
Melihat Briyan yang semakin salah tingkah sang ibu ingin mengerjainya. Ibu sengaja mendekatkan badannya hingga hampir menempel pada badan kekar itu.
"Ehem-ehem. Apa yang kamu lakukan di sini Nak? Tanya Ibu dengan tegas.
"Ti... tidak Bu. Sa ....saya cuma mau memastikan untuk kesiapan istri ku untuk besuk." Jawab Briyan gagap sambil menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.
"Kenapa kalian gak mengerti juga sih." Kata Ibu dengan tegas.
"Ma ma maaf Bu. Ka ka kalau begitu saya pamit dulu." Kata Briyan dengan takutnya.
"Udah sana kamu masuk." Kata Ibu pada Anak Gadisnya.
"Dasar anak jaman Now." Sambung ibu dengan lirih. (Gak apa-apa dong ya sang ibu pakai sedikit bahasa anak muda).
Dita akhirnya masuk dalam kamar kembali. Ia tidak tahu kalau calon suaminya akan menemuinya.
Waktu sudah semakin sore. Sejak sampai di hotel Sang ibu dan Dita hanya istirahat tidak melakukan aktivitas yang melelahkan fisik mereka.
Malam pun semakin larut Dita mulai merasa tidak tenang. Ibu pergi ke kamar Dita untuk melihat keadaan anaknya.
Ibu melihat anaknya Dita sangat cemas. Padahal besuk seharusnya adalah hari bahagianya. Hari yang seharusnya ditunggu-tunggu olehnya.
Ceklek
Pintu kamar hotel Dita dibuka oleh ibunya. Dita melihat kedatangan sang ibu sambil memegang ponselnya dengan duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya.
Sang ibu berjalan mendekati anaknya itu dengan senyum tipis di wajahnya. Ia pun duduk di tepi tempat tidur dekat dengan putri satu-satunya.
"Kenapa wajah mu seperti itu sayang?" Tanya Ibu pada Dita.
"Gak apa-apa Bu." Balas Dita.
"Katakan saja sebelum kamu jadi milik orang." Kata ibu dengan berat hati.
"Ibu aku......" Kata Dita terpotong.
"Segera lah tidur. Besuk semua akan baik-baik saja." Perintah sang ibu.
Ibunya tahu apa yang dikhawatirkan oleh sang anak. Ia berusaha memberikan ketenangan untuk anaknya itu agar tidak terlalu cemas.
*** *** *** *** Di Apartemen *** *** ***
Sejak Siang tadi Briyan memantau persiapan untuk pernikahannya. Ia tidak mau ada yang kurang sedikit pun. Rasa senang dalam hatinya mengalahkan rasa capek yang ia kerjakan sejak siang hari.
"Kenapa harus ketahuan sama Ibu saat aku mau sedikit menghilangkan rasa rindu ku." Kata Briyan dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar.
Di dalam kamarnya ia sedang duduk bersandar di sofa. Ia memejamkan matanya tetapi ia tidak tidur.
__ADS_1
Terasa lengket badan Briyan. Ia pun segera mengambil jubah mandinya dan segera mempersiapkan air untuk ia mandi.
Briyan selalu menyiapkan semuanya sendiri. Ia ingin berendam dalam backtub dengan air hangat.
Saat berendam ia memejamkan matanya. Ia sedang membayangkan wajah calon istrinya yang cantik.
Tok tok tok
Puntu kamar Briyan diketuk oleh adik kesayangannya. Adik satu-satunya itu.
Briyan yang sedang asik berendam dengan air di backtub tidak mendengar suara ketukan pintu. Hingga akhirnya hal tak terduga pun terjadi.
Braaaak
Terdengar sangat keras. Briyan masih saja memejamkan matanya ditempat yang sama.
(Braaaaak Itu suara apa ya coba tebak?)
Nyelonong aja itu adiknya karena merasa khawatir tidak ada jawaban. Sangat lama ia menunggu di depan kamarnya.
Saat sampai di dalam kamar sang adik laki-laki Briyan mengedarkan pandangannya di seluruh sudut ruangan. Kedatangan kakaknya tadi sebenarnya ia melihat setelah dipanggil tidak ada sahutan sama sekali. (Makhluk halus mungkin bisa ngilang).
"Kemana itu kakak ku yang paling ganteng?" Kata sang adik lirih.
"Masak ngilang gitu aja. Besuk kan hari bahagianya." Lanjutnya lagi.
Sang Adik menuju kamar mandi. Ia menguping lama di depan kamar mandi.
Tok tok tok
Suara pintu kamar mandi di ketuk.
"Kak kakak." Panggil sang adik
"Kak kakak." Panggil sang adik lagi.
Karena tidak ada sahutan dari dalam Sang adik langsung membuka pintu kamar mandi. Sungguh terkejutnya Briyan.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Briyan dengan nada keras.
"Calon pengantin gak boleh mudah marah lho." Kata sang adik setelah berbalik badan.
"Ntar jadi jelek itu wajah dan cepet tua." Ledek Sang Adik
"Cepet sana keluar aku mau bilas badan aku." Perintah Briyan dengan keras.
"Tenang aja lah kak punya kita kan sama. Jadi aku akan segera keluar gak doyan sama kakak." Kata Sang Adik sambil tertawa geli untuk menutupi rasa takut akan amarah kakaknya.
__ADS_1
Sang Adik sangat tahu bagaimana kakaknya itu kalau sedang marah. Ia mampu menghancurkan segalanya.
"Ya aku takut aja kalau kamu itu belok." Kata Briyan sebelum pintu kamar mandi ditutup oleh adik kesayangannya.
Sang adik menunggu di dalam kamar sang kakak. Ia melihat televisi duduk dikarpet dengan menyandarkan badannya di kursi sofa.
Briyan keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Ia melihat sang adik sedang melihat televisi dengan sesekali tertawa renyah.
Briyan penasaran pada sang adik yang sedang melihat televisi dengan sesekali tersenyum renyah itu. Pasalnya ia sudah lama sekali tidak nonton baik televisi ataupun nonton di bioskop berdua bersama sang adik.
Briyan menghampiri adiknya itu. Ia ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh adiknya hingga ia harus pergi ke kamarnya.
"Ada apa mencariku?" Tanya Briyan singkat.
"Aku ingin bersamamu malam ini." Jawab sang adik.
Mendengar jawaban adiknya Briyan jadi merinding sendiri. Briyan jadi mematung di tempat yang sama.
Bruuuuk
Badan besar dan kekar itu jatuh di atas sofa yang empuk. Adiknya itu mendekatkan wajahnya pada sang kakak.
"Menjauhkan!" Pekik Briyan.
"Apa kau tidak merindukan ku?" Tanya Adik.
"Apa yang kau lakukan dengan pintu kamarku?" Tanya Briyan saat melihat pintu kamarnya sedikit agak bermasalah.
"Maaf-maaf tadi aku mendobraknya." Kata sang adik lirih.
"Gimana besuk dengan malam pertama ku." Tanya Briyan.
"Kakak!" Pekiknya.
"Jangan pikirkan itu dulu, sekarang layanilah aku dulu. Rasanya aku sangat dan sangat merindukan mu." Kata adiknya sambil merengkuh tubuh sang kakak.
"Cukup, jadi kamu benar-benar bengkok ya?" Tanya Briyan dengan perasaan yang takut jika adiknya itu bermasalah.
Sang adik membetulkan posisi duduknya seperti semula. Ia baru menjelaskan titik permasalahan ia datang ke kamar kakaknya.
"Kak tolong hilangkan pikiran semacam itu padaku!" Hardiknya.
♥️♥️♥️♥️♥️ atasnya dihapus.
"Aku rindu bersama denganmu sebagai sebuah keluarga. Besuk kan kakak akan menikah. Setelah ada kakak ipar pasti akan terasa beda kan? Ayolah kak kita sedikit bernostalgia." Pinta sang adik yang sangat memohon.
"Baiklah." Balas Sang kakak.
__ADS_1
Memang benar adanya mereka sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Cuma beberapa hari ini mereka sempat bertegur sapa.
Hanya beberapa hari mampu menciptakan kehangatan yang cukup lama menghilang. Mereka berbincang sambil bercanda ria tak luput dari tawa mereka. Bapak mendengar tawa mereka akhirnya bergabung juga.