Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 143. Pijatan


__ADS_3

Seorang gadis kini sudah sudah menghabiskan banyak cemilan dan minuman. Menunggu membuatnya lapar hingga menghabiskan semua itu.


Pelayan yang melayani gadis ini hanya geleng-gekeng kepala. Ia tak menyangka bahwa gadis ini memiliki nafsu makan yang banyak.


Benda pipih yang dipegangnya juga selalu menemaninya sejak ia berada di Stand itu sendirian. Setia menanti abang kusir.


Seorang Pemuda yang tadinya hanya memakai kaos dan celana pendek dengan mengenakan kaca mata hitam kini sudah berubah dengan kostum baru sedang berjalan menghampiri seorang gadis yang sedang asik dengan benda yang ada di tangannya. Tangannya yang sejak tadi tanpa henti bergerak dengan diselingi makan dan minuman yang sudah tak terhitung jumlahnya.


"Beneran?" Tanya sang abang kusir yang kini berubah menjadi seorang pangeran.


"Apanya?" Tanya balik gadis itu.


"Itu." Jawab Sang Pangeran dengan menggunakan dagunya.


"Salah." Jawab gadis itu sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Katanya cuma sebentar sudah berapa jam aku nunggu di sini?" Lanjutnya sang gadis.


"Itu juga dapat dari mana itu kostum." Lanjutnya lagi.


"Ngutil itu di sana banyak kemeja dan jas bermerk." Jawab Alfian.


"Udah bayar sana!" Perintah Sang Gadis.


"Tadi kan udah dibayar." Kata Alfian.


" Itu makanan yang tadi, yang ini mah belum." Kata Tari.


"Haduh." Keluh Alfian.


Bukan karena disuruh bayar Alfian mengeluh tapi kalah berdebat. Dari pada panjang urusannya Alfian memanggil pelayan untuk meminta tagihan yang baru.


Menunggu tagihan itu Alfian masih sempat duduk di dekat Gadis yang bersamanya kini. Ia ingin menjahilinya setiap bersamanya.


"Rasa enak ni kalau punya istri yang doyan makan kayak gini." Kata Alfian.


Gadis itu tak perduli dengan apa yang dikatakan Alfian barusan. Setelah tagihan datang Alfian menyerahkan salah satu kartu yang ada di dompetnya itu.


Selesai pembayaran Alfian telah menerima kartunya kembali. Ia mengajak Tari untuk jalan-jalan karena masih belum puas dengan semua kejadian hari ini.


Alfian yang masih menggunakan kemeja dan jasnya merasa risi. Ia mengajak gadis itu menuju ruang kantornya untuk mengganti kemeja dengan kaos yang sebelumnya ia kenakan.


Kemeja yang Alfian baru saja pakai dimasukkan ke dalam peperbag untuk dibawa pulang dan dicuci. Mentari yang ikut masuk ke dalam ruang kantor itu pun hanya manggut-manggut.

__ADS_1


"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Tanya Alfian yang hendak membuka jasnya.


"Lumayan." Jawab Tari yang mengamati dekorasi ruang kerja Alfian sambil duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.


Karena merasa penat di punggungnya akhirnya ia pun menyandarkan bahunya pada kursi sofa itu hingga terlihat dua buah gundukan besar. Pemuda yang baru saja melepaskan jasnya itu melihat pemandangan itu tersebut hingga ia menelan salivanya.


"Capek?" Tanya Alfian berjalan sambil menggulung lengan kemeja yang ia kenakan.


"Ya." Jawab seorang gadis yang tidak merasa memancing seorang Pemuda dewasa dengan aura kelelakiannya.


Tangan Alfian mulai bergerilya pada bahu seorang gadis. Gadis itu terkejut mendapat sentuhan lembut itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Tari saat sebuah tangan kekar mulai memijatnya hingga membuatnya lebih rileks.


"Cepat." Lanjutnya saat memejamkan mata.


"Baiklah mumpung di sini gak ada orang." Jawab Alfian bergumam tapi masih dapat didengar oleh gadis yang dipijatnya.


"Apa maksud mu?" Tanya gadis itu.


"Kisingkan." Jawabnya.


"Oh tidak, maksutku cepatlah ganti baju katanya tadi mau ganti itu kemeja." Kata Tari memandang wajah tampan yang sedang memijatnya.


"Kalau bukan kising apa? Kenapa tadi memejamkan mata?" Tanya Alfian iseng tapi memang itu yang diharapkannya.


Gadis itu memejamkan mata karena merasa nyaman dengan pijatan ringan yang dilakukan Alfian. Rasa ngantuk mulai menyerang mungkin karena badannya sudah terasa agak enak rasa capek yang menyerangpun mulai hilang.


Tap


Tap


Tap


Sebuah langkah yang yang lumayan cepat oleh dua orang pemuda menuju ruang kerja Alfian. Keduanya berjalan beriringan.


Pintu ruang kerja itu lupa di tutup dengan rapat alias masih sedikit terbuka. Untung saja ruang kerja Pemilik Mall itu bukan berada diantara keramaian karyawannya, hingga tidak sembarang orang lewat di ruang kerjanya.


Ke dua pemuda itu hendak masuk akan tetapi terhenti oleh adegan dua insan yang membuat keduanya tidak jadi masuk ruangan tersebut. Handle pintu ditarik oleh asisten Alfian hingga pintu itu benar-benar tertutup.


Seorang pemuda yang berada di belakang Ziko heran karena bukannya minta izin masuk akan tetapi malah menutup rapat pintu itu.


"Kenapa Pak?" Tanya petugas keamanan yang ingin mengucapkan terimakasih pada Sang Bos karena bukannya dia dikeluarkan malah direkomendasikan di perusahaan inti dengan gaji yang berkali lipat.

__ADS_1


"Mataku jadi panas." Kata Ziko yang sudah melihat kelakuan kedua insan tersebut.


Petugas keamanan itu hanya membelalakkan mata lebar-lebar karena tidak tahu dengan apa yang dimaksut sang Bapak Asisten yang tampan. Mereka berdua akhirnya menunggu di depan ruang kerja Alfian.


Seperti seorang penjaga mereka berdiri di kedua sisi pintu. Menyandarkan punggung mereka pada dinding karena merasa jenuh sudah menunggu keduanya.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam.


Menunggu


Menunggu dan


Menunggu


Sang Asisten tidak pernah menunggu tapi kali ini ia dibuat menunggu oleh Bosnya. Membuang-buang waktu bisa dibilang seperti itu.


Kena marah pastinya jika membuang buang waktu seperti ini biasanya Sang Bos. Alfian sangat disiplin dalam setiap hal, termasuk dalam pekerjaan.


Kali ini entah setan apa yang merasuki Sang Bos hingga di dalam ruang kantornya melakukan sesuatu yang luar biasa seperti itu. Mau ditaruh dimana mukanya jika bos besar ketahuan memijat seorang gadis.


Buat dia dari pada gaji dipotong karena mengganggu mereka lebih baik menunggu hingga kutuan. Alfian selalu mengancam dengan mengurangi gajinya walaupun itu hanya sekedar candaannya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Benda pipih yang ada dalam saku ce Ziko pun bergetar. Ia memasukkan tangannya hendak mengambil benda tersebut.


Sebuah pesan yang membuatnya jengkel karena belum tahu yang sebenarnya sudah marah-marah tidak jelas. Sang Bos mulai meng-ultimatum seperti sebelumnya.


"Mau potong gaji dan hilang bonus!" Ancaman berupa pesan yang baru Bapak Asisten Dapat.


Asisten itu pun membulatkan mata sempurna membaca teks itu. Ia mengetikkan jawaban pada atasannya kemudian mengirimkannya.


Pemilik ruang kantor yang baru saja dijaga oleh kedua orang sahabatnya kini keluar tanpa rasa malu. Ia melihat kebenaran dari ucapan asistennya itu.


Dilihat dua orang sedang menunggunya di luar ruang kantor pribadinya. Sang pemilik akhirnya memutuskan untuk berbicara di ruangan yang lainnya karena takut mengganggu seorang gadis yang tadi bersamanya.


Siiit


Pintu ruang kantor itu tertutup kembali tanpa suara hanya dengan menggesekkan sebuah kartu. Ruang kantor milik Alfian memang disiapin ganda.

__ADS_1


__ADS_2