Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 157. Penyusunan Rencana


__ADS_3

Ketiga orang yang masih menikmati makanan yang tersaji di atas meja itu menghentikan aktivitas mereka. Mereka memandang arah perginya laki-laki itu.


Seketika mendengar perkataan itu tadi mereka jadi tidak bisa menelan makanan itu lagi. Terasa sulit untuk menelan makanan itu lagi masih terpikir dengan ucapan laki-laki itu.


Anak yang ikut mengalami pasang sebuah kehidupan juga mengalami tragedi yang seharusnya tidak dia alami kini sudah saatnya melepas masa lajangnya. Deddy ingin memberikan sebuah pesta yang sangat megah padanya sebagai hadiah atas pernikahannya.


Hadiah itu diberikan karena selama ini ia mampu menjaga sebuah kepercayaan dari Deddy. Bangkit dari keterpurukan masa itu bahkan bisa lebih berkembang dengan usahanya sendiri.


Deddy yang pergi ke lantai atas menuju ke kamar Alfian. Ia tidak mendengar suara apapun ketika hendak membuka pintu kamar itu.


Mammy setelah sampai di rumah malah kembali seperti dahulu kala. Ia hanya bisa beristirahat di kamar anak laki-lakinya.


Pemilik kamar memakluminya hingga membiarkan mammy melakukan aktivitasnya di kamar Alfian. Hal itu menjadi pertimbangan Sang suami karena sesuatu hal.


Mammy tertidur dengan nyenyaknya hingga ia tak menyadari kedatangan suaminya. Biasanya selalu peka dengan suara apapun biarpun sangat kecil, akan tetapi tidak untuk kali ini.


Deddy pun keluar dari kamar tempat dimana Sang Istri tertidur pulas. Ia berjalan mengendap-endap seperti pencuri karena takut membangunkan istri tercintanya.


Deddy mengerti Sang Istri sangat capek karena hampir semalam ia tidak tidur. Saat berada di rumah sakit ia tidak mau istirahat karena ada teman berbincang sedangkan saat di rumah ia tidak ada teman untuk melakukan itu.


Keluar dari kamar pintu pun segera ditutup kembali dan Deddy terlihat berjalan menuruni anak tangga. Ia segera berjalan menuju ruang makan kembali duduk di tempat semula.


"Kenapa belum dihabiskan?" Tanya Deddy setelah duduk di kursinya.


"Maaf Om saya sudah kenyang." Jawab Ziko.


"Benar sudah kenyang?" Tanya Deddy sekali lagi.

__ADS_1


"Baiklah saya gak mau bertanggung jawab jika diantara kalian nanti ada yang tidak kuat bahkan sampai pingsan." Kata Deddy mengingatkan.


"Saya tanya sekali lagi, kalian sudah ini yang makan?" Tanya Deddy berulang kali.


"Hem.... " Jawab ketiga orang dalam ruangan itu secara bersamaan.


"Apalagi kamu Ziko, kamu lebih membutuhkan enegi yang lebih." Sambungnya.


"Baiklah kalau begitu, kita ke ruang kerja saja." Ajak Deddy.


Ketiga orang yang merasa di beri teka teki silang itu kini hatinya sudah dak dik duk der. Serasa kini seperti memasuki ruang penyiksaan.


Deddy meminta mereka duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja itu. Suasana menjadi lebih tegang tatkala Deddy sudah mulai ikut duduk.


Deddy mulai memberikan sebuah pencerahan dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Awalnya mereka sangat takut akan menerima penataran yang sangat menakutkan tapi lebih dari ekspetasi mereka.


Penjelasan yang telah diberikan kepada mereka lebih berat. Hal tersebut membuat mereka membuat sebuah penyusunan rencana yang lebih matang.


Hadiah dari Deddy sebuah pesta pernikahan yang sangat megah itu akan membuat iri semua orang. Memungkinkan sebuah tindakan kriminal bisa saja terjadi.


Banyak alasan terjadinya tindak kriminal pada acara resepsi yang akan diadakan oleh keluarga mempelai pria maupun mempelai wanita. Mereka hanya bisa mencegah ataupun meminimalisir semua kejadian yang tidak diinginkan.


Asisten Alfian ini merasakan sebuah tanggung jawab yang begitu besar. Sebelum berawal bahkan sampai sesudah acara.


Deddy yang tak merasakan mereka sudah sangat lama berada di ruang kerja. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Braaaaak

__ADS_1


Suara daun pintu yang dibuka dengan kasar karena terburu-buru. Mengingat Sang istri yang belum makan ia merasa sangat khawatir karena dalam perutnya masih ada makhluk bernyawa.


Sang istri membutuhkan nutrisi yang lebih sebab semua makanan yang ia masukkan ke mulut masih sering dimuntahkan sampai sekarang. Badan terlihat tidak memiliki energi setelahnya.


Ceklek


Pintu kamar Alfian dibuka perlahan oleh Deddy, takut membangunkan sang istri tercinta. Dilihatnya Mammy sudah duduk menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


Saat pintu itu terbuka Mammy melihat pada daun pintu yang telah dibuka. Bukan hanya kedatangan Deddy yang dirasakan saat sampai di depan pintu tetapi aroma tubuh tubuh dan langkah kaki sang suami yang perlahan masih bisa dirasakan.


Semenjak kehamilan kali ini semua alat indra Mammy sangat sensitif sekali. Apa saja di rasakan terlebih dahulu olehnya.


"Makan ya Mam?" Tanya Deddy pada sang istri tercinta.


"Mammy ingin makan apa?" Tanyanya lanjut.


"Mammy gak laper Ded." Jawab Mammy dengan mengerjap ngerjabkan matanya beberapa kali.


"Sedikit saja ya Mam." Pinta Deddy.


"Ingat Mammy sekarang Mammy tidak sendiri di dalam sini masih ada makhluk kecil yang membutuhkan makanan." Kata Deddy memperingatkan Sang Istri sambil mengelus-elus perutnya yang masih lumayan datar.


"*Memang benar apa kata Deddy." Batin Mammy.


"Apalagi sekarang usia ku untuk mengandung sangat rentan kalau tidak di kasih nutrisi*."


Perut wanita paruh baya ini memang belum bisa terisi. Setiap mencium bau masakan seringkali ia merasakan mual.

__ADS_1


Jika sampai ia mengeluarkan makanannya itu justru badannya akan terasa sangat lemas. Pada akhirnya ia hanya akan rebahan di tempat tidur.


Saat mengandung kali ini Mammy hanya mengingat sebuah nama dan wajah mungil nan cantik. Wajah itu selalu ada dalam pikirannya bahkan sering kali ia merasa kalau gadis kecil itu selalu menemaninya.


__ADS_2