Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 159. Penthol Abang Gondrong


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan itu menatap pada satu sumber suara. Mereka tidak memperdulikan dengan ucapan baru saja Ziko katakan barusan.


Mammy yang terlihat biasanya sangat modis kini seperti anak kecil yang barusan makan dengan berbagai jejak di sekitar mulutnya. Sang suami ber-inisiatif mengambil tisu dan membersihkannya makanan yang tersisa di sekitar mulut dan wajahnya.


Makanan yang cukup banyak habis dalam waktu sekejap. Benar-benar kelakuan mammy seperti anak kecil.


"Enak ya Mam?" Tanya Deddy menatap lekat pada sang istri.


"He'em." Jawab Mammy.


"Kalau masih ada aku mau lagi Deddy, rasanya sangat enak memang tidak ada duanya." Lanjut Mammy sangat antusias.


Mammy mengedarkan pandangan pada setiap menu makanan yang ada di meja makan ternyata memang benar-benar sudah habis. Mata Mammy seakan ingin menitihkan air mata.


"Mammy ingin makan apa lagi biar Deddy yang belikan." Kata Deddy saat melihat mata sang istri hampir basah.


"Bener Deddy mau belikan sendiri?" Tanya Sang Istri.


"Mammy pingin penthol yang ada yang di jual abang gendong." Pinta Mammy terputus.


"Abang gendrong?" Tanya Deddy penasaran yang memang belum tahu siapa abang gendrong.


"Baiklah tapi Mammy di rumah aja ya?" Pinta Deddy takut sang istri kecapean.


"Tapi Mammy pinginnya ikut Deddy." Pinta Mammy sambil merengek layaknya anak kecil.


Melihat ekspresi wajah Suaminya itu, mammy sangat yakin kalau ia tidak tahu dimana lapaknya Abang Gendrong yang jual penthol. Mammy ingin makan langsung penthol di tempat mangkal penthol itu dijual.


Mammy langsung berdiri berjalan meninggalkan mereka semua menuju kamar yang sekarang menjadi tempat persemediannya. Di sana wanita paruh baya itu menangis hingga terisak.


Sang suami melihat tingkah istrinya kini berubah sangat drastis. Wanita karier yang sangat mandiri sejak kehamilannya kali ini menjadi seorang wanita yang kekanak-kanakan.


Deddy hanya menggeleng-gelengkan kepala perlahan melihat tingkah sang istri. Dia pun menyusul ke kamar tempat sang istri sekarang berada.


Deddy menghampiri istrinya menyentuh pundak sang istri yang sedang berbaring membelakangi tempat suaminya itu duduk. Dia berusaha menenangkan wanita itu agar berhenti untuk menangis.


"Mammy ingin ikut?" Tanya Sang Suami.


"He'em." Jawab Mammy tanpa membalikkan badan dengan suara yang masih bergetar karena menangis.

__ADS_1


"Baiklah mammy boleh ikut tapi.... ada syaratnya." Kata Deddy yang ingin memancing sang istri agar mulai membiasakan diri kembali tidur di kamar utama lagi.


"Apa syaratnya Ded?" Tanya mammy sangat antusias yang akhirnya membalikkan badan dan duduk di atas tempat tidur itu menghadap wajah suaminya.


"Mammy harus belajar kembali tidur di kamar utama." Pinta Deddy penuh harap sang mammy menyetujuinya.


"Baiklah. Mammy akan berusaha." Kata Mammy yang sebenarnya masih menggantung.


"Tapi jika mammy tidak bisa?" Lanjutnya dengan menarik tangan sang suami ketika Deddy sudah berdiri dari sisi tempat tidur milik Alfian.


Deddy saat ini tidak memiliki sebuah pilihan lainnya hingga ia hanya mengangkat sedikit bahunya ke atas secara bersamaan. Mammy juga sudah tahu jawabannya walaupun sang suami tidak berkata apapun.


Deddy menggunakan syarat seperti itu memiliki sebuah alasan yang tidak hanya menguntungkannya saja. Ada tiga pihak yang diuntungkan juga.


Deddy selama kehamilan sang istri kali ini sangat tidak berdaya. Mammy terlihat lebih ingin dimanja dari pada kehamilan yang sebelumnya.


Mammy berjalan mendahului suaminya sedikit agak berlari seperti anak kecil yang akan diajak pergi membeli permen. Hal itu membuat semua orang yang melihatnya merasa khawatir.


"Mammy jalan pelan sedikit." Kata Deddy agak keras.


"Cepetan Ded, ntar keburu habis!" Balas Mammy.


"Mammy hati-hati jalannya." Pesan Alfian saat wanita paruhbaya itu lewat di depannya.


"Tante jangan lupakan aku ya." Pinta Ziko yang sebenarnya juga ingin ikut dengan gratisan.


Ziko mendapatkan tatapan tajam dari Deddy sambil lewat. Rasa khawatir pada sang istri yang hamil muda membuat Dia lebih sensitif.


Hamil muda memang sangat riskan dengan keguguran. Untuk itu Deddy sangat khawatir mengejar istrinya.


"Mammy dengerin Deddy dong." Kata Deddy dengan langkah cepatnya menuju mobil yang terparkir di garasi.


"Deddy sayang, aku ini sudah pernah mengandung jadi jangan terlalu khawatir." Pinta sang istri.


Bagaimana tidak khawatir setelah sekian lama yang diharapkan baru muncul. Mereka telah memprogram begitu lama dengan usaha keras baru calon bayi itu ada.


Mammy menghentikan langkah kaki ketika sampai di garasi. Dia ingin menaiki motor dari pada mobil yang ada di sana.


Deddy yang sudah hendak membuka pintu mobil terhenti saat melihat sang istri berjalan menuju sebuah motor yang tak jauh darinya. Pikiran pria paruh baya itu mulai tidak enak.

__ADS_1


"*Ini Mammy mau ngapain berjalan ke sana?" Batin Deddy.


"Mengambil helm dan kunci motor lagi." Lanjutnya*.


"Naik motor aja Ded." Pinta sang istri.


"Biar lebih cepat sampainya." Katanya lagi.


"Mam lebih aman pakai mobil gak kepanasan kalau siang dan gak keanginan di jalan." Rayu sang suami.


"Gak mau ah Ded, ntar lama sampainya." Kata Mammy merajuk.


"Sabar lah Mam biar aman." Kata Deddy.


"Pengen aman bawa bodygart aja Ded." Kata Mammy.


"Emang bodygart mau disuruh ngapain?" Tanya Deddy.


"Mau disuruh pegangin Mammy biar gak jatuh saat naik motor?" Lanjutnya.


"Mammy pinginnya naik motor Ded." Kata sang istri yang kekeh.


"Nanti bisa-bisa Mammy kulitnya hitam lho kana panas matahari." Jelas Deddy.


"Deddy kenapa gak ngerti sih, aku inginnya naik motor!" Kata Mammy yang gak mau merubah pendiriannya.


"Mau nanti anak kita gak keturutan jadi ileran." Jelas mammy dengan menunjukkan rasa jijik.


"Enggaklah." Balas Deddy.


"Masa sih anak seorang Ceo terkenal kaya gak bisa nurutin keinginan anaknya alhasil jadi ileran." Jelas Mammy.


Kata-kata sang istri akhirnya berhasil meluluhlantahkan keinginan suaminya yang sejak tadi merasa sangat khawatir. Wanita memang selalu pintar dalam berbicara. (Tapi harus dalam hal positif ya jangan suka ngrumpi apalagi ini bulan puasa).


📒📒📒📒📒📒📒📒📒📒


Author mengucapkan:


Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan semoga segala amal kita diterima oleh Allah.

__ADS_1


Amin.


__ADS_2