Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 64. Bress


__ADS_3

**Bres**


 


Baru melangkah sampai depan pintu ternyata hujan sudah mengguyur bumi. Alfian lupa tidak membawa jas hujan. Hingga ia harus berteduh di Rumah Mentari.


"Gak jadi pulang tu." Ledek Mentari.


" Ya jadilah." Balas Alfian


" Thu kok masih di situ? Nunggu uang jatuh." kata Mentari


" Kamu tu ya suka banget ngedekin aku." teriak Alfian.


"Makanya jadi orang jangan datar-datar amat." Ledek Mentari.


Adrean yang saat itu sedang menuruni tangga tersenyum melihat kelakuan kedua anak yang ada di lantai bawah. Ia akan pergi mengambil minuman dingin di ruang makan.


Adrean: "Belum pulang Cakep?"


Alfian: "Belum Om. Mau pulang malah keburu hujan deras." Jelasnya.


Adrean menawarkan untuk mengantar mengantar Alfian pulang, tapi ditolak dengan halusnya. Mentari akhirnya buka suara.


"Elaah-Alah... niatnya emang mau di sini lama. Kan kangen berat sama aku yang sangat cantik ini." Kata Mentari.


" Idih Percaya Diri Amat." Balas Alfian.


Waktu sudah sore akhirnya hujan reda juga. Alfian segera berpamitan pulang. Adrean memang tidak punya jas hujan. Sebab mereka bepergian menggunakan mobil. Jadi yang dibawa paling tidak adalah payung.


Malam itu setelah makan malam seperti dulu. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Berbincang dan bercanda di sana. ketiga bayi itu juga dibawa kesana.


Mentari terlihat begitu bahagia hari ini. Kenapa tidak ternyata es kutup bisa bercanda juga. Rencananya besuk ia akan masuk sekolah kembali karena memang situasi sudah agak aman.


Sinta yang sudah mulai membaik kondisinya sudah mulai banyak tingkah. Semua kegiatan dilakukannya sendiri.


Malam ini Adrean sudah sangat kangen dengan istrinya. Karena ia melihat sang istri sangat-sangat baik sekali kondisinya. Ia mulai nakal dengan istri yang sangat ia cintai.


Menjelang tidur Sinta yang telah berganti pakaian berjalan menuju tempat tidur. suaminya menyapa dengan senyum yang sangat manis.


Setelah merebahkan tubuh Adrean memeluk erat istrinya erat, dan berbisik.


"Apa kau tidak kangen pada ku?" Tanya Adran.


Sinta hanya tersenyum geli mendengar perkataan suaminya yang tepat berbisik di telinganya.


Aksinya dimulai saat itu juga. Saat Adrean mulai melicuti istrinya ia sempat melirik ketiga bayi itu. 😁😁😁😁😁 takut ketahuan.


Kondisi aman dan terkendali nyenyak sekali.


Ciuman lembut di bibir sang Suami disambut dengan lembut saat bibir mereka beradu. Tangan sudah mulai naik ke dada istrinya dan tanpa membutuhkan waktu lama mereka menyelesaikannya.


Ritual malam mereka akhirnya selesai. Mereka langsung tertidur pulas tanpa sehelai benang pun. Tubuh mereka hanya ditutupi oleh selimut.


Axel Richat Pramuda adalah adalah anak dari Tuan Richat. Axel lebih mirip dengan Adrean dibandingkan dengan kedua orang tuanya.


Si kembar Garda Andrean Saputra dan Daffa Adrean Saputra adalah anak dari Adrean. Wajah mereka lebih mirip dengan Sang Papa


Ketiga anak kembar itu lebih dekat dengan sang kakak perempuannya. Yah begitulah setiap pulang sekolah sang kakak rajin sekali menemani mereka bermain bahkan sampai tertidur bersama.


Malam ini Mentari merasa sangat bahagia bisa ngerjain manusia kutub. Saat berbaring di tempat tidurnya yang nyaman ia hanya tersenyum-senyum sendiri. Ponselnya pun berbunyi. Ia melihat pengirim pesan.


"Alfian tahu aja kalau gue pikirin." Teriaknya.


Teriakan Mentari tidak sampai ke kamar sebelah takut mengganggu penghuninya yang banyak. Tanpa menunggu lama Mentari membalas pesannya.


Alfian: "Hai anak singa, lagi mikirin aku ya?"


Mentari: "Pede amat."


Alfian: "Besuk mau aku jemput ke sekolah?"


Mentari: "Idih takut aku gak masuk lagi?"


Alfian: "waduh pertanyaan belum juga dijawab."


Mentari: "Iya kakak, silahkan kalau mau jemput, aku tunggu."


Alfian: " Tapi ada syaratnya."


Mentari: "🤔🤔🤔🤔🤔🤔.


Alfian: "Gak usah mikir."


Mentari: "Gak kalau gitu, ntar aku dikerjain lagi. "


Alfian: "Gak kok."


Mentari: "Ya udah besuk aku tunggu."


Alfian: "Ok. Tidurlah sekarang, jangan malem-malem gak bagus tu buat kesehatan."


Mentari: "Ok. Malem."


Hatinya berbunga-bunga mendapat perhatian Alfian. Dalam pikirannya masih kepikiran mengenai syarat yang akan diajukan. Tapi ia percaya Alfian akan selalu menjaganya.


Mentari akhirnya terlelap dalam dunianya. Nyenyak sekali malam ini, bahkan perasaannya sangatlah bahagia.


Pagi hari Mentari terbangun dari tidurnya. Ia melihat matahari sudah lumayan tinggi.


"Oh My god kesiangan akunya." Teriak Mentari.


Mentari langsung buru-buru mandi, memakai seragam dan bersiap untuk sarapan. Saat sarapan ia hanya meminum segelas susu dan makan sehelai roti. Bekal makanan dan minuman di atas meja makan langsung disambar.


****Thin*** *** Thin*** Thin ***


Suara klakson mobil Alfian terdengar.


Tanpa menunggu lama Mentari berpamitan pada Papa & Mamanya. Kemudian ia berlari mendekati Alfian.


Tapi yang terjadi malah Alfian turun dari mobil mobilnya dan hendak menyapa Om dan Tante.


***BRUK***


Mentari dan Alfian bertabrakan tepat di depan pintu. Mentari yang berlari karena takut terlambat sedangkan Alfian ingin menyapa kedua orang tua Mentari juga berlari kecil.

__ADS_1


Mentari: "Aduh."


Alfian: "Sakit?" Sambil menolong anak singanya berdiri.


Mentari: "Ya sakitlah. Makanya kalau jalan pakai mata jadi jatuh gini kan?"


Afian: "Ya maaf tapi harusnya kamu itu yang harusnya lari pakai rem."


Alfian tertawa kecil saat melihat penampilan Mentari. Bukan karena ia jatuh. ( Kenapa ya Alfian tertawa yuk baca terus biar tahu)


Niatan Alfian ingin menyapa orang tua Mentari karena ia selalu diajarkan oleh orang tuanya sopan santun. Ngajak anak gadis orang masak langsung pergi. Gak lah dengan Alfian. 👍👍👍👍( like nya yang banyak ya)


Alfian pun menyapa orang tua Mentari, kemudian mereka berangkat bersama. Alfian terus saja menertawakannya. Mentari sampai bingung dengan apa yang ditertawakan oleh Alfian itu.


Jalan sudah lumayan ramai. Biasa kondisi kehidupan kota lalu lalang kendaraan banyak sekali. Membuat bising telinga banyak pengguna jalan. Jika terlambat sedikit saja bisa-bisa terjebak kemacetan.


Akhirnya Mentari angkat suara.


Alfian tidak menjawabnya. Ia hanya memberikan kode. Tapi Mentari pun tidak paham dengan isyarat yang diberikan.


Sepanjang jalan Alfian hanya diam dan tersenyum kecil.


"Kalau kakak gak bicara kenapa ngajak aku berangkat bareng."


Mentari pun minta penjelasan.


"Aku takut kamu gak berangkat sekolah lagi." Jelas Alfian.


Hening


Hening


Hening


Tak terdengar suara percakapan dalam mobil. Saat Lampu merah Alfian sempat menatap Mentari secara intens.


Alfian dan Mentari sudah sampai di sekolah. Tetap saja Alfian tertawa melihat Mentari.


Mentari sudah tidak ingin melihat Alfian yang tertawa. Ia segera membuka pintu mobil.


Saat akan keluar dari mobil itu mewah milik Alfian. Alfian menarik tangan Mentari secara pelan hingga ia terduduk kembali.


Emosi Mentari akhirnya meledak gigi taringnya mulai keluar. Singa kecil Alfian mulai mengamuk.


"Kakak ternyata nakal. Dari tadi ngetawain aku terus. Sekarang aku mau keluar tanganku kamu tarik!" Cerocos Mentari dengan nada amarahnya.


Alfian menaikkan tangannya yang hendak membetulkan letak kancing baju Mentari yang tidak sejajar. E..... malah dikibaskan tangan Alfian. Untuk kedua kalinya juga seperti itu masih saja dikibaskan.


( Terjawabkan pertanyaan yang tadi kenapa Alfian senyum-senyum tanpa henti kan )


"Apa yang mau kakak lakukan" Teriak Mentari.


Tanpa menjawab Alfian kemudian mengambil kaca di jok depan mobil. Alfian menunjukkan kerah yang miring akibat letak kancing baju yang tidak sejajar.


"Waduh..... Sungguh malunya Aku." Hatinya Mentari merasa malu ya karena bajunya itu.


Niatan Alfian ingin menyapa orang tua Mentari karena ia selalu diajarkan oleh orang tuanya sopan santun. Ngajak anak gadis orang masak langsung pergi. Gak lah dengan Alfian. 👍👍👍👍( like nya yang banyak ya)


Alfian pun menyapa orang tua Mentari, kemudian mereka berangkat bersama. Alfian terus saja menertawakannya. Mentari sampai bingung dengan apa yang ditertawakan oleh Alfian itu.


Jalan sudah lumayan ramai. Biasa kondisi kehidupan kota lalu lalang kendaraan banyak sekali. Membuat bising telinga banyak pengguna jalan. Jika terlambat sedikit saja bisa-bisa terjebak kemacetan.


Akhirnya Mentari angkat suara.


Alfian tidak menjawabnya. Ia hanya memberikan kode. Tapi Mentari pun tidak paham dengan isyarat yang diberikan.


Sepanjang jalan Alfian hanya diam dan tersenyum kecil.


"Kalau kakak gak bicara kenapa ngajak aku berangkat bareng."


Mentari pun minta penjelasan.


"Aku takut kamu gak berangkat sekolah lagi." Jelas Alfian.


Hening


Hening


Hening


Tak terdengar suara percakapan dalam mobil. Saat Lampu merah Alfian sempat menatap Mentari secara intens.


Alfian dan Mentari sudah sampai di sekolah. Tetap saja Alfian tertawa melihat Mentari.


Mentari sudah tidak ingin melihat Alfian yang tertawa. Ia segera membuka pintu mobil.


Saat akan keluar dari mobil itu mewah milik Alfian. Alfian menarik tangan Mentari secara pelan hingga ia terduduk kembali.


Emosi Mentari akhirnya meledak gigi taringnya mulai keluar. Singa kecil Alfian mulai mengamuk.


"Kakak ternyata nakal. Dari tadi ngetawain aku terus. Sekarang aku mau keluar tanganku kamu tarik!" Cerocos Mentari dengan nada amarahnya.


Alfian menaikkan tangannya yang hendak membetulkan letak kancing baju Mentari yang tidak sejajar. E..... malah dikibaskan tangan Alfian. Untuk kedua kalinya juga seperti itu masih saja dikibaskan.


( Terjawabkan pertanyaan yang tadi kenapa Alfian senyum-senyum tanpa henti kan )


"Apa yang mau kakak lakukan" Teriak Mentari.


Tanpa menjawab Alfian kemudian mengambil kaca di jok depan mobil. Alfian menunjukkan kerah yang miring akibat letak kancing baju yang tidak sejajar.


"Waduh..... Sungguh malunya Aku." Hatinya Mentari merasa malu ya karena bajunya itu.


Menahan rasa malunya Mentari keluar dari mobil. Ia merasa sangat bersalah telah menuduh kakak kelasnya itu tanpa alasan.


Mentari yang dulunya sangat lembut sekarang sedikit agak berubah. Ia menjadi gadis kecil yang sedikit banyak arogan. Hal itu bukan lah tanpa sebab.


Kekesaran yang ada di depan matanyalah yang mengubahnya. Dahulu orang tuanya memang sangat melarangnya keluar karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Sekarang ia pun paham dengan maksud Almarhum kedua orang tuanya itu.


Saat istirahat Alfian dan Mentari berpapasan di taman. Mereka selalu memakan bekal mereka di sana. Banyak teman yang mengira mereka yang membawa bekal adalah orang yang memang memiliki status di bawah mereka. Alfian dan Mentari pun cukup sabar menghadapi perkataan seperti itu.


Ziko lah yang selalu pergi ke kantin. Kantin yang selalu padat dengan anak-anak. Ya antrian panjang selalu ada di sana setiap hari.


Buat Mentari dan Alfian pergi ke kantin hanyalah membuang waktu. Karena harus melalui antrian panjang. Sedangkan mereka setiap waktu istirahat tiada hari pergi ke perpustakaan.


Waktu istirahat itulah digunakan Mentari dan Alfian untuk mengerjakan tugas dari guru mereka. Setelah pulang sekolah Mentari hanya ingin bermain dengan ketiga adiknya. Sedangkan Alfian pergi ke kantor ayahnya.

__ADS_1


Sejak Tuan Richat dan istrinya itu meninggal, Mentari tumbuh menjadi anak gadis yang sangat mandiri. Dahulu yang setiap kali sebelum tidur ia harus didongengkan sekarang sudah tidak lagi. Pakaian juga ia berusaha sendiri untuk menyiapkannya. Apalagi kalau si kecil menangis ia ikut menghiburnya. Saat lapar pun ia ikut menyuapi si kecil dengan tlaten.


Semakin hari kedekatan mereka semakin terlihat oleh Ziko. Ia langsung tanggap dengan situasi seperti itu. Sebab Ziko termasuk orang yang mengerti tentang perasaan orang yang sedang jatuh cinta


Ke tiga bocah cilik di keluarga Adrean pun semakin tumbuh dengan cepat. Seiring dengan pertumbuhan itu mereka berkembang dengan baik pula. (Beda lho pertumbuhan itu mengenai fisik sedangkan berkembang meliputi pintar, cerdas, dan psikisnya sendiri).


Mentari semakin di buat kewalahan dengan tingkah ketiganya. Adrean dan Sinta tidak pernah membeda-bedakan mereka.


Biarpun orang tua mereka selalu berusaha berbuat adil tapi mereka juga sering bertengkar. Kesabaran dalam memberikan mereka pengertian cukuplah berperan untuk meredamnya.


Mentari sejak kecil sudah terlihat sangat cantik. Berambut panjang dan tubuhnya seperti gitar Spanyol. Siapa sih yang tidak tertarik. Tapi gadis ini tetap saja cuek.


Alfian yang umurnya juga lebih tua dari Mentari juga terlihat sangat tampan bak seperti pangeran.


Di sekolah mereka terlihat sangat cuek. Sungguh meyakinkan kalau setiap mereka bertemu di sekilahan bak anjing dan kucing. Siapa sangka dihati mereka ada pujaan hati.


Kekesaran yang ada di depan matanyalah yang mengubahnya. Dahulu orang tuanya memang sangat melarangnya keluar karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Sekarang ia pun paham dengan maksud Almarhum kedua orang tuanya itu.


Saat istirahat Alfian dan Mentari berpapasan di taman. Mereka selalu memakan bekal mereka di sana. Banyak teman yang mengira mereka yang membawa bekal adalah orang yang memang memiliki status di bawah mereka. Alfian dan Mentari pun cukup sabar menghadapi perkataan seperti itu.


Ziko lah yang selalu pergi ke kantin. Kantin yang selalu padat dengan anak-anak. Ya antrian panjang selalu ada di sana setiap hari.


Buat Mentari dan Alfian pergi ke kantin hanyalah membuang waktu. Karena harus melalui antrian panjang. Sedangkan mereka setiap waktu istirahat tiada hari pergi ke perpustakaan.


Waktu istirahat itulah digunakan Mentari dan Alfian untuk mengerjakan tugas dari guru mereka. Setelah pulang sekolah Mentari hanya ingin bermain dengan ketiga adiknya. Sedangkan Alfian pergi ke kantor ayahnya.


Sejak Tuan Richat dan istrinya itu meninggal, Mentari tumbuh menjadi anak gadis yang sangat mandiri. Dahulu yang setiap kali sebelum tidur ia harus didongengkan sekarang sudah tidak lagi. Pakaian juga ia berusaha sendiri untuk menyiapkannya. Apalagi kalau si kecil menangis ia ikut menghiburnya. Saat lapar pun ia ikut menyuapi si kecil dengan tlaten.


Semakin hari kedekatan mereka semakin terlihat oleh Ziko. Ia langsung tanggap dengan situasi seperti itu. Sebab Ziko termasuk orang yang mengerti tentang perasaan orang yang sedang jatuh cinta.


Ke tiga bocah cilik di keluarga Adrean pun semakin tumbuh dengan cepat. Seiring dengan pertumbuhan itu mereka berkembang dengan baik pula. (Beda lho pertumbuhan itu mengenai fisik sedangkan berkembang meliputi pintar, cerdas, dan psikisnya sendiri).


Mentari semakin di buat kewalahan dengan tingkah ketiganya. Adrean dan Sinta tidak pernah membeda-bedakan mereka.


Biarpun orang tua mereka selalu berusaha berbuat adil tapi mereka juga sering bertengkar. Kesabaran dalam memberikan mereka pengertian cukuplah berperan untuk meredamnya.


Mentari sejak kecil sudah terlihat sangat cantik. Berambut panjang dan tubuhnya seperti gitar Spanyol. Siapa sih yang tidak tertarik. Tapi gadis ini tetap saja cuek.


Alfian yang umurnya juga lebih tua dari Mentari juga terlihat sangat tampan bak seperti pangeran.


Di sekolah mereka terlihat sangat cuek. Sungguh meyakinkan kalau setiap mereka bertemu di sekilahan bak anjing dan kucing. Siapa sangka dihati mereka ada pujaan hati.


Axel, Garda, dan Daffa sangat lincah. Mama dan Mentari selalu kualahan menghadapi tingkah mereka. Walaupun mereka laki-laki tapi haduuuuh cerewetnya sungguh terlalu.


Tingkah ketiga bocah itu juga menggemaskan dan sering membuat tertawa semua orang. Adrean semakin sibuk dengan pekerjaannya.


Sinta tiba-tiba teringat dengan Dita. Sudah hampir 3 tahun ia tanpa jejak. Sinta pun tahu kalau sahabat karibnya melanjutkan studynya di luar negeri.


Briyan tetap berada di perusahaan Adrean untuk membantunya. Hubungan Briyan dan Dita ????


Pulang dari kantor Adrean selalu menemui ketiga kurcacinya. Mereka menyambut dengan pelukannya. Sampai-sampai mamanya gak kebagian tempat.


Adrean langsung naik ke atas dan langsung membersihkan dirinya. Sinta yang selesai memasak langsung menuju kamar. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Papa yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan dipinggang mendekati sang istri. Ia memeluknya dari belakang. Mama pun terkejut seketika. Ia minta dilepaskan pelukannya. Ia takut ketika kalau kurcacinya langsung masuk.


Papa melepaskan pelukannya sambil membisikkan sesuatu.


"Nanti malam saja kalau gitu ya Mama sayang." Kata Papa.


"Apa'an sih dasar mesum." Kata Mama.


Papa & mama turun dari lantai atas menuju ruang makan. Mereka sudah ditunggu ketiga kurcacinya dan juga Mentari.


Mama mengambil kan piring dan peratatan makan untuk seluruh anggota keluarga. Setelah itu ia mengambilkan nasi. Untuk sayur dan lauk mereka sudah punya selera masing-masing.


Ketiga kurcaci dikeluarga itu sudah diajarkan untuk makan di meja makan. Ya walaupun kursi mereka dibuat agak lebih tinggi agar bisa menjangkau.


Mulailah keributan saat bersama dengan ketiga kurcaci itu. Dimana pun itu selalu ramai dibuatnya.


Axel adalah anak yang laki-laki paling tua, Daffa anak yang kedua dan yang terakhir adalah Garda. Axel minta makan baso, diikuti dengan kedua adiknya. Sedangkan sang Kakak memilih sayuran berkuah. Papa dan mama memilih makan tumis.


Keributan di meja makan pun terjadi. Axel mulai memakan makanannya dulu dari pada yang lain. Sebab iya sangat kelaparan.


Mentari: "Kakak Axel bentar ya jangan dimakan dulu, kita berdoa dulu."


Axel: "Apaan sih kak, aku tu sudah laper bangat tahu." ( Sambil melihat wajah kakak perempuannya yang sangat cantik).


Mentari: "Gak baik sayang terburu-buru makan."


Axel saat menjawab di sendoknya sudah ada basonya yang paling besar.


Axel akhirnya mengalah juga. Mereka berdoa bersama. Saat disendok Axel kehilangan basonya. Saat itu kedua adiknya juga mendengarkan nasehat kakaknya itu, sedangka Papa dan Mama juga lagi sedikit berbincang. Jadi kurang memperhatikan Axel.


Saat menyendok baso ia kehilangan baso yang paling besar. Ia pun terkejut, ia menduga kalau kedua adiknya yang mengambil. Akhirnya ia pun marah-marah. Tak seorangpun mengakui. Axel di kasih lagi gak mau ia hanya mau miliknya. (Waduh parah ini anak keras abis tak ada yang bisa merubah pendiriannya.


Mama: "Adik-adik mu pun gak mungkin berbohong kan? Coba lihat mulut mereka tidak ada bekas atau mulut mereka sudah berbau bakso. Coba lihat pula di mangkok mereka juga jumlahnya masih sama." Penjelasan sang mama yang sangatlah sabar.


Mentari: "Tukan bener, kalau mau makan kalau mau makan berdoa dulu sebagai rasa syukur atas nikmat dari Allah." Tambah sang kakak.


Axel: "Iya kakak, sekarang aku mengerti."


Axel tidak menambah makannya, ia terlanjur menolak tadi. Rasa malunya ternyata tinggi banget. Ia pun minta maaf pada ke dua saudaranya itu.


Kamana ya bakso milik Axel?


Pertanyaan bukan itu bukan dari dalam hati Axel. Ia mah cuek malah. Justru kedua saudara kembarnya itu, kakak perempuannya dan kedua orang tuanya yang dalam hati mereka bertanya.


Makan malam telah selesai mereka menuju ruang keluarga. Seperti biasanya mereka berbincang, dan bersenda gurau di sana. Mentari walaupun banyak tugas tapi sudah diselesaikan di sekolah waktu jam istirahat. Jadi ia selalu memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin.


Kelakuan ketiga kurcaci itu saat di ruang keluarga selalu mencari-cari perhatian semua orang. Sampai membuat semua orang tertawa. Lebih seringnya mereka berebut untuk berada lebih dekat dengan kakak perempuannya untuk bermanja.


Papa tiba-tiba menanyakan hubungannya dengan Alfian. Mentari mengatakan yang sebenarnya. Mereka seperti anjing dan kucing. Tapi bukan itu sebenarnya maksut Sang Papa. Maksudnya mengenai perasaan masing-masing.


Daffa yang sedang bermain dengan kakak-kakaknya pun tiba-tiba nimbrung. Semua menoleh kepadanya saat itu juga.


Daffa :"Kak iya atuh, kak Alpian kok lama gak kecini ya?"


Mentari: "Sibuk mungkin sayang. Soalnya kak Alfian bulan ini mau wisuda dan mau masuk universitas juga.


Papa: "Oh. Pantesan lama gak kesini. Pasti kamunya nanti kangen kalau udah gak satu sekolah."


Mentari: "Gak kali Pa."


Waktu sudah larut gak tahu kenapa malam ini harusnya para kurcaci udah tidur tapi kali ini mereka belum mengantuk.

__ADS_1


Papa akhirnya ke ruang kerjanya. Mama membuatkan kopi untuk sang Papa. Garda mengajak dua saudaranya ke ruang kerja sang Papa. Axel dan Daffa pun berjalan menuju ruang kerja Papanya. Mereka langsung membuka pintu. ( Sedang ngapain ya Papa dan Mama???)


Axel,GarddanDaffa berlari menghambur ke ruang kerja Papanya masuk tanpa mengetuk pintu. Papa pun kaget karena tiba-tiba pintu terbuka.


__ADS_2