
Garda berlari ke luar mencari kakaknya. Ia melihat Axel sedang tidur-tiduran di atas rumput. Garda akhirnya membetitahukan kalau Axel tidur di bawah pohon mangga.
Garda: "Pa tu lihat kak Axel tidur di bawah pohon mangga."
Papa: "Biarin aja. Lagi mengenang saat dalam perut mungkin."
Mama dan Mentari tersenyum-senyum. Alfian pun jadi penasaran. Hingga ia pun bertanya.
"Maaf Om, memang mengenang apa sampai-sampai semua tersenyum lepas." Tanya Alfian.
Papa akhirnya menjelaskan hingga Papa Mentari harus naik memanjat pohon mangga itu. Hingga akhirnya Alfian mengingat ia juga kejatuhan buah mangga di sana. Terakhir ketiga adiknya yang manjat dan Mentari jatuh dari pohon.
"Pohon mangga yang sama ya Om." Celetuk Alfian.
"Ada penunggunya kali Pa." Lanjut Mentari.
"Iya memang ada." Jawab Mama
Semua jadi tegang mendengarnya. Karena penjelasan Mama terjeda.
"Yang bener Ma?"Tanya Mentari
"Iya penunggunya Cantik-cantik dan Cakep-cakep cakep." Kata Papa.
"Yang bener Om?" Tanya Alfian
"Ya bener bikin kamu jatuh cinta." Jawab Papa.
Semua akhirnya tertawa. Tahu yang dimaksut sang Papa.
Papa dan Mama bermaksut menyembunyikan identitas Axel yang memang bukan anak kandung Adrean dan Sinta. Bahkan mereka meminta Mentari menyembunyikan semuanya.
Mereka takut kalau Axel merasa dibedakan dari yang lain. Untung saja wajah mereka bertiga sangatlah mirip. Mengenai kejadian yang menimpa Tuan Richat dan istrinya yang mengakibatkan mereka meninggal sudah diketahui dalangnya oleh Adrean dan Sinta. Hanya mereka yang tahu, mereka tidak ingin ada rasa dendam pada anak seusia mereka.
Ditengah perbincangan Mama memanggil ketiga putranya yang sedang bermain dengan Alfian dan Mentari. Ia ingin mereka tidur siang terlebih dahulu. Ketiganya menolak namun atas bujuk rayu Alfian akhirnya mereka menurut.
Alfian merasa nyaman ditengah-tengah keluarga itu. Ia merasa harus pamit sebab waktunya memang waktu istirahat. Tapi dicegah oleh ketiga bocil itu.Alfian menunggu ketiga bersaudara itu bangun.
Papa pergi ke ruang kerja dan mama juga menyelesaikan skripsi yang sempat tertunda di ruang kerjanya. Selain itu mereka memang memberi kesempatan pada Mentari dan Alfian untuk saling kenal.
Alfian di rumah Mentari sudah tidak begitu sungkan. Mentari sebagai anak perempuan tidak pernah berkunjung ke rumah Alfian. Ya itu terjadi cukup sekali itu pun waktu ada musibah yang menimpa keluarganya.
Papa Mentari dan Deddynya Alfian memang berencana akan menjodohkan mereka. Mereka belum mengetahui hal itu.
Menurut pandangan Papa sudah mulai tumbuh perasaan yang tanpa mereka sadari. Keluarga Alfian sudah menyukai Mentari sejak pertama ia pergi ke rumahnya. Gadis yang cantik, pintar, sopan dan tidak sombong.
Alfian ingin melanjutkan studinya di Universitas ternama di negara ini. Ia bermaksut mengutarakan pada gadis yang ada disampingnya saat ini. Untuk saat ini Alfian tidak bisa jauh dari keluarganya saat ini karena suatu alasan.
Mentari yang hanya mendengar penjelasan dari Alfian hanya diam seribu bahasa. Entah lah gimana perasaan gadis kecil ini saat waktunya tiba. 🤔🤔🤔
Sore hari tiba ketiga anak kecil yang tadi tidur kini sudah membuka matanya. Mereka langsung mengeroyok Alfian yang sedang duduk.
Alfian sangat dekat dengan ketiga bocil adik Mentari. Sempat ia hampir memiliki seorang adik tapi sebelum lahir ia sudah pergi. Kebahagiaan itu hilang seketika yang sangat merubahnya menjadi anak yang sekarang.
Kejadian itu sangat menyakitkan. Ia ingin menguburnya dalam-dalam. Jika ia melihat orang yang terlibat pada kejadian silam itu. Ia akan menjadi Raja Singa kelaparan.
Axel, Garda dan Daffa pergi berlari menjauhi Mentari dan Alfian yang baru asik berbincang. Tidak tahu mereka berlari kemana, karena memang halaman dan taman yang begitu luas.
Terlihat Daffa yang tidak begitu jahil mengatakan sesuatu pada ke dua kakaknya. Alfian dan Mentari hanya mendengar kata "setuju" dari ketiga adiknya itu.
Daffa menuju keran air, biasa setiap mereka akan mandi pasti sempat bermain air di dekat taman keran itu. Ia membasahi dirinya sendiri di sana.
(Coba tebak apa yang direncanakan oleh ketiga bocil di rumah besar itu)
Rasa curiga atau pun penasaran tidak tampak. Mereka tetap saja asik dengan obrolan mereka.
Ponsel berbunyi panggilan dari sahabatnya yang telah rela mengorban nyawanya itu.
Ziko: Al, kamu dimana? aku ke rumah mu sekarang ya?"
Alfian: "Aku lagi di luar, emang ada yang penting?"
Ziko: "Gak juga sih?"
Alfian: "Ya udah nanti kalau aku udah sampai rumah aku kabarin aja."
Ziko: "Ok."
Panggilan pun diakhiri.
Axel memanggil Alfian, sedangkan Garda siap-siap dengan selangnya. Daffa siap-siap menyalakan kran air.
Crht crut crut
Alfian basah kuyup kena semburan air selang. Tak lama Alfian meminta selang itu dan menyemprotkan ke arah gadisnya. Mereka yang ada di taman basah kuyup karena bermain air.
Saat memasuki rumah Mama melihat semua anak-anak sudah basah kuyup.
"Emang di luar hujan deras ya?" tanya mama
"Iya Tante, sampai banjir halaman depan rumah." jawab Alfian.
Alfian mengambil tasnya yang berisi pakaian ganti sudah lengkap dengan handuknya. Ia kemudian minta ijin ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang basah.
Papa yang baru saja keluar dari ruang kerjanya hanya tersenyum melihat kelakuan ketiga jagoannya. Papa dan Mama tidak pernah sedikit pun marah pada semua anaknya. Mereka hanya memberikan suatu nasehat jika mereka benar-benar berbuat salah.
Alfian setelah berganti baju ia langsung pamit. Soalnya ia juga sudah ada janji dengan Ziko.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Memecah ramainya jalan ibu kota yang ramai. Para pekerja mulai pulang dari kantor. Kemacetan mulai terjadi membuat para pengemudi ataupun pengguna jalan mudah emosi.
Alfian sampai di rumah sudah sangat sore. Ia bergegas ke kamar meletakkan semua barang bawa'annya (baju basah).
Ponsel diambil dari dalam tasnya. Ia langsung menghubungi sahabatnya.
dreeeeet dreeeeet dreeeeet
Ponsel Alfian bergetar.
Ia langsung melihat panggilan yang masuk. Disana tertulis Ziko. Alfian mengangkat telp. itu. Ziko memberitahu kalau ia gak jadi datang katanya ada urusan mendadak.
"Pasti urusan sama cewek." Gumamnya.
Makan malam sudah tersedia di meja. Bibi memberitahukan pada nyonya rumah kalau makan malam sudah siap.
Mammy bergegas menuju ruang kerja Deddy untuk mengajaknya turun makan malam. Alfian sudah menunggu mereka.
Deddy tersenyum sangat manis pada anaknya itu. Waduuuh malah seperti mau kena wawancara dari Deddynya.
"Tatapan matanya sudah tidak wajar ini bokap ku." hati Alfian mengatakannya.
Mama bersikap biasa saja. Bukannya tidak peduli sama anak laki-lakinya. Kalau suaminya sudah angkat bicara sang mammy cuma ikut mendengar tidak mau menambah pikiran anaknya.
Deddy: "Al kok pulang telat?"
Alfian: "Oh, tadi aku mampir ke rumah temen."
Deddy: "Cewek yang kamu ajak ke sini itu kan? "
Alfian: "Deddy tahu aja. ☺☺☺." Wajahnya memerah karena malu kepergok sama orang tuanya.
"Oh Lupa mata-mata Deddy kan ada dimana-mana." Lanjut-nya.
"Deddy udahlah aku udah besar bisa jaga diri. Ngapain juga pakai bodygart. Gak lucu tahu." Pinta Alfian.
"Lupa apa kejadian setahun yang lalu sahabat kamu jadi sasaran." Kata Deddy.
"Kamu suka ya sama gadis itu?" Tanya mammy.
"Tentunya lah mam, kalau gak suka mana mungkin dibelabelain jengukin." jawab deddy.
"Muka mu kok makin merah aja tu Al. Kenapa tu Al kayak tomat masak?" Tanya Mammy
"Udah ah Ded dan Mam aku ke atas dulu, dari pada di ledekin terus kayak di lampu merah yang mati gak ada mobil berhenti." kata Alfian.
Alfian pun akhirnya beranjak naik menuju kamarnya dengan wajah yang malu. Deddy dan Mammy pergi ke ruang kerja setelah makan malam itu.
__ADS_1
Orang tua Alfian membicarakan apa yang seharusnya mereka bicarakan. Masa depan Alfian yang ia tidak ingin sama seperti orang tuanya seorang pengusaha.
Deddy sibuk dengan laptopnya yang di atas maja. Mammy datang dengan membawa secangkir kopi untuk suami tercintanya.
Deddy menyudahi pekerjaannya. Ia berjalan mendekati dan duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari kursi kerja Deddy.
Deddy menepuk sofa tepat di samping ia duduk meminta Mammy duduk di sampingnya. Mammy menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Mereka berbincang sangat serius.
Deddy: "Mam udah lama ya kita gak bermanja-manja begini?"
Mammy: "Iya, Ded semenjak anak kita pergi untuk selama-lamanya."
Deddy: "Sudah lah mam, jangan diungkit lagi jika Alfian mendengar darahnya akan mendidih lagi gak bagus buatnya."
Deddy menceritakan tentang gadis yang bernama Mentari itu kepada mamanya. Pandangan pertama saat itu walaupun hanya sekejap tapi mammy menyukainya.
Tujuan Deddy adalah meminta Mentari untuk bertunangan dengan Putra kesayangannya. Menerut mammy terlalu cepat karena usianya yang masih sangar muda.
Pembicaraan di ruang kerja deddy selesai sudah. Keputusan sudah ditentukan tinggal bagaimana menyikapi Tuan Adrean.
Waktu sudah larut malam. Mammy pergi ke kamar mengganti pakaiannya. Deddy masih berada di ruang kerja. Ia masih termenung sebab secepatnya ia harus menemui Tuan Adrean.
Deddynya Alfian memang memiliki saham lebih besar di perusahaan Adrean. Tapi beliau tidak ingin memanfaatkannya.
Alfian sejak tadi berdiri di balkon menatap indahnya langit dengan taburan bintang. Angin yang semilir menerpa tubuh membuat ia semakin terbawa suasana. Wajah cantik itu selalu bersemayam dalam ingatannya.
Waktu semakin larut malam. Udara semakin dingin. Alfian masuk dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Bayangannya hanya pada gadis itu.
Deddy keluar dari dalam ruang kerjanya. Ia menuju kamar hendak tidur. Tapi tak tahu kenapa sang istri terlihat sangat cantik malam ini.
Selama ini memang mereka jarang bersama bahkan tidak untuk bicara berdua. Tapi malam ini mereka bicara berdua dengan penuh cinta. Walaupun yang dibicarakan Jagoan di keluarga mereka.
Tok-Tok- Tok
"Siapa? Masuk, gak dikunci."
"Siapa sih gak biasanya ada yang datang malam-malam begini." Gumamnya
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Ada sosok yang menggumkan dan sangat berwibawa datang ke kamarku. Akhirnya mereka berbincang tentang masa depan.
Malam ini ia bicara dengan penuh kasih sayang. Ia sudah lama merindukan ini. Perasaan hangat dalam hatinya mengingat kembali dulu ia sering bermain bersamanya sungguh membuat nyaman. Kenangan demi kenangan terlihat sangat jelas.
(Maaf-maaf bahasanya kayak orang hilang ingatan).
"Kamu seperti Jalangkung." teriaknya
Merasa dikatai Ia pun menoleh.
"Iya benar."
Penuh tandatanya ini orang yang dikatai sehingga ia hanya menanggapinya dengan menaikkan kedua alisnya.
"Gak biasanya juga datang ke sini, pergi juga gak mau bilang. Langsung aja berdiri dan langsung pergi
Hayo tebak siapa ya???
**** *** *** ***
Di rumah besar lain sekarang banyak sekali penghuninya. Ramai bak pasar malem katanya.
Dulu rumah yang sepi hanya ada tiga penghuni sekarang bertambah tiga penghuni lagi. Rumah yang penuh dengan kebahagian membuat Mentari sangat betah di rumah itu.
Mereka sekarang berada di ruang keluarga setelah makan malam. Berbagai macam cara untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka.
"Tar, gimana sih hubungan mu dengan Alfian sebenarnya?" Tanya Papa.
Sontak membuat semua orang di sana kaget dengan pertanyaan Papa.
"Biasa aja Pa." Jawab Mentari
"Biasa gimana? Orang kayaknya kalian deket banget." kata Papa
"Betul." sambung Garda dan Daffa bersamaan sambil mengacungkan jari jempol mereka.
Semua di sana tertawa melihat kelakuan ketiga anak kecil itu. Mentari hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Baik, tampan, pinter dan perhatian. Jangan sampai diembat orang lho Tar" Nasehat mama.
"Diembat emang apa'an? Barang?" kata Mentari
Mama gak tahu aja, dia tu cuek banget kayak gunung es. (Batin Mentari).
"Ya emang ditenteng terus kemana aja perginya. Sekali gak ditenteng dijengukin deh." ledek sang Papa.
Udah larut malam mereka pergi ke kamar masing-masing. Biar pun masih kecil ketiga bocah kembar yang selalu usil itu juga sudah punya kamar sendiri-sendiri. Mereka dilatih untuk selalu mandiri apa lagi mereka cowok, harus bisa mandiri dalam segala hal.
Mentari pun menuju kamarnya. Ia berada di balkon menikmati dinginnya udara pada malam itu. Teringat dengan Alfian cowok paling populer di sekolahnya. Kata-kata Papa dan Mama mengingatkannya.
Termenung dalam sunyinya malam. Hembusan angin yang membelai rambutnya yang panjang nan lurus. Nyaman terasa menyentuh kalbu.
Terpikir jauh ke depan ia belum tahu perasaan Alfian padanya. Takut sakit yang belum pada waktunya. Sebab ia tahu Alfian adalah cowok populer di sekolahan itu. Banyak gadis cantik yang mengejarnya.
Tengah malam ia masuk ke kamarnya. Udara dingin di luar sudah mulai terasa menusuk ke tulang. Ia mulai memejamkan matanya.
*** *** ***
Alfian sudah mantap dengan pilihannya. Tapi ia masih ingin tahu perasaan gadis itu padanya. Ia tidak ingin memaksakan perasaan gadis itu, apa lagi sampai menyakitinya.
Di kamar utama Deddy dan Mammy membicarakan sesuatu dengan penuh cinta.
Mereka berbincang di atas tempat tidur. Mammy menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Deddy: "Mam, misal Alfian punya saudara lagi gimana?"
Mammy: "Aku juga gak tahu Ded. Masih bisa punya anak lagi atau tidak."
Deddy: "Mammy sayang, jangan pesimis gitu ah. Mammy kan masih muda."
Mammy: "Deddy bisa aja. Jadi Mama muda dong."
Hening
Hening
Hening
Mammy: "Ded."
Deddy: "Hem."
Mammy: "Pelit amat suaranya."
Deddy: "Yang penting gak pelit uang lah mam."
Mammy: "Iya-iya percaya."
Deddy: "Ada apa mammy ku sayang."
Deg
Jantung mammy berdetak sangat cepat. Pasalnya sudah lama Deddy tidak pernah memanggil seperti itu dengan penuh cinta. Mereka hanya disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Mammy yang semula menyandarkan kepalanya di bahu sang deddy mendongokkan kepalanya menatap mata suaminya dengan penuh cinta.
Cuup
Kecupan lembut di kening istrinya pun mendarat. Kristal bening dari mata pun lolos tak terasa.
Deddy: "Kenapa mam?"
Mammy: "Gak papa."
Deddy: "Minta lebih?"
__ADS_1
Mammy: "Dasar mesum."
Deddy: " Mesum sama istri kan halal mam."
Mammy: "Alfian gak papa punya adik."
Deddy: "Emang kenapa Mam?"
Mammy: "Usianya kan jaraknya terlalu jauh. Apa dia gak malu?"
Tanpa menjawab Deddy turun dari tempat tidurnya. Ia mengambil laptop yang ada di atas meja. Sesuatu diperlihatkan pada istrinya. Mammy merasa terharu dengan semua itu.
Mammy akhirnya menyerah karena tahu yang diinginkan sang suami suatu saat kalau Alfian punya istri tidak ingin rumah itu menjadi sepi seperti sekarang. Alfian pasti menginginkan rumah sendiri.
Malam ini Deddy dan mammy akhirnya memutuskan akan berusaha untuk membuat anak lagi. Mulai malam ini mereka pun beraksi. Apa yang mereka lakukan ya.... 😁😁😁😁
Pagi ini telah tiba, sang mentari menampakkan sinarnya. Mentari bersiap ke berangkat ke sekolah, ya walaupun pinggangnya masih terasa sedikit sakit.
Pikirannya pastilah tuh cowok pasti akan datang menjemputnya kalau gak masuk lagi. Pikirannya masih kacau sebalau-balaunya. Papa mengantarkan Mentari ke sekolah.
Seusai sarapan mereka langsung berangkat. Sampai di depan pintu ketiga kurcaci itu menghadang sang Papa.
Garda: "Stop!!! perintahnya.
Papa: "Ada apa sayang?"
Axel: "Minggir!!! Perintahnya pada Garda.
Garda pun pindah di barisan belakang sendiri.
(Ketiga kurcaci dalam berisan ya alias sedang baris berbaris. Garda terdepan, Axel baru Daffa)
Axel: "Kapan pa mau ngajak kita main ke kantor papa?" rajuknya.
Papa: "Minggu depan ya sayang."
Axel pun mundur kini giliran Daffa maju satu langkah ke depan.
Daffa: "Awas kalau bo'ong." Ancamnya sambil mengedipkan ke dua matanya.
Mentari yang melihat kelakuan ke tiga adiknya itu pun tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kram.
Selesai tertawa Mentari lah mengerjain adiknya.
"Daf, itu mata kamu kenapa? kedip-kedip terus." kata Mentari.
Kedua kakak laki-lakinya itu pun mengerubungi Daffa. Mereka ingin melihat keadaan matanya.
Papa pun hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ke empat anaknya. Ia membayangkan kalau dulu ia banyak saudara pastilah menyenangkan.
Papa dan Mentari berangkat bersama. Mereka berangkat seperti biasa, berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan Mentari yang melihat ke samping mobil melihat sosok yang ada dalam pikirannya semalam. Begitu juga dengan Alfian.
Alfian mengacak rambutnya. Ia merasa sudah gila. "Mengapa di setiap tempat ada bayangannya." gumamnya.
Mentari sampai di sekolah turun dari mobil kemudian mencium punggung tangan papanya.
"Mentari langsung ke kelas ya Pa?" ucap Mentari.
"Iya sayang, hati-hati ya?" balas Papa sambil mengacak rambut putrinya.
"Anak malang. Sebelum dewasa sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Aku berjanji pada kalian akan menjaga anak kalian dengan baik seperti kalian menyayangiku dengan tulus." Batin Adrean yang hampir meneteskan air matanya. Sebelum terlihat ia mengenakan kaca mata hitamnya.
Mentari pun langsung berjalan perlahan menuju ke kelas. Saat menuju kelas ada anak gadis yang sekelas dengan Alfian sengaja menabraknya dari depan.
Teman wanita sekelas Alfian adalah Monica. Alfian tahu kalau gadis itu suka padanya. Ia selalu menghindar karena temannya Ziko suka padanya.
Alfian sampai di depan sekolah langsung turun dari mobil. Ia berniat langsung menuju kelasnya.
Baru sampai di pintu gerbang ia sudah melihat sosok wanita yang dilihatnya dijalan.
"Kenapa wajah itu selalu nampak di mataku." gumamnya sambil mengacak rambutnya.
Alfian tahu Mentari tidak mungkin masuk sekolah secepat itu karena rasa nyeri di pinggangnya yang kemungkunan akan membutuhkan waktu cukup lama. Pikir Alfian sesaat setelah melihat gadisnya.
Ziko yang melihat Alfian mengacak rambutnya itu berjalan sambil lalu melewatinya sambil meledeknya.
"Galau lu? Ntar cakepnya ilang lho berantakin rambut lu." Kata Ziko.
"Dasar, kampret suka ledekin gue." Teriak Alfian sambil berlari mengejar sahabatnya itu.
Alfian melihat lagi Mentari yang sedang bertengkar dengan temannya Monic.
Alfian: "Zik, coba tampar aku."
Ziko: "Elo kesambet apa Bambang, minta aku tampar."
Alfian: "Udah tampar aja."
**Plas**
"Ah" teriak Alfian
"Sakit tahu." lanjutnya sambil mengelus pipinya yang merah.
Tamparan Ziko cukup keras. Hingga pipinya merah sekali.
"Katanya minta tampar." kata Ziko sambil tertawa kecil.
Mana ada kesempatan kedua buat nampar elu. Batin Ziko
"Kan bisa dikira-kira jangan terlalu keras tahu." kata Alfian
"Mana ada tamparan lemah lembut Ujang? kata Ziko
"Tamparan lemah lembut mah dari some one." Lanjutnya.
Alfian dan Ziko berjalan beriringan menuju ruang kelas mereka. Telinga mereka pun tak luput menguping pertengkaran kedua gadis itu.
Mentari hanya diam saja merasakan sakit kembali karena jatuh ditabrak oleh monic. Tapi ia yang disalahkan.
Ziko yang mendengarnya pun tak tahan dengan semua perkataan yang dilontarkan. Ziko melangkah dengan cepat menuju TKP. Belum sampai Alfian sudah menarik tangannya.
Ziko: "Kenapa kamu cegah aku?"
Alfian: "Sabar, tenanglah sebentar."
Ziko: "Bagaimana bisa sabar, lihat tu cewek kata-katanya gak ada sopannya."
Alfian: "Tunggu sebentar lagi. Aku mau lihat apa saja yang bisa diucapkan Monic."
Bukannya kamu suka sama Monik." Lanjutnya.
Ziko: "Gak jadi kalau begitu mah, suatu saat aku bisa kena damprat. Cewek gak ada alus-alusnya.
Alfian dan Ziko akhirnya tertawa. Mereka mendengarkan dan menyaksikan kejadian itu.
Monic sebenarnya sengaja melakukan itu agar Alfian tahu dan menjauhinya. Tapi Alfian sudah tahu gadis seperti apa Mentari.
"Dalam hitungan ke tiga Tari akan membalas kata-katanya." Kata Alfian
"Dia gadis yang tegar dan cerdas." lanjutnya.
Alfian mulai menghitung sampai hitungan ketiga. Ternyata benar apa yang dikatakan Alfian.
Ziko kagum dengan Alfian dan Mentari sahabatnya. Setiap menghadapi masalah mereka selalu tenang dan penuh pertimbangan.
Alfian dan Ziko akhirnya mulai aksinya. Mereka mendekati TKP. Monic segera merajuk agar dibela.
Betapa terkejutnya Monic saat Alfian menarik tangan Mentari yang saat itu hampir tidak bisa berdiri. Tangan Alfian memegang erat pinggang Mentari hingga semua semua mata tertuju pada mereka.
__ADS_1