
Adrean sudah ingin melancarkan aksinya. Hentakan ringan yang semakin lama semakin dipercepat akhirnya lahar panas itu keluar juga. Keduanya mencapai pun mencapai puncak kenikmatan.
Satu rende cukup melelahkan untuk keduanya. Akhirnya mereka terlelap dalam mimpinya tanpa sehelai benang yang melekat hanya selimut yang menutup badan mereka
Tengah malam Adrean terbangun ia mencari air putih karena sangat haus. Istrinya terbangun saat itu pula. Ia tidak mendapati suaminya di sampingnya.
Ceklek
Suara pintu pun terbuka. Dilihat suaminya masuk kamar.
"Dari mana Pa?" Tanya Sinta.
"Ambil air putih." Jawab Papa singkat.
"Oh." kata Mama.
"Habisnya mau minum susu takutnya malah bangunin kamu." Kata Papa sambil menaikkan kedua alisnya menggoda.
Papa cerita kepada istrinya akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya dalam 3-4 hari ini. Setelah itu baru persiapan pertunangan Mentari.
Mentari belum tahu akan pertunangannya. Ia akan diberitahu setelah pekerjaan Papanya selesai. Bahkan kedua calon belum tahu tunangannya masing-masing.
Papa kembali melancarkan aksinya. Ia mencium bibir merah istrinya. Hingga timbul hasratnya lagi. Pasalnya mereka tidak bisa melakukannya saat anak-anak sudah sangat aktif.
Papa selalu menahan hasratnya itu sampai kadang berminggu-minggu. Ini rumah sepi, sehingga mereka lebih leluasa melakukannya.
"Ma lagi ya?" Pinta Papa dengan wajah yang penuh harap.
Mama hanya diam membisu. Pasalnya menunggu tindakan sang suami. Tapi papa hanya diam.
"Ya sudah kalau gak jadi." Kata Mama sambil menyibakkan selimutnya.
Memang Mama belum memakai pakaian sama sekali. Jadi Papa lebih leluasa dalam pergerakannya.
"Boleh ni Ma? Balas Papa dengan senyum mengembangnya.
Papa mulai dengan aksinya. Ia meninggalan bekas lukisan karyanya hampir di setiap inci tubuh sang istri.
Ah....... ah..... ah..... suara yang erangan istri yang sangat dirindukannya. Mampu membangkitkan hasratnya setiap saat.
Gunung kembar mulai dinikmatinya bergantian dengan menghisapnya. Tangannya aktif meremasnya juga.
Ular naga mulai memasuki gua untuk pelepasan. Mama memberikan kodenya, hentakan dan pergerakan ringan semakin lama semakin cepat. Akhirnya keduanya saling mempererat pelukan dan kenikmatan dunia dilepaskan bersama.
Cup
Ciuman mendarat dikening sang istri.
"Terimakasih Sayang." Ucap Papa.
Mama menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Akhirnya mereka tidur berpulukan.
( Teletasbis kali ya berpelukan).
Malam Panjang buat Papa dan Mama.
Gak tahu ya mereka melakukaannya berapa ronde. Soalnya balas dendam mungkin selagi rumah sepi, gak ada tiga satpam. Yang satunya kan udah saatnya nikah harusnya sudah tahu lah ya. 😁😁😁😁
Maaf ni Authornya baru ngawur.
Suara Azan terdengar menggema. Mereka bangun membersihkan dirinya. Kemudian sholat berjamaah bersama.
Seusai sholat Papa pergi ke ruang kerjanya menyelesaikan semua pekerjaannya. Matahari sudah menembus gorden putih di ruang kerja.
Sinta sudah selesai memasak. Ia menuju ruang kerja suaminya. Senyum tipis sang suami terlihat ketika istrinya membuka pintu ruang kerjanya.
"Sarapan Pa." Ajak Mama.
"Bentar lagi ya sayang." Balas Papa.
Senyum suaminya pagi ini seakan tak akan pernah luntur. Pagi ini akan ada clien tapi Adrean belum tahu orangnya. Ia tetap memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi. Itulah yang membuat sukses dirinya.
"Siang ini semua sudah kelar, nanti besok sore kita akan menyusul anak-anak." Kata Papa.
Mendengar ucapan suaminya, mama sangat senang sekali. Rasa rindunya pada anak-anak sudah tak tertahan.
"Kenapa gak nanti sore aja sih Pa? Sudah kangen ini sama anak-anak." Pinta Mama.
"Nanti malem Papa masih pengen minta lagi Ma." Goda Papa.
"Siapkan staminanya ya Ma. Ok." Sambungnya sambil mengedipkan mata.
"Kenapa itu mata Papa?" Canda Mama.
"Kelilipan ya?" Sambungnya.
Tujuan mama biar pikiran suaminya gak gesrek terus. Makanya perbuatan suaminya dibikin agak kelok dikit.
Selesai sarapan Papa berpamitan pada istrinya dan langsung menuju kantor. Semua sangat kagum pada Adrean yang sangat tegas. Setiap kali ada kesalahan fatal karyawan langsung dipecat begitu saja.
Adrean menunggu cliennya di ruangannya.
Sebuah mobil mewah terparkir di depan kantor Adrean. Anak yang masih tergolong sangat muda dan berbakat berjalan dengan tegap dihadapan karyawan Adrean.
Pujian yang ia dengar dari setiap karyawan. Tetap saja ia mengacihkannya. Dengan tampang yang dingin dan seperti jalan tol turus tanpa kelokan. Tak ada senyum lagi di wajah tampannya.
"Maaf saya mau bertemu dengan atasan kalian." Kata clien
"Sudah ada kah janji?" Tanya sekretaris.
"Sudah."
"Benar, tadi Bapak bilang sudah ada janji dengan seseorang. Silahkan masuk Pak?" Kata sekretaris.
Ia mulai berjalan dan diantar oleh sekretaris itu masuk ruangan bosnya.
Tok-tok - tok
"Masuk." Kata Adrean.
Alfian masuk ke ruang kerja Adrean. Mereka sama-sama kaget.
"Anda." Adrean dan Alfian berteriak bersamaan.
"Silahkan duduk." Kata Adrean.
"Trimakasih." Balas Alfian
"Saya kesini memastikan mengenai kerjasama kita." Lanjutnya
"Proposal yang anda ajukan sangat bagus, saya tertarik." Kata Adrean.
"Anda sepertinya akan menjadi seorang pengusaha sukses." Kata Adrean.
"Terimakasih atas pujian Anda."Balas Alfian
Begitulah mereka bekerja secara profesional. Tidak pernah disangka mereka akan bertemu secepat itu. Adrean bisa membaca kalau Alfian akan menjadi pengusaha muda yang sukses. Itu diwarisi dari orang tuanya.
Dreeeeet dreeeeet dreeeeet dreeeeet
Ponsel Alfian berbunyi.
Panggilan masuk dari Adrean.
"Assalamualaikum"~ Alfian.
"Wa'alaikumsalam."~ Adrean.
"Maaf Al bisa kita ketemu di kafe X sekarang."~ Lanjut Adrean.
"Iya bisa." ~ Alfian.
Alfian melajukan mobil menuju cafe X. Iya tidak jadi kembali ke kantor.
Adrean mencari meja yang mudah untuk dicari dan nyaman untuk berbincang. Alfian baru sampai di cafe tersebut langsung bisa menangkap sosok yang dicari.
"Hai Al." Sapa Adrean sambil melambaikan tangan.
"Hai Om." Balas Alfian
__ADS_1
"Tak ku sangka kamu secepat itu terjun kedunia bisnis." Puji Adrean.
"Aku baru belajar Om." Kata Alfian.
"Maaf tadi agak sedikit formal." Kata Adrean
"Gak apa-apa Om." Kata Alfian.
"Semoga kerjasama kita sukses ya Al?" Doa Adrean.
"Tak disangka sekarang malah jadi rekan bisnis." Lanjut Adrean.
"Waduh aku sampai lupa, kamu dari tadi tak anggurin." Canda Adrean.
"Makanya ini biar gak nganggur kasih kerjaan gitu Om." Balas Alfian
Mereka pun tertawa renyah, seakan beban dihati hilang begitu saja.
Adrean pun melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan di sana. Ia minta daftar menu yang disediakan. Alfian memilih menu yang sama dengan Adrean.
Waktu sudah semakin siang. Kedua laki-laki yang ada di cafe tadi kembali ke kantor masing-masing.
Hati Adrean sangat bangga pada Alfian. Ia mendirikan perusahaannya sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Jika dengan bantuan orang tuanya akan lebih mudah sebenarnya. Tapi ia memilih memulainya dari bawah.
Nanti malam masih ada pertemuan dengan kedua orang tua Alfian. Mereka akan membahas pertunangan Alfian dengan Mentari. Dalam beberapa minggu mereka hanya ingin memastikan perasaan keduanya.
Jika perasaan keduanya sama maka mereka tidak salah pilih. Sehingga momen tersebut dapat menjadi kejutan bagi keduanya.
Siapa yang masih pingin lanjut......?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Malam ini Adrean ada pertemuan dengan Deddynya Alfian. Mereka akan membicarakan acara pertunangan Mentari dengan Alfian yang akan diadakan di Villa milik Almarhum Tuan Richat.
Villa milik almarhum Tuan Richat memang di buat untuk pertunangan Mentari sebelum beluau meninggal. Villa yang sangat mewah itu cukup besar. Tak ada satu keluarga yang tahu kecuali Adrean.
Adrean bersiap berangkat bersama istrinya. Adrean terlihat sangat tampan dengan jas vanynya.
Sinta sang istri tercinta memang tidak pernah berias sama sekali tapi malam ini ia sungguh terlihat sangat cantik dengan sedikit polesan make upnya. Suaminya melihat tanpa berkedip.
"Pa ntar bola matanya bisa lompat lho." Kata Mama.
"Ya gak apa lah Ma, Asal Mama siap-siap aja aku terkam nanti malam." Balas Papa
"Udah ah Pa ntar mereka nungguin kelamaan, ayo berangkat." Kata Mama.
Mereka memang hampir tidak pernah terlambat dalam setiap acara. Buat mereka time is money. Acara mereka setiap hari selalu padat.
Malam bagitu cerah terlihat bintang gemerlap menghiasi langit. Mobil melaju menyusuri keramaian kota.
Hotel X adalah hotel paling mewah di negara ini. Semua fasilitas sangat memadai. Semua pegawai pun sangat ramah dan kompeten dibidangnya. Hotel ini adah milik Daddy Alfian.
Adrean segera memarkirkan mobilnya. Ia langsung menuju meja yang di tunjukkan oleh sekretaris Deddy dan diantar menuju meja atasannya.
"Terimakasih." Ucap Adrean pada sekretaris itu.
"Sama-sama. Silahkan duduk Tuan" Sekretaris.
"Silahkan menikmati jamuannya Dulu." Deddy
"Trimakasih." Adrean.
"Ini bukan mieting Tuan Adrean, jadi santailah."
Mereka tersenyum mendengarnya.
"Wah Dadd kamu bisa santai juga ya bersama orang lain? Canda Mommy.
"Istrimu Cantik banget Tuan." Puji Mommy
" Terimakasih Anda juga cantik." Kata Sinta
" Kalau tidak cantik mana mungkin aku bisa tergila-gila padanya Nyonya." Kata Adrean.
"Kita kan akan jadi satu keluarga jangan canggung lah, bersantailah." Kata Deddy
"Kalian ini terlihat pasangan yang sangat romantis." Kata Mammy.
"Kelihatan keduanya masih sangat muda." Sambungnya.
"Iya lah Mom kelihatan muda sampai-sampai punya empat anak." Canda Deddy
"Tokcer tu Mam, pasti tiap malam buat bahkan satu malam bisa beronde-ronde." Lanjut Deddy
Sinta mendengar itu jadi malu mengingat kejadian kemarin malam. Suaminya melakukan padanya berkali-kali. 😁😁😁
Wajah sedih terbit diwajah mommy. Sepintas terlihat oleh sang suami.
"Sabar mom kita juga bisa melebihi mereka, asal giat-giat aja buatnya." Hibur Deddy
"Deddy, malu kan." Balas Momny sambil mencubit perut suaminya.
"Emang kenapa?" Tanya Sinta pada orang tua Alfian.
Orang tua Alfian bercerita semuanya tak terlewatkan. Mengenai tentor rencana ingin punya anak saat ini, keguguran yang menimpa istrinya yang diakibatkan oleh seseorang sehingga mengakibatkan sang istri sulit punya anak lagi.
Adrean dan Sinta paham dengan semua masalah mereka. Adrean juga bercerita tanpa malunya kalau ada anak-anak bagaikan satpam disaat ia ingin sentuhan istrinya. (Baru sentuhan ya belum kikuk-kikuk).
Semua yang ada disana menikmati jamuan tersebut. Kedua keluarga itu bersenda gurau untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
Umur yang terpaut tidak jauh mereka lebih cepat untuk bisa menyesuaikan diri. Setelah kecanggungan itu hilang baru mereka membicarakan masa depan kedua anak mereka.
"Gimana dengan Alfian?" Tanya Adrean
"Anak itu nurut aja, walaupun belum tahu calonnya. Wajahnya saat aku beritahu akan aku tunangkan wajahnya jadi sangat dingin tidak seperti waktu kami ledekin dengan aanak mu. Walau aku goda aku sangkut pautkan dengan anakmu wajahnya sangat berbinar." Jelas Deddy.
"Ok. Baiklah pertunangan cukup sederhana, keluarga saja soalnya anakku kan masih harus menyelesaikan sekolahnya setahun lagi." Kata Adrean.
Adrean memberanikan dirinya bertanya tentang Alfian yang datang ke kantor. Deddy hanya menjelaskan kalau ia Alfian memang punya usaha sendiri. Mulai lulus sekolah kemarin ia ingin mendapat penghasilan sendiri.
Mereka sepakat peertunangan akan dilaksanakan besuk Minggu di Villa milik Almarhum Tuan Richat. Sebelum meninggal memang beliau berpesan seperti itu. Adrean memberikan alamat Villa itu dengan fotonya.
Villa Anda akhirnya akan digunakan juga. Batin Adrean.
"Tenang saja, rumah Anda sebentar lagi juga akan ada yang meramaikan." Ucap Adrean.
"Ya semoga saja." Kata Deddy
Kedua keluarga ini pulang ke rumah masing-masing. Waktu sudah cukup larut sehingga jalan juga lumayan sepi. Adrean melajukan kecepatan mobil dengan cepat. Sang Istri merasa khawatir.
"Gak usah buru-buru Pa?" Pinta Mama sangat khawatir.
"Aku maunya cepat sampai rumah sayang. Aku gak mau melewatkan kesempatan." Kats Papa.
"Kesempatan apa sih Pa?" Tanya Mama
Belum sempat dijawab mereka sudah sampai di rumah. Ayah langsung memarkirkan mobilnya di garasi.
Mama munuju dapur mengambil air putih. Papa sudah berada di kamar selesai membersihkan diri dan berganti pakaian.
Mama masuk ke dalam kamar mendapati suaminya yang tengah menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur sedang memainkan ponselnya. Mama pun bergegas meletakkan air putih itu di meja nakas.
Mama merasa sangat capek dan ia menguap. Ia pun segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
Papa melihat istrinya yang sudah berganti pakaian pun meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia segera berdiri dan memeluk sang istri dari belakang.
Sepertinya malam ini aku benar-benar akan habis. Ia tidak akan membiarkan ku istirahat semalam. Batin Sinta.
"Ma." Panggil Papa yang masih mendekap sang istri.
"Heeem." Jawab Sinta santai.
"Besuk kan kita akan ikut berlibur menyusul anak-anak." Kata Papa
"Trus?" Tanya Mama yang pura-pura tidak tahu.
"Aku inginkan malam ini......" Jelas Papa tanpa dilanjutkan kata-katanya langsung menyerang bibir merah sang istri dengan rakusnya.
Sinta merasakan ada sesuatu yang sudah menegang di bawah sana. Ia paham maksut suaminya.
__ADS_1
"Ular naga ku ingin masuk ke dalam gua Ma."Kata Papa
Setelah mendapat kode lampu hijau mereka mulai melakukannya. Sinta senang mendapat sentuhan yang suami yang sangat ia rindukan.
Adrean memeluk pinggang istrinya kemudian mencium bibir merah sang istri kembali. Pelukan itu semakin erat seiring dengan semakin memanasnya ciuman dibibirnya. Sinta pun mengalungkan tangannya ke leher sang suami yang semakin menjadi.
Lama dengan permainan ini Adrean pun melepaskan ciuman itu dan menggendong tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Ia langsung menindih tubuh sang istri. Tanda stempel ke pemilikan mulai bertebaran di tubuh sang istri.
Sinta hanya pasrah terhadap perlakuan suaminya. Ia pun semakin terhanyut dalam permainan itu. ******* mulai menggema memenuhi kamar mereka. Membuat mereka semakin bergairah.
Papa memberikan kode kalau ular naganya akan segera masuk ke gua. Mereka semakin mengeratkan pelukannya.
Malam ini Adrean memang menggunakan kesempatannya dengan baik. Beberapa kali sang suami yang terkesan sangat dingin melancarkan aksinya beberapa kali. Malam yang begitu panjang.
Waktu subuh telah tiba, mereka sangat kelelahan dengan beberapa kali pertempuran. Adrean dan Sinta melaksanakan mandi besar kemudian sholat berjamaah.
Sinta sejak selesai sholat subuh sudah berkutat di rumah dapur. Suaminya masih berada di kamar sedang memainkan ponselnya sambil bersandar di atas tempat tidur.
Adrean terlelap sambil memegang ponselnya. Rasa capek dan kantuk menyerangnya.
Ceklek
Pintu kamar pun terbuka. Wanita cantik itu membawakan teh hangat untuk sang suami. Ia sengaja tidak membangunkannya karena tahu suaminya sangat lelah setelah seminggu lembur di kantor.
Sinta membenarkan posisi tidur suaminya.
Grep
Adrean mengalungkan tangannya pada leher sang istri. Kemudian ia melu***at bibir merah itu.
"Maaf Pa, jadi malah terbangun."Kata Mama
"Gak apa Ma, kalau matanya bangun." Kata Papa.
"Tapi kalau yang bawah bangun, Mama harus nanganinya." Lanjutnya.
"Dasar mesum ah Papa." Balas Mama
"Mesum sama Istri mah halal Ma." Kata Papa sambil tersenyum smirk.
Adrean bangun dan meminum teh yang dibawakan oleh istrinya. Ia merajuk lagi setelah minum teh yang itu.
"Ma sekali lagi ya?" Kata Papa penuh harap.
Benerkan pasti Papa menerkam ku habis-habisan ini kalau anak-anak gak ada. Batin Mama.
Mama berdiri sambil membuang nafas kasar. Ingin membuka gorden yang masih menutupi jendela kamar. Agar suaminya tidak menerkamnya lagi. Sebelum beranjak jauh Papa menangkap tubuh istrinya itu dan membalikkan badannya.
Adrean memulai aksinya lagi. Ingin rasanya istrinya mencegahnya. Ia mendorong pelan tubuh suaminya agar tidak tersinggung.
"Pa kita berangkat kapan? aku sudah kangen ini dengan anak-anak." Tanya Mama.
"Nanti sore aja deh Ma." Aku masih ingin berduan sama kamu." Jawab Papa.
"Tapi Perjalanannya jauh Pa." Kata Mama yang tidak mau diterkam lagi oleh suaminya.
"Malem aja, jalan lumayan sepi jadi bisa lebih cepat sampai." Jelas Papa
Kali ini Mama kalah berdebat sama suaminya. Ia harus diterkam pagi ini oleh suaminya.
Mereka akhirnya tidur sampai sore. Persiapan dalam perjalanan dan untuk liburan sudah disiapkan semua tadi siang oleh istrinya.
Malam pukul 20.00 mereka berangkat. Mobil melaju dengan kecepat yang lebih dari biasanya. Sinta tertidur nyenyak selama perjalanan.
Setiap kali di lampu merah saat berhenti Adrean selalu memandang wajah istrinya.
Terimakasih sayang sudah menemaniku setiap waktu. Kau selalu tahu apa yang ku inginkan. Menjadi istri yang bersedia menjadi anak-anak ku. Kata Adrean dalam hati.
Pagi ini mereka sudah sampai di rumah Ibu Adrean. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Papa dan Mamanya. Mereka sangat senang mereka ikut liburan.
"Ini memang kejutan Papa yang super sibuknya kali ini bisa ikut liburan." Kata Mentari dengan senangnya.
"Iya sekali-sekali boleh dong liburan. Biar ngilangin sifat nenek lampir." Kata Papa sambil tersenyum menyunggingkan bibirnya.
Mereka masuk ke dalam rumah. Papa dan Mama yang baru sampai pergi ke kamar mereka untuk istirahat.
Waktu semakin siang. Papa masih tidur dengan nyenyak. Mama dan Mentari sudah berada di dapur membantu Nenek memasak.
Selesai memasak Mama menghampiri ketiga kurcaci kesayangannya. Ia ikut bermain bersama mereka.
Mama memeluk erat ketiga anaknya.
"Mama kangen sayang."Lirih mama berkata sambil meneteskan air mata.
Mentari berjalan menuju kamar Papanya. Ia memberitahukan kalau makan siang sudah siap. Ia kemudian berjalan menuju halaman memberitahukan kepada Mama dan ketiga saudaranya.
Mereka makan siang dengan sangat gembira melepaskan rasa rindu mereka. Di ruang makan terjadi sedikit gurauan antara mereka.
"Pa, Papa gak ngapa-ngapain Mama kan?" Tanya Garda.
Papa yang sedang memikmati makanannya itu pun tersedak mendengar pertanyaan anaknya itu. Mama mengambilkan air putih untuknya. Ia segera meminum air itu hingga tandas.
"Emangnya Papa ngapain mama kamu hee?" Jawab Papa sambil menarik-narik alisnya berulang kali.
"Tanya aja Mama kamu?" Sambungnya.
Mama gelagapan mendengar perkataan suaminya. Papa mengatakan itu untuk mengalihkan berbagai macam pertanyaan yang akan menyerangnya dari ketiga anaknya yang jagoan itu.
Saat itu suasana sangat menyenangkan untuk semuanya. Tapi tidak untuk anak gadisnya yang terlihat sedikit berbeda.
"Tari, gimana kabar Alfian?"TanyaPapa pura-pura tidak tahu.
"Ia akan ditunangkan oleh orang tuanya." Jawabnya dengan wajah sedih yang ditutupinya dengan senyum.
"Perasaan mu gimana?" Tanya Papa.
"Masak kamu mau menyerah begitu saja." Sambungnya.
"Sudah lah Pa, aku kan juga masih sekolah." Alasan Tari.
"Sebenarnya gimana perasaan mu padanya." Tanya Papa lagi.
"Aku akan berusaha melupakannya Pa." Kata Mentari.
Papa pun mengambil kesimpulan kalau anak gadisnya punya perasaan pada Alfian dari jawabannya itu. Berhubung Adrean tidak bisa libur panjang ia harus segera mempersiapkan segala sesuatunya.
"Cantik besuk Papa mau ngajak kalian kesuatu tempat yang sangat indah, mau gak?" Kata Papa
"Ok." Kata Mentari singkat.
Waktu semakin sore. Seharian mereka bermain bersama di sekitar taman. Mereka pulang kemudian mandi.
Nenek, Mama dan Mentari mulai berkutat di dapur. Mereka mulai memasak. Sedangkan Papa dan ketiga kurcaci itu sedang melihat televisi di ruang tengah.
Suara azan magrib menggema memanggil umat muslim untuk melaksanakan sholat. Adrean dan keluarganya melaksanakan sholat berjamaah di rumah. Selesai sholat mereka duduk-duduk di teras rumah menikmati dinginnya malam yang begitu cerah.
Usai sholat isa' mereka makan malam bersama. Saat makan malam Mentari hanya makan lebih sedikit dari biasanya. Ia diledek oleh Mamanya.
"Wuih ada yang lagi galau nih." Ledek Mama.
"Apa'an sih Ma." Bantah Mentari sambil mengerucutkan bibirnya.
Hening
Hening
Hening
"Di sana tu ada pasar malem lho Pa. Kita jalan-jalan ke sana yuk." Ajak Mentari memecah keheningan mencairkan suasana.
"Boleh juga tuh." Kata Mama
Mereka semua bersiap-siap berangkat menuju pasar malam. Axel, Daffa dan Garda sangat senang. Baru pertama kali mereka pergi ke pasar malam.
Mentari juga baru pertama kali ini. Ia sangat penasaran.
Inikah pesta rakyat. (Mentari berkata dalam hati)
Aneka makanan rakyat dijual di sana. Harga cukup terjangkau bila dibandingkan dengan di swalayan.
__ADS_1