
Pagi kini telah datang dengan sinar matahari pagi yang cerah. Kedua insan kini telah membuka matanya dalam satu selimut
Sinta: "Malam yang pendek."
Adrean: "Wah... Apa mau lagi." (Goda Suaminya)
Sinta: "Emang boleh."
Wajah Sinta akhirnya berubah merah seperti tomat masak karena malu.
Untuk menutupi rasa malunya Ia meminta Sang Suami untuk segera memasak. Aktivitas hari ini sudah berjalan seperti biasa.
Mentari juga sudah mendaftar di sekolah barunya. Satu sekolah dengan Alfian. Sayang mereka tidak sekelas. Selisih mereka 3 tingkat.
Mentari memang tidak mendaftar sendiri, tetapi didaftarkan oleh orang tuanya. Saat pertama kali ia berangkat ke sekolah yang baru ia diantar oleh Sinta.
Sinta mengantar adiknya setiap hari memang dia juga akan pergi ke kampus. Dalam perjalanan mereka bercakap-cakap.
Sinta: "Benerkan kalau jodoh memang gak akan ke mana?
Mentari: "Apa an sih kak."
Sampai di Sekolah Mentari diturunkan di depan sekolahnya. Setelah berpamitan pada kakaknya. Sinta pun melajukan mobilnya ke kampus.
Pagi ini memang Sinta tidak ada mata kuliahnya. Ia kemudian menuju perpustakaan. Dodi sejak tadi sudah mengawasinya dari kantin yang tidak jauh dari perpustakaan.
Dodi sebenarnya memang tidak ada niat untuk ke perpustakaan. Tapi melihat wanita idamannya ia menuju ke sana.
Dodi pun menemui Sinta di sana.
Dodi: "Maaf kalau tidak salah anda nona Sinta ya?"
Sinta: "Iya benar."
Tanpa melihat Dodi karena ia sedang fokus membaca Sinta membalasnya singkat.
"Masih ingat saya?" kata Dodi.
"Iya." Balas Sinta
Sinta memang orang yang simpel. Ia tahu siapa yang sedang diajaknya bicara tanpa melihat orangnya. Sinta menjadi tidak nyaman dengan kehadiran Dodi.
Sinta akhirnya pamit karena akan ada kuliah.
Dodi terus menatap kepergian Sinta. Sampai Ia masuk kelas. Betapa senangnya hati Dodi ia satu Fakultas.
Dodi semakin penasaran karena itu cewek tidak melihatnya sama sekali. Sedangkan cewek sekampus saja ingin jadi pacarnya. Dadi memang tampan dan kata sehingga banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya.
Dodi pun kembali ke kantin dengan senyum diwajahnya. Teman-temannya sudah menggira ia dapat santapan baru.
Dodi belum bisa menjawab pertanyaan temannya itu. Karena memang hatinya belum dia dapatkan.
Adrean dalam kantornya sudah merasa cemas dengan Sinta yang sudah mulai masuk kuliah. Selain karena hamil keselamatannya juga jadi taruhan. Dodi adalah pria yang nekat untuk mendapatkan segala sesuatunya.
Adrean berbincang-bincang dengan Briyan yang sudah menjadi asisten pribadinya di tempat yang sama secara langsung. Ia meminta Briyan untuk menjaga istrinya lebih ketat.
Beruntung sekali wanita yang menjadi istrimu Tuan." kata Briyan sambil tersenyum meledek.
Aku tahu apa yang ada dipikiranmu Sarno." Balas Adrean.
"Kayak anak-anak SMA cinta buta." Sambung Briyan sambil berjalan keluar ruangan dengan senyum yang meludek.
Briyan yang meledeknya barusan akhirnya didoakan Adrean dengan kata-katanya. "Semoga cepet dapat wanita super cantik biar kamu rasain sendiri." kata Adrean.
Begitulah ke dua sahabat itu kalau bertemu.
Dodi terus saja mengawasi gerak gerik Sinta. Semua orang suruhan yang diperintahnya selalu gagal untuk memperoleh informasi.
Dodi akhirnya turun tangan sendiri. Ia mendekati Sinta dengan caranya sendiri. Sinta orang yang cuek di kampus kepada semua laki-laki yang mendekatinya.
Briyan punya rencana untuk melindungi Istri Bosnya dengan menyuruh Dita menjadi mahasiswa juga di kampus dan Jurusan yang sama dengan Sinta. Ia menjadi sahabat dekat Sinta.
Sinta selalu tidak menyadari keberadaan Dita. Dita dan Sinta berkenalan saat mata kuliah yang sama. Dita berpura-pura tanya mengenai tugas dosen. Hingga akhirnya menjadi sahabat dekat.
Postur tubuh bahkan semua kesederhanaan yang dimiliki Dita hampir sama. Cantik, elegan, dan menawan tanpa riasan make up yang berlebih. Mereka berdua juga cuek terhadap semua laki-laki.
Dodi mencoba mendekati Dita. Ia ingin mendapatkan Sinta melalui Dita. Dita dengan santainya menjawab apa yang ditanyakannya. Semua jawaban yang Dita berikan memang benar apa yang ia tahu. Tapi banyak sekali yang Ia sembunyikan.
Saat Dita melewati sebuah ruangan, ia mendengar Dodi menghubungi seseorang. Ia mencoba mengajak kencan Sinta tapi selalu gagal. Bahkan semua barang mewah yang ia berikan dikembalikan dengan hormat. Kali ini ia merencanakan sesuatu yang sangat membahayakan Sinta.
Dita menghubungi Briyan supaya ia dan anak buahnya waspada. Dodi pergi menemui Sinta yang baru duduk di dekat taman. Ia memberikan sebotol minuman yang mengandung obat tidur. Sinta pun tidak langsung meminumnya.
Dita tiba-tiba menghampirinya Sinta, dan dengan sengaja menyenggol botol minuman itu. Dita minta maaf Dodi marah dengan hal itu. Semua rencananya gagal saat itu pula.
Pulangnya Dodi meminta seseorang untuk menculik Sinta dan Dita. Hal itu sudah tercium oleh Briyan.
Sinta dan Dita memang pulang dan berangkat bersama sejak mereka berkenalan. Dita juga tahu ia tengah hamil muda yang merupakan istri dari Bosnya.
Sinta memang tidak cerita mengenai identitasnya kepada orang lain termasuk sahabat dekatnya. Sinta yang selalu menjemput Dita untuk menutupi identitasnya.
Saat di jalan anak buah Dodi mencoba menghadang mobil yang dikendarai Sinta. Dita menyadari ia sedang di ikuti segera mengalihkan rute jalan menuju tempat yang agak ramai. Dita yang jago mengemugi dengan kecepatan tinggi mampu mengalihkan orang-orang yang mengejarnya.
Kebetulan Sinta memang kondisi masih terlalu capek setelah pulang dari villa. Sinta meminta Dita mengemudikan mobilnya. Dita yang mengemudi ugal-ugalan mendapat teguran dari pemilik mobil.
Sinta: "Dit, pelan-pelan aja kenapa? Elo nyetir kayak orang kesurupan."
Dita: "Iya-Iya sorry. Gue khilaf.
Dita berbohong tujuannya agar Sinta tidak khawatir. Hal itu akan mempengaruhi janinnya.
Dita mengajak Sinta makan di restoran untuk menghindari kejaran anak buah Dodi. Sinta ikut masuk tapi ia hanya memesan minuman dingin. Ia takut perutnya tidak enak.
Sinta takut terlambat pulang. Ia mengajak Dita segera pulang. Dita sengaja mengulur-ulur waktu sampai situasi aman.
Dita sejak tadi hanya mengotak atik ponselnya. Sinta merajuk minta pulang seperti anak kecil. Ia mencoba menghubungi Briyan kalau mereka sekarang berada di restoran X sedang dalam bahaya.
Briyan sedang mengatur strategi. Briyan menghubungi Adrean agar menjemput Sinta di restoran X karena istrinya merajuk minta segera pulang. Sedangkan situasi tidak aman.
Adrean mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Saat ia sampai di restoran X semua wanita terpana dengan ketampanannya.
Dita berpura-pura tidak mengenalnya. Begitu pula dengan Sinta.
Dita: "Wuih cowok ganteng mak."
Sinta: "Biasa aja X." (sambil melihat suaminya yang datang mendekat dalam hatinya berkata kebetulan gue gak perlu tergesa-gesa pulang).
Adrean: "Hai nona-nona cantik, boleh saya duduk di sini?"
Dita: "Silahkan Tuan."
Sinta: "Aman gue." Lirih ia berkata.
Adrean: "Nona tadi bilang apa?"
Sinta: "Saya gak bilang apa-apa." Bantahnya.
Adrean: "Di rumah nanti anda gak aman." Bisiknya.
Dita yang tahu percakapan mereka hanya tersenyum. Akhirnya Briyan datang juga sama halnya berpura-pura tidak mengenal Dita.
Hujan sangat deras, Dita akhirnya minta tolong untuk diantar pulang karena ia membawa mobil Sinta. Sinta sendiri tidak mungkin mengendarai mobil karena kecapean. Adrean pulang bersama Sinta dengan mobil Sinta. Sedangkan mobil Adrean dikendarai oleh Briyan mengantar Dita.
Perjalanaan pulang Adrean mengendarai mobilnya dengan sedang. Sinta memejamkan matanya. Adrean tahu rasa capek yang menyerang istrinya. Ia membiarkan istrinya istirahat. Sinta kaget saat tangan suaminya membelai lembut rambutnya.
Sinta: "Ada apa?"
Adrean: "Gak ada apa-apa. Sayang kamu capek sekali ya."
Sinta: "Gak kok. Cuma sedikit."
Adrean: "Ya udah nanti di rumah biar aku pijitin."
Sinta: "Gak usah sayang. Aku gak capek kok."
__ADS_1
Adrean: "Atau mau dipijitin sekarang?"
Sinta: "Trimakasih Sayang."
Adrean: "Tapi pijitnya pijit plus-plus lho ya?"
Sinta: "Dasar mesum." Sambil memukul pelan kepala suaminya dengan tas.
Sinta tanpa berkata ia memukul jidatnya sendiri.
"Mampus gue dibunuh sama suami."Bisiknya.
Sang suami hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata istrinya.
Mobil lain milik Adrean ada sepasang insang yang saling dimabuk asmara. Briyan sengaja mengurangi kecepatan mobilnya agar bisa mengelabui nonanya tentang Dita. Jarak mobil Adrean dan Briyan semakin jauh.
Briyan: "Kerja bagus Dita."
Dita: "Trimakasih."
Briyan: "Nona Sinta gimana?" Sambil melihat ke kaca depan mobil melihat gadis cantik di sampingnya.
Dita: "Baik."
Briyan: "Bisa lebih spesifik lagi penjelasannya."
Dita: "Maksut Tuan?"
Briyan: "Saat di kampus nona Sinta gimana?"
Dita: "Banyak laki-laki yang mengincarnya. Menutupi identitas dan statusnya dengan baik. Bahkan dengan saya ia tidak pernah sekalipun menceritakan jati dirinya." Jelasnya.
Briyan: "Apa dia mengeluh cepat capek karena sedang mengandung?"
Dita: "Tidak Tuan. Tidak sama sekali ia cerita kalau sedang mengandung."
Mereka diam sesaat setelah membicarakan Bosnya. Setelah itu mereka membicarakan mereka berdua.
Dita: "Maaf Tuan, gimana kabar Bapak Anda?"
Briyan: "Semakin baik. Semua berkat bantuan Tuan Adrean."
Di rumah Dita tinggal hanya sendiri. Rumah kecil yang cukup sederhana tetapi sangat nyaman untuk dihuni. Ia sebenarnya juga punya apartemen miliknya sendiri.
Sampai di depan pekarangan ia turun dari mobil. Briyan membukakan pintu mobilnya. Dita mengucapkan terimakasih pada Briyan.
Saat bersama dengan Dita, Briyan selalu memperhatikan Dita. Dalam hatinya ia merasa kagum dengannya. Hatinya seakan hanya ada rasa senang. "Apa aku jatuh cinta?" katanya lirih.
Seumur-umur Briyan belum pernah memperhatikan seorang wanita. Hanya Dita gadis satu-satunya yang ia perhatikan.
Briyan berkeinginan mencari tahu tentang kehidupan Dita yang sesungguhnya.
"Bisa gila aku." Kata Briyan yang baru sendiri dalam mobil.
Dita yang tahu percakapan mereka hanya tersenyum. Akhirnya Briyan datang juga sama halnya berpura-pura tidak mengenal Dita.
Hujan sangat deras, Dita akhirnya minta tolong untuk diantar pulang karena ia membawa mobil Sinta. Sinta sendiri tidak mungkin mengendarai mobil karena kecapean. Adrean pulang bersama Sinta dengan mobil Sinta. Sedangkan mobil Adrean dikendarai oleh Briyan mengantar Dita.
Perjalanaan pulang Adrean mengendarai mobilnya dengan sedang. Sinta memejamkan matanya. Adrean tahu rasa capek yang menyerang istrinya. Ia membiarkan istrinya istirahat. Sinta kaget saat tangan suaminya membelai lembut rambutnya.
Sinta: "Ada apa?"
Adrean: "Gak ada apa-apa. Sayang kamu capek sekali ya."
Sinta: "Gak kok. Cuma sedikit."
Adrean: "Ya udah nanti di rumah biar aku pijitin."
Sinta: "Gak usah sayang. Aku gak capek kok."
Adrean: "Atau mau dipijitin sekarang?"
Sinta: "Trimakasih Sayang."
Adrean: "Tapi pijitnya pijit plus-plus lho ya?"
Sinta: "Dasar mesum." Sambil memukul pelan kepala suaminya dengan tas.
Sinta tanpa berkata ia memukul jidatnya sendiri.
"Mampus gue dibunuh sama suami."Bisiknya.
Sang suami hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata istrinya.
Mobil lain milik Adrean ada sepasang insang yang saling dimabuk asmara. Briyan sengaja mengurangi kecepatan mobilnya agar bisa mengelabui nonanya tentang Dita. Jarak mobil Adrean dan Briyan semakin jauh.
Briyan: "Kerja bagus Dita."
Dita: "Trimakasih."
Briyan: "Nona Sinta gimana?" Sambil melihat ke kaca depan mobil melihat gadis cantik di sampingnya.
Dita: "Baik."
Briyan: "Bisa lebih spesifik lagi penjelasannya."
Dita: "Maksut Tuan?"
Briyan: "Saat di kampus nona Sinta gimana?"
Dita: "Banyak laki-laki yang mengincarnya. Menutupi identitas dan statusnya dengan baik. Bahkan dengan saya ia tidak pernah sekalipun menceritakan jati dirinya." Jelasnya.
Briyan: "Apa dia mengeluh cepat capek karena sedang mengandung?"
Dita: "Tidak Tuan. Tidak sama sekali ia cerita kalau sedang mengandung."
Mereka diam sesaat setelah membicarakan Bosnya. Setelah itu mereka membicarakan mereka berdua.
Dita: "Maaf Tuan, gimana kabar Bapak Anda?"
Briyan: "Semakin baik. Semua berkat bantuan Tuan Adrean."
Di rumah Dita tinggal hanya sendiri. Rumah kecil yang cukup sederhana tetapi sangat nyaman untuk dihuni. Ia sebenarnya juga punya apartemen miliknya sendiri.
Sampai di depan pekarangan ia turun dari mobil. Briyan membukakan pintu mobilnya. Dita mengucapkan terimakasih pada Briyan.
Saat bersama dengan Dita, Briyan selalu memperhatikan Dita. Dalam hatinya ia merasa kagum dengannya. Hatinya seakan hanya ada rasa senang. "Apa aku jatuh cinta?" katanya lirih.
Seumur-umur Briyan belum pernah memperhatikan seorang wanita. Hanya Dita gadis satu-satunya yang ia perhatikan.
Briyan berkeinginan mencari tahu tentang kehidupan Dita yang sesungguhnya.
"Bisa gila aku." Kata Briyan yang baru sendiri dalam mobil.
Mentari selalu pulang sore ketika sekolah. Jadi Sinta bisa sekalian menjemputnya. Kejadian hari ini membuat Sinta pulang lebih awal. Sehingga ia tidak bisa menjemput adiknya.
Adrean tidak kembali ke kantor. Ia ingin bersama istri tercintanya. Waktu sudah menjelang sore. Adrean dalam perjalanan menjemput adiknya.
Mentari sudah menunggu di gerbang sekolah. Alfian mendekatinya bersama dengan teman dekatnya Ziko.
Ziko: "Al mau kemana?"
Alfian: "Bentar tunggu disini atau mau ikut?"
Ziko: "Ikut lah. biar ketularan."
Alfian: "Emang penyakit."
Alfian dan Ziko berjalan mendekati Tari. Mentari tiba-tiba merasa gugup.
Alfian: "Hai cew, kayaknya kita pernah ketemu deh?"
Mentari: "Mungkin."
__ADS_1
Ziko: "Al kamu kenal sama tuh cew?" (lirihnya)
Alfian: "Iya, dulu kayaknya tuh cew pernah jadi adik kelas aku trus jadi temen sekelas ku."
Ziko: "Cantik juga lho."
Adrean sedikit terlambat menjemput Mentari.
"Akhirnya dijemput juga." bisiknya Mentari.
Adrean turun dari mobil mengajak Mentari pulang. Baru berjalan mendekati Tari, Alfian sudah mendekatinya. Mentari jantungnya jadi berdegup kencang.
Alfian: "Siang kak. Kakak itu kakaknya Tari ya?"
Mentari kaget juga kalau Alfian masih inget namanya.
Adrean: "Siang juga tampan, kamu temennya kah?"
Alfian: "Aku kakak kelasnya. Dulu sempet jadi teman sekelas."
Mentari berlari kecil mendekati kakaknya. Ia langsung merajuk minta pulang. Ia tidak ingin Alfian banyak bertanya tentangnya.
Mentari: "Bang ganteng, ayolah segera pulang. Ini sudah sangat terlambat."
Adrean: "Itu temen kamu masih mau ngobrol sepertinya. Masak mau ditinggal begitu saja. Kan gak sopan Tuan Putri."
Alfian mendengarkan percakapan keduanya. Ia merasakan suatu kehangatan keluarga yang sangat besar. Tanpa sadar Alfian meneteskan air mata karena rasa iri.
Adrean melihat Alfian. Alfian segera menghapus air matanya. Ia tidak ingin orang lain melihat kesedihan dalam hatinya selama ini.
Adrean akhirnya menawarkan diri untuk mengantar Alfian juga karena waktu sudah sangat sore. Ziko pun ikut bersama mereka karena rumah mereka berdekatan dengan Alfian.
Mereka masuk dalam mobil Adrean. Mentari duduk di samping Kakaknya. Alfian dan Ziko duduk di belakang.
Mentari: "Kak kenapa anterin mereka?"
Alfian: "Gak usah kak ada yang keberatan kayaknya."
Adrean: "Gak apa, oh ya nama kamu siapa tampan?"
Alfian: "Aku Alfian dan ini teman ku Ziko. Temen sehidup, mati sendiri-sendiri." Imbuhnya.
Mereka akhirnya tertawa. Alfian dan Ziko mendengarkan perbincangan kakak beradik di depan mereka. Terkadang juga mereka unjuk bicara.
Tari: "Kak Sinta, kok gak jemput?"
Adrean: "Kak Sinta tadi juga dijemput sama kakak, jadi udah sampai rumah duluan."
Tari: "Tapi keadaannya gak papa kan?"
Adrean: "Gak apa-apa."
Alfian: "Tunggu-tunggu, Kak Sinta itu yang selalu nganterin kamu kan?"
Tari: "Iya."
Ziko: "Al tumben kamu bisa bicara."
Alfian: "Emang aku bisu."
Ziko: "Ya, biasanya kamu kan kalau ada orang ngomong cuma dengerin doang. Kalau ditanya pun cuma geleng ama anggukin kepala. Wuiiiih, dinginnya kayak di kutub kalau sama kamu mah."
Alfian: "Dasar suka buka kartu orang." Sambil memukul kepala Ziko pelan.
Ziko: "Aduuh. Sakit tau."
Adrean mencoba menerka siapa teman Tari itu. Adrean merasa Alfian bukan orang sembarangan, seperti ia menebak siapa Sinta dulu.
Rumah Ziko sudah dekat. Alfian minta berhenti di rumah temennya itu. Ziko adalah sahabat Alfian sejak kecil.
Adrean merasa heran dengan hal itu. Kebetulan Alfian minta nomer ponselnya. Jadi Adrean dan Alfian bertukar nomor ponsel.
Mentari menyandarkan badannya di kursi mobil. Ia mencoba tidur, tapi bayangan Alfian muncul.
Alfian berjalan sampai rumah. Ziko juga heran kenapa gak mau diantar sampai rumah. Tapi yang jelas Alfian orangnya tertutup. Ia tidak mau orang lain mengetahui jati dirinya.
Rumah Alfian memang sama besar. Setiap pulang sekolah ia menyempatkan diri untuk olah raga. Semua peralatan olahraga ada di rumahnya.
Orang tuanya sibuk dengan semua perusahahan. Tidak berbeda dengan Mentari bedanya. Mentari orang tuanya meluangkan waktu walau sesubuk apapun mereka. Alfian Daddynya tidak bisa meluangkan waktu sejak kejadian itu.
Alfian sadar orang tuanya berbuat seperti itu untuknya juga. Kejadian dimana perusahaan yang ia bangun hampir saja bangkrut. Saat kesuksesan ada banyak kolega dan mengaku sahabat pada mereka. Tapi ketika perusahaan Daddynya mengalami kesulitan tak ada yang membantu satupun. Bahkan mereka pergi meninggalkan keluarga Alfian termasuk keluarganya sendiri.
Kisah Alfian:
Alfian memang dari keluarga yang sangat terpandang. Sampai kejadian itu Alfian harus berhenti sekolah karena takut diledek oleh temannya.
Mamynya selalu mendukung dan menasehatinya agar ia tetap sekolah. Ia berhenti sekolah sampai beberapa tahun. Akhirnya ia harus mengejar keterlambatannya karena faktor usia. Kecerdasan dan kepandaiannya membuat ia lebih cepat mengejar pendidikan yang harus ia jalani.
Alfian yang mulai bangkit membuat Daddy dan Mammy juga mendapat motivasi. Perusahaan mulai merintis kembali apa yang hampir hilang.
Daddy dan Mammy juga menjadi semakin hati-hati dalam dunia bisnis. Dingin terhadap semua orang, tapi lembut dan penuh kasih sayang pada keluarganya.
Alfian yang setiap pulang sekolah selalu menghabiskan waktunya sendiri. kali ini ia ingin makan malam bersama keluarganya.
Alfian sudah menunggu di meja makan. Daddy yang baru saja pulang dari kantor melihat putranya di ruang makan sambil tersenyum. Melihat senyum putranya itu langsung menuju ruang makan, duduk bersamanya.
Daddy: "Mammy mana Al?"
Alfian: "Belum turun, Ded."
Daddy: "Bi tolong panggil nyonya ya?"
Bibi: "Baik Tuan."
Daddy: "Tumben Al kamu duluan. Buasanya juga maunya makan sendiri dan terakhir."
Alfian: "Gak apa-apa kan Ded."
Deddy: "Kayaknya kamu lagi seneng ya?"
Alfian: "Biasa aja kali Ded."
Tidak lama Mammynya turun dan ikut makan malam. Sang Mammy juga heran melihat Alfian kali ini.
Daddynya sudah tahu tentunya karena selalu mendapat laporan kegiatan anak simata wayangnya ini. Alfian juga tahu kalau Deddynya pasti sudah tahu.
Makan malam buat Alfian kali ini adalah obat rindunya pada Deddy dan Mammynya yang selama ini ia abaikan. Alfian sangat menyayangi keluarganya ini.
Mulai malam ini juga Alfian akan mencoba membuka diri untuk keluarganya. Keesokan hari Deddy dan Mammy mulai meluangkan waktu untuk putranya.
Adrean mencari tahu tentang Alfian. Ia menyuruh Briyan mencari tahu tentang kehidupan Alfian.
Sehari ia mendapatkan informasi ini. Betapa terkejutnya Adrean setelah tahu kehidupan Alfian dan keluarganya.
Adrean berusaha menjalin hubungan kerjasama dengan Deddy nya Alfian. Adrean juga tahu tidak semudah menjalin hubungan dengan perusahaan lain. Tapi karena kecerdasan Adrean ia mampu meraih kepercayaan itu.
Adrean hanya ingin memastikan Adiknya Mentari mendapat sahabat yang baik.
Hari pun berganti hari, Bulan bergantian bulan. Usia kandungan Bunda dan Sinta semakin besar.
Kandungan dua wanita di keluarga Tuan Richat semakin besar. Bunda perutnya sudah besar usianya enam bulan. Sinta usia kandungannya baru 3 bulan.
Badan Sinta semakin padat berisi. Sang suami semakin bergairah jika melihat istrinya yang berbadan semakin berisi.
Tubuh yang semakin berisi itu terlihat semakin cantik. Dodi yang semakin hari selalu mengejar-ngejar Sinta selalu bisa diatasi oleh sahabatnya.
Hubungan Dita dan Briyan semakin hari semakin dekat. Briyan selalu memanfaatkan kesempatan untuk lebih mengenal karakter Dita.
Dodi kali ini nekat langsung memaksa Sinta.
Dodi: "Sin semakin berisi saja. Nanti pulang ada acara kah?
Sinta: "Ada."
__ADS_1
Dodi: "Apa? Jemput adik lu?"
Sinta hanya tersenyum