Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 30. Sebuah Foto


__ADS_3

Erika mengendarai mobilnya sendiri menuju kampus. Gadis itu sempat mengambil foto saat Pemuda itu keluar dari hotel.


"Foto yang cukup bagus dengan begroun yang bagus juga." Gumamnya lirih sebelum keluar dari mobil.


"Tampan juga dilihat tapi sayang dia dari level rendah." Lanjutnya.


Braaaaak


Suara pintu mobil yang di tutup kembali setelah seorang gadis keluar dari dalamnya. Dia mengedarkan pandangan melihat jejeran mobil yang terparkir di tempat itu.


"Baru datang rupanya." Kata Erika lirih saat melihat sebuah mobil yang baru saja datang. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di samping mobil kemudi menunggu seorang pemuda yang baru saja datang.


Tap tap tap


Suara langkah kaki lebar dengan mantapnya berjalan menuju ruang tunggu salah satu ruang Dosen tanpa memperhatikan seorang gadis yang menunggunya. Gadis itu hanya dilewatinya saja tanpa melihatnya sama sekali.


"Tunggu." Pinta Seorang gadis pada Aldo.


"Ada apa?" Tanya Pemuda itu dingin.


"Ada berita bagus buat mu." Kata Erika.


"Kalau tidak penting tidak usah katakan." Pinta Aldo dengan melanjutkan langkahnya.


Hari ini ini aku sibuk." Lanjut pemuda itu tanpa melihat raut wajah gadis itu.


"Lihat ini, teman mu itu hanya menghamburkan uangnya untuk bersenang-senang dengan seorang wanita di hotel." Kata seorang gadis berusaha mengimbangi langkah Aldo yang sangat cepat.


Pemuda itu menghentikan langkahnya seketika. Dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Pemuda itu tidak menyangka ada yang berhasil menangkap sosok sahabatnya itu di depan sebuah hotel. Aldo merampas benda pipih yang ada di tangan gadis itu.


"Bereskan!" Bentak seorang pemuda pada Erika setelah menghapus semua foto yang ada di ponsel itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Erika.


"Aku masih punya salinannya." Katanya sambil merampas ponsel itu.


"Tidak masalah, aku juga dari hotel itu kemarin." Jelas Aldo menatap tajam gadis yang ada di depannya.


Pemuda itu tidak peduli lagi dengan teman wanitanya itu. Dia terus berjalan dan menyelesaikan segala urusannya yang ada di sana.


Seorang pemuda yang sedang berjalan kaki menuju apartemen kini sedang membeli beberapa bahan untuk dimasaknya sebagai sarapan. Beberapa hari yang lalu dia tidak memiliki bahan mentah karena ditinggalkan pulang ke tanah airnya.


Adrean langsung memasak air untuk minum dan beberapa makanan yang bisa dimakannya untuk sarapan. Dia menyiapkan segala sesuatunya sendiri meletakkannya di meja makan.


Pemuda itu mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di sofa ruang tamu. Dia meletakkannya disana ketika baru sampai di apartemen.


Dibuka semua pesan yang masuk tetapi tidak dibalas satupun. Dibawa ke kamar benda pipih itu secara perlahan diletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya yang sempit.


Adrean mulai menyiapkan pakaian untuk pergi ke kantor pagi ini. Kemeja dan jas yang sudah lama sekali tidak dipakainya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Menunggu Adrean mandi oh tidak kita berpetualang ke Rumah Utama Tuan Richat.


Slack Off


Tuan Richat dan keluarga makan siang bersama dalam diam. Hanya terdengar sebuah sendok dan garpu yang sedang beradu di piring.

__ADS_1


Gadis kecil itu selesai makan langsung berpamitan pada kedua orang tuanya yang masih ada di ruang makan. Dia menuju kamarnya dan segera mengambil ponsel yang tadi ditinggalkannya di atas meja.


Mentari mengirim pesan kepada Sang Abang yang sedang berada di kampus sedang mengurus sesuatu. Pesan itu ternyata dibaca keesokan pagi setelah Adrean sampai di apartemen miliknya.


Bunda membersihkan semua peralatan yang digunakan untuk memasak dan juga makan siang. Tuan Richat jangan ditanya lagi pasti pergi kembali ke ruang kerja melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi.


Mentari yang tidak segera mendapatkan balasan dari Abangnya hanya bisa berpikir positif. Dia pun segera tidur siang untuk melepas lelahnya setelah melihat beberapa foto yang sempat diambilnya saat pemuda itu masih bersamanya.


Sore itu keluarga kecil ini bercengkrama di taman yang jarang sekali mereka lakukan. Mentari merasa senang jika sudah seperti itu. Banyak kegiatan yang mereka lakukan saat ini hingga melupakan seorang pemuda yang ada negeri disebrang.


Mentari kembali ke kamar dengan rasa lelahnya kembali. Keringat yang bercucuran membuat badannya terasa lengket.


"Kenapa tidak segera dibalas sih." Keluh Seorang Gadis saat melihat ponselnya untuk kesekian kali sambil menunggu keringatnya hilang dari badannya.


Gadis ini segera membersihkan diri ketika keringatnya sudah hilang sedangkan yang orang yang ditunggu balasannya sedang bekerja. Pemuda yang ada disebrang sana telinganya merasa berdengung jika sudah seperti itu.


Malam kini telah tiba seperti biasa setelah makan malam mereka bertukar cerita hingga larut malam. Kegiatan ini membuat anak gadisnya sedikit lebih melupakan sahabatnya itu.


"Sudah larut rupanya, ayo Bunda antar kamu tidur." Kata sang Bunda pada putrinya itu.


"Jangan lama-lama kita juga harus melakukan program kehamilan. Kata Sang Suami perlahan tepat di telinga istrinya itu hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


"Apa itu?" Tanya gadis kecil itu yang sedikit mendengarnya walaupun perlahan.


"Nanti akan dijelaskan Abang guru mu beberapa hari lagi." Jawab Sang Ayah karena kesulitan menjawab pertanyaan putrinya itu.


"Makanya kasih filter itu mulut." Kata Bunda memperingatkan dengan menggerakkan tangannya saat jari jempol dan telunjuk sudah disatukan.


Sang Bunda tertawa geli melihat raut wajah suaminya yang kebingungan untuk menjawab. Sepasang ibu dan anak itu akhirnya menuju kamar Mentari untuk mengantarkan putrinya tidur.

__ADS_1


__ADS_2