Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 84. Udah kamu siapin


__ADS_3

"Udah sana kamu siapin semua yang kamu perlukan." Perintah Mommy.


"Beres." Kata Alfian bersemangat.


Karena semangatnya yang luar biasa semangat 45 kayak seorang pejuang. Memang pejuang sih, pejuang cinta.


Alfian naik ke lantai atas dengan setengah berlari. Ia segera segera masuk kamar dan membersihkan diri.


Pakaian kantor yang ia kenakan kini sudah berubah pakaian rumah. Terasa ringan pikiran pun sudah lebih santai. Entah karena pengaruh pakaian atau perasaan yang baru senang hanya dia yang tahu.


Alfian meninggalkan kamarnya menuju dapur. Ia mengambil minuman dingin di dalam kulkas. Terdengar langkah kaki menuju tempatnya berdiri.


Plaak


Tamparan mengenai punggungnya. Alfian pun terkejut dibuatnya.


"Ahhh." Teriak Alfian merasakan panas dipunggungnya.


"Gimana udah siap?" Tanya Deddy.


"Disiap-siapin juga siap." Balas Alfian.


"Mantap." Kata Mommy berjalan menghampiri suami dan anaknya.


"Berangkat pukul berapa kita?" Tanya Alfian.


"Udah gak sabar tuh anak mu kayak kamu dulu." Ledek Mommy pada Deddy.


"Maunya sekarang kamu ya?" Tanya Deddy pada Alfian.


"Tahu aja ni Deddy pikiran Al." Kata Alfian.


"Apa sih yang gak Deddy tahu pikiran mu, kamu kan keturunan ku yang paling ganteng, pintar, dan kaya." Puji Deddy.


"Ya Iyalah." Kata Alfian dengan narsisnya.


"Termasuk narsisnya Deddy mu itu nurun semua." Sahut Mommy yang sedang mempersiapkan semua bawaan untuk keluarga calon besan.


"Kalian dari pada ngobrol terus mendingan bantuin Mommy ini." Lanjut Mommy.


"Atau mau kita terlambat." Ancam Mommy.


"Iya deh Mommy sayang Deddy akan bantuin Mommy kalau di kamar aja ya." Kata Deddy tepat di telinga Mammy lirih.


Biarpun lirih tapi Alfian masih bisa mendengar dengan jelas. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua.


♥️♥️♥️♥️♥️


109


Biarpun lirih tapi Alfian masih bisa mendengar dengan jelas. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua.


Mommy masih sibuk untuk mempersiapkan semuanya. Alfian menghampiri mommynya dengan perasaan yang tak enak.


"Mom butuh bantuan ku?" Tanya Alfian.


"Tidak untuk sekarang." Jawab Mommy.


" Ya udah kalau gitu aku mau ke kamar ku dulu." Pamit Alfian sambil berbalik.


"Aaaaawww Mom sakit." Teriak Alfian merasakan sakit daun telinganya akibat dijewer oleh sang Mommy.


"Dasar anak kurang sambel, itu semua taruh di mobil!" Perintah Mommy.


"Iya. Aku taruh di mobil." Jawab Alfian.


"Gak jewer telinga lagi kenapa sih Mom, aku kan udah gede." Gerutu Alfian dengan membawa barang-barang yang akan dibawa ke rumah calon mertuanya.


"Apa-apa an kalian ini dari tadi ribut mulu. Cepat sana siap-siap! Perintah Deddy.


"Ok. Bos." Jawab Alfian sambil posisi tangan menghormati.


"Iya sayang." Jawab Mommy berjalan mendekati suaminya dan tiba-tiba cubitan di dagu suaminya spontan.


"Mommy, dasar genit!" Teriak Deddy berlari mengejar istrinya menuju kamar.


"Emang kenapa? Gak boleh genitin suami sendiri?" Tanya Mommy.


"Nanti kalau ada yang berontak gimana Mommy?" Tanya Deddy yang masih mengekor.


Mommy mengambil handuknya kemudian menuju kamar mandi. Deddy yang dari tadi mengekor istrinya terkejut karena tiba-tiba pintu kamar mandi ditutup dengan keras. Mommy yang menutupnya pun tak memperhitungkan keberadaan suaminya.


Deddy merasakan sakit pada hidungnya akibat benturan atau mencium daun pintu kamar mandi. Ia mengelus-elus hidungnya karena sangat merah.


♥️♥️♥️


110


Mommy melihat Deddy duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus hidungnya tanpa merasa bersalah. Kalau di kasih perhatian biasanya Suaminya akan meminta lebih. Hingga dibiarkan saja lah suaminya mengurus hidungnya itu sendiri.


"Mommy gak itung-itung saat nutup kamar mandi. Ini hidung mancung sangat berharga. Nanti kalau ini hidung sampai panjangnya berkurang lihatlah nanti Mommy ada hukumannya." Ancam Deddy sambil menahan sakit.


"Deddy siapa suruh sejak tadi ngekor terus di belakang. Katanya tadi suruh segera siap-siap. Nanti keburu malam." Kata Mommy membela diri sendiri.


Deddy masih menahan rasa sakit di hidungnya. Warna hidungnya sangatlah merah akibat benturan dengan daun pintu.


Deddy pun segera mandi dan memakai pakaian yang disiapkan oleh istri tercintanya. Ia melihat di seluruh sudut ruangan mencari keberadaan istrinya. Tetapi bayangan istrinya pun tidak nampak.


Mommy sudah menunggu suami dan anak tampannya. Hingga ia pun merasa bosan.


Deddy dan Alfian keluar kamar bersamaan. Kali ini mereka berdua tampak sangat tampan dari biasanya.


"Kalian ini seperti wanita, lama banget acara berias juga ya? Tanya Mammy.


"Mommy kita-kita ini kaum laki-laki seperti Deddy dan Anak mu yang paling ganteng ini gak perlu pakai acara berias juga udah keren, dan ganteng." Jelas Alfian yang panjang sekali dengan narsisnya.


"Bener itu Al." Bela sang Deddy dengan menepuk pundak anaknya.


"Haduuuh, kalian ini bisa ilangin narsis kalian kah?" Tanya Mommy.


"Udah ayo berangkat sekarang, melayani perkataan kalian ntar gak akan ada habisnya.


Mereka masuk dalam mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama. Deddy berjalan terlebih dahulu membukakan pintu untuk istrinya di kursi penumpang. Deddy pun akhirnya masuk juga dan duduk di samping Sang Istri.


Alfian masih berdiri tegak seperti patung. Ia tak beranjak dari tempatnya.


"Kok cuma bengong?" Tanya Mommy.


Alfian mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian berjalan mendekati kedua orang tuanya. Ia pun ikut masuk di kursi kemudi.


"Kalian ini orang tua yang berakat nganterin aku, apa sebaliknya." Hardik Alfian.


Kedua orang tua Alfian hanya tersenyum penuh kemenangan. Berangkat menuju rumah Besan akhirnya Alfian sendirilah yang mengemudi.


"Udah deh kelihatan jelek kalau pasang muka masam kayak gitu sayang." Kata Mommy.


"Seumur-umur baru kali ini disopirin anak sendiri." Kata Deddy.


"Ngomong-ngomong itu yang panjang kenapa?" Tanya Alfian mengalihkan pembicaraan setelah melihat cermin yang ada di atas kursi depan.


"Kayak terong dicabein." Lanjutnya.


"Itu mah judul lagu." Kata Mommy.

__ADS_1


"Iya maksut aku itu itu hidung kok merah gitu? Tanya Alfian.


"Mommy tadi ganas waktu di kamar." Jelas Deddy.


Mendengar itu Alfian hanya menggelengkan kepala. Ia pun fokus mengemudikan mobilnya.


"Haduuuh, belum juga apa-apa ini telinga udah dinodai sama kalian. Ingat aku ini masih perjaka kalau kebelet Gimana coba?" Protes Alfian.


Mendengar penjelasan dari Deddy semua yang ada di ruang tamu itu tertawa lepas. Bahkan penjelasan mengenai ketakutan anak-anak mengenai vampir akibat ulah mamanya yang belum menjelaskan akan ada acara makan malam membuat suasana menghangat. Tawa terdengar di seluruh sudut rumah.


Waktu sudah sangat larut hingga dengan sangat terpaksa seluruh anggota keluarga Alfian harus pamit. (Author lupa nulis kapan ya tadi bawaan diserahkan pada keluarga Mentari)


Fleshback


Saat turun dari mobil mereka langsung mengeluarkan semua barang bawaan keluarga Alfian. Alfian menerima barang-barang tersebut dengan senang hati. Apalagi ketiga bocil itu lebih antusias lagi. Mereka sangat penasaran dengan semua barang-barang yang di bungkus itu. Ketiganya membawa barang-barang itu ke kamar kakak mereka.


Setelah keluarga Alfian pulang ketiga anak laki-laki itu selalu mengekor di belakang Kakak mereka. Kakak sampai menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalian ada apa?" Tanya Kakak.


"Kami ikut masuk ya?" Rajuk Axel.


"Kapan kakak melarang kalian masuk kamar kakak?" Tanya Kakak sambil berjongkok agar untuk mensejajarkan tinggi badan ketiga adiknya.


"Ayo masuk." Pinta kakak.


Ketiga bocil itu langsung menerobos masuk. Mereka merajuk minta dibukakan oleh-oleh yang dibawakan keluarga Alfian tadi.


Kakak pun pergi keluar meninggalkan ketiga adiknya itu. Ia menghampiri kedua orang tuanya untuk memintanya pergi bersamanya menuju kamar.


Kepergian sang kakak tadi sempat menjadi tanda tanya di dalam pikiran ketiga bocil itu. Mereka mengira kalau sang kakak tidak mengijinkan mereka mengetahui isinya.


"Kakak malah kemana perginya?" Tanya Axel.


"Marah sama kita mungkin." Jawab Garda.


"Gak mungkin marah, tadi kakak sendiri yang bilang kok." Kata Axel.


"Kalau marah dia pasti udah menghancurkan dunia ini." Lanjut Axel sempat terdengar oleh Kakak dan kedua orang tuanya yang sudah berada di depan pintu.


"Kalau kakak marah menghancurkan dunia, kalau Papa marah menghancurkan jagat raya sedangkan kalau mama yang marah menghancurkan dapur kita ( acara televisi kali).


Percakapan ketiga saudara laki-laki ini terasa menghangatkan. Percakapan mereka sudah terdengar oleh kakak dan kedua orang tuanya. Mereka hampir dibuat tertawa geli oleh ketiganya.


"Kalau kalian bertiga marah apa yang akan terjadi?" Tanya Papa dari balik pintu.


Papa dan Mama mereka tahu ketiga anaknya itu bisa menghancurkan apa saja ketika mereka sedang marah. Apalagi menyakiti anggota keluarganya mereka tidak akan pernah segan-segan lagi untuk bertindak.


"Haah... Papa. Sejak kapan kalian ada disitu?" Tanya Axel kaget.


"Sejak kalian seperti emak-emak rempong yang suka bergosip." Jawab Papa.


"Kelakuan kalian ini seperti wanita kalau udah kumpul seperti ini. Mulut gak busi istirahat." Jelas Mama.


"Mama aja gak serempong kalian." Kata Mama.


"Kalau kami rempong, trus Mamanya gak rempong jadi kami anak siapa dong?" Tanya Daffa.


"Udah ah kalian ini bicara terus itu mulut, apa gak pegel itu mulut?" Tanya kakak.


"Pegel ya nanti pijit lah kak." Sahut Garda.


"Kalau mulut pegal pijatnya pakai apa dong? Tanya Kakak.


"Pakai mulut juga kak." Kata Axel.


Mereka duduk di karpet yang luas tanpa melanjutkan obrolan mereka. Mendengar kata-kata terakhir Axel tadi Papa sempat menyenggol sang istri sambil berbisik tepat di telinganya.


"Mulut Papa juga capek ini Ma. Nanti dipijat ya Ma?" Perintah Papa.


"Kenapa gak sekarang aja pijatnya?" Tanya Garda polos.


"Gak bisa dong sayang, nanti mata kalian bisa tercemari." Jelas Papa.


"Makanya Pa kalau ngomong pakai filter. Jangan tinggal cas cis cus." Omel Mama.


Mereka mulai membuka bingkisan tersebut. Sebelum membukanya Mama mengingatkan sesuatu untuk mengurangi mulut rempong mereka.


"Kalau bekerja itu bukan dengan mulut tapi dengan tangan." Kata Mama.


"Kalau bekerja buat anak pakai apa Ma?" Bisik Papa dengan pikiran mesumnya.


Mama yang mendengar itu tanpa bosa basi mencubit perut suaminya. Papa berpura-pura sakit akibat cubitan sang istri.


Semua bingkisan sudah dibuka hingga membuat rasa penasaran ketiga adiknya itu hilang. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing setelah berbincang dan bersenda gurau di kamar kakak.


Perasaan senang menyelimuti sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi pengantin. Mereka sama-sama tidak bisa memejamkan matanya.


Kakak duduk-duduk di balkon karena tidak bisa memejamkan matanya. Ia merasakan dinginnya malam dengan hembusan angin dingin membelai kulitnya.


Semakin larut, udara semakin dingin. Kakak berjalan melenggang menuju kamar dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Sama halnya Alfian yang sejak sampai di rumah ia pun tidak bisa memejamkan matanya. Tengah malam pun ia mulai merasa dingin karena udara malam yang membelai kulitnya yang bersih. Ia berjalan melenggang menuju tempat tidur karena sudah mengantuk.


Flesh Off


Azan subuh sudah berkumandang dengan indah. Panggilan untuk kaum muslimin menjalankan kewajibannya.


Kakak beranjak menunaikan ibadah sholatnya. Setelah selesai ia langsung pergi ke dapur membantu Mama memasak untuk sarapan.


Matahari sudah mulai menembus masuk melalui gorden di rumah besar itu. Semua mulai bersiap untuk menjalankan aktivitas mereka masing-masing.


Papa dan Mama sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ketiga anak laki-laki mereka juga sudah siap untuk berangkat sekolah. Kakak pun sudah bersiap dengan semua persyaratan untuk masuk di universitas negeri unggulan untuk mendaftarkan kuliahnya.


Mereka mulai sarapan tanpa banyak bicara seperti semalam. Bagaikan emak-emang rempong yang terus saja berbincang.


Sunyi hanya suara peralatan makanlah terdengar. Kakak pagi ini terlihat sangat cantik dengan dengan riasan natural di wajahnya.


Papa berangkat bersama ke tiga anak laki-laki. Pagi ini ketiga kurcaci berangkat bersama Papa mereka.


Papa tidak ada acara penting di perusahaan pagi ini jadi waktunya lebih fleksibel. Mama masih harus pertemuan dengan klien pagi ini sehingga harus datang lebih pagi.


Berangkat ke kampus pagi ini kakak ingin menggunakan motor meticnya. Dengan menggunakan motor perjalanan jadi lebih cepat.


Kakak berpikir dengan motor itu biarpun terjadi macet tetap saja bisa lebih cepat sampai. Karena bisa selip menyelip diantara mobil. ( Belajar jadi pembalap kali).


"Kakak pakai motor?" Tanya Mama yang khawatir dengan keselamatan anak gadisnya ini.


"Iya Ma, biar cepat sampai." Jawab Kakak.


Di garasi masih ada beberapa mobil mewah tapi kakak enggan menggunakan. Ia ingin terlihat sederhana di kampus barunya.


Motor metic dikeluarkan dari garasi. Motor ini juga terlihat mewah bahkan tidak semua orang kaya bisa mendapatkan atau memiliki motor ini.


Motor ini sudah di modifikasi oleh Papanya tanpa sepengetahuan orang lain. Ia memiliki tujuan dengan Memidifikasi semua barang miliknya.


♥️♥️♥️♥️


111


Motor ini sudah di modifikasi oleh Papanya tanpa sepengetahuan orang lain. Ia memiliki tujuan dengan Memidifikasi semua barang miliknya.


"Jangan lupa pakai jaket, helm dan maskernya." Pesan Mama.

__ADS_1


"Iya Ma." Balas Kakak.


Mereka berangkat bersama karena tujuan yang berbeda mereka menggunakan alat transportasi mereka sendiri-sendiri. Papa melajukan kendaraan menuju sekolah ketiga jagoannya. Mama langsung menuju perusahaan sedangkan gadis cantik ini menuju kampus.


Di sekolah dasar ketiga anak laki-laki ini langsung turun di ikuti oleh Papa mereka. Mereka mencium punggung tangan Papanya gantengnya.


Salah seorang guru wanita yang bertugas menyambut siswanya hari ini merasa kagum dengan ketampanan Adrean. Guru ini menatap Adrean tanpa mengaluhkan pandangannya hingga Adrean masuk dalam mobilnya.


"Pagi Bu." Ucap Axel pada Bu Guru.


"Pagi Bu." Ucap Garda pada Bu Guru.


"Pagi Bu." Ucap Daffa pada Bu Guru.


Ketiga anak ini semuanya mengucapkan salam berurutan pada Guru wanita yang bertugas menyambut anak-anak, tapi tak satu pun salam mereka yang dijawab. Ketiga anak ini mengikuti pandangan Guru itu ternyata oh ternyata Guru mereka sedang memperhatikan Papa mereka.


"Tampan ya Bu?" Tanya Axel dengan senyum yang tak bisa diungkapkan.


"Iya." Jawab Bu Guru tanpa mengalihkan pandangannya.


"Mau saya kenalkan." Tanya Daffa.


Sontak Bu Guru merasa terkejut dan akhirnya malu. Wajahnya memerah sedangkan ketiga anak itu sudah berlari ke dalam kelasnya. Papa pun segera berangkat menuju kantor.


Mama saat ini sedang ada pertemuan dengan seorang klien penting. Reno selalu mendampingi Sinta dalam setiap acara kantor. Sebab selama ini Reno lah yang tahu perkembangan perusahaan.


Pertemuan ini sukses sebab Sinta sendiri selalu memiliki aura disiplin yang tegas terhadap semua masalah. Jarang sekali masalah yang timbul diselesaikan dalam waktu lama.


Matahari mulai terik. Untung saja Mentari membawa semua yang dikatakan oleh Mamanya.


Keramaian dan kemacetan kota tidak menjadi masalah karena Mentari menggunakan motor. Jalan-jalan tikus pun dilaluinya tanpa halangan hingga ia cepat sampai di kampus itu.


Motor yang dibawanya diparkirkan di tempatnya. Antara mobil dan motor memiliki tempat parkir yang berbeda tempat.


Setelah parkir Mentari langsung menuju tempat pendaftaran dengan langkah lebar dan sedikit berlari. Ia terhenti melihat sosok yang sangat famiar biarpun jarang bertemu, ia masih sangat hafal dengan postur tubuhnya itu.


Bruk


Sebuah badan yang tinggi besar menabrak tubuh Mentari hingga ia merasa sedikit sakit karena ditabrak tadi. Semua berkas jatuh berserakan.


"Auuuu." Teriak Tari karena sakit dan terkejut.


"Maaf maaf maaf aku baru terburu buru dan tadi tidak melihat mu." Ucap kakak senior.


Kakak senior yang menabrak Tari membantu membereskan berkas yang berserakan. Alfian yang mendengar teriakan Tari langsung menoleh ke arah suara, karena suara itu tadi memang tidak asing baginya.


Alfian menghampiri Tari dengan aura yang sungguh membuat semua wanita terpesona dengan ketampanannya. Tari yang didekati berdiri mematung.


"Mahasiswa baru ya?" Tanya kakak senior.


"Iya." Jawab Tari sopan.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya lagi.


"Tidak, mungkin lain kali." Kata Tari.


"Silahkan katanya tadi buru-buru." Lanjut Tari lagi saat Alfian sudah dekat.


"Mahasiswa Baru Bro, tertarik elu?" Tanya kakak senior pada Alfian sambil lalu.


Alfian hanya mendengarkan kata-kata temannya itu tanpa ekspresi. Saat Alfian mendekati Tari yang berstatus mahasiswa baru banyak mahasiswi yang melihat ke arahnya dengan tidak sukanya.


"Sampai di kampus ini kenapa tidak menghubungiku?" Tanya Alfian.


"Aku gak mau merepotkan kakak." Jawab Tari.


"Aku gak merasa direpotkan kok." Jelas Alfian.


"Biar aku anter masuk ke dalam." Tawar Alfian.


"Terimakasih, aku sendiri aja kak." Pinta Tari.


"Ya udah aku ada kelas pagi, aku ke ruangan ku dulu ya. Nanti kalau udah selesai kamu bisa kan hubungi aku?" Tanya Alfian.


"Baik Kak." Balas Tari.


Saat berbincang banyak mata yang melihat ke arah mereka. Banyak yang tidak suka dengan kedekatan mereka.


Mentari pun masuk dalam ruangan pendaftaran. Ia terlihat sangat cantik dan sederhana. Selesai menyelesaikan administrasi Mentari menuju sebuah taman yang ada di dalam kampus itu.


Taman yang cukup nyaman karena udaranya yang sejuk. Taman dekat parkir sepeda motor yang cukup luas.


Mentari mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Sesuai dengan permintaan Alfian, ia pun mengirim pesan dan singkat.


Aku sudah selesai, sekarang aku ada di taman dekat tempat pendaftaran tadi. ~ Tari.


Aku segera ke sana tunggu aku.~ Alfian.


Dosen keluar dari ruang kuliah Alfian. Tanpa menunggu lama Alfian segera beranjak dari tempat duduknya. Salah satu teman wanitanya menarik tangan Alfian hingga menghentikan langkahnya.


"Buru-buru banget mau kemana?" Tanya Lala manja.


"Taman." Jawab Alfian Singkat dan padat.


Alfian pun langsung pergi meninggalkan Lala dengan langkah panjangnya. Lala penasaran dibuatnya. Tidak biasanya Alfian nongkrong di taman.


Lala yang sangat penasaran akhirnya menyusul Alfian ke taman. Ia mengamati interaksi temannya itu dengan seorang mahasiswi baru. Lala memang menaruh rasa cinta pada Alfian sejak pertama masuk kuliah.


"Sial, ada saingan baru." Ucap Lala penuh emosi.


"Jangan harap bisa dapatin laki-laki incaran ku." Lanjutnya.


Lala pun pergi dari taman dengan rasa marah di dalam hatinya. Lala memang seorang model jadi kecantikannya itu tidak perlu diragukan lagi.


*** Di Taman Kampus ***


Alfian dan Mentari sedang duduk-duduk di taman. Mereka banyak berbincang hari ini. Setiap orang yang ada di taman itu melihat keduanya merasa takjub.


Selama ini memang Alfian di kampus tidak pernah dekat dengan seorang gadis. Hari ini mereka melihat Alfian dekat dengan mahasiswi baru. Hal ini menjadi kan banyak gadis yang telah patah hati dibuatnya.


Banyak gadis mencoba mendekati Alfian yang sangat tampan. Tetapi Alfian selalu menghindar. Sulit untuk ditemukan ketika tidak ada jadwal kuliah atau setelah jadwal kuliah selesai.


Waktu seperti itulah Alfian langsung pergi ke kantor. Mereka tidak mengetahui hilangnya Alfian ketika tidak ada jadwal kuliah. Ia menghilang seperti ditelan bumi.


Perbincangan ini membuat keduanya lupa waktu. Hingga akhirnya Alfian dipanggil oleh seseorang.


"Hai Al dapat temen baru kenapa gak Kenalin kita." Kata Gilang sambil melirik Tari.


"Oh. Maaf kenalan sendiri aja." Pinta Alfian sedikit khawatir


Gilang adalah mahasiswa yang terkenal Pleboy di kampus ini. Memang tak kalah tampan dengan Alfian.


Gilang melihat Tari yang sangat cantik bersama Alfian sengaja mendekati mereka berdua. Ia ingin menggunakan sensasinya itu untuk memikat Mentari.


Mentari berkenalan dengan Gilang walaupun ia merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu membuatnya semakin ingin segera pergi dari sana. Ia sengaja melihat jam di tangannya.


♥️♥️♥️♥️


112


Mentari berkenalan dengan Gilang walaupun ia merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu membuatnya semakin ingin segera pergi dari sana. Ia sengaja melihat jam di tangannya.


"Kak maaf ya aku masih ada urusan." Pamit Tari.

__ADS_1


"TTDJ." Balas Alfian.


__ADS_2