
Seseorang tiba-tiba berjongkok di samping kanan mendongokkan kepalanya menatap wajah cantik yang sudah berlinang dengar air mata. Alfian mengusap pipi yang sudah sangat basah itu dengan tangannya.
Pemuda itu sedang menunggu gadis yang ada bersamanya kini tenang hatinya. Lama sekali hingga tisu yang ada di atas meja kerja Alfian habis untuk membersihkan ingus yang keluar saat ia menangis.
"Kamu telah menghabiskan tisu ku!" Kata Alfian sambil meraba tisu yang ada di atas meja hanya tinggal wadahnya.
"Apa kamu bilang?" Tanya Tari dengan mengedarkan pandangan pada seluruh ruang kerja Seorang Pemuda yang saat ini bersamanya.
"Kamu harus menggantinya!" Titah Alfian.
"Baiklah hanya sekitar tisukan?" Tanya Gadis yang bersama Alfian saat ini tidak percaya atas yang diucapkannya barusan.
"Perhitungan sekali." Gerutunya yang masih bisa didengar oleh seorang Alfian.
"Wanita yang menjadi istrimu pasti akan menjadi kurus." Kata Tari ketus.
"Biarin aja kurus malah terlihat langsing." Balas Alfian.
"Bukannya terlihat langsing tapi terlihat gak keurus." Kata Tari.
"Gak mungkin orang percaya kalau istriku nanti gak keurus. Adanya kamu itu tambah melar itu body." Celetuk Alfian.
"Apa kamu bilang?" Tanya Tari dengan emosi yang sudah meletup-letup.
"Ya Iyalah tadi aja gue liat elu cantik-cantik makannya nambah banyak banget." Kata Alfian.
"Kalau porsi segitu mah body langsing bisa bikin gemuk. Gemuknya malah kayak bola." Lanjutnya.
Kedua insan yang berbeda jenis kelamin ini beradu mulut sangat sengit hingga mereka lupa waktu. Pertengkaran yang tiada habisnya membuat Tari yang tadinya sedih mengenang masa lalunya kini berubah menjadi anak singa yang super galak.
Merasa jenuh dengan adu mulut itu Tari mengambil tas yang tergeletak di sofa begitu saja. Ia berjalan keluar ruangan tapi hanya sampai di depan daun pintunya saja.
Kendali di ruangan itu semua yang tahu hanya pemiliknya saja, jadi gadis ini tak bisa melangkah lebih jauh. Ingat dengan semua itu Tari memutar badannya dengan cekatan.
"Buka pintunya." Pinta Tari sedikit keras.
__ADS_1
"Ok. Tapi dengan syarat patuh pada ku setelah keluar dari sini." Kata Alfian dengan senyumnya yang tidak jelas.
Pikiran pemuda ini sudah ingat dengan tujuannya awal datang ke mall ini. Membeli kaca mata tapi kaca mata untuk ditempatkan di tempat yang istimewa.
Pemuda yang sudah selesai berganti menggunakan pakaian yang semula dan tak lupa kaca mata yang sudah bertengger di hidungnya yang mancung terlihat sangat keren. Sekarang tak ada seorang pun yang mencela keduanya setelah adanya Peringatan darinya sebagai pemilik.
Banyak mata memandang takjub dengan pasangan yang serasi ini. Pemuda yang tampan dan gadis yang cantik.
Pemuda itu berjalan beriringan dan meletakkan tangannya di bahu Tari. Pada saat melewati sebuah toko pakaian dalam Gadis ini ditarik masuk oleh Alfian.
"Toko kaca matanya kan masih di sana." Kata Sang Gadis.
"Tapi aku maunya kaca mata yang ada di sini." Kata Alfian tersenyum smirk sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Dasar genit!" Kata Tari sedikit marah.
"Mau aku pilihkan atau pilih sendiri itu kaca mata di situ." Kata Alfian menunjuk BRA yang tergantung pada hanjer dengan dagunya.
Wajah gadis itu kini memerah melihat gantungan Bra dengan berbagai warna dan disain. Harganya pun tidak murah jika dilihat sekilas pun semua tahu bahan untuk membuatnya sangat berkualitas.
Gadis ini baru sadar dengan kaca mata yang dimaksut waktu berada di gerobak cinta menuju mall. Itu adalah Bra untuk kedua buah dada.
Marah akibat ulah Alfian ia meninggalkannya dengan langkah yang cepat. Pemuda itu mengejar dengan langkahnya yang lebar.
Gadis ini berlari kecil menuju taman yang ada di kawasan Mall itu karena ia tahu kalau Alfian sedang mengejarnya. Tanpa menoleh ia terus saja berlari hingga sebuah tangan kekar menangkapnya.
Sang gadis berusaha melepaskan tangan yang kini melingkarkan di pinggangnya dengan erat. Ia marah karena merasa dipermainkan.
Lepas dari tangan kekar itu Tari menyebrang jalan dengan tergesa-gesa. Hingga sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya.
Secepat kilat Pemuda yang mengejarnya tadi mendorong gadis itu hingga keduanya jatuh di tepi jalan. Butir bening kembali lolos dari matanya untuk kedua kali pada hari yang sama.
"Sakit kah?" Tanya Alfian pada pada gadis yang ditolongnya tadi karena melihatnya menangis kembali.
"Tidak." Jawabnya dengan melihat luka-luka yang ada di badan Alfian.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit saja ya?"Pinta Tari.
"Tidak separah itu kali." Kata Alfian.
"Calon suami mu ini kuat dimanapun tidak akan ada luka serius kali ini." Kata Alfian terjeda.
"Termasuk kuat di..... " Lanjutnya dengan senyum smirk yang membuat gadis yang bersamanya kini mengerutkan keningnya.
Gadis itu sangat khawatir dengan keadaan Pemuda yang bersamanya saat ini. Banyak luka yang ada di tubuh Alfian saat ini akibat menyelamatkan nyawanya.
Banyak orang kini berkerumun melihat kecelakaan yang baru saja terjadi. Korban tabrak lari banyak dikatakan seperti itu.
Gadis ini memapah Alfian hingga gerobak cinta yang terparkir di sebrang jalan. Menunggu ambulan datang pastilah sangat lama pikir Tari.
Ceklek
Pintu depan gerobak cinta itu dibuka secara perlahan. Alfian di dudukkan di sebelah kursi kemudi yang tadinya dipakai duduk oleh gadis yang sekarang akan mengantarnya ke rumah sakit.
Pintu gerobak cinta itu ditutup perlahan dan gadis ini memutar mengitari gerobak cinta itu lewat depan gerobak untuk menggantikan Alfian menjadi kusir. Kemampuan menyetir Tari sudah tidak perlu ditanyakan lagi.
Alfian yang terlihat meringis kesakitan membuat gadis di sampingnya merasa semakin khawatir. Kecapatan makin ditingkatkan hingga tak butuh waktu lama sampai di rumah sakit.
Chiiiiiit
Suara gesekan ban mobil dengan aspal nyaring ditelinga. Segera Tari memanggil perawat untuk membantunya memapah Pemuda yang sedang kesakitan sekarang.
Menahan rasa sakit seperti ini sebenarnya tidak masalah bagi Pemuda ini. Pemuda ini bahkan pernah mengalami masa yang lebih sulit dari ini saat masih kecil hingga mengakibatkan adik perempuannya meninggal dunia. (Masih ingat dong dengan cerita awalnya).
"Aku hanya butuh kamu untuk menopang tubuh ku." Kata seorang Pemuda yang baru saja mengalami kecelakaan tabrak lari.
"Bukan hanya tubuh ku tapi juga hidup ku." Lanjutnya sambil mendorong perawat yang hendak membantunya.
Pemuda ini sengaja mengatakan hal ini supaya didengar oleh perawat yang hendak membantunya agar tidak menyentuhnya. Alfian melihat sesuatu perasaan yang aneh pada perawat itu.
Perawat itu seperti menyimpan perasaan suka padanya hingga ia harus menolaknya saat itu juga. Terlihat sekali bukanlah sebuah cinta tapi sebuah ambisi.
__ADS_1