Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 88. Alfian membulatkan mata


__ADS_3

Alfian membulatkan matanya seketika mendengar kata-kata anak kecil ini. Anak ini sangat cerdas dari seumuran diusianya sama seperti ketiga jagoan calon istrinya.


"Jadi main gak?" Tanya Alfian.


"Gak ah Om. Paling juga Om kalah." Ledek anak laki-laki itu.


"Enak aja. Mau bukti in?" Tantang Alfian.


Alfian dan anak laki-laki itu bermain bola dengan sangat seru. Hingga waktu pun sudah beranjak siang. Permainan pun berhenti ketika seorang gadis menuju tempat mereka.


Anak itu melihat gadis itu seperti harimau kelaparan mengincar makanannya. Matanya tak berkedip sama sekali melihat langkah gadis yang semampai.


"Cantik ya?" Tanya Alfian pada anak laki-laki itu.


"Iya, pakai banget." Jawab anak laki-laki itu dengan menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis tadi.


Thaaaak


Suara kepala dijitak.


"Ah sakit Om." Kata anak laki-laki itu sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit.


"Anak kecil gak boleh genit kayak gitu." Nasehat Alfian.


"Belajar di sekolah yang bener." Lanjutnya lagi.


"Sok tahu." Gerutu sang anak.


Di seberang jalan terlihat seseorang sedang melambai-lambaikan tangannya. Pakaian yang akan dikenakan cukup sopan.


"Udah ya Om. Aku udah dicariin." Kata Sang Anak.


"Udah aku bilang jangan panggil Om." Titah Alfian.


"Ngaca aja deh Om." Kata sang Anak sambil berlari menuju baby sisternya.


Anak itu sebenarnya tidak membutuhkan babysiter. Hanya orang yang bekerja sebagai babysister itu sudah mengasuh anak itu dari masih lahir. Banyak kecocokan diantara mereka.


Gadis yang bekerja sebagai babysister itu hanya mengenakan seragamnya jika berada di rumah majikannya. Beda sekali jika ia berada di luar ia diperbolehkan memakai pakaiannya sendiri.


Ia sangat pintar dalam berbagai hal. Hanya saja kehidupan yang tidak mendukungnya.


Alfian hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia heran juga bisa kalah berdebat dengan anak kecil.


"Apa aku setua itu?" Pikirnya.


Alfian pun kembali melakukan aktivitasnya. Ia joging sampai di rumah karena waktu memang sudah sangat siang. Matahari sudah terasa sangat panas.


Di halaman rumah terlihat Deddy sedang bermain bola Basket. Ya itulah hobi sang Deddy dan Alfian dikala waktu liburnya.


Alfian menghampiri sang Deddy. Bola basket yang ada di tangan sang Deddy rebut begitu saja.


Sangat dan sangat gesit sang Deddy mempertahankan bola itu. Gagal sudah rencana merebut bola itu.


"Masih muda juga masak menyerah begitu saja." Kata Deddy.


"Siapa yang nyerah juga." Elak Alfian.


"Ya udah ayo tanding Al." Tantang Sang Deddy.


Deddy dan Anak nya itu mulai pertandingan yang sangat sengit. Keduanya sama-sama hebatnya.


Mommy melihat kedua jagoannya itu dari teras rumah. Ia hanya menggelengkan kepala melihat kedua laki-laki itu.


"Bapak sama anak sejak dulu sama aja." Batin Mommy.


Mommy membawakan jus jeruk. Ia tahu kalau mereka pasti kehausan.


"Udah istirahat dulu." Perintah Mommy.


"Nanggung Mom." Kata Alfian.


"Istirahat dulu Al." Kata Deddy dengan menghentikan permainannya.


Mereka akhirnya duduk di bawah pohon rindang di tepi lapangan bola itu. Jus yang dibawakan oleh Sang Mommy akhirnya disekap hingga kandas.


"Mommy jadi jurinya. Ok." Kata Deddy mengedipkan mata kanannya.


"Ok." Jawab Mommy dengan menganggukkan kepalanya perlahan.


"Kalau Alfian menang nanti Deddy yang akan membiayai pernikahannya, honeymoon, dan juga rumah untuk anak kita." Kata Deddy.


"Itukan emang jadi tanggung jawabnya Deddy harusnya." Protes Alfian.


"Siapa suruh dulu kamu bilang maunya semua yang Deddy katakan itu pakai uang kamu sendiri." Jelas Deddy.


Alfian memang pernah mengatakan semua itu pada Deddy dan Mammynya. Ia tidak mau bekerja menggantikan posisi Sang Deddy.


Alfian mengatakan itu agar ia bisa meniti karirnyanya sendiri dari bawah. Ia tidak mau menggunakan nama keluarga untuk mempermudah semua pekerjaannya.


Sifatnya yang keras serta rasa tanggung jawab yang besar itu membuatnya sukses tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya.


"Ok. Ayo kita mulai." Ajak Alfian.


Mereka berdua bermain dengan sengit. Mommy hanya melihat keduanya sedang asik bertanding.


Hingga waktu yang sudah diputuskan bersama telah habis. Hasil dari pertandingan itu pun seri dengan hasil banyak keringat yang bercucuran di badan mereka.


"Sudah dulu Deddy mau mandi." Kata Deddy meninggalkan Alfian di lapangan Bola itu berjalan beriringan dengan Mommy.


"Nanggung Deddy aku masih belum menyerah." Teriak Alfian saat sang Deddy sudah berjalan menjauh dari lapangan itu.


"Bukan Nanggung lagi kali ini Al, tapi Deddy mau benggang ini." Jawab Deddy dengan bahasa absurbnya.


"Deddy gak inget kalau di sini ada jomblo happy." Protes Alfian.


"Siang-siang ini telinga udah dicemari dengan kata-kata mu Deddy." Lanjut Alfian.


Deddy dan Mommy hanya tersenyum renyah mendengar semua perkataan Alfian baru saja. Anak yang dulu sangat lucu kini telah tumbuh menjadi laki-laki yang penuh tanggung jawab. Itulah kebanggaan tersendiri bagi mereka.


Alfian akhirnya mengikuti kedua orang tuanya. Ia segera mandi dan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.


Mommy membuatkan makan siang untuk seluruh anggota keluarga. Anggota keluarganya kan cuma tiga.


Deddy yang cukup kecapean dengan pertandingan dengan anak laki-lakinya itu setelah mandi segera menuju ruang kerjanya. Banyak hal yang perlu di dikerjakan sebelum pernikahan anak semata wayangnya.


Semua aset dan harta yang dimiliki keluarga ini sungguh tak terbayangkan. Digunakan untuk tujuh keturunan pun tak akan ada habisnya. (Itu menurut pandangan orang, tetapi kita juga harus sadar semuanya hanyalah titipan Allah semata. Jika ia menginginkannya kembali hanya dalam hitungan detik pun semua akan sirna).


Deddy sudah merencanakan semua aset dan kekayaannya itu untuk cucunya kelak. Alfian sebagai anaknya bahkan tidak diberikan sama sekali akan harta sang Deddy.


Deddy melakukannya karena tahu akan kemampuan anaknya itu yang mampu dan bisa bertahan di dalam dunia bisnis. Bahkan mampu untuk melakukan yang lebih.


Bunda sudah selesai memasak dengan berbagai macam menu makanan. Nasi yang dimasak tadi pagi dihidangkan kembali. Sayur mayur dan lauk yang masih ada dari sarapan tadi juga dihidangkan lagi.


Sayur dan lauk itu hanya perlu dipanaskan. Bunda hanya menambahkan sedikit menu yang dirasa kurang untuk menu makanan mereka


♥️♥️


122


Sayur dan lauk itu hanya perlu dipanaskan. Bunda hanya menambahkan sedikit menu yang dirasa kurang untuk menu makanan mereka.


Makanan yang dimasak di rumah itu sebenarnya bukan hanya untuk ketiga anggota keluarga saja. Masih ada juga keamanan, tukang kebun dan juga seorang asisten rumah tangga.

__ADS_1


Semua pekerja bebas mau makan dan minum apa saja yang disediakan oleh orang yang punya rumah. Bahkan jika makanan itu mereka bawa untuk anggota keluarga mereka tangi rumah.


Mommy pergi memanggil sang suami yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya. Setelah sang Mommy sambil Alfian juga yang berada di kamar untuk makan bersama.


Mereka makan dengan lahapnya. Perut terasa sangat lapar karena memang aktivitas mereka hari ini sangat nikmat.


Usai makan siang mereka lanjutkan dengan sedikit obrolan ringan. Hal itu selalu menjadi suatu kebiasaan mereka jika memiliki waktu senggang.


"Gimana Ded, udah nunggang?" Tanya Alfian saat Mommynya membereskan meja makan.


"Belum sempet." Jawab sang Deddy dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mendengar jawaban Deddy tawa Alfian pecah. Mengingat ekspresi wajah Deddynya tadi saat meledeknya.


"Ngobrolin apa sih kalian?" Tanya Mommy tiba-tiba datang duduk di sebelah Deddy.


"Anu Mom. Ngomongin keris yang tidak jadi di asah." Jawab Alfian dengan santainya.


Mendengar pernyataan anaknya itu Mommy melihat ekspresi wajah suaminya. Melihat tatapan sang istri Deddy yang semula menatap Alfian sampai membulatkan matanya kini beralih menatap sang istri dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Mommy tengah berjalan menuju kamar setelah perbincangan singkat itu. Sang Deddy berjalan mengekor di belakangnya.


"Mommy pelan-pelan dong jalannya." Pinta Deddy.


"Apa mau Mommy siang ini juga kita kikuk-kikuk." Lanjut Deddy.


Mendengar penuturan suaminya Mommy menghentikan langkahnya secara mendadak.


Bugh


Anggaplah suara Deddy menabrak badan Mommy yang mendadak berhenti.


"Mantab." Tutur Deddy.


Ceklek


Suara pintu kamar dibuka oleh Mommy. Tanpa menunggu lama Ia langsung menutupnya kembali.


"Au." Pekik Deddy.


"Mommy tega amat sih. Sudah berapa kali Mommy menjadikan hidung mancung Deddy korban." Teriak Deddy dari depan pintu kamar sambil mengelus-elus hidungnya yang terasa sakit.


"Untung gak sampai berdarah." Batin Deddy.


Tanpa banyak bicara Mommy segera menuju kamar mandi setelah menutup pintu. Mommy memang tidak mau mendengar jika mereka berbicara hal yang absurd. Untuk menghindarinya ia selalu mengalihkan Deddy ke tempat lain.


Mammy menonton drama korea kesukaannya siang ini. Ia merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa depan TV.


Deddy menghampiri sang Mommy yang baru serius melihat drama itu. Ia menyapa istrinya dengan lembut.


"Mom, tidak capek apa jadi juri?" Tanya Deddy.


"Mendingan kita tidur aja yuk, nanti malam kan masih ada pesta." Pinta Deddy dengan penuh perhatian.


Mommy hanya diam tanpa menanggapi perkataan suaminya itu. Setelah menunggu lama jawaban yang tak kunjung datang ia duduk di samping istrinya itu.


"Ternyata sudah terlelap istri cantik ku ini." Batin Deddy.


Deddy memindahkan tubuh kecil istrinya di atas tempat tidur. Perlahan ia meletakkannya dengan hati-hati.


Ditatap wajah istrinya itu dengan penuh rasa cinta. Ia merapikan anak rambut yang menutup wajah istrinya secara perlahan agar tidak terbangun.


Deddy segera membersihkan dirinya. Ia segera menyusul sang istri tidur untuk mengurangi rasa capek.


Perlahan-lahan Deddy naik di atas tempat tidur yang berukuran sangat besar. Dengan hati-hati ia memeluk tubuh istrinya agar tidak terbangun.


Alfian yang masih berada di meja makan pun segera beranjak menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Ia tak menyangka kalau kemampuan sang Deddy dalam bermain basket tidak berkurang walaupun usianya semakin bertambah.


Alfian segera membersihkan dirinya. Sama seperti Sang Deddy yang kelelahan akibat pertandingan tadi pagi melawan sang Deddy. Segera ia naik ke atas tempat tidurnya, tak lama matanya pun sudah terpejam.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Alfian diketuk oleh seseorang. Setelah bangun tidur masih waktu Dhuhur Alfian segera mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan Sholat.


Mendengar suara ketukan pintu Alfian tidak mendengarkannya. Ia sangat khusus melakukan sholat.


Setelah sholat Alfian segera mempersiapkan dirinya untuk pergi ke acara kondangan. Ia tidak mendengar ketukan pintu saat shalat tadi. Saat shalat ia selalu malakukannya dengan khusuk.


Alfian pun turun menuju dapur untuk mengambil air dingin. Rasa tenggorokan kan sudah mengering karena tidur yang panjangnya.


Plak


Tepukan mendarat di punggung Alfian. Ia pun terlonjak kaget karenanya.


"Ada apa sih ngagetin aja." Teriak Alfian.


"Tadi kamu lagi mendengkur ya?" Tanya Deddy merampas minuman dingin dari tangan anaknya.


"Siapa juga yang mendengkur?" Tanya Alfian.


"Dasar anak tajir melintir, belum juga pertanyaan dijawab udah balik tanya." Kata Sang Deddy.


"Kapan juga Deddy ke kamar ku?" Tanya Alfian.


"Baru saja Deddy ketuk itu pintu kamar tapi yang punya kamar kayaknya emang gak punya daun." Jelas Deddy.


"Daun?" Tanya Alfian tidak mengerti.


"Bukannya daunnya udah dibikin rok buat menutup badan Deddy bagian pinggang ke bawah?" Lanjut Alfian.


"Emangnya Deddy orang Papua dijaman kuno?" Elak Deddy.


"Iya gitu deh." Tutur Alfian.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan. Mereka menikmati minuman dingin yang baru saja mereka ambil dari kolkas.


"Kamu juga dapet undangan nanti malem kan?" Tanya Deddy.


"Heeem." Jawab Alfian.


"Gak ada jawaban yang lebih singkat lagi?" Tanya Deddy.


"Kalau aku jawabnya panjang banget nanti gak ada ujungnya Deddy." Kata Alfian.


"Lagian jawaban singkat aja kalau udah sama Deddy gak ada habisnya." Lanjut Alfian.


"Betul itu Al." Kata Mommy tiba-tiba datang menuju ruang makan.


"Kalau bisa habis ntar Mommy mu bisa lari dari Deddy, cari yang baru." Jelas Deddy yang mulai dengan kata-kata absurbnya.


"Mulai lagi ini ternodai sudah alat indraku." Kata Lirih Alfian dengan menggelengkan kepala perlahan.


"Al pasar Deddy denger lho ini." Kata Deddy.


"Emang kenapa kalau dengar?" Tanya Alfian.


"Saran aja nih Al, segera lepasin itu masa lajang mu." Kata Deddy.


"Udah Aku ke kamar dulu, mau mandi air kembang." Kata Alfian sambil lalu.


Alfian menuju kamar untuk mandi. Ia sengaja berendam dibacktub dengan aroma terapi untuk mengurangi rasa lelahnya seharian.


♥️♥️♥️

__ADS_1


123


Alfian menuju kamar untuk mandi. Ia sengaja berendam dibacktub dengan aroma terapi untuk mengurangi rasa lelahnya seharian.


*** *** *** Di Sebuah Ruang Hotel ***


Mentari kini ikut menonton televisi bersama ke tiga adiknya di ruang santai. Ia tidak memperdulikan rasa penat yang akan menguasainya nanti.


Papa dan Mama sudah tertidur di kamar mereka. Mereka sangat kelelahan karena pekerjaan yang selalu dan terus menunggu mereka.


Waktu sudah menunjukkan waktu sholat Dhuhur. Papa dan Mama pun mulai membuka matanya. Mereka bersama-sama pergi ke ruang makan untuk mengambil air minum dingin setelah mencuci muka.


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka. Papa mengedarkan pandangan ke sebuah tempat.


"Oh my Good." Pekik Papa.


"Ada apa sih Pa?" Tanya Mama.


"Lihat itu kelakuan mereka?" Kata Papa.


Mama menghampiri ke empat anaknya yang menurut mereka baru kali ini sungguh di luar dugaan. Televisi dibiarkan menyala dengan berbagai bekas makanan dan minuman yang berserakan.


Plaaak


Anggap lah suara Mama menepuk dahinya sendiri.


"Kalian ini kenapa jadi seperti ini sih." Kata Mama dengan sedikit emosi.


"Bukannya kalian yang menonton TV tapi TV lah yang menonton kalian." Lanjutnya.


"Sabar Mah. Namanya juga anak banyak." Bela Sang Papa.


"Nih minum biar dingin itu pikiran Mama." Perintah Papa dengan menyodorkan sebotol air mineral.


Papa memang sengaja mengalihkan rasa jengkel sang istri. Ia memang tahu bagaimana istrinya itu. Disiplin super ketat dan tidak lupa super hemat kebersihan menjadi prioritas utamanya.


"Mau dingin Pah?" Tanya Mama.


"Iya buat dinginin itu hati mama melihat anak-anak yang super imut." Kata Papa.


Kondisi seperti ini tanpa ada batasan. Di dalam ruangan bebas mereka tidur tanpa aturan.


Berbeda jika mereka tidur di kamar pasti mereka mengikuti posisi tempat tidurnya. Entah setan apa hingga mereka bisa tidur seperti itu. Pisisi yang tidak karuan antara ketiga saudara laki-lakinya.


Untung saja mereka laki-laki kalau ketiganya perempuan akan jadi apa ya? Kakak tertidur di atas sofa, sedangkan ketiga adiknya tidur tak beraturan. Ada kaki yang bahkan naik setengah di atas sofa. Bahkan ada kaki saudaranya yang berada di atas dada saudara laki-lakinya.


Buhg


Suara sebuah tubuh anak paling besar jatuh dari atas sofa.


"Auh. Sakit." Pekik Axel.


"Apa-apa an sih kamu? Cari untung ya?" Kata Daffa marah yang tidur di bawah Axel.


"Elunya sih tidur gak tahu aturan!" Kata Axel ketus.


"Aturan?" Kata Daffa.


"Pasal berapa ayat berapa?" Tanya Garda tersenyum renyah melihat kedua saudaranya yang sedang beradu mulut.


Beradu mulut jangan pikirin macam-macam ya gaes. Ini karena perkelahian.


"Kalian beradu mulut sampai keluar tu darah putih jernihnya dari mulut kalian. Gak sadarlah kalian? Tanya Garda dengan mengedipkan mata kanannya.


Kakak hanya diam mendengar percekcokan ketiga saudara laki-lakinya. Kakak sebenarnya udah bangun dari tadi. Cuma ia tidak mau terlibat dalam kecerobohannya.


"Iiiiiih. Bener ada air comberan bening. Jijik akuhnya." Kata Axel merutuki dirinya sendiri dengan mengusap mulutnya menggunakan tangan kanannya.


"Aaaaakh." Suara kakak sambil menguap.


"Ada apa sih ribut-ribut amat?" Tanya kakak pura-pura tidak tahu menahu.


Papa yang sudah sangat hafal dengan kelakuan ketiga anaknya hanya tersenyum simpul dibelakang istrinya. Apalagi anak gadisnya itu sekarang mulai bertambah konyol dengan tingkahnya.


"Udah deh mending kita sholat dulu." Kata Papa.


"Biar adem." Sambung sang kakak.


"Boleh nambah?" Tanya Axel tiba-tiba.


Semua yang ada dalam ruangan itu pun menoleh ke Axel dengan penuh tanya. Tapi tak ada jawaban dari mereka.


Selesai shalat berjamaah mereka membersihkan semua sisa makanan. Mama sudah mulai menggerutu di depan televisi.


"Tahu kesalahan kalian?" Tanya Mama menghakimi setelah mendaratkan pantatnya di sofa.


"Iya Mah, kami minta maaf." Kata Axel mewakili kedua saudaranya.


"Mama maafin kalian, tapi sebagai peringatan selama sebulan potong gaji." Ancam Sang Mama.


"Aku gak ikut-ikutan deh ya?" Elak Kakak yang seakan tahu akan kena imbasnya.


"Ini kan hari bahagia, sudah lah Ma bebasin aja mereka dari hukuman. Kasian kan?" Bela Papa.


"Tapi ngomong-ngomong...... " Ucapan Kakak terpotong.


"Kak, kalau Mama baru ngomong bisa gak diam dulu." Ucap Mama memotong perkataan Kakak tegas.


"Singa betinanya udah mulai meraung-raung." Batin Papa.


Mama ingin semua anaknya menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. Untuk itulah Mama selalu mendisiplinkan mereka dengan berbagai macam kata-kata.


"Baiklah kalau harus potong gaji." Kata Kakak.


Ketiga adiknya hanya bisa membulatkan mata sempurna mendengar perkataan sang kakak.


"Entah setan apa yang merasuki kakak perempuanku hingga setuju adanya pemotongan uang kita." Batin ketiga adiknya.


Mama beranjak menuju kamar hendak mandi. Sang suami sudah menunggu di depan pintu kamar mandi dengan menyandarkan punggungnya di depan pintu kamar mandi.


"Mama sekarang kok galak amat, suka main potong." Ujar Papa.


"Emang kenapa Pa? Tanya Mama berjalan melewati suaminya masuk ke dalam kamar mandi.


"Anggribet Papa juga mau dipotong juga?" Tanya Mama.


Mendengar perkataan sang istri baru saja, papa membulatkan matanya sempurna.


"Kalau potong uang kan gak ada pengaruhnya kan buat Papa tapi kalau potong yang satu itu......" Ucap Mama sambil melirik kebangga'an suaminya dengan lirikan yang tak bisa diartikan.


"Akhhhhh." Ucap Papa melihat pelihara'annya yang ada disangkar.


"Jangan dong Ma, nanti nanti maju mundurnya gak cantik lagi." Keluh Papa.


Klek


Pintu kamar mandi di tutup Mama untuk mengakhiri perdebatannya dengan sang suami. Terdengar suara gemericik air dari dalam hingga akhirnya Papa pergi dari depan kamar mandi tersebut.


Papa menunggu giliran untuk mandi dengan mengerjakan semua pekerjaan kantornya. Sebuah proyek baru yang akan dikerjakan di sebuah tempat baru.


Mama sudah selesai dengan ritual mandinya yang sangat-sangat lama. Biasa lah wanita banyak lika liku di badannya yang harus dibersihkan.

__ADS_1


"Mandi sana Pah?" Perintah Mama.


Papa melihat istrinya yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dengan jubah mandinya terlihat sangat mempesona. Aroma badan yang sangat khas itu mampu menghipnotis seluruh kesadaran suaminya.


__ADS_2