubah tempat ataupun berubah posisi karena masih marah. Sesekali ia melirik Ziko yang telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu.


Seperti tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Ziko terbiasa sesantai mungkin menghadapi berbagai situasi.


"Aden sudah ditunggu sama Bibi?" Kata salah satu penjaga rumah itu setelah Ziko keluar dari sarangnya. (Authornya biar mengacaukan pikiran kalian sedikit).


"Oh. Baiklah Pak saya akan segera mengambil barangnya." Kata Pemuda itu sopan biarpun dia hanya seorang pembantu.


"Silahkan Aden." Kata penjaga rumah itu sedikit mencuri pandang pada gadis yang ada di dalam sarang warna merah cerah itu.


"Sombong sekali gadis yang bersama tuan Ziko." Batin Sang Penjaga Rumah.


Penjaga rumah berpikir kalau gadis yang ada dalam mobil itu mungkin terlihat sombong dengan gayanya yang seperti itu. Pada kenyataannya ia marah karena ada yang mencuri peluk dan ciumnya.


Keduanya memang bukan yang pertama kali melakukan hal itu. Kejadian seperti itu terjadi pada orang yang sama dan yang pertama tidaklah disengaja.

__ADS_1


"Gak mau turun dulu?" Tanya seorang pemuda dari luar mobil dengan membungkukkan badannya agar kepalanya bisa terlihat oleh gadis yang ada di dalam.


"Gak." Jawab gadis itu singkat masih dengan nada amarah yang membuncah.


Pemuda itu tidak segera masuk ke dalam rumah utama milik Alfian. Ia hanya menyandarkan tubuhnya tepat pada sisi luar pintu mobil terlihat begitu santai.


Niatan menunggu gadis yang ada di dalam mobil ikut keluar dari dalam malah ia terkena sengatan matahari yang cukup panas. Keringat pun mengalir seperti layaknya air sungai.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


"Gak segera bergerak mengambil barang." Kata Sang Gadis itu dengan nada yang sedikit sadis.

__ADS_1


"Mau kamu gak dapat gaji sama bonus bulan ini." Lanjutnya dengan ketus.


Pemuda itu hanya mendengarkan gadis yang ada di dalam mobil. Ia hanya menganggap peringatan gadis itu sebagai suara merdu walaupun sadis di dengar.


Pemuda yang masih menyandarkan badannya itu dengan tangan bersilang di depan dada kini mengambil ponsel yang baru saja bergetar di saku celananya. Ia membelalakkan mata saat melihat Id yang tertera di layar ponsel.


Isi pesan tidak lah berbeda dari biasanya berupa ancaman. Alfian hanya mengancam pada Asistennya itu saja tidak berlaku untuk karyawan lain.


Berupa sebuah ucapan tidak lebih. Ancaman hanya sebuah kata-kata tapi tidak pernah ia lakukan.


Pemuda itu pun mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah besar itu. Ia mengambil koper yang berisi beberapa pakaian pemilik rumah.


"Ini Den semua pesan yang harus dibawa ke rumah sakit." Kata seorang wanita paruh baya yang sudah menjadi ART di tempat ini puluhan tahun lamanya.


"Tadi pagi Tuan sudah menghubungi saya untuk membawakan semua pakaian ini." Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Asisten Ziko membawa koper itu tanpa mengecek ulang apa saja yang harus dibawanya. Ia tidak ingin mengobrak-abrik lagi isi koper yang sudah ditata oleh asisten rumah tangga itu karena waktu memang sudah sangat mengejarnya.


Waktu memang tidak mengejarnya tapi pemilik koper itu lah yang selalu menyuruhnya untuk segera mengantarkan barang tersebut. Ia berjalan dengan langkah yang lebar dan sedikit berlari sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di mobil merah itu merona itu.


__ADS_2