
Rumah Ziko tak kalah besar dengan rumah Alfian. Ziko langsung turun sampai di depan rumahnya.
Mobil pun melaju kembali menuju rumah Alfian. Mentari tidak memperhatikan apapun yang ia lewati. Sampai di rumah ia langsung mengajaknya masuk dengan tatapan kosong. Entah pikirannya kemana. Mentari sendiri tidak tahu kenapa hatinya terasa sedih sejak pagi tadi.
Daddy dan mammy Alfian pun turun menyambut Mentari. Mereka sangat ramah sekali. Mereka akhirnya duduk di ruang tamu. Mereka banyak mengobrol.
Mentari diantar oleh Alfian menuju kamar Alfian. Ia ditinggal disana agar ia bisa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Mentari memang selalu membawa pakaian ganti dalam tasnya.
Selesai membersihkan diri Alfian datang ke kamarnya untuk mengajak Mentari makan malam. Pandangan orang tuanya terhadap Mentari ia gadis yang sangat cantik, sopan dan tidak sombong.
Orang tua Alfian yang sangat susah jika anaknya punya teman wanita, tapi kali ini tidak.
*** *** ****
Di suatu tempat seseorang merencanakan sesuatu setelah mendengar berita mengenai keluarga Tuan Richat. Ia menghubungi ponsel seseorang.
A: "Habisi anaknya sekalian!" perintahnya (kayak makanan aja.)
B: "Ok. Bos."
Padahal Tuan Richat punya dua anak sekarang. Publik hanya tahu ia punya satu.
**** ****
Rumah Sakit
Jenasah Tuan Richat dan Istrinya sudah selesai di urus. Sinta belum sadarkan diri. Adrean kini telah menunggu ibunya.
Bi Inna, Ibu Adrean sampai hampir tengah malam. Ia langsung menuju rumah sakit langsung ke ruang rawat Sinta.
Di ruangan itu ada tiga bayi. Adrean akhirnya pergi menjemput Mentari di rumah Alfian. Ia berpesan pada Ibunya untuk menjaga Sinta dan 3anaknya Sebelum pergi ia mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Hati-hati Yan." Pesan sang ibu.
Adrean mencium punggung tangan sang ibu.
"Pergi dulu Bu." kata Adrean.
Keluar rumah sakit Adrean langsung melajukan mobilnya dengan sangat pelan. Ia masih berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Adik kesayangannya itu.
Di rumah besar Alfian, Mentari duduk di teras sambil melamun. Entah apa yang dipikirkannya. Empunya rumah hanya melihat gadis itu.
Alfian menghampiri Mentari yang pikirannya baru kalut. Ia mencoba berbagai macam pembicaraan dari lelicon sampai kisah hidupnya sendiri.
Semua itu tidak memberikan reaksi apa-apa pada gadis kecil yang suka bermanja dengan keluarganya. Sifat mandiri, galak, cuek, dan arogan terlihat saat diluar dari habitat aslinya (emang hewan 😁😁😁😁 maaf). Tapi ia sangat ramah.
Adrean langsung masuk dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Alfian. Sebab Alfian sudah memberitahu pada penjaga sehingga ia bisa langsung masuk tanpa pemeriksaan.
Mentari langsung menghambur kedalam pelukan sang kakak. Alfian tanpa sadar sangat kagum dengan kedekatan mereka.
Adrean terlihat sangat rapi saat sudah sampai di rumah Alfian. Di jalan ia sempat merapikan penampilannya. Tapi hari ini terlihat berbeda di mata Mentari dan Alfian.
Alfian pergi meninggalkan mereka berdua. Ia memang orang yang sangat dingin, tapi juga pengertian. Ia pergi ke kamar sang deddy.
Adrean yang sedang berbincang dengan adiknya terhenti mendengar langkah kaki Alfian dan Deddynya. Alfian mengucapkan terimakasih kepada mereka.
Adrean dan Mentari berpamitan pulang. Adrean belum sempat bicara sesuatu hal yang sangat penting itu. Ia masih merasa takut dan bingung mau mengatakannya.
Mereka masuk dalam mobil. Menuju rumah sakit dimana Sinta dan ke tiga anaknya dirawat.
Mentari: "Kak ini kan bukan jalan menuju rumah."
Adrean: "Maaf Tuan Putri nanti akan lihat sendiri." (Hati Adrean sebenarnya juga sudah berkecamuk).
Sepi sunyi tidak seperti biasanya.
"Rumah sakit." Kata Mentari. Semakin penuh tanda tanya dalam kepalanya.
Langkah semakin dipercepat menuju ruang rawat Istrinya. Pintu pun dibuka perlahan. Mentari langsung berlari menuju tempat Sinta berbaring.
Air mata Mentari menetes. Dilihatnya tiga bayi mungil di bok bayi. Ia pun menghampirinya.
"Kenapa Tiga kakak?" Tanya Mentari.
"Iya adikmu tiga sayang." Jawab nenek.
Mentari melangkah menuju neneknya kemudian ia memeluknya.
Adrean menahan air matanya untuk kemudian ia menjelaskan kejadian yang menimpa keluarganya. Sepatah katapun tak bisa keluar dari mulutnya setelah mendengar kenyataan itu. Mentari berdiri membeku tak seperti patung.
Nenek dan Adrean sangat mengerti perasaan Mentari. Adrean berjalan memeluknya sambil menghiburnya.
Adrean: "Tuan Putri jangan terlalu bersedih ya?"
Menteri: "Kakak sekarang aku sendirian, Ayah dan Bunda sudah tiada."
Adrean: "Siapa bilang kamu sendirian masih ada kakak, kak Sinta, nenek, dan ketiga adik mu.
Adrean menanyakan kepada ibunya tentang Sinta. Adrean mendekati Sinta yang sedang berbaring. Ia duduk disampingnya dan mengecup kening sang istri. Tanpa sadar air matanya jatuh mengenai wajah istrinya dan berkata " kamu sekarang punya empat anak apa kamu akan seperti ini terus?"
Secara perlahan ia membuka matanya dan melihat sang suami. Tangannya mengusap rambut sang suami.
Sinta: "Kamu menangis?"
Adrean: "Tidak." (Adrean langsung menghapus air matanya sebelum terlihat istrinya).
Sinta menanyakan keadaan Bunda pada Adrean. Ia pun menjelaskan. Sinta yang keadaannya masih belum sehat menjelaskan kronologinya. Adrean langsung melangkahkan kakinya tanpa ada sekata-kata yang keluar dari mulutnya.
Menyangkut nyawa istri dan keluarganya Adrean langsung memeriksa rekaman CCTV jalan. Plat nomor polisi bahkan orang yang melakukannya cukup jelas. Sebab kaca mobil depan terbuka.
Mentari diminta istirahat di Rumah Sakit itu menemani Sinta dan Neneknya. Sinta yang karena suntikan bius mulai tidur kembali. Mentari yang sangat sedih sampai air matanya pun tak bisa keluar. Malam ini ia tidak bisa memejamkan matanya.
Mentari melihat ketiga adiknya yang sangat lucu itu sangat terhibur. Ia berjanji akan menjaganya dengan baik.
Adrean memanggil polisi untuk menangkap tersangka kecelakasn itu. Waktu sudah hampir pagi, ia kembali ke rumah sakit. Ia melihat adiknya yang tidak bisa tidur berada di duduk di samping ketiga bayi adiknya.
"Sungguh lucu ya?" kata Adrean.
Mentari hanya menganggukkan kepala.
"Ingat lah adik-adik mu mereka membutuhkan mu, jangan terlalu bersedih." Kata Adrean lagi sambil memeluk Tari.
Adrean dan Mentari menuju sofa. Mereka duduk di sana. Mentari akhirnya tidur di pangkuan Adrean. Mungkin ia merasa nyaman dengan rambutnya di belai oleh kakaknya.
Alfian harus mengajak Mentari ke rumah karena itu adalah pilihan satu-satunya. Walaupun sering kali bertengkar tapi hati Alfian sudah terikat pada gadis disampingnya itu. Gak masalah dong. 😊😊😊😊
Alfian: "Tar maaf kamu harus ikut aku ke rumah."
Mentari: "Lho kenapa? Aku gak mau." tolaknya
Alfian: "Kak Adrean yang minta tadi. Meraka gak bisa jemput kamu."
Alfian akhirnya menghubungi nomor Adrean. Mentari ingin bicara sendiri dengan kakaknya. Adrean sebisa mungkin menutupi kesedihannya saat itu.
__ADS_1
Adrean memang berkata ia harus ke rumah Alfian dulu. Nanti akan dijemput sendiri oleh kakak sendiri.
Alfian akhirnya mengajak Mentari pulang ke rumahnya. Ziko protes dengan hal itu. Alfian menatap Ziko dengan tatapan yang begitu tajam.
Sopir Alfian datang, Mentari terlihat sangat lemas. Alfian dan Mentari masuk dalam mobil. Ziko hanya diam terpaku.
Alfian: "Lo gak mau bareng pulang?"
Ziko: "Gue takut sama elu."
Alfian: "Maaf, ya udah masuk."
Ziko akhirnya ikut masuk dalam mobil. Ia melihat Alfian dan Mentari melalui kaca depan mobil. Dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.
Rumah Ziko tak kalah besar dengan rumah Alfian. Ziko langsung turun sampai di depan rumahnya.
Mobil pun melaju kembali menuju rumah Alfian. Mentari tidak memperhatikan apapun yang ia lewati. Sampai di rumah ia langsung mengajaknya masuk dengan tatapan kosong. Entah pikirannya kemana. Mentari sendiri tidak tahu kenapa hatinya terasa sedih sejak pagi tadi.
Daddy dan mammy Alfian pun turun menyambut Mentari. Mereka sangat ramah sekali. Mereka akhirnya duduk di ruang tamu. Mereka banyak mengobrol.
Mentari diantar oleh Alfian menuju kamar Alfian. Ia ditinggal disana agar ia bisa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Mentari memang selalu membawa pakaian ganti dalam tasnya.
Selesai membersihkan diri Alfian datang ke kamarnya untuk mengajak Mentari makan malam. Pandangan orang tuanya terhadap Mentari ia gadis yang sangat cantik, sopan dan tidak sombong.
Orang tua Alfian yang sangat susah jika anaknya punya teman wanita, tapi kali ini tidak.
*** *** ****
Di suatu tempat seseorang merencanakan sesuatu setelah mendengar berita mengenai keluarga Tuan Richat. Ia menghubungi ponsel seseorang.
A: "Habisi anaknya sekalian!" perintahnya (kayak makanan aja.)
B: "Ok. Bos."
Padahal Tuan Richat punya dua anak sekarang. Publik hanya tahu ia punya satu.
**** **** ****
Rumah Sakit
Jenasah Tuan Richat dan Istrinya sudah selesai di urus. Sinta belum sadarkan diri. Adrean kini telah menunggu ibunya.
Bi Inna, Ibu Adrean sampai hampir tengah malam. Ia langsung menuju rumah sakit langsung ke ruang rawat Sinta.
Di ruangan itu ada tiga bayi. Adrean akhirnya pergi menjemput Mentari di rumah Alfian. Ia berpesan pada Ibunya untuk menjaga Sinta dan anak-anaknya. Sebelum pergi ia mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Hati-hati Yan." Pesan sang ibu.
Adrean mencium punggung tangan sang ibu.
"Pergi dulu Bu." kata Adrean.
Keluar dari rumah sakit Adrean langsung melajukan mobilnya dengan sangat pelan. Ia masih berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Adik kesayangannya itu.
Di rumah besar Alfian, Mentari duduk di teras sambil melamun. Entah apa yang dipikirkannya. Empunya rumah hanya melihat gadis itu.
Alfian menghampiri Mentari yang pikirannya baru kalut. Ia mencoba berbagai macam pembicaraan dari lelicon sampai kisah hidupnya sendiri.
Semua itu tidak memberikan reaksi apa-apa pada gadis kecil yang suka bermanja dengan keluarganya. Sifat mandiri, galak, cuek, dan arogan terlihat saat diluar dari habitat aslinya (emang hewan 😁😁😁😁 maaf). Tapi ia sangat ramah.
Adrean langsung masuk dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Alfian. Sebab Alfian sudah memberitahu pada penjaga sehingga ia bisa langsung masuk tanpa pemeriksaan.
Mentari langsung menghambur kedalam pelukan sang kakak. Alfian tanpa sadar sangat kagum dengan kedekatan mereka.
Adrean terlihat sangat rapi saat sudah sampai di rumah Alfian. Di jalan ia sempat merapikan penampilannya. Tapi hari ini terlihat berbeda di mata Mentari dan Alfian.
Alfian pergi meninggalkan mereka berdua. Ia memang orang yang sangat dingin, tapi juga pengertian. Ia pergi ke kamar sang deddy.
Adrean yang sedang berbincang dengan adiknya terhenti mendengar langkah kaki Alfian dan Deddynya. Alfian mengucapkan terimakasih kepada mereka.
Adrean dan Mentari berpamitan pulang. Adrean belum sempat bicara sesuatu hal yang sangat penting itu. Ia masih merasa takut dan bingung mau mengatakannya.
Mereka masuk dalam mobil. Menuju rumah sakit dimana Sinta dan ke tiga anaknya dirawat.
Mentari: "Kak ini kan bukan jalan menuju rumah."
Adrean: "Maaf Tuan Putri nanti akan lihat sendiri." (Hati Adrean sebenarnya juga sudah berkecamuk).
Sepi sunyi tidak seperti biasanya.
"Rumah sakit." Kata Mentari. Semakin penuh tanda tanya dalam kepalanya.
Langkah semakin dipercepat menuju ruang rawat Istrinya. Pintu pun dibuka perlahan. Mentari langsung berlari menuju tempat Sinta berbaring.
Air mata Mentari menetes. Dilihatnya tiga bayi mungil di bok bayi. Ia pun menghampirinya.
"Kenapa Tiga kakak?" Tanya Mentari.
"Iya adikmu tiga sayang." Jawab nenek.
Mentari melangkah menuju neneknya kemudian ia memeluknya.
Adrean menahan air matanya untuk kemudian ia menjelaskan kejadian yang menimpa keluarganya. Sepatah katapun tak bisa keluar dari mulutnya setelah mendengar kenyataan itu. Mentari hanya berdiri membeku tak seperti patung.
Nenek dan Adrean sangat mengerti perasaan Mentari. Adrean berjalan memeluknya sambil menghiburnya.
Adrean: "Tuan Putri jangan terlalu bersedih ya?"
Menteri: "Kakak sekarang aku sendirian, Ayah dan Bunda sudah tiada."
Adrean: "Siapa bilang kamu sendirian masih ada kakak, kak Sinta, nenek, dan ketiga adik mu.
Adrean menanyakan kepada ibunya tentang Sinta. Adrean mendekati Sinta yang sedang berbaring. Ia duduk disampingnya dan mengecup kening sang istri. Tanpa sadar air matanya jatuh mengenai wajah istrinya dan berkata " kamu sekarang punya empat anak apa kamu akan seperti ini terus?"
Secara perlahan ia membuka matanya dan melihat sang suami. Tangannya mengusap rambut sang suami.
Sinta: "Kamu menangis?"
Adrean: "Tidak." (Adrean langsung menghapus air matanya sebelum terlihat istrinya).
Sinta menanyakan keadaan Bunda pada Adrean. Ia pun menjelaskan. Sinta yang keadaannya masih belum sehat menjelaskan kronologinya. Adrean langsung melangkahkan kakinya tanpa ada sekata-kata yang keluar dari mulutnya.
Menyangkut nyawa istri dan keluarganya Adrean langsung memeriksa rekaman CCTV jalan. Plat nomor polisi bahkan orang yang melakukannya cukup jelas. Sebab kaca mobil depan terbuka.
Mentari diminta istirahat di Rumah Sakit itu menemani Sinta dan Neneknya. Sinta yang karena suntikan bius mulai tidur kembali. Mentari yang sangat sedih sampai air matanya pun tak bisa keluar. Malam ini ia tidak bisa memejamkan matanya.
Mentari melihat ketiga adiknya yang sangat lucu itu sangat terhibur. Ia berjanji akan menjaganya dengan baik.
Adrean memanggil polisi untuk menangkap tersangka kecelakasn itu. Waktu sudah hampir pagi, ia pun kembali ke rumah sakit. Ia melihat adiknya yang tidak bisa tidur berada di duduk di samping ketiga bayi adiknya.
"Sungguh lucu ya?" kata Adrean.
Mentari hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Ingat lah adik-adik mu mereka membutuhkan mu, jangan terlalu bersedih." Kata Adrean lagi sambil memeluk Tari.
Adrean dan Mentari menuju sofa. Mereka duduk di sana. Mentari akhirnya tidur di pangkuan Adrean. Mungkin ia merasa nyaman dengan rambutnya di belai oleh kakaknya.
Pagi telah datang, langit mendung menyelimuti bumi. Jenasah Tuan Richat dan istrinya sudah dibawa pulang dan siap untuk dimakamkan.
Adrean dan Mentari pulang ke rumah untuk mengurus pemakaman orang tua mereka. keduanya sampai di pemakaman tersebut dengan wajah yang sedih. Walaupun kesedihan yang mereka rasakan tapi mereka tetap tegar.
Hari ini Alfian tahu bahwa Tuan Richat dan istrinya dimakamkan. Ia sengaja tidak masuk sekolah. Ia menuju ke pemakaman orang tua Mentari.
Ia melayat seorang diri. Mentari tidak tahu kalau Alfian darang. Tapi tidak dengan sang kakak. Ia melihat Alfian ada di makam itu sejak penguburan berlangsung sampai selesai.
Adrean berpikir memang benar Alfian menaruh perhatian pada adiknya. Tapi kesimpulannya masih terlalu dini ya gaes. Sabar lah menunggu jodohnya Tokoh utama. 😊😊😊
Kedua orang tua Alfian pun hadir. Sebab mereka tahu, dan mereka pula yang direpotkan untuk menjaga Adiknya waktu kejadian.
Mentari seorang gadis kecil yang mana gadis seumuran dengannya pasti menangis karena ditinggalkan orang tuanya tapi tidak dengannya. Selesai pemakaman Adrean dan Mentari langsung pulang ke rumah berganti pakaian.
Mentari di kamar sedang duduk di tepi tempat tidurnya sedang memeluk foto kedua orang tuanya. Pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Adrean yang lewat tidak sengaja melihatnya.
Adrean masuk ke dalam kamar Tari kemudian hari memeluk gadis kecil itu. Ia berusaha menguatkannya. Mentari diminta ganti baju. mereka akan pergi ke rumah sakit.
Mentari pergi ke kamar mandi ia mandi kemudian mengganti bajunya. Adrean mencoba membuat senyum sang adik. Ia tidak ingin Mentari sangat kehilangan yang berlarut.
Adrean: "Senyumlah gadis kecil. Semua itu adalah cobaan."
Tari: "Aku sendirian kak Ayah dan Bunda pergi." (Air matanya akhirnya tak bisa dibendung)."
Adrean: Siapa bilang Tuan Putri kecil ku. Ada Pangeran kecil, ada dua kakak, ada si kembar dan ada nenek. Kalau Tuan putri sedih bagaimana dengan Pangeran kecil pasti akan lebih sedih lagi.
Mentari menangis dalam pelukan Adrean. Adeean berusaha menenangkannya. Adrean mengambil sebuah cermin di meja rias.
Adrean: "Luhat wajah mu Tuan Putri, kalau bersedih dan menangis cantiknya hilangkan."
Mentari: Iya. Masak mau lihat dedek jelek. Ntar dedeknya yang gak mau dikuhatin kakaknya.
Mentari mencoba tersenyum. Mereka akhirnya menuju rumah sakit langsung menuju kamar rawat Istrinya.
Adrean dan Mentari langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Waau sungguh pemandangan yang menyejukkan. Mereka melihat Istrinya berusaha duduk dengan dibantu Ibunya Adrean. Ia sedang belajar memberikan ASI pada adiknya Mentari (Anak dari Tuan Richat).
Mentari jadi bingung dengan apa yang dilakukan oleh Kakaknya Sinta. Ia pun mulai bertanya.
Mentari: "Kakak kenapa kamu berikan ASI untuk adik ku?"
Sinta: "Gak papa Tar."
Mentari: "Harusnya kan buat dedek kembar."
Sinta: "Gak masalah dedek kembarnya. Mereka mau berbagi kok sayang."
Adrean merasa sangat beruntung memiliki istri yang sangat baik. Akhirnya mereka bercanda untuk menghilangkan kesedihan Mentari. Setelah suasana agak hangat Adrean mengatakan sesuatu.
"Kalau dedeknya Tari biar panggil kakak Ardrean dan kak Sinta mama dan papa ya. Mentari juga panggilnya gitu." kata Adrean.
****** ***** ****
Di Sekolah
Ziko kebingungan mencari Alfian. Tidak biasanya Alfian datang siang. Ziko merasa karena Tari di ajak ke rumah. Pikiran Ziko sampai macam-macam. 🙉🙉🙉🙉
Ini ni akibat tidak tahu alasannya.
Waktu berjalan begitu lambat saat Alfian tidak datang ke sekolah. Haduh seperti sepasang kekasih aja. Apasih yang mereka lakukan di rumah Alfian sehinngga hari ini dia tidak masuk.
Lebih pusing lagi buat Ziko temen cewek pada nanya mengenai Alfian. "ltu Alfian orangnya dingin abis kenapa banyak yang ngefens sih." Gerutu Ziko.
Hari pun berganti selama seminggu Mentari dan Alfian tidak masuk sekolah. Selama tidak masuk sekolah Mentari pun banyak yang nanya. Terutama nih ya kaum Adam. 😊😊😊
Kalau begini nih ya membuat Ziko makin penasaran.
Mereka cuma tahu kalau Mentari sakit. Sebab terakhir kali ia tidak sadarkan diri di sekolah.
Hari ini Mentari sedikit bersemangat ke sekolah. Ia masih ingat dengan ke dua orang tuanya. Selain itu ia masih ingin bersama ke tiga adiknya.
Alfian juga mulai berangkat sekolah hari ini. Ia memang agak lesu, mikirin itu cewek adik kelas kasian ditinggalin orang tua. Rasanya udah gak karuan. Sedih banget sebab ia tahu ia sangat menyayangi mereka. Tercipta kehangatan yang luar biasa dalam keluarganya.
Mentari di antar oleh kakaknya Adrean. Tak lama Alfian datang dan menghampirinya.
"Tolong Jaga Tuan Putri kecilku ya?" Kata Adrean sambil menepuk bahu Alfian.
"Siap Bos." Balas Alfian sambil tangan kanannya posisi hormat.
Tujuan Alfian agar Mentari sedikit tersenyum.
Muka yang kusut akhirnya disembunyikan di kantong baju. Saat berpapasan dengan teman-temannya di kelas ia berusaha tersenyum seperti biasa. Periang, banyak bicara, dan bawel.
Seseorang dari ruang kelas lain, seorang kakak kelas sedang memperhatikannya. Ia tahu kalau Mentari sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Sungguh hebat gadis kecil itu, mampu menyembunyikan kesedihannya tak mau orang lain tahu." Lirih Alfian yang sempat di dengar Ziko. Ziko pun bertanya balik soalnya kurang begitu jelas.
Ziko: "Lho tadi bilang apa Bro?"
Alfian: "Gak bilang apa-apa." Bantahnya
Ziko: "Gadis kecil siapa maksut lho?"
Alfian: "Salah denger tu kuping." Sambil menarik telinga Ziko.
Ziko pun kesakitan.
Saat istirahat Ziko mencoba mengorek sesuatu kejadian setelah Alfian pulang bersama Mentari. Tapi Alfian orang yang tertutup mana mungkin ia menceritakannya.
"Belajar aja tuh yang bener biar gak ketinggalan." Bentak Alfian sambil membanting buku di meja depan Ziko.
Ziko pun memukul jidatnya sendiri.
"Alah Mak." Kata Ziko keras.
"Emak lho di rumah tu." Balas Alfian.
Perdebatan mereka terus berlangsung sampai waktu bel pulang. Pulangnya memang agak cepet soalnya mereka dalam acara class metting.
Saat pulang Alfian mengamati Mentari dari jarak jauh. Ia tahu kalau Mentari tidak suka jadi pusat perhatian.
Tidak berapa lama menunggu Adrean sudah tiba menjemput Adiknya. Ia langsung masuk mobil. Tidak dengan Adrean ia masih memanggil Alfian. Mereka berbincang sebentar.
Mentari memanggil sang kakak karena tak kunjung masuk mabil.
Mentari: Pa ayo pulang aku sudah kangen dengan si kecil."
Adrean: "Al udah dulu ya, makasih udah jagain anak baru ku."
Alfian: "Sama-sama kak."
__ADS_1
Adrean akhirnya masuk mobil dan melajukan mobilnya pulang. Ia tahu Tari masih sangat merasa kehilangan.