
Gadis itu segera melangkah keluar dari kelas setelah dosen itu pergi meninggalkan ruang itu. Ada seorang mahasiswa yang penasaran dengan gadis ini karena sejak tadi tidak memiliki antusiasme pada dosen baru yang masih muda itu.
Merasa penasaran seorang mahasiswa itu keluar mengikuti gadis itu. Mentari langsung menuju perpustakaan mencari sumber untuk tugas-tugas yang belum selesai.
Buku yang dicari sudah dia temukan kemudian gadis itu meminjamnya pada petugas perpustakaan. Buku pinjaman itu dibawanya menuju taman yang tidak jauh dari sana.
Mentari merasa ada yang mengikuti sejak keluar dari ruang kuliah. Ia berusaha tetap tenang.
"Apa ini mungkin salah satu maksut Papa tadi melarang berangkat ke kampus?" Tanyanya dalam hati.
"Tapi sejak dari pemakaman itu juga bapak tua itu memberikan sebuah peringatan." Lanjutnya*.
Plak
Sebuah tepukan telapak tangan mengenai bahu Mentari. Ia pun tersentak walaupun sudah merasa ada yang mengintai.
Seorang laki-laki mencoba duduk disebelah Mentari. Walaupun kursi di tanam itu lumayan cukup panjang hingga beberapa orang masih muat untuk duduk di sana.
"Sendirian." Tanya seorang pemuda.
"Hem." Jawab Mentari singkat.
"Mahasiswa angkatan tahun ini kah? Sepertinya." Kata Pemuda itu melihat secara intens gadis yang duduk di sampingnya karena dia merasa gadis ini dia baru melihatnya.
"Maaf aku masih ada urusan." Kata Tari hendak pergi dari sana karena merasa tidak nyaman.
Dosen muda yang sekarang berada di ruang kantor dosen sejak tadi melihat pada Mentari karena penasaran. Rasa penasarannya itu terjadi karena hanya gadis itu tadi yang tidak memiliki antusias padanya.
162
Merasa penasaran seorang mahasiswa itu keluar mengikuti gadis itu. Mentari langsung menuju perpustakaan mencari sumber untuk tugas-tugas yang belum selesai.
Buku yang dicari sudah dia temukan kemudian gadis itu meminjamnya pada petugas perpustakaan. Buku pinjaman itu dibawanya menuju taman yang tidak jauh dari sana.
Mentari merasa ada yang mengikuti sejak keluar dari ruang kuliah. Ia berusaha tetap tenang.
"Apa ini mungkin salah satu maksut Papa tadi melarang berangkat ke kampus?" Tanyanya dalam hati.
"Tapi sejak dari pemakaman itu juga bapak tua itu memberikan sebuah peringatan." Lanjutnya*.
Plak
Sebuah tepukan telapak tangan mengenai bahu Mentari. Ia pun tersentak walaupun sudah merasa ada yang mengintai.
Seorang laki-laki mencoba duduk disebelah Mentari. Walaupun kursi di tanam itu lumayan cukup panjang hingga beberapa orang masih muat untuk duduk di sana.
"Sendirian." Tanya seorang pemuda.
"Hem." Jawab Mentari singkat.
"Mahasiswa angkatan tahun ini kah? Sepertinya." Kata Pemuda itu melihat secara intens gadis yang duduk di sampingnya karena dia merasa gadis ini dia baru melihatnya.
"Maaf aku masih ada urusan." Kata Tari hendak pergi dari sana karena merasa tidak nyaman.
Dosen muda yang sekarang berada di ruang kantor dosen sejak tadi melihat pada Mentari karena penasaran. Rasa penasarannya itu terjadi karena hanya gadis itu tadi yang tidak memiliki antusias padanya.
Mentari hendak menuju ruang kuliahnya lagi karena masih ada kuliah siang yang di tempuh. Ruang itu masih terlihat sepi, hanya beberapa orang mahasiswa yang sudah datang.
Merasa badannya tidak nyaman karena capek seharian kemarin memiliki pasien yang harus dijaga. Mentari tidak jadi mengikuti kuliah hingga selesai hari ini.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa sudah beranjak waktu makan siang. Mentari oergi untuk mengambil motornya yang berada di tempat parkir.
Motor itu adalah motor kesayangan Mentari. Sebuah hadiahyang terlihat mungkin hanya sebatas motor biasa tetapi sebenarnya sudah diberikan alat pelacak.
Tidak seorang pun menyadari akan adanya alat pelacak itu termasuk Mentari sendiri. Dipasangnya alat itu memiliki tujuan keamanan untuk pemakai.
Gadis itu segera menyalakan motor pergi menuju kediaman utama milik Sang Papa. Merasa tidak nyaman dengan kondisi dan kejadian hari ini.
Jalanan begitu ramai dengan berbagai aktifitas layaknya sebuah ibu kota. Apalagi saat ini ditengah kesibukan orang-orang bekerja membuat semakin padat dan kemacetan terjadi dimana-mana.
Untung saja Mentari membawa motor sehingga dia pun cepat sampai di rumah. Sepeda motor dengan disain yang lebih kecil itu bisa menyelip diantara pengguna mobil hingga tak butuh waktu lama untuk mencapai tujuannya.
"Siang non." Sapa salah satu ART yang sedang bersih-bersih di depan.
"Siang Ana." Balas Tari.
"Tumben pulang cepet." Kata Ana.
"Gak ada apa-apa." Jelas Tari memindai setiap sudut ruang yang sudah penuh dengan pekerja untuk membersihkan dan mendekorasi rumah itu.
Gadis itu melangkah menuju kamarnya perlahan sambil mengamati setiap orang yang bekerja. Dia sendiri merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah yang begitu ramai seperti sekarang ini.
Klek
Pintu kamar dibuka perlahan oleh yang punya. Ingin segera memejamkan mata walau sebentar setelah membersihkan dirinya.
"*Apa aku harus menikah diusia ku sekarang?" Batinnya.
"Aku kan masih muda banget." Lanjutnya saat masih duduk di depan meja rias.
"Aku jadi penasaran rasanya menikah muda." Batinnya lagi.
"Oh tidak..... Jika teman-teman sekolahku tahu gimana pandangan mereka." Lanjutnya dengan menggelangkan kepala sedikit keras tak percaya*.
Memang selama menempuh pendidikan Mentari tidak pernah mengungkap identitas aslinya. Dia yang mereka kenal adalah seorang anak yang berasal dari golongan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Apa pun penghargaan yang didapatkannya hanya semata-mata karena dia pintar dalam segala hal. Segelintir orang saja yang tahu identitas yang sebenarnya.
Dia mendapatkan seorang Alfian anak orang yang sungguh sangat kaya raya bagaimana pandangan orang-orang? Semua itu ada dalam pikirannya.
Ketiga saudaranya pun sudah pulang ke rumah. Saat mereka sampai hampir semua ruangan sudah selesai didekorasi.
"Lumayan." Kata Daffa berlari masuk kemudian naik tangga hendak menuju kamar Sang Kakak Perempuannya itu.
"Harus meriah ini Kak. Saudara perempuan kita kan cuma satu doang. Kata Garda dingin walaupun hatinya sangat bahagia.
"Aku sih setuju-setuju aja. Aku ingin yang terbaik untuknya." Kata Axel.
"Kenapa harus secepat itu juga dia menjadi milik orang lain. Apa Kak Tari akan tinggal di sini setelah menikah." Lanjutnya kecewa karena ditinggal Kakak perempuan satu-satunya.
"Sudahlah jangan sedih seperti itu, kalau Kakak tahu pasti dia akan lebih sedih." Nasehat Garda.
"Aku jadi penasaran dengan kakak ku pasti sangat cantik saat dirias menjadi pengantin." Kata Axel mencoba menghibur diri sendiri.
Mentari memang sosok seorang kakak yang penuh dengan kasih sayang. Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk orang-orang yang ada disekitarnya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Axel pada Daffa yang saat itu sudah berada di dekatnya dan melihat tatapan mata saudaranya seakan mereka memiliki sebuah pemikiran yang sama.
Ketiga saudara laki-laki ini saling pandang saat melewati kamar sang kakak. Pemikiran sang sama selalu muncul pada mereka.
Saat Daffa akan berteriak kedua kakaknya langsung membungkam mulut sang adik bungsu. Takut suara Daffa terdengar hingga ke dalam kamar untuk itu kedua saudaranya membungkamnya.
"Lepas." Pinta Daffa sambil meronta karena mulutnya disekap oleh kedua kakaknya.
"Memang kakak sudah pulang?" Tanya Daffa melihat ke arah kamar Sang Kakak perempuannya.
"Memangnya kamu tadi tidak lihat apa motornya itu udah diparkirkan di depan." Jelas Garda.
"Maaf-maaf aku tadi merem sambil jalan." Kata Daffa.
"Apa yang ada dipikiran kalian?" Tanya Axel.
Di Dalam Kamar Sang Kakak
Mentari setelah selesai membersihkan diri kemudian merapikan dirinya didepan meja rias mendengar sedikit bisik-bisik keributan ketiga adiknya dari luar. Ketiga suara adiknya itu sudah tidak asing lagi buat dia.
Mendengar keributan itu Tari keluar dari dalam kamar. Gadis itu ingin tahu apa yang telah terjadi.
"Hai Kakak ku yang paling cantik." Sapa Daffa yang saat itu juga melihat sang kakak sudah berdiri di ambang pintu dengan bersedekap.
"Ngapain kalian ribut didepan kamar ku?" Tanya Tari penasaran.
"Tidak, kami hanya penasaran kakak ada di kamar tidak?" Jawab Axel.
"Iya betul betul betul. Mana tahu kakak gak pulang ke rumah tapi pulang ke tempat calon suami." Kata Garda untuk meyakinkan sang kakak.
"Ngomong-ngomong kakak kenapa sudah pulang? Tanya Daffa dengan mengadu lengannya berkali-kali dengan sang kakak.
"Tidak apa-apa." Jawab Sang Kakak dengan malas.
"Aku jadi penasaran. Apa karena ucapan Papa tadi pagi?" Tanya Garda.
"Boleh kah kami masuk? Tanya Axel sedikit sungkan.
"Betul betul betul. Tidak sopan kali Kak kalau ngobrol di depan pintu seperti ini." Jelas Daffa sambil menaik turunkan alisnya.
"Masuk lah." Perintah Sang Kakak.
Ketiga bersaudara kembar tapi itu berharap Kakak perempuannya belum pulang ke rumah. Mereka bertiga tahu jadwal kuliah Kakaknya hari ini sampai sore itu pun kalau tidak mengikuti latihan bela diri.
164
Ketiga bersaudara kembar itu berharap Kakak perempuannya belum pulang ke rumah. Mereka bertiga tahu jadwal kuliah Kakaknya hari ini sampai sore itu pun kalau tidak mengikuti latihan bela diri.
Ini hari memang tidak memihak pada mereka. Mereka berharap bisa memberikan Surprase yang tidak mengecewakan Sang Kakak.
Mereka di dalam kamar mengobrol hingga terlewat waktu makan siang. Ketiganya melihat setiap sudut tempat di ruangan itu.
Bayangan akan sebuah kejutan yang akan direncanakan mereka sudah ada dalam pikiran mereka bertiga. Hanya dengan melihat sekilas saja mereka bisa berimajinasi hingga beberapa dimensi.
Mereka memang sangat cerdas jika dibandingkan dengan anak lainnya. Tidak seorang pun tahu kelebihan yang mereka miliki sebab mereka tidak pernah menunjukkan kelebihan itu.
Mentari melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia sudah merasakan kelaparan saat ini.
"Ayo turun." Ajak Kak Tari pada ketiga adiknya.
"Iya benar. Gak enak sama mereka yang sedang bekerja." Jelas Garda.
"Kak ingat itu sebentar lagi mau nikah masak baru ngobrol sedikit saja sudah laper." Kata Axel.
"Ntar kalau banyak makan alias makan berlebihan sebelum menikah tubuh melar gimana coba?" Tanya Daffa yang memang sejak kecil selalu memperhatikan penampilannya.
"Melar kayak apa'an aja?" Tanya Kakak perempuan mereka yang sejak dulu tidak pernah memikirkan penampilannya.
"Kayak...... " Kata Axel terputus.
"Karet." Jawab Ketiga adik lakinya.
"Betul betul betul." Kata Daffa.
"Trus baju pengantinnya gak muat." Lanjut Daffa.
Sang Kakak terlihat tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dia benar-benar menghabiskan makanan ringan setelah makan siang.
Kelakuannya yang seperti itu mendapat teguran yang manis dari calon suaminya. Dia sendiri tidak begitu memperhatikan masalah body.
Mereka memutuskan makan di dalam kamar Sang Kakak dengan berbagai macam menu makanan yang dibuat oleh ART mereka. Mereka hari ini tidak turun langsung ke lapangan takutnya untuk menghidupi para pendekorasi rumah mereka yang cukup banyak mereka akan kualahan.
Berbeda jika tenaga mereka hanya untuk seluruh anggota keluarga yang cukup sedikit mereka pasti akan turun langsung. Mungkin ada berbagai pandangan dari orang lain jika mereka mengetahui hal ini.
Biasanya jika orang kelas atas mengerjakan pekerjaannya sendiri banyak yang menganggap mereka pelit. Mereka tidak mau keluar uang untuk orang lain dengan tidak mempekerjakan mereka.
Mereka berempat makan dengan lahap sambil bersenda gurau. Waktu bersama-sama dengan kakak perempuannya itu tinggal menghitung hari sehingga mereka memanfaatkan kesempatan untuk bersama-sama.
Sang Kakak tidak pernah menganggap akan ada perbedaan sebelum dia menikah atau pun sesudah menikah. Kehidupan yang berbeda akan menciptakan hal tersebut karena memang sudah hukum alam.
Lingkungan yang berbeda hari ini menciptakan situasi yang berbeda. Setiap mereka makan di meja makan hanya ada sedikit perbincangan kecil. Makan siang hari ini mereka sungguh bersenda gurau dengan gelak tawa yang menggelegar di setiap sudut kamar itu.
Mereka berani tertawa seperti itu di sebuah kamar karena semua kamar di kediaman utama kedap suara. Kebahagiaan masa depan sang kakak perempuan mereka sudah menanti.
Banyak hal yang tidak bisa diungkapkan masalah kehidupan seseorang. Mereka memang harus bisa mengambil keputusan itu.
"Sudah hentikan Kak!" Kata Axel yang melihat kakaknya itu makan tanpa henti sejak tadi.
"Kenapa Memangnya?" Tanya Mentari dengan mengangkat sedikit dagunya.
"Takut aku gemuk dan baju pengantinnya tidak muat?" Lanjutnya.
"Bukan." Jawab Axel.
"Trus apa dong?" Tanya Tari sambil merebut makanan yang sekarang dibawa oleh Garda.
"Gak sehat kakak ku sayang." Kata Axel dengan mencubit kedua pipi sang kakak karena geram.
Makanan yang dibawakan oleh ART mereka sudah hampir habis. Ketiga saudara laki-laki itu undur diri dari kamar kakak perempuannya.
Rasa kecewa menyelimuti hati ketiganya karena gagal fokus. Mereka membuat rencana lain untuk membuat surprese buat kakak perempuan mereka.
"Sepertinya waktu kurang pas kalau segera dilaksanakan." Kata Garda.
"Kita butuh bantuan sepertinya." Kata Daffa.
__ADS_1
"Bukannya kalian semua punya asisten." Lanjutnya.
"Ini berhubungan dengan privasi kakak kita." Kata Axel.
"Kita harus menjaganya. Kakak selalu tidak suka kalau orang lain masuk ke kamarnya." Lanjutnya.
"Gak baik banyak bicara, apalagi ditempat umum seperti ini."Kata Garda menjelaskan sebuah fakta kehidupan.
"Betul betul betul. Tembok yang gak punya telinga saja bisa mendengar." Kata Axel sambil merangkul kedua adiknya.
Mereka menuju kamar kakak tertua karena mereka memang digiring ke sana oleh yang punya kamar. Masih dengan hal yang sama mereka diskusikan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat surprese pada saat hari Kakak perempuannya itu menikah. Mereka sudah memikirkan caranya walaupun harus seperti jalangkung yang datang dan menghilang tanpa memberitahu.
Kesepakatan ketiga orang laki-laki kecil tapi dengan pemikiran yang cukup dewasa itu telah sampai pada pembagian tugasnya. Untuk hal selanjutnya tinggal mereka melaksanakannya dengan semangat dan hati-hati.
Kedua orang tua mereka masih disibukkan dengan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Mereka sangat ingin menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum hari pernikahan anak gadisnya berlangsung.
Keduanya tidak ingin membebankan semua pekerjaan pada asisten mereka biarpun mereka sangat handal. Bukan karena tidak percaya tetapi karena tanggung jawab akan pekerjaan yang sudah seharusnya dilakukan.
Papa sudah meminta orang pihak WO kepercayaannya untuk mendekorasi rumah mereka sebagus mungkin. Mengenai rancangan sudah digambarkan oleh yang punya kediaman.
Semua ruangan didekorasi dengan sangat elegan. Beberapa ruang tidak diijinkan orang lain masuk untuk didekorasi yaitu beberapa ruang pribadi dan kamar yang punya rumah.
Menunggu hari pernikahan itu semua orang sangat antusias, terutama seluruh anggota keluarga dari kedua mempelai.
Undangan sudah tercetak dan disebarkan pada hari yang sama pada seluruh anggota keluarga. Selain anggota keluarga juga orang-orang terdekat anggota keluarga.
Mereka tidak mau terjadi masalah pada saat pernikahan itu sehingga harus menekan juga jumlah tamu undangan. Banyak cara yang dilakukan agar pernikahan itu berjalan dengan lancar.
Mentari sekarang sedang terlelap setelah kepergian ketiga adik laki-lakinya itu. Ketiga adiknya itu selalu menjadikan penyemangat hidupnya.
Merasa sebagai seorang yang lebih tua dan memiliki ketiga adik maka dia pun harus memberikan contoh yang sangat baik. Takut jika tidak baik akan menjadi contoh untuk ketiganya.
Masalah terkadang harus disembunyikan dan disimpannya dalam hati dan pikirannya sendiri. Biarpun seperti itu tetapi ketiga adiknya selalu tahu apa yang menjadi beban pikiran yang kakak.
Dikamar sebelah ketiga orang anak laki-laki sedang disibukkan dengan rencana yang akan diluncurkan. Hadiah untuk sang kakak perempuan satu-satunya yang sangat mereka sayangi.
Gelak tawa dalam ruangan itu tidak terdengar sama sekali dari luar walaupun diselingi oleh candaan yang sangat menghebohkan. Semua keperluan yang dibutuhkan sudah dicatat secara terperinci dan segera dipesan oleh mereka.
165
Ketiga anak laki-laki itu membagi tugas mereka untuk mengambil pesanan. Pesanan yang sudah diambil segera mereka sembunyikan di kamar Axel.
"Saatnya berburu." Teriak ketiganya serempak.
Mereka masing-masing mengambil sepeda mereka yang ada di garasi. Itung-itung buat olah raga mereka menggunakan sepeda kayuh.
"Untung saja kakak belum keluar dari dalam. Dia pasti sedang ketiduran." Kata Daffa sesampainya di kediaman utama setelah mengambil pesanan mereka.
"Mungkin." Kata Axel sambil memilah milah barang yang mereka dapat.
Waktu sudah semakin sore tetapi kesibukan dalam rumah itu belum juga selesai. Kemungkinan akan dilanjutkan besok lagi.
Kesibukan itu bukan hanya di luar ruangan tetapi juga di dalam sebuah kamar seorang anak laki-laki. Apa yang mereka bertiga lakukan di sana tak seorang pun tahu dan ingin tahu.
Meskipun banyak orang yang sedang bekerja di rumah itu hari ini mereka tidak ingin tahu jika mereka berusaha untuk mengetahuinya maka sesuatu juga akan terjadi padanya. Biarpun mereka masih tergolong anak kecil tapi kemampuan mereka tidak dapat dibayangkan oleh orang lain.
Papa dan Mama harus lembur di kantor hingga larut malam untuk beberapa hari kedepan untuk dapat merayakan hari yang paling membahagiakan untuk anak gadis mereka. Mereka sudah menganggap Mentari sebagai anak kandung mereka sendiri yang sangat mereka sayangi.
Mereka tidak pernah membedakan kasih sayang yang mereka berikan pada anak-anak. Hal itu membuat mereka juga tumbuh dengan penuh kasih sayang yang tidak kurang.
Rencana ketiga anak laki-laki ini tidak ada yang mengetahuinya. Kedua orang tua mereka bahkan tidak mengetahuinya.
Rencana itu hanya bisa dijalankan saat resepsi itu berlangsung. Saat resepsi itu berlangsung maka semua orang akan sibuk dengan urusannya masing-masing.
Seorang Pria paruh baya mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya. Dia meluangkan waktu untuk menghubungi salah satu orang rumah.
Nomor anak gadisnya tertera di layar ponsel itu. Dia pun mendeal nomor tersebut tetapi tidak tersambung.
"Kemana ini anak? Apakah masih diluar ada kegiatan?" Kata Papa lirih.
"Hallo. Assalamualaikum." Sapa Seseorang yang ada di sebrang.
"Wa'alaaikumsalam." Jawab Papa setelah panggilan itu diangkat dan mendengar sapaan orang yang dihubunginya itu.
"Kenapa tadi gak segera diangkat?" Tanya Papa yang masih khawatir dengan keadaan anaknya itu.
"Maaf-maaf Pa tadi aku ketiduran." Jawab Mentari santai.
"Tadi kan Papa sudah bilang kamu di rumah saja gak usah pergi-pergi dulu." Nasehat Papa.
"Walaupun itu ke kampus kamu juga tidak harus berangkat." Lanjutnya.
"Iya-iya." Jawab Mentari.
"Itu kondisi rumah bagaimana? Apa sudah selesai dekorasinya? Tanya Papa.
"Tahu, tadi kan aku bilang ketiduran." Jawab Tari dengan santai.
"Nanti Papa kan bisa lihat sendiri kalau sudah sampai di rumah." Kata Tari lagi.
"Dasar kamu itu, sana cuci muka biar ilang itu ilernya." Perintah Papa.
"Baik." Kata Mentari sambil berlari menuju meja rias untuk bercermin melihat sekeliling bibirnya.
"Dari mana Papa tahu kalau aku ngiler?" Tanya Tari setelah melihat ia benar-benar ngiler setelah bangun tidur.
"Kamu itu sudah besar dan mau menikah belum tahu kalau Papa mu ini tahu segalanya seperti..... " Kata Papa.
"Papa dan Mama malam ini pulang larut, kamu jaga diri mu dan adik-adik mu." Pesan Papa pada Mentari sebelum mengakhiri telepon.
"Baiklah." Kata Mentari.
"Ya sudah Papa tutup dulu teleponnya ya?" Kata Papa.
"Wasalamualaikum." Kata salam dari Papa.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Mentari.
Di rumah lain terjadi hal yang sama. Mereka sama-sama mendekorasi seluruh tempat, kecuali di kamar tidur.
Alfian hari ini sudah libur dari segala aktivitas hariannya, sedangkan Deddy masih sibuk dengan segala urusan kantor. Urusan kantor memang harus diselesaikan juga dalam waktu dekat ini agar bisa berkonsentrasi dalam urusan pernikahan sang anak.
Deddy yang sedang berkutat dengan pekerjaannya itu membuat teringat dengan sang istri yang tengah hamil. Kini badannya berada di kantor sedangkan pikirannya berada di rumah.
__ADS_1
Khawatir dengan Mammy yang susah pada masa kehamilannya sekarang. Rasanya ingin Laki-laki paruh baya itu membagi tubuhnya itu.