
Ibu Siti keluar dari dalam dapur dengan menggendong cucunya. Setelah Ibu Siti duduk Briyan berpamitan karena waktu memang sudah larut malam.
"Maaf Bu saya pamit pulang dulu." Pamit Briyan dengan sopan.
"Maaf ya nak Briyan Ibu merepotkanmu." Kata Ibu Siti.
"Biar saya antar ke depan." Tawar Diky.
"Oh Trimakasih."
"Sampaikan salam ku untuk Dito." Pinta Briyan.
"Baiklah." Kata Diky.
Mereka bertiga berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di halaman depan. Sebelum menjalankan mobilnya mereka berjabat tangan.
"Jangan sungkan untuk mampir lagi ke gubuk kami." Kata Ibu Siti.
"Terimakasih Bu. Saya permisi." Kata Briyan.
Briyan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia jadi penasaran dengan kehidupan keluarga Bu Siti karena berdasarkan cerita anak menantu serta cara berbicara mereka sudah berbeda kasta.
Memang benar adanya cara bersikap bahkan cara berbicara seseorang sudah bisa menunjukkan kasta mereka. Cuma untuk menutupi kehidupan mereka dengan alasan tertentu mereka harus bisa membawa diri mereka pada dunia lain.
**** **** Apartemen Briyan **** ****
Seorang laki-laki dengan usianya yang sudah setengah baya sedang berada di dapur. Ia sedang menikmati sebuah kopi dengan nikmatnya.
Ceklek
Pintu apartemen dibuka oleh sang pemilik dengan perlahan. Ia masuk dan mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan.
Mata besarnya melihat sebuah ruangan yang masih menyala lampunya. Perlahan ia berjalan mendekat pada ruangan itu.
"Sudah pulang?" Tanya Bapak.
"Ya." Jawab Briyan singkat.
"Bapak kok belum tidur?" Tanya Briyan.
"Menunggumu." Kata Bapak.
"Aku sudah besar Pak, gak usah ditunggu pulang." Pinta Briyan sambil mengambil bubuk kopi dan gula yang tersedia di dalam toples meja dapur hendak membuat kopi hangat untuknya sendiri.
"Aku tahu." Kata Bapak setelah menyesap sedikit kopinya.
"Besuk sebaiknya kamu sudah mulai mengurangi pekerjaan mu. Jangan terlalu banyak bekerja karena tinggal dua hari lagi kamu akan menikah." Nasehat Bapaknya.
__ADS_1
"Baiklah." Kata Briyan setelah ia duduk.
"Malam Pak." Sapa sang adik sambil mencium punggung tangan Bapaknya.
"Hai kak." Sapa sang adik pada kakaknya.
Setelah menyapa kakaknya itu ia memeluk tubuh kekar sang kakak dengan erat. Briyan mencoba melepaskan pelukan itu karena dia tidak nyaman.
"Lepas." Teriak Briyan.
"Tidak akan." Kata sang adik.
"Kau harus mau menemaniku mulai hari ini, karena sebentar lagi kau akan menikah." Bisik sang adik dengan begitu manja tepat ditelinga sang kakak hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kau mau membuat ku sesak napas?" Kata Briyan.
"Nanti akan aku berikan napas buatan kalau sampai itu terjadi." Balas sang adik.
"Jangan macam-macam." Hardik Briyan.
"Hai jangan-jangan kamu sudah belok?" Tanya Briyan.
"Maksud kakak apa?" Tanya sang adik sambil melepas pelukannya.
Briyan hanya menaikkan sedikit bahunya sebagai jawaban. Sang adik merasa puas bisa memeluk erat kakaknya.
Tiap hari sang adik hanya bisa berharap sang kakak untuk memelik dirinya. Bukan hanya tubuh tapi hatinya. Adiknya itu juga tahu biarpun sang kakak tidak banyak waktu untuknya tapi dalam hati ia sangat menyayanginya.
Bapaknya yang sedang duduk di dekat mereka hanya tersenyum tipis melihat kelakuan keduanya. Sudah lama mereka tidak berbincang dan bersenda gurau seperti itu. Terasa hangat bagaikan sebuah keluarga bahagia yang saling melepas rindu sekian lama tidak bertemu.
"Ibu aku sangat merindukanmu." Kata Sang Adik lirih berjalan menuju kamarnya.
Adiknya Briyan berjalan menuju kamar karena hampir air yang ada di dalam matanya meluap. Ia tidak ingin orang lain melihatnya menangis.
"Aku ke kamar dulu." Pamitnya.
Ia berlalu menuju kamar meninggalkan kedua orang itu meminum kopinya.
Waktu sudah sangat larut. Mereka yang tadi menikmati kopi hangat segera pergi ke dalam kamar mereka masing-masing.
Briyan yang sempat mendengar kata-kata adiknya tadi duduk di balkon kamarnya. Pikirannya sama seperti adiknya.
Cukup lama ia berada di balkon menikmati kesendiriannya. Ia mengenang masa-masa bahagia bersama sang Ibu. Hal itu membuatnya sejenak melupakan kerinduan pada calon istri.
Udara semakin dingin hingga menusuk dalam tulangnya. Briyan masuk dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Tidak lama ia pun tertidur dengan pulas.
*** *** *** Di rumah Dita *** *** ***
__ADS_1
Dita sejak kepergian calon suaminya tadi hanya berada dalam kamar setelah makan malam. Ia merasa tidak enak pada Briyan.
Pikirannya kacau balau gak tentu arah. Hatinya juga rindu pada laki-laki itu. Apalah daya, sang ibu sudah melarang hingga waktunya tiba.
Semua persiapan sudah selesai di cek ulang. Tidak ada yang kurang walaupun sedikit harapannya mereka.
Briyan dan Dita selama dua hari sebelum hari pernikahan sudah cuti untuk pernikahan mereka. Keduanya sudah merasa rindu tak tertahan.
Setelah menikah akan aku habisi kamu sayang. Batin Briyan dimalam sebelum pernikahan.
Briyan tidur lebih awal di apartemennya. Begitu juga dengan Bapak dan adiknya.
Dita sudah berada di hotel tempat resepsi pernikahannya bersama ibunya. Ia tidak ingin besuk pagi terburu-buru ke hotel karena harus di make - up terlebih dahulu. Hingga ia memutuskan untuk tidur di hotel bersama sang Ibu.
Ibu ikut ke hotel karena takut Briyan akan menemuinya disana. Memang benar adanya Briyan juga datang ke hotel.
Fleshback
Siang hari sehari sebelum hari pernikahan Briyan datang ke hotel. Alasannya ingin cek ulang lokasi.
Dita baru tiba bersama ibunya belum menyadari keberadaan Briyan. Mereka langsung menuju kamar mereka.
Kamar Ibu dan Dita terpisah walaupun tempat tidur itu sangat besar. Benda pipih dalam tas berbunyi dengan nyaring. Tanda ada pesan masuk.
Dita tidak segera membalasnya. Ia takut sang ibu mengetahuinya.
Mereka mulai memasuki lift dan menuju lantai paling atas tempat kamar mereka. Keluar dari lift mereka masuk ke kamar masing-masing.
Langkah kaki Dita terhenti ketika sebuah tangan memegang tangannya. Dita terkejut dengan yang dilakukan ibunya.
"Jagalah dirimu, jangan menemuinya dulu." Titah sang ibu.
Dita tidak menjawab perkataan sang ibu. Ia berlalu sambil mengukir senyum diwajahnya hingga kecantikannya itu terlihat natural.
Briyan merasa pesannya tidak dibalas, ia langsung menuju lantai atas menggunakan lift. Saat keluar dari lift itu juga Dita juga keluar dari dalam kamarnya.
Briyan yang melihat calon istrinya itu langsung mendekatinya. Ibu sudah berdiri di depan pintu menyaksikan keduanya tanpa mereka sadari dengan bersedakap.
"Kenapa tidak membalas pesan ku?" Tanya Briyan.
"Ada Ibu." Jawab Dita yang saat itu melihat ibunya.
Briyan seketika menoleh mendengar langkah kaki mendekat. Ia gelagapan melihat calon ibu mertuanya itu.
"Tinggal besuk kenapa gak sabar sih Nak?" Tanya Ibu Dita sambil berjalan hingga Briyan berjalan mundur akhirnya punggungnya menempel pada dinding.
Melihat Briyan yang semakin salah tingkah sang ibu ingin mengerjainya. Ibu sengaja mendekatkan badannya hingga hampir menempel pada badan kekar itu.
__ADS_1