Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 99. Kejutan :80-81


__ADS_3

Kini pemuda itu duduk di samping brankar tiba- tiba ia pun menarik sebuah tangan kecil tapi memiliki sebuah tenaga yang cukup lumayan untuk menahan sebuah tarikan. Mentari pun karena kurang kesiapan ia ikut jatuh pada sebuah paha yang sangat nyaman.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Alfian.


"Apa bermaksut menggoda ku?" Lanjutnya.


"Siapa yang bermaksut menggoda mu?" Jawab Gadis itu dengan membelalakkan matanya.


"Kamu aja yang merayuku." Elaknya lagi.


"Kesepakatannya kan kamu membantu ku." Alfian meminta pertanggungjawaban gadis itu hanya agar terjadi sedikit drama untuk menunjukkan pada perawat itu.


"Lepas!" Perintah Mentari dengan mata yang sangat tajam mengarah pada seorang pemuda.


"Malu dilihat itu banyak orang." Lanjutnya.


"Anggap saja kita semua di dini patung, kalau sudah seperti itu dunia serasa milik berdua." Kata Daffa.


"Betul-betul-betul." Kata Axel.


"Yang lainkan cuma ngontrak." Sambung Garda.


"Mulut kalian bertiga ini masih juga anak kecil gak ada filternya." Kata Mama Sinta menegur ketiga anak laki-laki kembarnya.


Apa perlu Mama lakban mulut kalian?" Lanjut Mama.


"Siapa bilang kita anak kecil ya Pa?" Kata Axel meminta perlindungan kepada Papanya yang selalu saja membela mereka.


Mama sudah mulai memasang taringnya. Disaat seperti itu Sang Jagoan mereka pun sudah tidak berani berkutik.


Takut disuruh tidur diluar oleh sang Mama tatkala melakukan kesalahan. Papa hanya tersenyum getir pada ketiga anaknya itu.


Ceklek


Pintu kamar pasien pun dibuka oleh seorang pemuda. Pandangan matanya langsung tertuju pada Alfian.


"Ada drama apa lagi nih?" Tanya Ziko saat melihat Bosnya sedang melakukan sebuah adegan romantisnya.


"Diam saja lu!" Perintah Alfian pada pemuda yang baru saja masuk dan membawa sebuah koper.


"Maaf Tuan bagaimana bisa sekarang?" Tanya Perawat yang berada di samping Alfian.


"Bisa. Kamu duluan saja!" Perintah Alfian pada perawat itu.


"Aku masih bisa jalan." Jelas Alfian dengan menyingkirkan sebagian anak rambut Tari yang menutupi pipinya.


Alfian mengendurkan kemudian melepaskan pelukannya itu, hingga akhirnya gadis itu pun berdiri.


Sepasang muda mudi ini berjalan terlihat sangat serasi. Banyak orang yang melihat merasa kagum dengan mereka.


Berjalan menuju tempat rontgen berada di belakang perawat tadi. Mereka berdua berjalan sambil bersenda gurau.


Perawat yang sekarang berada di depan mereka merasa iri. Hatinya serasa terbakar sangat panas rasanya.


Seorang dokter yang kini sudah menunggu mereka untuk berkonsultasi berada di ruang praktek menunggu hasil rontgen itu. Hasil pemeriksaan kesehatan Alfian lumayan cepat.


Hasil rontgen menyatakan tidak terjadi masalah serius pada Pemuda itu. Kali ini bukanlah hasil rekayasanya seperti yang telah direncanakan agar Tari menunggunya sepanjang waktu.


Daddy lah yang mengingatkan akan waktu pernikahannya yang tidak lama lagi. Seandainya Ia jadi merekayasa hal kesehatannya kali ini justru ia akan menunda hari bahagianya sendiri.


Pemuda itu tidak ingin dokter pergi keruang rawatnya untuk itu ia ber-inisiatif mengunjungi ruang prakteknya. Seandainya Dokter itu sampai pergi ke ruang rawatnya yang sangat ramai pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan oleh dirinya.


Kekacauan akan terjadi akan semakin besar. Candaan orang dewasa yang pastinya gak ada filternya.


Hubungan antara sahabat lama para orang tua yang pasti akan memojokkan dirinya. Hingga yang muda harus mengalah.


Setelah selesai urusan dengan dokter mereka berdua bersiap kembali ke ruang rawat Alfian. Dilihat sambil lalu perawat itu memasang muka masamnya.


Ceklek


Pintu ruang rawat Alfian dibuka oleh pemiliknya sendiri. Semua mata melihat dengan jelas wajah Pemuda itu.


"Bagaimana?" Tanya Deddy yang tahu sebenarnya tak ada masalah. Ia adalah anak laki-laki yang kuat.


"Baik." Jawab Alfian singkat.


"Jadinya masih mau bermalam di sini lagi?" Tanya Mommy.


"Iya gak papa kan Mommy." Kata Alfian.


"Itu kan tadi udah terlanjur minta dibawain pesenan ku oleh Asistenku hingga salah bawa." Lanjut Alfian.


"Tapi harus ditemeni sama?" Lanjut Alfian dengan menaik turunkan alisnya mengkode pada gadisnya itu.


"Ogah banyak kuman penyakit!" Tolak Seorang Gadis.


"Memangnya apa'an isi koper itu Kak?" Tanya Axel pada Alfian yang tidak jauh darinya.


Pemuda yang akan menjadi pengantin ini memang berlagak seperti seorang pasien. Pandai memanfaatkan situasi dan kondisi.


Alfian menyandarkan badannya di atas brankar. Ia minta dilayani layaknya seorang pasien.


Apa saja minta diambilkan oleh orang terdekatnya. Ia ingin melihat isi koper itu sesuai perintahnya atau tidak setelah mendengar pertanyaan Axel.


Pulangnya Papa Adrean dan anggota keluarganya diikuti oleh Deddy bersama sang Istri yang sedang mengandung. Mammy semalam memang kurang istirahat tetapi hatinya sungguh senang ada teman berbincang.


Ziko yang sudah selesai mengurus semua administrasi segera kembali ke ruang rawat Alfian. Ia membantu berkemas dan membawakan semua barang milik atasannya itu menuju tempat parkir.


Ziko berjalan melewati koridor rumah sakit bersama dengan seorang gadis yang datang bersama. Mereka berjalan perlahan seperti siput karena pergelangan kaki sang gadis masih terasa sedikit sakit.


Di tempat parkir pemuda itu membukakan pintu mobil untuk gadisnya kemudian memasukkan semua barang milik Alfian yang tidak jadi digunakan. Ziko pun duduk di kursi kemudi dan segera menjalankan mobil itu menuju pintu keluar rumah sakit.


Seorang pemuda sudah menunggu di pintu keluar rumah sakit. Ia duduk bersebelahan dengan seorang gadis di sana.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia bercanda dan tertawa. Semua orang melihat berapa serasinya pasangan ini.

__ADS_1


Di dalam mobil suasana pun semakin mencekam setelah Alfian masuk ke dalamnya. Kedua orang yang duduk di depan hanya diam beribu bahasa, sedangkan mereka yang duduk di kursi belakang berbicara apa saja sesuka mereka.


Mobil telah sampai dihadapan mereka berdua. Alfian membukakan pintu mobil belakang untuk seorang gadis yang saat ini bersamanya kemudian ia pun masuk ke dalam mobil itu.


Asisten tampan itu takut salah bicara, ataupun takut dikatakan memotong pembicaraan Tuannya hingga berakibat fatal. Dipotong terus gaji dan bonus kapan mau nyusul nikahnya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Kondisi jalanan yang macet pun tanpa mereka rasakan.


Hati yang senang kondisi jalan dengan kemacetan tak mereka rasakan. Apalagi tidak kalah dengan hati sang sopir itu sesekali melirik gadis yang ada disampingnya.


Mobil melesat menuju kediaman Mentari dan disambut oleh keluarga mereka. Karena tergesa-gesa mereka hanya mampir sebentar kemudian mengantar Tuan Mudanya pulang.


Banyak hal yang harus dilakukan karena memang beberapa hari adakah hari yang ditunggu Alfian. Keluarga gadis ini pun memaklumi dengan kesibukan Alfian.


Pemuda yang saat ini merangkap sebagai seorang sopir saat ini malah merasa dunianya akan berakhir. Bagaimana tidak ketika misinya selesai ia harus berpisah kembali dengan gadis pujaannya.


Kediaman Alfian semua keluarga juga sudah menunggunya. Ziko kini memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Deddy sudah lama menunggu sang anak untuk makan siang bersama walaupun memang sudah sedikit banyak terlambat. Mereka berdua berdiskusi untuk hari pernikahan anaknya itu.


Asisten itu ikut masuk kedalam kediaman Alfian berjalan di belakangnya. Bukan melupakan gadis yang selalu ada di hatinya tetapi takut ditekan seperti biasanya.


Gaji dan bonus yang seharusnya diberikan lebih besar kalau dipotong terus kapan ia akan menyusul menikah. Perasaannya kini sedang gundah gulana memikirkan gadis yang sedang menunggu di dalam mobilnya itu.


"Ziko makan siang di sini saja." Deddy mengajak asisten anaknya itu untuk makan siang bersama sebab Deddy tahu pasti mereka belum makan dan waktu makan siang sudah sangat terlewatkan.


"Ziko sih oke-oke saja makan sekarang Om." Kata Pemuda itu kemudian menundukkan kepala kepikiran dengan seorang gadis yang direpotkan alat transportasi.


"Takut sama Alfian?" Tanya Deddy terputus.


"Takut gak dapat gaji sama bonus?" Tanya Deddy lagi.


"He... he... he... Iya Om." Jawab Ziko dengan menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.


"Ini bukan kantor Ziko, jadi gak perlu begitu juga kali." Kata Deddy pada asisten anaknya itu Tat kala mendapati tatapan anaknya yang sudah mulai menajam.


"Bukannya menolak Om tapi saya meninggalkan bidadari cantik di mobil." Jelas Ziko untuk meredam kemarahan Alfian.


"Waduh parah, gadis cantik dan baik kok ditinggalin nanti kalau dibawa lari orang Gimana?" Tanya Deddy.


"Uang ku gak jadi berkurang nantinya." Tambahnya.


"Maksut Om?" Tanya Ziko yang memang tidak mengerti maksut dari orang tua Alfian.


"Yah kalau dibawa lari orang itu gadis Om kan gak jadi modalin kamu buat nikah." Jelas Sang Deddy.


"Jadi gak masalah juga tuh kalau gaji sama bonus mu dipotong bahkan sampai gak digaji." Jelas Deddy Alfian.


"Denger tu." Kata Alfian menepuk pundak sahabatnya hingga ia tersadarkan dari rasa ketidakpercayaannya.


Asisten Alfian ini hanya melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Laki-laki paruh baya itu baru saja. Menikah gratis bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.


Deddy memang bisa menempatkan diri dimana pun tempatnya dan berhadapan dengan siapa pun juga ia bisa menempatkan dirinya.


Pemuda itu pun akhirnya meminta ijin untuk mengajak sang gadis masuk dan ikut makan siang bersama mereka. Deddy hanya menganggukkan kepala kemudian menempatkan dirinya di meja makan.


Gadis yang di dalam mobil itu sekarang masih sangat patuh duduk di tempatnya tadi. Seorang pemuda dengan matanya yang besar mengamatinya sejak keluar dari dalam rumah.


Pemuda itu melihat Monik yang terlihat dengan muka yang merah karena marah. Ia menatap ke depan dengan tangan yang menyilang di depan dada begitu juga dengan kakinya yang sedikit masih nyeri dihilangkan di atas pahanya yang satu.


Rasa jengkel karena ditinggal sendirian bahkan tanpa ada kata yang terucap sebelum ia ditinggalkan sudah merasuk dalam dirinya. Gadis ini sadar juga dengan posisinya saat itu karena ia memang sangat pengertian padanya yang setiap kali diancam oleh Alfian dengan sebuah pemotongan gaji.


Terdengar sebuah langkah kaki lebar sedikit berlari mendekatinya. Gadis itu pun menoleh tanpa ekspresi wajah yang baik.


"Silahkan Nona Cantik." Kata Ziko dengan membukakan pintu mobil untuk gadisnya.


"Mari kita makan bersama di dalam, Tuan rumah sudah menunggu kita." Lanjut sang pemuda.


Gadis itu pun keluar dari mobilnya tanpa ekspresi senang. Ia berjalan beriringan dengan Ziko dengan wajah yang masih merah karena marah.


Di depan pintu masuk gadis itu berusaha menekan rasa marahnya hingga ia sampai di sebuah ruang makan tersenyum menyapa laki-laki paruh baya yang dikatakan orang tua Alfian. Laki-laki itu sangat ramah meminta mereka semua untuk segera duduk dan menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Laki-laki ini menatap semua yang ada di meja makan menikmati makan siang mereka dengan sangat lahap. Entah karena enak atau kelaparan yang melanda.


"Kalian harus makan banyak." Titah laki-laki paruh baya itu.


"Biar ada tenaga." Lanjutnya.


"Maksud Deddy?" Tanya Alfian.


"Semua makanan ini tidak gratis harus ada gantinya." Jelas Deddy.


"Hah." Kata kedua pemuda itu bersamaan tidak mengerti maksut laki-laki paruh baya itu.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanya Laki-laki paruh baya itu lagi.


Sepasang pemuda dan seorang gadis itu menatap laki-laki paruh baya itu secara intens. Ingin mereka mendapatkan sebuah penjelasan dari apa yang dikatakannya tadi.


Mendapatkan tatapan yang mengerikan seolah mengintimidasinya laki-laki itu pun memundurkan kursinya. Ia seakan hendak melarikan diri.


"Sudah segera habiskan." Titahnya sambil pergi dengan melambaikan tangannya menuju lantai atas.


Ketiga orang yang masih menikmati makanan yang tersaji di atas meja itu menghentikan aktivitas mereka. Mereka memandang arah perginya laki-laki itu.


Seketika mendengar perkataan itu tadi mereka jadi tidak bisa menelan makanan itu lagi. Terasa sulit untuk menelan makanan itu lagi masih terpikir dengan ucapan laki-laki itu


156


Pulangnya Papa Adrean dan anggota keluarganya diikuti oleh Deddy bersama sang Istri yang sedang mengandung. Mammy semalam memang kurang istirahat tetapi hatinya sungguh senang ada teman berbincang.


Ziko yang sudah selesai mengurus semua administrasi segera kembali ke ruang rawat Alfian. Ia membantu berkemas dan membawakan semua barang milik atasannya itu menuju tempat parkir.


Ziko berjalan melewati koridor rumah sakit bersama dengan seorang gadis yang datang bersama. Mereka berjalan perlahan seperti siput karena pergelangan kaki sang gadis masih terasa sedikit sakit.


Di tempat parkir pemuda itu membukakan pintu mobil untuk gadisnya kemudian memasukkan semua barang milik Alfian yang tidak jadi digunakan. Ziko pun duduk di kursi kemudi dan segera menjalankan mobil itu menuju pintu keluar rumah sakit.

__ADS_1


Seorang pemuda sudah menunggu di pintu keluar rumah sakit. Ia duduk bersebelahan dengan seorang gadis di sana.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia bercanda dan tertawa. Semua orang melihat berapa serasinya pasangan ini.


Di dalam mobil suasana pun semakin mencekam setelah Alfian masuk ke dalamnya. Kedua orang yang duduk di depan hanya diam beribu bahasa, sedangkan mereka yang duduk di kursi belakang berbicara apa saja sesuka mereka.


Mobil telah sampai dihadapan mereka berdua. Alfian membukakan pintu mobil belakang untuk seorang gadis yang saat ini bersamanya kemudian ia pun masuk ke dalam mobil itu.


Asisten tampan itu takut salah bicara, ataupun takut dikatakan memotong pembicaraan Tuannya hingga berakibat fatal. Dipotong terus gaji dan bonus kapan mau nyusul nikahnya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Kondisi jalanan yang macet pun tanpa mereka rasakan.


Hati yang senang kondisi jalan dengan kemacetan tak mereka rasakan. Apalagi tidak kalah dengan hati sang sopir itu sesekali melirik gadis yang ada disampingnya.


Mobil melesat menuju kediaman Mentari dan disambut oleh keluarga mereka. Karena tergesa-gesa mereka hanya mampir sebentar kemudian mengantar Tuan Mudanya pulang.


Banyak hal yang harus dilakukan karena memang beberapa hari adakah hari yang ditunggu Alfian. Keluarga gadis ini pun memaklumi dengan kesibukan Alfian.


Pemuda yang saat ini merangkap sebagai seorang sopir saat ini malah merasa dunianya akan berakhir. Bagaimana tidak ketika misinya selesai ia harus berpisah kembali dengan gadis pujaannya.


Kediaman Alfian semua keluarga juga sudah menunggunya. Ziko kini memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Deddy sudah lama menunggu sang anak untuk makan siang bersama walaupun memang sudah sedikit banyak terlambat. Mereka berdua berdiskusi untuk hari pernikahan anaknya itu.


Asisten itu ikut masuk kedalam kediaman Alfian berjalan di belakangnya. Bukan melupakan gadis yang selalu ada di hatinya tetapi takut ditekan seperti biasanya.


Gaji dan bonus yang seharusnya diberikan lebih besar kalau dipotong terus kapan ia akan menyusul menikah. Perasaannya kini sedang gundah gulana memikirkan gadis yang sedang menunggu di dalam mobilnya itu.


"Ziko makan siang di sini saja." Deddy mengajak asisten anaknya itu untuk makan siang bersama sebab Deddy tahu pasti mereka belum makan dan waktu makan siang sudah sangat terlewatkan.


"Ziko sih oke-oke saja makan sekarang Om." Kata Pemuda itu kemudian menundukkan kepala kepikiran dengan seorang gadis yang direpotkan alat transportasi.


"Takut sama Alfian?" Tanya Deddy terputus.


"Takut gak dapat gaji sama bonus?" Tanya Deddy lagi.


"He... he... he... Iya Om." Jawab Ziko dengan menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.


"Ini bukan kantor Ziko, jadi gak perlu begitu juga kali." Kata Deddy pada asisten anaknya itu Tat kala mendapati tatapan anaknya yang sudah mulai menajam.


"Bukannya menolak Om tapi saya meninggalkan bidadari cantik di mobil." Jelas Ziko untuk meredam kemarahan Alfian.


"Waduh parah, gadis cantik dan baik kok ditinggalin nanti kalau dibawa lari orang Gimana?" Tanya Deddy.


"Uang ku gak jadi berkurang nantinya." Tambahnya.


"Maksut Om?" Tanya Ziko yang memang tidak mengerti maksut dari orang tua Alfian.


"Yah kalau dibawa lari orang itu gadis Om kan gak jadi modalin kamu buat nikah." Jelas Sang Deddy.


"Jadi gak masalah juga tuh kalau gaji sama bonus mu dipotong bahkan sampai gak digaji." Jelas Deddy Alfian.


"Denger tu." Kata Alfian menepuk pundak sahabatnya hingga ia tersadarkan dari rasa ketidakpercayaannya.


Asisten Alfian ini hanya melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Laki-laki paruh baya itu baru saja. Menikah gratis bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.


Deddy memang bisa menempatkan diri dimana pun tempatnya dan berhadapan dengan siapa pun juga ia bisa menempatkan dirinya.


Pemuda itu pun akhirnya meminta ijin untuk mengajak sang gadis masuk dan ikut makan siang bersama mereka. Deddy hanya menganggukkan kepala kemudian menempatkan dirinya di meja makan.


Gadis yang di dalam mobil itu sekarang masih sangat patuh duduk di tempatnya tadi. Seorang pemuda dengan matanya yang besar mengamatinya sejak keluar dari dalam rumah.


Pemuda itu melihat Monik yang terlihat dengan muka yang merah karena marah. Ia menatap ke depan dengan tangan yang menyilang di depan dada begitu juga dengan kakinya yang sedikit masih nyeri dihilangkan di atas pahanya yang satu.


Rasa jengkel karena ditinggal sendirian bahkan tanpa ada kata yang terucap sebelum ia ditinggalkan sudah merasuk dalam dirinya. Gadis ini sadar juga dengan posisinya saat itu karena ia memang sangat pengertian padanya yang setiap kali diancam oleh Alfian dengan sebuah pemotongan gaji.


Terdengar sebuah langkah kaki lebar sedikit berlari mendekatinya. Gadis itu pun menoleh tanpa ekspresi wajah yang baik.


"Silahkan Nona Cantik." Kata Ziko dengan membukakan pintu mobil untuk gadisnya.


"Mari kita makan bersama di dalam, Tuan rumah sudah menunggu kita." Lanjut sang pemuda.


Gadis itu pun keluar dari mobilnya tanpa ekspresi senang. Ia berjalan beriringan dengan Ziko dengan wajah yang masih merah karena marah.


Di depan pintu masuk gadis itu berusaha menekan rasa marahnya hingga ia sampai di sebuah ruang makan tersenyum menyapa laki-laki paruh baya yang dikatakan orang tua Alfian. Laki-laki itu sangat ramah meminta mereka semua untuk segera duduk dan menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Laki-laki ini menatap semua yang ada di meja makan menikmati makan siang mereka dengan sangat lahap. Entah karena enak atau kelaparan yang melanda.


"Kalian harus makan banyak." Titah laki-laki paruh baya itu.


"Biar ada tenaga." Lanjutnya.


"Maksud Deddy?" Tanya Alfian.


"Semua makanan ini tidak gratis harus ada gantinya." Jelas Deddy.


"Hah." Kata kedua pemuda itu bersamaan tidak mengerti maksut laki-laki paruh baya itu.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanya Laki-laki paruh baya itu lagi.


Sepasang pemuda dan seorang gadis itu menatap laki-laki paruh baya itu secara intens. Ingin mereka mendapatkan sebuah penjelasan dari apa yang dikatakannya tadi.


Mendapatkan tatapan yang mengerikan seolah mengintimidasinya laki-laki itu pun memundurkan kursinya. Ia seakan hendak melarikan diri.


"Sudah segera habiskan." Titahnya sambil pergi dengan melambaikan tangannya menuju lantai atas.


Ketiga orang yang masih menikmati makanan yang tersaji di atas meja itu menghentikan aktivitas mereka. Mereka memandang arah perginya laki-laki itu.


Seketika mendengar perkataan itu tadi mereka jadi tidak bisa menelan makanan itu lagi. Terasa sulit untuk menelan makanan itu lagi masih terpikir dengan ucapan laki-laki


157


Ketiga orang yang masih menikmati makanan yang tersaji di atas meja itu menghentikan aktivitas mereka. Mereka memandang arah perginya laki-laki itu.


Seketika mendengar perkataan itu tadi mereka jadi tidak bisa menelan makanan itu lagi. Terasa sulit untuk menelan makanan itu lagi masih terpikir dengan ucapan laki-laki itu.

__ADS_1


Anak yang ikut mengalami pasang sebuah kehidupan juga mengalami tragedi yang seharusnya tidak dia alami kini sudah saatnya melepas masa lajangnya. Deddy ingin memberikan sebuah pesta yang sangat megah padanya sebagai hadiah atas pernikahannya.


Hadiah itu diberikan karena selama ini ia mampu menjaga sebuah kepercayaan dari Deddy. . Bangkit dari keterpurukan masa itu bahkan bisa lebihberkembangdengan usahanyasendiri.


__ADS_2